• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Konsep Pengemis

Kata pengemis rupanya telah masuk salah satu kosa kata bahasa Indonesia yang tentunya memiliki kata dasar Kemis (kamis) bukan emis. Sebutan emis pun lebih sering digunakan dari pada kata peminta-minta. Padahal jika diuraikan dan diambil kata dasarnya kata kemis atau emis tidak dikenal dalam kosa kata bahasa Indonesia kecuali jika ada tambahan awalan pe- sehingga membentuk kata-kata pengemis. Lain halnya kata peminta-minta yang yang memiliki kata dasar minta yang artinya sudah jelas bahkan bisa berdiri sendiri.

Selanjutnya, pengemis sering digunakan untuk sebutan bagi orang yang membutuhkan uang, makanan, tempat tinggal, atau hal lainnya dari orang yang

ditemuinya dengan cara meminta. Berbagai atribut mereka gunakan, seperti pakaian compang-camping dan lusuh, topi, gelas, plastik atau bungkus permen, atau kotak kecil untuk menempatkan uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta. Mereka menjadikan mengemis seabagai pekerjaan mereka dengan berbagai macam alasan seperti kemiskinan dan ketidak berdayaan mereka karena lapangan kerja yang sempit.11

Pengemis menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1980 Tentang Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Permasalahan pengemis, dan gepeng, sebenarnya hanyalah turunan dari permasalahan kemiskinan. Selama persoalan kemiskinan belum teratasi jumlah pengemis, dan gepeng tidak akan pernah berkurang malah jumlahnya akan semakin bertambah.

2. Konsep Pengemis Dalam Persfektif Hukum Islam

Minta-minta atau mengemis adalah meminta bantuan, derma, sumbangan, baik kepada perorangan atau lembaga. Mengemis itu identik dengan penampilan pakaian serba kumal, yang dijadikan sarana untuk mengungkapkan kebutuhan apa adanya. Hal-hal yang mendorong seseorang untuk mengemis salah satu faktor penyebabnya- dikarenakan mudah dan cepatnya hasil yang didapatkan. Cukup dengan mengulurkan tangan kepada anggota masyarakat agar memberikan bantuan atau sumbangan.

11

Dimas Dwi Irawan,Pengemis Undocover Rahasia seputar kehidupan Pengemis, (Jakarta Titik Media Publisher, 2013), h. 1.

Islam tidak mensyari’atkan meminta-minta dengan berbohong dan menipu. Alasannya bukan hanya karena melanggar dosa, tetapi juga karena perbuatan tersebut dianggap mencemari perbuatan baik dan merampas hak orang-orang miskin yang memang membutuhkan bantuan. Bahkan hal itu merusak citra baik orang-orang miskin yang tidak mau minta-minta dan orang-orang yang mencintai kebajikan. Karena mereka dimasukkan dalam golongan orang-orang yang meminta bantuan. Padahal sebenarnya mereka tidak berhak menerimanya, terlebih kalau sampai kedok mereka terungkap.

Adapun dalil yang menjelaskan haramnya meminta-minta tanpa adanya kebutuhan yang mendesaksalah satunya hadis yang diriwayatkan Sahabat ‘Abdullah

bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma bersabda:

12

َﺮْﻤَﺠْﻟا ُﻞُﻛْﺄَﯾ ﺎَﻤﱠﻧَﺄَﻜَﻓ ٍﺮْﻘَﻓ ِﺮْﯿَﻏ ْﻦِﻣ َلَﺄَﺳ ْﻦَﻣ

Artinya:

“Barang siapa meminta-minta kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan, maka seolah-olah ia memakan bara api”.

Hadis ini merupakan ancaman keras yang menunjukan bahwa meminta-minta kepada manusia tanpa adanya kebutuhan itu hukumnya haram.

Bolehnya kita meminta kepada penguasa, jika kita dalam kefakiran. Penguasa adalah orang yang memegang baitul maal harta kaum Muslimin. Seseorang yang mengalami kesulitan, boleh meminta kepada penguasa karena penguasalah yang bertanggung jawab atas semuanya. Namun, tidak boleh sering meminta kepada

penguasa. Hal ini berdasarkan hadits Hakiim bin Hizaam Radhiyallahu ‘anhuma, ia

12

Abu> ‘Abdullah Ah}mad bin H}anbal bin Hila>l bin Asad al-Syaba>ni>, Musnad al-Ima>m Ah}mad bin Hanbal, Juz XXIX (Cet. I; t.t.,Mu’assasah al-Risa>lah, 1421 H/2001 M), h. 51.

berkata: Aku meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau

memberiku. Kemudian aku minta lagi, dan Rasulullah memberiku. Kemudian

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

َـﻧ ِةَوﺎَﺨَﺴِﺑ ُﻩَﺬَﺧَأ ْﻦَﻤَﻓ ، ٌةَﻮْﻠُﺣ ٌةَﺮِﻀَﺧ َلﺎـَﻤـْﻟا اَﺬَﻫ ﱠنِإ ،ُﻢْﻴِﻜَﺣ ﺎَﻳ

ُﻪَﻟ َكِرْﻮُـﺑ ٍﺲْﻔ

َﻻَو ُﻞُﻛْﺄَﻳ ْيِﺬﱠﻟﺎَﻛ َنﺎَﻛَو ، ِﻪْﻴِﻓ ُﻪَﻟ ْكَرﺎَﺒُـﻳ َْﱂ ٍﺲْﻔَـﻧ ِفاَﺮْﺷِﺈِﺑ ُﻩَﺬَﺧَأ ْﻦَﻣَو ، ِ ﻪْﻴِﻓ

ﻰَﻠْﻔﱡﺴﻟا ِﺪَﻴْﻟا َﻦِﻣ ٌﺮْـﻴَﺧ ﺎَﻴْﻠُﻌْﻟا ُﺪَﻴْﻟا .ُﻊَﺒْﺸَﻳ

13 . Artinya:

“Wahai Hakiim! Sesungguhnya harta itu indah dan manis. Barang siapa mengambilnya dengan berlapang hati, maka akan diberikan berkah padanya. Barang siapa mengambilnya dengan kerakusan (mengharap-harap harta), maka Allah tidak memberikan berkah kepadanya, dan perumpamaannya (orang yang meminta dengan mengharap-harap) bagaikan orang yang makan, tetapi ia tidak kenyang (karena tidak ada berkah padanya). Tangan yang di atas (yang memberi) lebih baik dari pada tangan yang di bawah (yang

meminta)”.

Kemudian Hakîm berkata: “Wahai Rasulullah! Demi Dzat yang mengutusmu

dengan kebenaran, aku tidak menerima dan mengambil sesuatu pun sesudahmu

hingga aku meninggal dunia”.

Ketika Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah, ia memanggil Hakîm Radhiyallahu ‘anhu untuk memberikan suatu bagian yang berhak ia terima.

Namun, Hakîm tidak mau menerimanya, sebab ia telah berjanji kepada Rasulullah

Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ‘Umar menjadi khalifah, ia memanggil Hakîm untuk memberikan sesuatu namun ia juga tidak mau menerimanya. Kemudian ‘Umar

bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu berkata di hadapan para sahabat: “Wahai kaum

13

Muslim bin al-H}ajja>j bin Abu> al-H}asan al-Qusyairi> al-Naisabu>ri>, S}ah}i>h} Muslim, Juz II (Bairut ; Da>r Ih}ya> al-Tura>s\ al-‘Arabi>, t.th), h. 717.

Muslimin! Aku saksikan kepada kalian tentang Hakîm bin Hizâm, aku menawarkan kepadanya haknya yang telah Allah berikan kepadanya melalui harta rampasan ini (fa’i), namun ia tidak mau menerimanya. Dan Hakîm Radhiyallahu ‘anhu tidak mau menerima suatu apa pun dari seorang pun setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai ia meninggal dunia”.14

Hadits ini menunjukkan tentang bolehnya meminta kepada penguasa. Akan tetapi tidak boleh sering, seperti kejadian di atas, yaitu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati Hakîm bin Hizâm. Hadits ini juga menerangkan tentang ta’affuf

(memelihara diri dari meminta kepada manusia) itu lebih baik. Sebab, Hakîm bin

Hizâm Radhiyallahu ‘anhu pada waktu itu tidak mau meminta dan tidak mau menerima.

Dokumen terkait