BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Konsep Perempuan dan Anak
Pelecehan seksual dan kekerasan seksual atau pemerkosaan sesungguhnya bukan sekedar bentuk pelangaran hukum terhadap hal orang lain yang tergolong tindakan kriminal. Tetapi lebih dari itu iala suatu peristiwa kekerasan seksual yang di lakukan lelaki kepada perempuan, karena dilatar belakangi oleh nilai sosial budaya di masyarakat yang sedikit minim banyak biasa gender. Pelecehan seksual tidak hanya selalu berupa pemerkosaan atau kekerasan seksual. Bentuk pelecehan dapat seksual dapat bermacam-macam yaitu :
a. Sekedar menyuli perempuan yang sedang berjalan.
b. Memandang dengan mata seolah menyelidiki tiap-tiap lekuk tubuh. c. Meraba-rabah ke bagian tubuh yang sensitif.
d. Memperlihatkan gambar porno.
Tindakan pemerkosaan sendiri secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu usaha lampiaskan nafsu seksual oleh seorang lelaki terhadap seorang perempuan dengan cara yang menurut moral dan/atau hukum yang berlaku ialah melanggar (Wignjosoebroto, 1997).
Adapun yang dimaksud pelecehan seksual sendiri ialah suatu bentuk pemberian perhatian seksual, baik secara lisan, tulisan, maupun fisik terhadap diri perempuan (Adrina, 1995). Selain itu, menurut Richael Ruben Stien (1992), yang dimaksud pelecehan seksual adalah sifat prilaku seksual yang tidak di inginkan dan tindakan yang di dasarka pada seks yang menyinggung si penerima.
Persamaan dari pelecehan dan pemerkosaan adalah keduanya sebenarnya sama – sama tidak di inginka oleh perempuan yang menjadi korban , namun ada kali kaum perempuan tidak bisa berbuat apa disebapkan disana dapat dan sedang berlaku nilai dan konstruksi. Sosial masyarakat yang seolah mencocokkan peristiwa diatas atau minimal menurut korban untuk selalu bersikap pasrah (Rohan collier, 1998).
Menurut Haeise (1994), yang dimaksud tindakan kekerasan terhadap perempuan pada dasarnya adalah “ segala tindakan kekerasan verbal atau fisik, pemaksaan atau ancaman pada nyawa yang diarahkan pada seorang perempuan apakah masih anak-anak atau sudah dewasa yang menyebapkan kerugian fisik atau psikologi, penghianaan, atau perampasan kebebasan dan yang melanggengkan sub-ordinasi perempuan “sementara itu, defenisi yang lebih lengkap termuat dalam pasal 1 dekralasi penghapusan kekerasan terhadap Kekerasan seksual, dengan demikian tidak hanya terbatas pada hal yang bersifat fisik, tetap juga mencakup banya perilaku lainya misalnya dengan penganiayaan spisikologis penghinaan, sehingga kalau kita berbicara masalah kekerasan seksual haruslah menyentu pada inti kekerasan dan pemaksaan, tidak hanya perilaku yang keras dan menekan. Kalau kekerasan seksual hanya di artikan sempit bagi anak dan perempuan.
Konferensi internasional mengenai perempuan diselenggarakan di Kopenhagen pada tahun 1980. Konferensi ini adalah pekerjaan, kesehatan, dan pendidikan pada saat isu perempuan masih dibicarakan oleh politisi lan sehingga tidak mengherankan bahwa topik-topik mengemukakan pada saat konferensi
mewakili kepentingan berbeda Negara saat itu. Pentingnya konvensi wanita itu dapat dilihat penandatanganan segera konvensi tersebut oleh enam puluh negara dan saat ini telah di ratifikasi oleh lebih dari 165 negara konvensi itu dapat di katakan sebagai dokumen internasional yang penting untuk menciptakan kesetaraan perempuan konvensi itu mencapai kesamaan hukum seperti perempuan dalam lingkungan domestik dan dalam lingkungan kerja.
Konferensi internasional kedua itu juga menghasilkan Conpenhagen Programme for Action yang memfokuskan untuk mendukung peran perempuan didalam proses pembangunannya melalui peningkatan peningkatan pendidikan, pelayanan kesehatan akses pagar tenaga kerja, dan mensuport peran perempuan di bidang pertanian.
Adapun konferensi internasional keempat tentang perempuan diselenggarakan di kota beijing pada 1995. Konferensi ini secara tegas mempekuat komitmen mengenai hak-hak perempuan yang telah diadopsi sebelumnya pada konferensi internasional tentang Hak Asasi Manusia di Wana Austria tahun1993. Konferensi menghasilkan suatu dokumen yang bernama platfrom for Action dan 12 Areas of Concern yang menjadi kesepakatan, yaitu :
1. Perempuan dan kemiskinan
2. Perempuan dan pendidikan serta pelatihan 3. Perempuan dan kesehatan
4. Kekerasa terhadap perempuan 5. Perempuan dan konflik bersenjata
6. Ketimpangan ekonomi
7. Perempuan dalam politik dan pengambilan keputusan 8. HAM perempuan
9. Perempuan dan media
10.Perempuan dan lingkungan hidup 11.Hak anak perempuan
Secara teoritis, dapat di katakan di sini bahwa tindakan pelecehan dan kekerasan seksual terhadap perempuan oleh laki-laki pada hakikatnya adalah gejala yang sangat komplek, mengakar dalam hubungan kekuasaan yang berbasis gender seksualitas, indentitas diri, serta di pengaruhi oleh peranata sosial yang berkembang di komunitas itu.
Kekerasan seksual ini dalam banyak hal di pahami dan di anggap sebagai suatu perpanjangan kontinum keyakinan yang memberi hak kepada laki-laki untuk mengendalikan perlilaku perempuan, membuat perempuan tidak memiliki kebebasan terhadap kehidupan seksual dan peran reproduksinya sendiri, misalnya dalam referensi simpolis dan ritual hubungan seksual.
Dengan melihat luasnya defenisi tenang kekerasan terhadap perempuan, maka sebenarnya tindakan kekerasan seksual pada perempuan bisa terjadi pada berbagai kelompok, umur, status sosial, tempat, dan waktu, dimana hal ini tak lekas dari pengaruh budaya patriarkhal yang menempatkan laki-laki sebaga penguasa lembaga sosial dan badan perempuan. Kekerasan seksual biasa trjadi pada lingkungan keluarga (hubungan suami dengan istri, orang tua dengan anak-anaknya, anak dengan anak dan antar anggota keluarga), lingkungan dengan
masyarakat (dengan orang di sekitarnya, lingkungan kerja, tradisi dan adat yang melanggengkan kekerasan) dan bisa juga di lingkungan negara (UU dan peraturan yang melanggengkan sub-ordinasi perempuan).
Untuk mencega agar tidak terjadinya pemerkosaan terhadap anak tidak makin marak dan sekaligus membuat jerah pelaku, maka bebaga pihak telah meloncarkan wacana supaya pelaku tindakan kejahatan seksual kepada anak di suntik hormon yang dapat menghilangkan libidu nafsu seksualnya. terancam hukum kebiri kepada pelaku pemerkosaan edofil ini didesak agar segera di berlakukan di indonesia. Karena kebijakanya ini sebenarnya bukan hal yang baru di dunia internasional .
Hukuman kewiri bagi pelaku tindak pemerkosaan terhadap anak sudah banyak dilakukan di berbagai negara, seperti di Amerika, Jerman, Australia. Meskipun ancaman tambahan hukuman kebiri ini dalam praktiknya sulit dapat berjalan efektif mengurangi tindakan kejahatan seksual terhadap anak di masyarakat. Tetapi, kalau menimbang bagaimana pendiriaan yang mesti di tanggung anak yang mnjadi korban pemerkosaan seumur hudupnya, maka hukuman kebiri bagi si pelaku masih jauh lebih ringan atau paling kurang tidak setara dengan penderitaan korban.
Pelecehan seksual (secual harassement) di sini adalah pemberian perhatian seksual, baik melalui secara lisan, tulisan maupun fisik terhadap diri perempuan di mana hal itu di luar keinginan perempuan yang bersangkutan namun harus dterima sebagai suatu kewajaran adapun tindakan pemerkosaan adalah hubungan sexsual yang di lakukan secara paksa dan merugikan pihak korban.
Anak-anak atau perempuan cenderung menjadi korban potensial berbagi terjadinyakejahatan seksual selain karena faktor kebejatan mental pelaku secarafisik anakumumnya, memang sangat rentan dan muda menjadi korban dari tindakan pemerkosaan.
Adapun 5 tipe tindakan pemerkosaan secara garis besar tindakan pemerkosaan yaitu:
a. Sadictic rape (pemerkosaan sadis) yang melakukan seksual dan agresi didalam bentuk kekerasan desteruktif.pelaku nikmati kesenangan erotis bukan melalui hubungan seksual, selain melalui serangan yang mengerikan atas kelamin dan tubuh korban.
b. Anger rape yaitu sebagai pelampiasan kemarahan atau sebagaian sasaran menyebutkan dan melepaskan perasaan geram dan amarah yang tertahan. Tubuh korban seakan dijadikan objekterhadap siapa pelaku memproyeksikan pemecahan kesulitan, kelemahan frustasi dan kekecewaan hidupnya.
c. Domination rape permerkosaan karena dorongan pelaku menunjukkan kekerasan atau superioritasnya sebagai lelaki terhadap perempuan dengan tujuan utama penakluk seksual.
d. Seductive rape yaitu karena dorongan situasi merangsang yang di ciptakan kedua bela pihak.
e. Exploitation rape yaitu pemerkosaan yang terjadi karena diperolehkeuntungan atau situasi di mana perempuan bersangkutan didalam posisi tegantung padanya secara ekonomi and sosial.
Anak harus dilindungi karena anak ialah generasi penerus yang berpotensi dan berperan penting terhadap berkembangan masa yang akan datang. Oleh karena itu anak peranya dalam memajukan bangsa dan negara di kemudian hari. Dalam pasal 81 dan pasal 82 UU Nomor 23 th 2002 tentang perlindungan anak menyebutkan :
Pasal 81 berbunyi :
1. setiap orang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak akan melakukan pencabulan dengan orang lain di pidana penjara paling lama 15 tahun dan paling banyak Rp. 300.000.000,dan paling sedikit Rp. 60.000.000.
2. Ketentuan pidana bagaimana yang dimaksud dalam ayat 1 berlaku pada bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan pentipuan muslihat, serangkai kebohongan atau merujuk anak melakukan persetubuhan denganya atau dengan orang lain.
Kekerasan terhadap perempuan dalam perspektif hukum pidana pasal tindakan pencabulan terhadap perempuan, perbuatan pencabulan pasal 290 diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun :
a. Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang padahal diketahui bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya.
b. Siapa saja yang melakukan perbuatan cabul dengan orang padahal diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa umurnya belum 15 tahun dan kalau umurnya kalau tidak ternyata bahwa belum mampu di kawini.