• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Konsep Pengembangan Wisata

tingkatkan dengan cara memperbaiki pemahaman tentang obyek wisata kepada orang-orang yang ada di sekitar obyek wisata Permandian Air Panas Lemosusu Kelurahan Betteng Kecamatan Lembang, hal seperti penting di lakukan agar masyarakat mampu menjaga kenyamanan dan keamanan lingkungan wisatanya.

B. Konsep Pengembangan Wisata

Menurut Paturusi (2001) mengungkapkan bahwa pengembangan adalah suatu strategi yang dipergunakan untuk memajukan, memperbaiki dan meningkatkan kondisi kepariwisataan suatu objek dan daya tarik wisata sehingga dapat dikunjungi wisatawan serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat disekitar objek dan daya tarik wisata maupun bagi Pemerintah Daerah.

Disamping itu pengembangan pariwisata bertujuan untuk memberikan keuntungan bagi wisatawan maupun komunitas tuan rumah. Dengan adanya pembangunan pariwisata diharapkan mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui keuntungan secara ekonomi yang dibawa ke kawasan tersebut. Dengan kata lain pengembangan pariwisata melalui penyediaan fasilitas infrastruktur, wisatawan dan penduduk setempat akan saling diuntungkan. Pengembangan tersebut hendaknya sangat memperhatikan berbagai aspek, seperti aspek budaya, sejarah dan ekonomi daerah tujuan wisata. Berdasarkan pengertian diatas maka pengembangan adalah suatu kegiatan menata dan memajukan suatu obyek wisata untuk di kembangkan lebih layak, yaitu :

1. Pengertian Pengembangan Daya Tarik Wisata (DWT)

Menurut Ismayanti (2009: 147) memaparkan bahwa daya tarik wisata merupakan fokus utama penggerak pariwisata di sebuah destinasi.Dalam arti, daya tarik wisata sebagai penggerak utama yang memotivasi wisatawan untuk mengunjungi suatu tempat. Potensi daya tarik wisata memiliki beberapa tujuan diantaranya;

a. Memperoleh keuntungan baik dari segi ekonomi berupa devisa negara dan pertumbuhan ekonomi serta dari segi sosial berupa peningkatan kesejahteraan rakyat dan menghapuskan kemiskinan.

b. Menghapuskan kemiskinan dengan membuka lapangan pekerjaan dan mengatasi pengangguran.

c. Memenuhi kebutuhan rekreasi masyarakat, sekaligus mengangkat citra bangsa dan memperkukuh jati diri bangsa, memupuk rasa cinta tanah air melalui pengusahaan daya tarik dalam negeri.

d. Melestarikan alam, lingkungan dan sumberdaya, sekaligus memajukan kebudayaan melalui pemasaran pariwisata.

e. Mempererat persahabatan antar bangsa dengan memahami nilai agama, adat istiadat dan kehidupan masyarakat.

2. Pengertian Pengembangan Obyek Wisata

Segala sesuatu yang menarik dan bernilai untuk dikunjungi dan dilihat disebut atraksi” atau lazim pula di katakan obyek wisata. Atraksi-atraksi ini antara lain panorama keindahan alam yang menakjubkan seperti gunung, lembah, ngarai, air terjun, danau, pantai, matahari terbit, dan matahari

….

terbenam, cuaca, udara dan lain-lain. Di samping itu juga berupa budaya hasil ciptaan manusia seperti monumen, candi, bangunan klasik,peninggalan purba kala, musium budaya, arsitektur kuno, seni tari, musik, agama,adat-istiadat, upacara, pekan raya, peringatan perayaan hari besar, pertandingan, atau kegiatan-kegiatan budaya, sosial dan keolahragaan lainnya yang bersifat khusus, menonjol dan meriah. Pengembangan Obyek wisata alam sangat erat kaitannya dengan peningkatan produktivitas sumber daya alam dalam konteks pembangunan ekonomi, sehingga selalu dihadapkan pada kondisi interaksi berbagai kepentingan yang melibatkan aspek kawasan hutan, pemerintah daerah, aspek masyarakat, dan pihak swasta di dalam suatu sistem tata ruang wilayah. Kendala pengembangan obyek wisata alam berkaitan erat dengan:

a. Instrumen kebijaksanaan dalam pemanfaatan dan pengembangan fungsi kawasan untuk mendukung potensi obyek wisata alam

b. Efektivitas fungsi dan peran obyek wisata alam ditinjau dari aspek koordinasi instansi terkait

c. Kapasitas institusi dan kemampuan SDM dalam pengelolaan obyek wisata alam di kawasan hutan

d. Mekanisme peran serta masyarakat dalam pengembangan pariwisata alam.

3. Perencanaan Pengembangan

Menurut Noer (2011) Aspek Perencanaan Pengembangan obyek wisata alam mencakup sistem perencanaan kawasan, penataan ruang (tata ruang wilayah), standarisasi, identifikasi potensi, koordinasi lintas sektoral, pendanaan, dan sistem informasi obyek wisata alam, antara lain:

a. Aspek Kelembagaan meliputi pemanfaatan dan peningkatan kapasitas institusi, sebagai mekanisme yang dapat mengatur berbagai kepentingan, secara operasional merupakan organisasi dengan SDM dan peraturan yang sesuai dan memiliki efisiensi tinggi.

b. Aspek Sarana dan Prasarana yang memiliki dua sisi kepentingan, yaitualat memenuhi kebutuhan pariwisata alam, sebagai pengendalian dalam rangka memelihara keseimbangan lingkungan, pembangunansarana dan prasarana dapat meningkatkan daya dukung sehingga upaya pemanfaatan dapat dilakukan secara optimal.

c. Aspek Pengelolaan, yaitu dengan mengembangkan profesionalisme dan pola pengelolaan obyek wisata alam yang siap mendukung kegiatan pariwisata alam dan mampu memanfaatkan potensi obyek wisata alam secara lestari.

d. Aspek Pengusahaan yang memberi kesempatan dan mengatur pemanfaatan obyek wisata alam untuk tujuan pariwisata yang bersifat komersial kepada pihak ketiga dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

e. Aspek Pemasaran dengan mempergunakan teknologi tinggi dan bekerja sama dengan berbagai pihak baik dalam negeri maupun luar negeri.

f. Aspek Peran Serta Masyarakat melalui kesempatan-kesempatan usaha sehingga ikut membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

g. Aspek Penelitian dan Pengembangan yang meliputi aspek fisik lingkungan, dan sosial ekonomi dari obyek wisata alam. Diharapkan nantinya mampu menyediakan informasi bagi pengembangan dan

….

pembangunan kawasan, kebijaksanaan dan arahan pemamfaatan obyek wisata alam.

Dalam rangka mengembangkan obyek wisata perlu segera dilaksanakan inventarisasi terhadap potensi nasional obyek wisata alam secara bertahap sesuai prioritas dengan memperhatikan nilai keunggulan saing dan keunggulan banding, kekhasan obyek, kebijaksanaan pengembangan serta ketersediaan dana dan tenaga. Potensi daerah obyek wisata alam yang sudah ditemukan segera diinformasikan dan dipromosikan kepada calon penanam modal.Perlu dikembangkan sistem kemitraan dengan pihak swasta, lembaga swadaya masyarakat yang ada, dalam rangka mendukung optimalisasi pengembangan obyek wisata Permandian Air Panas Lemosusu .Peranan pemerintah daerah dalam pengembangan obyek wisataalam sangat penting,dengan melaksanakan koordinasi, perencanaan, pelaksanaan serta monitor.

C. Konsep Strategi Pembangunan Kepariwisataan

Pembangunan pada prinsipnya adalah merupakan suatu: “proses perubahan pokok pada masyarakat dari suatu keadaan nasional tertentu menuju keadaan nasional lain yang di anggap lebih bernilai” (Katz,

1991).Manakalah pemahaman pengertian pembangunan seperti tersebut di atas diaplikasikan pada sektor kepariwisataan, maka dapat dikonstruksikan bahwa pembangunan kepariwisataan merupakan; suatu proses perubahan pokok yang dilakukan oleh manusia secara terencana pada suatu kondisi kepariwisataan tertentu yang dinilai kurang baik, yang diarahkan menuju ke

suatu kondisi kepariwisataan tertentu yang dianggap lebih baik atau lebih diinginkan.

Dalam perjalanan sejarah pembangunan kepariwisataan, para pemikir dan perencana pembangunan kepariwisataan cukup aktif bergerak untuk mengetahui makna yang dianggapnya lebih baik dan lebih bernilai tadi.Oleh karena itu akhirnya biasaditemukan bahwa paradigma, model dan strategi perencanaan pembangunan kepariwisataan secara dinamik telah bergeser fokus dan keberpihakannya serta beradaptasi sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan aspirasi yang berkembang pada waktunya. Paradigma ataupun model dalam kalangan intelektual telah dipahami sebagai cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir, bersikap, dan bertingkah laku mengenai suatu fenomena tertentu.Pada batasan makna yang lain, paradigma pembangunan juga berarti sebagai seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan strategi yang di terapkan untuk memandang dan mensikapi suatu fenomena realitas dari sebuah komunitas dalam perspektif yang sama, khususnya dalam suatu disiplin tertentu.

Berdasarkan pada berbagai pengertian tentang paradigma pembangunan seperti tadi, jika dikaitkan dengan pembangunan kepariwisataan maka paradigma pembangunan kepariwisataan bisa diberikan makna dan pemahaman sebagai seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktek strategi yang diterapkan dalam pembangunan kepariwisataan atau dengan kata lain paradigma pembangunan kepariwisataan merupakan kerangka atau model berpikir yang digunakan untuk melandasi perencanaan pembangunan

….

kepariwisataan secara menyeluruh dalam suatu komunitas disuatu periode waktu tertentu. Disepakatinya suatu model dan paradigma pembangunan kepariwisataan tertentu akan menjadi strategi dan penting ketika semua pemangku kepentingan yang bergerak dalam dunia kepariwisataan membutuhkan kesamaan bahasa dalam berpikir, bersikap maupun strategi bertindak, sehingga masing-masing pihak tidak berjalan menurut intuisi penafsiran dan kepentingan masing-masing.

Disamping itu aplikasi dan implementasi model dan strategi perencanaan pembangunan dibidang kepariwisataan juga tak perna luput dari pemantauan dan evaluasi dari para pengamat dan pemikir pembangunan kepariwisataan.Hasil dari pengamatan dan pemikiran ini dalam banyak hal telah melahirkan berbagai kritik terhadap kinerja dan bekerjanya sebuah model dan strategi perencanaan pembangunan tertentu dan akhirnya memunculkan alternatif model dan strategi perencanaan kepariwisataan yang baru.Oleh karena itu akhirnya berbagai model dan strategi alternatif dalam perencanaan pembangunan kepariwisataan telah silih berganti dan bermunculan sebagai konsekuensi dari kritik dan pemikiran ulang terhadap paradigma pembangunan kepariwisataan yang perna berkembang dan diterapkannya yang tentu saja juga dianggap baik pada waktunya.

Apapun model dan paradigma yang diterapkannya, paling tidak ada empat kaidah yang harus menjadi keberpihakan dari sebuah model dan strategi perencanaan pembangunan dibidang kepariwisataan. Ada 4 (empat) nilai yang

harus selalu mendasari suatu model dan strategi perencanaan pembangunan kepariwisataan tadi adalah :

1. Keberpihakan terhadap visi, misi tujuan dan sasaran prioritas tertentu dari proses pembangunan kepariwisataan yang akan diselenggarakan keseluruhan dokumen visi, misi tujuan dan sasaran ini biasanya dirumuskan oleh kehendak politik dan pihak otoritas yang berwenang.

2. Fleksibelitas yang adaptif dari pertumbuhan pembangunan kepariwisataan yang sesuai dengan dinamika perkembangan sosial, ekonomi, budaya, dan politik dikawasan nasional maupun internasional.

3. Terjaganya keberlanjutan pembangunan kepariwisataan yang telah mencakup antisipasi untuk tuntutan kebutuhan bagi generasi yang akan datang.

4. Antisipatif dan responsive; yang didalam ini perencanaan pembangunan kepariwisataan harus selalu memperhatikan, memperhitungkan, dan mempertimbangkan keseluruh dinamika situasi dan realitas kenyataan kepariwisataan di seluruh wilayah yang terkait.

Seiring dengan tuntutan dan eskalasi perubahan kebutuhan, pergeseran pola pikir masyarakat dunia, dan dinamika perkembangan isu-isu strategi yang akan mempengaruhi pembangunan kepariwisataan, maka akhirnya telah berkembang paling tidak 3 varian strategi model perencanaan pembangunan kepariwisataan yang sering dijadikan acuan dasar oleh para perencana pembangunan kepariwisataan.

Ketiga strategi perencanaan pembangunan kepariwisataan tersebut adalah :

….

1. Strategi perencanaan pembangunan kepariwisataan yang mengutamakan pada pertumbuhan (growth oriented model).

2. Strategi perencanaan pembangunan kepariwisataan yang bertumpu pada pemberdayaan masyarakat (community based tourism development).

3. Strategi perencanaan pembangunan kepariwisataan pendekatan yang bertujuan untuk memproteksi lingkungan dan menjamin bahwa wisata menguntungkan penduduk lokal dan membantu pelestarian warisan budaya dinegara tujuan wisata.

Perencanaan merupakan salah satu fungsi manajemen yang mempunyai peranan sangat penting dan menentukan kelancaran dan keberhasilan pembangunan.Dalam kaitan ini, perencanaan yang matang, pelaksanaan yang tepat, dan pengawasan yang optimal merupakan kunci untuk mewujudkan tujuan pembangunan termasuk pembangunan kepariwisataan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun perencanaan pembangunan kepariwisataan adalah sebuah pertimbangan bahwa nantinya pelaksanaan program pembangunan kepariwisataan yang akan dilakukan akan sangat berpengaruh terhadap eksistensi nilai-nilai yang paling mendasar dari kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan bangsa secara luas. Oleh Karena itu, penyusunan perencanaan pembangunan kepariwisataan harus dilakukan secara sangat berhati-hati, mendalam, dan menyeluruh, serta secara tepat mengantisipasi keseluruhan keadaan yang akan terjadi dimasa datang.

Ketetapan sebuah perencanaan pembangunan kepariwisataan menjadi sangat penting untuk selalu diperhatikan karena dalam menyusun perencanaan

pembangunan kepariwisataan akan selalu ditemui potensi, permasalahan, tantangan dan peluang yang dihadapi secara bersamaan. Pada tahapan analisis situasi dalam menyusun perencanaan pembangunan kepariwisataan akan banyak ditemui tantangan baik yang berasal dari dalam maupun faktor yang berasal dari luar, serta peluang dan strategi yang dapat dimanfaatkan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara optimal.

Dapat memberikan dasar dan arah tujuan yang jelas dalam penyusunan strategi dalam suatu perencanaan pembangunan kepariwisataan, maka ada beberapa prinsip yang perlu selalu diingat oleh seorang perencana parawisata (Tourism Planner) sebagai berikut:

1. Allocative (alokasi), dalam proses penyusunan rencana harus lebih menekankan singkronisasi dan koordinasi dalam rangka upaya untuk mencari solusi dan kompromi dari berbagai perbedaan dan konflik kepentingan yang muncul, baik tahap menyusun rencana sampai dengan pelaksanaannya. Koordinasi mempunyai peranan penting dalam pemecahan masalah. Apabila terjadi konflik dalam menyusun perencanaan, pasti terjadi perbedaan antara pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan itu yang memerlukan pemecahan, sehingga dicapai titik temu. Bentuk perencanaan ini menekankan pada koordinasi dan mencari solusi.

2. Inovative (inovasi); suatu perencanaan pembangunan kepariwisataan sasaran akhirnya adalah untuk mencapai misi terwujudnya kondisi

….

kepariwisataan yang lebih bernilai, oleh karena itu dalam pelaksanaannya harus mampu membawa kearah pembaharuan yang lebih baik.

3. Single and Multiobjektivs (sendiri dan beberapa objek); perencanaan pembangunan kepariwisataan pada prinsipnya bersifat fleksibel dalam arti dapat dimaksudkan untuk menghasilkan satu atau beberapa sasaran pembangunan sekaligus. Sehingga dalam penyusunan suatu perencanaan pembangunan kepariwisataan dapat mengarah pada suatu bentuk proyek tunggal (single project) ataupun berbentuk proyek jamak (multy projects).

4. Indicative (indikasi); yang dimaksud dengan prinsip indicative adalah bahwa perencanaan pembangunan kepariwisataan harus dapat memberikan program indikasi yang akan memberikan petunjuk arah kebijakan dan program secara umum atau secara garis besar. Mendasar pada program indikasi tersebut dapat dilakukan penjabaran ke dalam berbagai kegiatan program aksi atau perencanaan mikro yang lebih rinci (action programmes).

5. Imperative(sangat penting); yang dimaksud dalam pengertian ini adalah rencana pembangunan kepariwisataan yang disusun harus implementable dalam arti harus diikuti oleh para pemangku kepentingan yang ada, baik dari masyarakat, sektor publik maupun pihak industri yang terkait.

Pada prinsipnya sebuah dokumen perencanaan pembangunan kepariwisataan harus selalu diarahkan untuk mengembangkan sebuah tata kelola kepariwisataan yang kinerja keseluruhannya dapat menyenangkan dan mensejahterahkan bagi semua pihak atau pemangku kepentingan yang ada,

baik secara moril dan materil. Terlebih untuk sebuah perencanaan pembangunan kepariwisataan nasional sudah barang tentu memiliki peran yang sangat strategis dalam memberikan arah pembangunan ke depan yang mampu menempatkan sektor pariwisata sebagai salah satu pilar yang menopang pembangunan perekonomian nasional, pembangunan wilayah maupun pemberdayaan masyarakat.

Memposisikan sektor parwisata dalam peran dan kontribusi yang diharapkan, maka pembangunan kepariwisataan ke depan perlu didasari dengan pendekatan dan strategi perencanaan yang akan mengarahkan perumusan kebijakan dan program-program strategi pembangunan kepariwisataan yang dilandasi oleh prinsip-prinsip perencanaan pembangunan kepariwisataan seperti diatas. Oleh karena itu sebagai mana telah juga diamanahkan secara eksplisit dalam undang-undang No 16 Tahun 2005, tentang kepariwisataan yang berlaku di Indonesia, maka pemerintah dan semua pihak yang terkait dalam pembangunan kepariwisataan harus mempunyai langkah strategi untuk menyusun rencana pembangunan kepariwisataan diwilayah kewenangan masing-masing secara terpadu, terarah, serta mampu berdaya guna, berhasil guna mampu berkelanjutan dalam waktu yang panjang.

D. Obyek wisata

Menurut James J. Spillane (1994: 63-72) suatu obyek wisata atau destination,harus meliputi 5 (lima) unsur yang penting agar wisatawan dapat

….

merasa puas dalam menikmati perjalanannya, makaobyek wisata harus meliputi :

1. Attractions(Hukum Antraksi atau Hukum Tarik Menarik)

Merupakan pusat dari industri pariwisata.attractions mampu menarik wisatawan yang ingin mengunjunginya. Motivasi wisatawan untuk mengunjungi suatu tempat tujuan wisata adalah untuk memenuhi atau memuaskan beberapa kebutuhan atau permintaan.Biasanya mereka tertarik pada suatu lokasi karena ciri- ciri khas tertentu. Ciri-ciri khas yang menarik wisatawan adalah :

a. Keindahan alam.

b. Iklim dan cuaca.

c. Kebudayaan.

d. Sejarah.

e. Ethnicity (sifat kesukuan)

f. Accessibility (kemampuan atau kemudahan berjalan atau ketempat tertentu)

2. Facility (Fasilitas)

Fasilitas cenderung berorientasi pada attractions disuatu lokasi karena dekat dengan pasarnya. Fasilitas cenderung mendukung bukan mendorong pertumbuhan dan cenderung berkembang pada saat yang sama atau sesudah attractions berkembang. Suatu attractions juga dapat merupakan fasilitas.Jumlah dan jenis fasilitas tergantung kebutuhan wisatawan.Sepertifasilitas harus cocok dengan kualitas dan harga penginapan,

makanan, dan minuman yang juga cocok dengan kemampuan membayar dari wisatawan yang mengunjungi tempat tersebut.

3. Infrastructure (Infrastruktur)

Attractions dan fasilitas tidak dapat tercapai dengan mudah kalau belum ada infrastruktur dasar.Infrastruktur termasuk semua konstruksi di bawah dan di atas tanah dan suatu wilayah atau daerah. Yang termasuk infrastruktur penting dalam pariwisata adalah :

a. Sistem pengairan/air, Kualitas air yang cukup sangat esensial atau sangat diperlukan. Seperti penginapan membutuhkan 350 sampai 400 galon air per kamar per hari.

b. Sumber listrik dan energy, Suatu pertimbangan yang penting adalah penawar tenaga energy yang tersedia pada jam pemakaian yang paling tinggi atau jam puncak (peak hours). Ini diperlukan supaya pelayanan yang ditawarkan terus menerus.

c. Jaringan komunikasi, Walaupun banyak wisatawan ingin melarikan diri dari situasi biasa yang penuh dengan ketegangan, namun ada juga sebagian yang masih membutuhkan jasa-jasa telepon dan/atau telgram yang tersedia.

d. Sistem pembuangan kotoran/pembuangan air, Kebutuhan air untuk pembuangan kotoran memerlukan kira-kira 90 % dari permintaan akan air. Jaringan saluran harus didesain berdasarkan permintaan puncak atau permintaan maksimal.

….

e. Jasa-jasa kesehatan, jasa kesehatan yang tersedia akan tergantung pada jumlah tamu yang diharapkan, umumnya, jenis kegiatan yang dilakukan atau faktor-faktor geografis lokal.

f. Jalan-jalan/jalan raya, Ada beberapa cara membuat jalan raya lebih menarik bagi wisatawan :

- Menyediakan pemandangan yang luas dari alam semesta.

- Membuat jalan yang naik turun untuk variasi pemandangan.

- Mengembangkan tempat dengan pemandangan yang indah.

- Membuat jalan raya dengan dua arah yang terpisah tetapi sesuai dengan keadaan tanah.

- Memilih pohon yang tidak terlalu lebat supaya masih ada pemandangan yang indah.

4. Hospitality (keramahtamahan)

Wisatawan yang sedang berada dalam lingkungan yang belum mereka kenal maka kepastian akan jaminan keamanan sangat penting, khususnya wisatawan asing.

5. Transportation (Transportasi)

Ada beberapa usul mengenai pengangkutan dan fasilitas yang dapat menjadi semacam pedoman termasuk.

a. Informasi lengkap tentang fasilitas, lokasi terminal, dan pelayanan pengangkutan lokal ditempat tujuan harus tersedia untuk semua penumpang sebelum berangkat dari daerah asal.

b. Sistem keamanan harus disediakan di terminal untuk mencegah kriminalitas.

c. Suatu sistem standar atau seragam untuk tanda-tanda lalu lintas dan simbol-simbol harus dikembangkan dan dipasang di semua bandar udara.

d. Sistem informasi harus menyediakan data tentang informasi pelayanan pengangkutan lain yang dapat dihubungi diterminal termasuk jadwal dan tarif.

e. Informasi terbaru dan sedang berlaku, baik jadwal keberangkatan atau kedatangan harus tersedia di papan pengumuman, lisan atau telepon.

f. Tenaga kerja untuk membantu para penumpang.

g. Informasi lengkap tentang lokasi, tarif, jadwal, dan rute dan pelayanan pengangkutan lokal.

h. Peta kota harus tersedia bagi penumpang.

E. Kerangka Pikir

Peran pemerintah meruapakan hal yang penting dalam pengembangan wisata, dimana wisata permandian air panas akan terbentuk melalui proses seperti mempromosikan Obyek Wisata Permandian Air Panas Lemosusu, meningkatkan mutu pelayanan, mengembangkan kawasan wisata, dan meningkatkan SDM.Dengan adanya proses-proses tersebut dalam Pengembangan Wisata Permandian Air Panas, diharapkan menghasilkan efektivitas Pengembangan Wisata Permandian Air Panas Lemosusu yang berkualitas. Dan adapun faktor pendukun dalam Pengembangan Obyek Wisata

….

Permandian Air Panas Lemosusuyaitu akse jalan yang mudah di jangkau, lahan yang masih luas. Sedangkan faktor penghambat pengembagan Obyek Wisata Permandian Air Panas Lemosusu adalah sarana dan prasarana yang belum lengkap, keterbatasan dana. dari uraian tersebut dapat digambarkan alur pemikiran sebagai berikut:

F. Fokus Penelitian

Peran pemerintah daerah adalah segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah (Dinas Kebudayaan Dan Parawisata) sebagai pelaksana pemerintah Kabupaten Pinrang dibidang Kebudayaan dan Parawisata serta pengambilan kebijakan yang ada di daerah Pinrang dalam pengembangan Obyek Wisata Permandian Air Panas Lemosusu. Hal ini dapat di ukur dari beberapa indikator pelaksanaan peran pemerintah dalam Pengembangan Obyek Wisata Permandian Air Panas Lemosusu berupa kegiatan atau program.

G. DeskripsiFokus Penelitian

1. Pemerintah Daerah bahwa, penyelenggaraan Pemerintah Daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, dan kekhasan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.Jadi pemerintah daerah diharapkan memiliki kemampuan mengidentifikasi dan mengelola potensi-potensi yang ada di daerahnya, untuk dimanfaatkan secara efektif dan efisien guna terselenggaranya aktivitas pengembangan objek wisata Permandian Air Panas dalam rangka peningkatan kualitas hidup masyarakat dan daerahnya.

2. Pengembangan Wisata adalah suatu strategi yang dipergunakan untuk memajukan, memperbaiki dan meningkatkan kondisi keparawisataan

….

suatu objek dan daya tarik wisata sehingga dapat dikunjungi wistawan serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat disekitar objek dan daya tarik wisata maupun bagi pemerintah khususnya Obyek Wisata Permandian Air Panas Lemosusu Kelurahan Betteng Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang.

3. Promosimerupakan upaya memediakan atau memberitahukan dan mempromosikan Obyek Wisata Permandian Air Panas Lemosusu Kelurahan Betteng kepada orang lain untuk diketahui, baikitu melalui media, panplet, dan lainnya.

4. Peningkatan mutu pelayanan obyek wisata merupakan suatu upaya dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan pada obyek wisata Permandian Air Panas Lemosusu, seperti memberikan pelayanan yang baik kepada pengunjung atau konsumen karena salah satu faktor yang mempengaruhi daya tarik wisata atau kenyamanan pengunjung adalah pelayanan yang baik.

5. Pengembangan Kawasan-kawasan Obyek Wisata merupakan Salah satu upaya pemerintah dalam mengembangkan obyek wisata yaitu dengan cara memaksimalkan kawasan-kawasan atau bagian-bagian yang terdapat pada

5. Pengembangan Kawasan-kawasan Obyek Wisata merupakan Salah satu upaya pemerintah dalam mengembangkan obyek wisata yaitu dengan cara memaksimalkan kawasan-kawasan atau bagian-bagian yang terdapat pada

Dokumen terkait