9
existing site, aksebilitas, potensi lingkungan, infrastruktur kota dan peraturan bangunan setempat.
BAB IV: Analisa perancangan menjabarkan tentang analisa ruang meliputi organisasi ruang, hubungan ruang dan sirkulasi dan diagram abstrak. Analisa site meliputi akses aksesibilitas, analisa iklim analisa lingkungan sekitar, dan analisa zoning. Analisa bentuk dan Tampilan meliputi analisa bentuk, analisa tampilan.
BAB V: Konsep perancangan menjabarkan tentang fakta dan issu, konsep sirkulasi, konsep pencapaian, konsep pola tatanan, konsep bentuk bangunan, konsep tampak bangunan, konsep struktur, konsep sirkulasi dalam bangunan dan konsep suasana ruang dalam.
BAB VI: Aplikasi konsep rancangan menjababarkan tentang aplikasi sirkulasi, aplikasi pencapaian, aplikasi pola tatanan, aplikasi bentuk bangunan, aplikasi tampak bangunan, aplikasi struktur, aplikasi sirkulasi dalam bangunan dan aplikasi suasana ruang dalam.
10
BAB II
TINJAUAN OBYEK RANCANGAN
2.1. Tijuana Umum
2.1.1. Pengertian Judul
Pengertian Stasiun
Kata stasiun berasal dari kata “stationary” yang berarti diam tak bergerak, merupakan tempat bagi pemberhentian Kereta Api, di stasiun itu karyawan Kereta Api turun untuk beristirahat dan digantikan oleh karyawan lain, juga untuk Kereta Api dibersihkan, diperiksa dan diperbaiki serta diisi bahan bakar.
sumber: wikipedia.com
Rumah perhentian kereta api , trem,” Muhammad ali n.d
Selain itu juga stasiun digunakan sebagai tempat menurunkan dan menaikkan muatan baik berupa manusia atau barang, tempat menyimpan barang angkutan dan juga tempat untuk penumpang Kereta Api. Pada frekuensi kedatangan dan keberangkatan yang rendah, bercampur baurnya semua tersebut diatas bukan merupakan masalah, akan tetapi dalam perkembangannya stasiun menampung kedatangan dan keberangkatan Kereta Api yang semakin banyak, akibatnya jumlah maupun jenis karyawan, penumpang, barang angkutan yang dilayani makin banyak.
Timbul masalah mengenai pengaturan sirkulasi Kereta Api sendiri, pemecahan masalah yang dilanjutkan sampai saat ini berupa pemisahan kegiatan antara stasiun penumpang (menampung kegiatan penumpang serta barang bawaannya), stasiun khusus barang (stasiun minyak, stasiun hasil produksi), dan dipolomotid (tempat pemeriksaan dan barang lokomotif. Sumber: Perusahaan Umum Kereta Api, 1997
11 Pengertian Kereta Api
Kereta Api adalah kendaraan dengan tenaga gerak, baik berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan kendaraan lainnya, yang akan ataupun sedang bergerak dijalan rel.
Kereta Api ialah kendaraan penarik yang dijalankan dalam urusan perjalanan Kereta Api, membawa rangkaian atau tidak.
Kereta ialah kendaraan yang seluruhnya atau sebagiannya dipergunakan untuk mengangkut penumpang, bagasi dan kiriman pos.
Kereta Api Kerja ialah kendaraan penarik yang membawa rangkaian atau tidak yang berjalan sebagai Kereta Api dalam waktu luar kerja. Sumber : Manajemen operasi, Masduki Achmad. Jakarta, Oktober 2002
Kereta ialah kendaraan yang seluruhnya atau sebagiannya dipergunakan untuk mengangkut penumpang, bagasi dan kiriman pos. Sedangkan kereta api adalah kendaraan dengan tenaga gerak, baik berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan kendaraan lainnya, yang akan ataupun sedang bergerak dijalan rel.
sumber : wikipedia.com
Pengertian Pasar Turi
Nama salah satu pusat perdagangan di Surabaya yang melayani masyarakat secara regional.( sumber : digilib. Petra.ac.id)
Pengertian Surabaya
Surabaya adalah sebuah kota di Indonesia yang terletak di 7º 12’-7º21’ LS dan 112º36’ 112º52 BT merupakan dataran rendah 3 – 6 meter di atas permukaan laut yang luasnya 326,36 km², nama dari ibu kota propinsi Jawa Timur. Daerah ini merupakan Kotamadya Tingkat II sumber: Poerwadarminta, 2001
Surabaya merupakan nama kota di propinsi Jawa Timur, pusat wilayah
pembangunan utama C, pusat perwilayahan regional Gerbang kertosusila Surabaya kota, 1995
Pengertian Stasiun Kereta Api di Pasar Turi Surabaya
Dari pengertian di atas maka disimpulkan “ Stasiun Kereta Api Pasar Turi Surabaya” adalah suatu tempat pemberhentian teratur dari kereta api yang merupakan alat transportasi massal yang umumnya terdiri dari lokomotif
12
(kendaraan dengan tenaga gerak yang berjalan sendiri) dan rangkaian kereta atau gerbong (dirangkaikan dengan kendaraan lainnya), yang terletak di pusat perdagangan Surabaya
2.1.2 Studi Literatur
Status Stasiun
Status stasiun yang ditentukan oleh kedudukannya pada lintasan jalur baja atau rail yang mana terbagi menjadi ;
- Stasiun Awalan atau Akhir / Buntu
Kedudukannya berada pada akhir atau awal dari lintasan jalur rail. - Stasiun Antara
Kedudukannya berada diantara lintasan jalur rail - Stasiun Persimpangan
Kedudukannya berada pada persimpangan yang membagi atau mengumpulkan dua jalur lintasan rail.
Klasifikasi Stasiun Terbagi menjadi 4 kelas, yaitu: - Stasiun Besar
Tipe A
Pengertian Stasiun Besar Tipe A adalah Stasiun besar dengan pendapatan yang besar dan mempunyai jalur sepur yang banyak.
Contoh : Pasar Turi dan Sidotopo Tipe B
Pengertian Stasiun Besar Tipe B adalah Stasiun besar dengan pendapatan cukup besar dan mempunyai jalur sepur yang cukup banyak juga.
Contoh: Gubeng - Stasiun Kelas I
Tipe A
Pengertian Stasiun Kelas I A adalah Stasiun yang berada di bawah tingkat Stasiun Besar Tipe B, merupakan stasiun kecil dengan tingkat pendapatan yang cukup, biasanya mempunyai jalur sepur sebanyak 4 sepur.
13 Contoh : Wonokromo
Tipe B
Pengertian Stasiun Kelas I B adalah Stasiun yang berada di bawah tingkat Stasiun Besar Tipe A, merupakan stasiun kecil dengan tingkat pendapatan yang sedikit, biasanya mempunyai jalur sepur sebanyak 2-3 sepur.
Contoh : Mojokerto, Blitar, dan Mbangil - Stasiun Kelas II
Pengertian Stasiun Kelas II adalah Stasiun yang berada di bawah tingkat Stasiun Kelas I, merupakan stasiun kecil dengan tingkat pendapatan yang sedikit, biasanya mempunyai jalur sepur sebanyak 2 sepur.
- Stasiun Kelas III
Pengertian Stasiun Kelas III adalah Stasiun yang berada di bawah tingkat Stasiun Kelas II, merupakan stasiun kecil dengan tingkat pendapatan yang cukup sedikit, biasanya mempunyai jalur sepur sebanyak 1-2 sepur.
sumber : wawancara Kepala Stasiun Bpk. Aryawan Gatot
Cara penentuan klasifikasi Stasiun Kereta Api adalah dengan melihat beberapa faktor, yaitu ;
- Faktor jumlah penumpang. - Angkutan barang.
- Kedudukan pemerintah daerah. - Kedudukan inspeksi dan eksplotasi. - Kedudukan depo.
Klasifikasi stasiun menurut kedudukannya bila ditinjau dari letak stasiun terhadap lintas jalur Kereta Api, Stasiun Surabaya Pasar Turi adalah stasiun awal dan akhir yaitu sebagai tempat awal pembarangkatan dan akhir dari atau ke Stasiun Pasar Turi.
Bila ditinjau dari bentuk stasiunnya, maka Stasiun Pasar Turi dikatagorikan sebagai stasiun pararel, dimana letak bangunan stasiunnya dapat dikatakan sejajar dengan jalur Kereta Api. Sedangkan klasifikasi Stasiun Surabaya Pasar Turi sebagai stasiun besar. Sumber : Manajemen operasi, Masduki Achmad. Jakarta, Oktober 2002
14 Menurut Segi Fasilitas yang Dimiliki - Stasiun jarak dekat (commuter station)
Stasiun yang melayani perjalanan bolak - balik dalam jarak dekat antar kota. Fasilitas yang dimiliki cukup sederhana serta pelayanan penumpang diberikan secara cepat, mengingat frekuensi perjalanan yang relatif rendah
- Stasiun jarak sedang (medium distance stasiun)
Stasiun yang melayani angkutan jarak sedang di sekitar luar kota yang menghubungkan pusat - pusat kota dengan wilayah sub-urban. Fasilitas yang dimiliki lebih lengkap dan ruang tunggu yang lebih luas, mengingat frekuensi perjalanan yang cukup tinggi.
- Stasiun jarak jauh (long distance stasiun)
Stasiun yang melayani angkutan jarak jauh antar kota atau propinsi. Fasilitas yang dimilikinya sangat lengkap, termasuk bongkar - muat barang gudang, serta dilengkapi dengan ruang tidur.
Manajemen operasi, Masduki Achmad. Jakarta, Oktober 2002. Menurut Letak Kontruksi Bangunan
- Ground Level Station
Stasiun yang mana letak bangunan stsiunnya dan peronnya terletak pada satu level di atas tanah
- Over Track Station
Stasiun yang mana letak bangunan stasiunnya berada di atas peron - Under Track Station
Stasiun yang mana letak bangunan stasiunnya berada di bawah peron.
2.1.3 Studi Kasus Obyek
A. Stasiun Kereta Api Gambir di Jakarta
Lokasi Stasiun Gambir : Jln. Medan Merdeka Timur no 27 Jakarta Pusat Meskipun Stasiun Gambir di bawah pengawasan Stasiun Kota, tetapi memiliki kelebihan dan keindahan manapun kemegahan dibandingkan stasiun-stasiun yang lainnya. Contohnya pada tampilan tampak, penggunaan warna
15
stasiun Gambir lebih dominan menggunakan wama hijau sebagai ciri dari stasiun itu sendiri. Pada tampilan terlihat adanya pilar-pilar / kolom-kolom muncul secara penuh, sehingga terlihat megah dan kokoh (Seperti terlihat pada gambar 2.1). Tingkat kepadatan pada Stasiun Gambir pada hari biasa bisa mencapai 7000 orang, sedangkan pada hari Lebaran atau libur besar bisa mencapai angka kenaikan sebesar 40 % pada hari biasa. Sumber : Wakil kepala Stasiun M Basyir
Fasilitas yang dimiliki
Stasiun Gambir menyediakan stand penitipan barang dan penukaran mata uang bagi penumpang. Selain itu, ada pula stand pemesanan beberapa hotel di seluruh Indonesia. Dan jika khawatir bingung mengenai angkutan umum menuju tempat tujuan di Jakarta, maka cukup datangi loket pemesanan taksi perusahaan Blue Bird Grup yang disediakan di pintu keluar. Fasilitas lainnya yang disediakan Stasiun Gambir ialah para porter atau kuli angkut. Para porter itu memakai seragam berwarna merah dengan tulisan “Gambir”, sebagai tanda porter resmi di stasiun ini. Ada pula para petugas keamanan, baik di loket maupun peron yang akan menjamin para penumpang dari tindakan kriminalitas.
Gambar 2.1. Tampilan Tapak sumber : .profil PT KAI. Th 2005
16
Sedangkan pada bagian dalam ruangan dengan adanya aktifitas-aktifitas dari para pengunjung dan beraneka perbedaan kondisi manusia, pada Stasiun Gambir sarana untuk tuna netra maupun cacat tubuh (lumpuh), yaitu dengan memberikan fasilitas untuk cacat tubuh, mungkin sarana ini juga diberikan pada stasiun-stasiun yang lainnya tetapi tidak sepenuhnya berfungsi. Perbedaan yang ada contohnya; adalah jasa yang menangani para cacat tubuh bila sangant diperlukan, dengan memberikan sinyal (bantuan pelayanan) menekan bel yang telah tersedia.
Gambar 2.3. Taxi Serviec Stasiun Gambir sumber : profil PT.KAI Th 2005
Gambar 2.2. Pusat Informasi & Hotel Satsiun Gambir sumber : profil PT.KAI Th 2005
17
Selain itu juga adanya kemungkinan yang lain untuk para cacat tubuh ataupun tuna netra dengan adanya lift dari lantai dasar sampai pada lantai tiga sebagai penurunan dan keberangkatan penumpang Kereta Api. Sebenarnya masih banyak lagi seperti pada sarana toilet sendiri yang juga adanya penanganan bagi para cacat tubuh. Sedangan untuk tuna netra agar dapat mendapatkan petunjuk- petunjuk yang ada pada Stasiun gambir dengan adanya tulisan braile yang mana terdapat pada setiap fasilitas yang diberikan pada Stasiun Gambir, seperti halnya bila akan naik maupun turun tangga, memasuki toilet dan lain lain.
Gambar 2.4. Bel Bantuan Pelayanan sumber : Baskoro (2003:12 )
Gambar 2.5. Toilet untuk cacat tubuh sumber : Baskoro (2003:13 )
18 Pola Sirkulasi
Sarana penghubung antar lantai dimana selain lift untuk para cacat tubuh, juga adanya tangga dan escalator. Selain fasilitas yang ada diatas yang membedakan dengan stasiun-stasiun yang lainnya yang mana pada Stasiun Gambir disini sangat memperhatikan fasilitas maupun kebutuhan yang diperlukan dalam mendirikan bangunan Stasiun Kereta Api, wajar saja bila perancang maupun desainnya mengambil dari ahli perkereta apian yang ada di Jepang. Pada Stasiun Gambir ini terdapat tiga tempat loket sebagai pembelian karcis, empat tempat yang digunakan sebagai toilet, pintu masuk-keluar untuk tamu VIP (para pejabat tinggi / mentri dan lain-lain), terdapat lima pintu keluar-masuk yang terletak dari segala penjuru, dan lain-lain.
Tampilan Bangunan
Tampilan bangunan pada Stasiun Gambir ini merupakan Arsitektur Modern dapat dilihat bentukan yang terjadi merupakan bentukan persegi dengan atap tradisional jawa yaitu joglo, pada fasad depan stasiun terdapat kolom struktur yang sengaja di ekspos untuk memperlihatkan kesan monumental dari bangunan Stasiun ini.
Gambar 2.6. Penghubung Tiap Lantai (Tangga & Eskalator) sumber : Baskoro (2003:15)
19
Gambar 2.7. Fasad Bangunan Stasiun Gambir sumber : Profil PT KAI Th 2005
Gambar 2.8. Pedestrian Bagi Pejalan Kaki sumber : Baskoro (2003:16 )
Gambar 2.9. Perspektif view sumber : Profil PT.KAI Th 2005
20 Pola Struktur
Struktur pada Stasiun Gambir di dominasi oleh beton bertulang, pada area atrium kolom dengan dimensi 70 cm berada di sekitar area tersebut, yang menghasilkan void sebagai view ke lantai di bawahnya, pada stasiun gambir bentukan bangunan sendiri merupakan persegi panjang, sedangkan struktur bangunan lingkaran.
Pada Struktur bagian peron Stasiun Gambir di dominasi dengan pemakaian baja dengan bentang lebar, dimana pada bagian tengah tersebut digunakan untuk lalu lintas kereta api dan aktifitas dari penumpang stasiun kereta api.
Gambar 2.10. Autorium Stasiun Gambir sumber : Profil PT.KAI Th 2005
Gambar 2.11. Peron Stasiun Gambir sumber : Profil PT.KAI 2005
21 Utilitas Bangunan
Untuk pencahayaan pada Stasiun Gambir ini menggunakan pencahayaan alami dimana terdapat penutup atap yang di desain transparant, guna memanfaatkan pencahayaan alami masuk ke dalam stasiun, pada ruang-ruang seperti ruang pengelola dan ruang staff terdapat pencahayaan buatan. Untuk penghawaan yang banyak menggunakan penghawaan alami, beberapa ruang kepala stasiun dan wakil kepala stasiun menggunakan penghawaan buatan.
B. Studi Kasus Stasiun Gubeng di Surabaya
Stasiun Gubeng berada pada Jln. Gubeng Masjid Surabaya Timur / Gubeng, dengan Luas ± 11.262 m2
Batas Sebelah Utara : Gardu PLN Batas Sebelah Timur : Stasiun Gubeng
Batas Sebelah Selatan : Jln. Stasiun Gubeng & Gubeng Pojok Batas Sebelah Barat : Gubeng Pojok
Tampilan
Stasiun Kereta Api Gubeng (pada tampilan tampak) terlihat menggunakan atap perisai, lain halnya yang terdapat pada Stasiun Gambir maupun Stasiun Pasar Turi, yang menggunakan atap joglo sebagai kaidah adap Jawa. Penggunaan warna pada Stasiun Gubeng ini menyamakan dari adanya warna yang dipergunakan pada gedung Perusahaan Air minum, yang berada Stasiun Gubeng itu sendiri
Gambar 2.12. Exterior Stasiun Gubeng Baru sumber : hasil pengamatan lapangan ( 2009)
22
Pada Stasiun Gubeng lama masih teteap digunakan sebagai stasiun ekonomi dan tidak mengalami pemugaran, stasiun lama masih memperlihatkan bangunan kolonial belanda dimana dilihat dari pintu, bentukan bangunan sendiri, dan detail kontruksi bangunan belanda.
Fasilitas yang dimiliki - Terdapatnya Penitipan Barang - R. Eksekutif Lounge
- R. VIP
- R. Ekonomi pada sebelah barat (bangunan Stasiun Gubeng Lama) - Mushola
- Area Makanan Siap Saji - Holand Bakery
- L.A. Chickend - Donkin Donout - Fresh Cafe
- Brownies Amanda
- Area Makanan Tradisional pada bangunan sebelah barat dan timur - Hiburan Area Peron
Pada area penitipan barang berada pada bangunan sebelah barat, dengan tarif Rp 7.000,- untuk penitipan di dalam lemari, sedangkan pada luar lemari yang
Gambar 2.13. Exterior Stasiun Gubeng Lama sumber : hasil pengamatan lapangan (2009)
23
mempunyai kapasitas yang lebih besar Rp 8.000,-. Pada area Exsekutif lounge terdiri dari 2 lantai, area lantai 1 digunakan sebagai kegitan publik, lantai 2 digunakan sebagai tempat santai dan area makan.
Pada area peron sebelah timur terdapat area panggung kecil di tengah-tengah area peron yang berdekatan dengan pintu masuk, area ini digunakan sebagai penghibur kepada para penumpang dan pada beberapa saat terdapat penumpang yang ingin menyumbangkan lagu dapat menyayikan di panggung ini.
Gambar 2.14. Exterior Exsekutif Lounge sumber : hasil pengamatan lapangan (2009)
Gambar 2.15. Stage di Area Peron sebelah Timur sumber : hasil pengamatan lapangan (2009)
24
Area makan tradisional yang berada beradapan pada bangunan sebelah barat dan timur ini menjual berbagai macam makanan yang sesuai dengan lidah .
Pada sisi luar bagian utara terdapat canopy bagi pejalan kaki yang mengarahkan ke bangunan, dan area jadwal kereta api, para pejalan kaki dapat langsung menuju ke bangunan, dan dapat terhindar dari sirkulasi kendaraan pribadi
Pola Sirkulasi
Pada Stasiun Gubeng Sirkulasi banyak bersifat horizontal dimana artinya penumpang banyak dari pintu masuk menuju ke area peron, menunggu kereta berangkat, pada area peron di Stasiun Gubeng gabung dengan area peron
Gambar 2.16. Area makanan tradisional sumber : hasil pengamatan lapangan (2009)
Gambar 2.17. Canopy pada Sisi Utara Luar sumber : hasil pengamatan lapangan (2009)
25
bangunan lama, sebagian panumpang ada yang menuju ke lantai 2 dengan menggunakan akses dari ruang tunggu VIP, dan ruang tunggu Eksekutif.
Gambar 2.18. Pintu Masuk Bangunan Sebelah Timur sumber : hasil pengamatan lapangan (2009)
Gambar 2.19. Peron Sebelah Timur sumber : hasil pengamatan lapangan (2009)
Gambar 2.20. Transpotasi Vertikal Tangga sumber : hasil pengamatan lapangan (2009)
26 Pola Struktur
Struktur pada Stasiun Gubeng ini didominasi oleh beton bertulang, dimana pada bangunan baru kolom struktur berbentuk lingkaran pada area peron sebelah timur, yang berada tepat di sekitar area stage juga hampir sama, sedangkan pada area stasiun kontruksi menggunakan baja dengan bentang lebar dan bagian kiri dan kanan berbentuk seperti payung.
Utilitas
Pada Stasiun Kereta Api Gubeng ini pencahayaan mengggunakan pencahayaan alami, hanya beberapa ruang yang menggunakan pencahayaan buatan seperti kantor pengelola dll, penghawaan juga banyak menggunakan penghawaan buatan, pada ruang-ruang tertentu menggunakan AC seperti ruang Kepala Stasiun dan Wakil Kepala Stasiun.
Gambar 2.22. Baja pada tepi stasiun sumber : hasil pengamatan lapangan (2009)
Gambar 2.21. Bentang Tengah Peron sumber : hasil pengamatan lapangan (2009)
27 Interior
Sedangkan pada bagian dalam ruangan dengan adanya aktifitas-aktifitas dari para pengunjung dan beraneka perbedaan kondisi manusia, disini Gubeng terdapat sarana yang disebut ruang Eksekutif, tetapi sangat berbeda sekali dengan yang ada pada Stasiun Pasar Turi dimana luasan yang diberikan lebih kecil dan hannya memiliki kapasitas 60 orang (pada lantai 1), meskipun ruangan tersebut berada pada lantai satu dan dua tetapi tetap saja kurang efisien, apalagi yang terdapat pada lantai dua jarang dipergunakan dan diperuntukkan untuk umum.
Selain itu juga adanya ruang tunggu eksekutif biasa bagi para penumpang Kereta Api Bisnis maupun ekonomi, yang terdapat pada pinggir lintasan Kereta Api dan kapasitas maupun luasan ruang sangat memadai sampai ± 800 orang yang duduk dikursi, dan terdapat dua jenis ruang tunggu biasa, dimana ada yang terdapat pada bagianan dalam dan ada yang dipinggir lintasan
Gambar 2.23. Ruang Tunggu Eksekutif sumber : Baskoro (2003:16 )
Gambar 2.24. Ruang di dalam Stasiun sumber : Baskoro (2003:16 )
28
Juga terdapat ruang lain yang terdapat pada Stasiun Gubeng yaitu ruang tata usaha yang dipergunakan oleh dua karyawan pekerja Stasiun Gubeng.
2.1.4 Analisa Hasil Studi
Perbedaan antar studi kasus sejenis
Tabel 2.1 Perbedaan Studi Kasus
KETERANGAN STASIUN GAMBIR STASIUN GUBENG Banyak Massa dan
Gubahan Massa Banguan
Massa tunggal dengan gubahan dan tampilan massa yang modern
Dua Massa dengan memperhatikan
tampilan dan gubahan massa yang ditonjokan dengan konsep atau tema tertentu.
Persamaan Studi Kasus Sejenis - Fasilitas yang dimiliki
Kedua Studi kasus mempunyai persamaan di dalam fasilitas yang disuguhkan kepada penumpang, hanya pada stasiun gambir di lakukan di lantai 2, dan pada Stasiun Gubeng banyak dilakuakn di lantai 1.
- Pola Sirkulasi
Sama-sama menggunakan transportasi vertikal berupa tangga untuk akses pencapaian ruang-ruang tertentu, hanya saja paga stasiun gambir banyak
Gambar 2.25. Ruang di Tata Usaha ( sumber : Baskoro (2003:16 )
29
kegiatan yang melewati transportasi vertikal ini, pada Stasiun Gubeng hanya sedikit banyak yang secara horizontal.
- Tampilan Bangunan Stasiun
Sama – sama menampilkan Arsitektur Modern, dengan menggunakan atap miring baik perisai atap joglo yang menandakan bangunan ini beradaptasi dengan iklim di mana bangunan ini berada.
- Sistem Utilitas
Kedua Stasiun menggunakan pencahayaan dan penghawaan alami, hanya beberapa ruang yang menggunakan buatan karena beberapa faktor lokasi dan kebutuhan akan energi buatan yang dilakukan pada ruangan tersebut.
- Pola Struktur
Pada kedua studi kasus bangunan mempunyai bentukan persegi dan kolom struktur yang ditonjolkan berupa lingkaran, untuk peron selalu menggunakan baja dikarenakan bentang lebar, akan mwwadahi kegiatan yang berada di bawah tersebut berupa jalan kereta api dan penumpang stasiun kereta api.
Dari hasil analisa diatas bisa disimpulkan bahwa baik dari tempat yang skalanya kecil maupun yang skalanya besar, keduanya memiliki visi misi atau tujuan yang sama yaitu menghadirkan tempat yang dapat mewadahi kegiatan penumpang kereta api yang bertujuan untuk mengembangkan sebuah bangunan stasiun dan ruang tunggu penumpang yang respentatif. Dari tujuan yang sama tersebut maka ketiganya menghadirkan sebuah unsur yang mendukung visi misi yang dijalankan, seperti dari segi fasilitas, kegiatan yang dilakukan, dan suasana tampilan yang dihadirkan sama sesuai dengan ciri dan identitasnya untuk mendukung tercapainya tujuan.
30
2.2 Tinjauan Khusus Perancangan
2.2.1 Lingkup Pelayanan
Konfigurasi Stasiun
A. Komponen Stasiun Kereta Api dikelompokkan menjadi 4 area, yaitu ; 1. Area Emplasement
Area ini meliputi fasilitas kegiatan - Masuk - keluarnya Kereta Api. - Pergerakan Kereta Api.
- Parkir atau berhentinya Kereta Api.
- Menaikkan dan menuninkan penumpang atau barang. - Pelayanan teknis Kereta Api.
2. Area Pelayanan Umum
Area ini meliputi fasilitas kegiatan pelayanan kepada masyarakat pemakai jasa angkutan Kereta Api, antara lain ;
- Pelayanan sebelum dan sesudah perjalanan dengan jasa Kereta Api. - Memberikan pelayanan informasi seputar Kereta Api.
- Pelayanan processing penumpang dan barang.
- Pelayanan penunjang untuk kebutuhan pengguna jasa Kereta Api. 3. Area Kontrol dan Komunikasi
Area ini meliputi fasilitas kegiatan : Pengawasan, Pengamanan, Pengaturan perjalanan Kereta Api dan kegiatan komunikasi antara stasiun dengan Kereta Api, yang berupa ;
- Pengaturan sinyal dan wesel - Pengaturan jadwal perjalanan. - Pengaturan jalur perjalanan. - Komunikasi antar stasiun - Komunikasi dengan Kereta Api. 4. Area Management dan Administrasi
- Administrasi sehari –hari pada stasiun - Administrasi perjalanan kereta api
31 B. Emplasement stasiun Kereta Api
Merupakan bagian utama dari Stasiun Kereta Api yang mana menentukan konfigurasi Stasiun Kereta Api karena lintasannya. Konfigurasi emplasement mempengaruhi pengaturan tata letak : Langsiran, Parkir Kereta Api, Pergerakan Kereta Api, maupun keluar - masuknya Kereta Api.
Variasi pengaturan emplasement dapat dikembangkan sesuai dengan