BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN
B. Kajian Teori
4. Konsep Perkawinan Sejenis Menurut Hukum Positif
Blau memusatkan perhatian pada proses pertukaran yang dalam pandangannya, mengarahkan banyak perilaku manusia dan menggarisbawahi hubungan-hubungan di antara individu dan juga di antara kelompok. Pada hakikatnya, Blau membayangkan suatu rangkain empat tahap yang mendorong dari pertukaran antar pribadi menuju struktur sosial ke perubahan sosial.
Tahun 1974 mengatakan bahwa perkawinan dianggap sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan itu sendiri.51
Sehubungan dengan adanya ketentuan dalam Pasal 2 ayat (1) tersebut, maka bagi warga negara Indonesia yang beragama Islam apabila hendak melaksanakan perkawinan agar perkawinan dianggap sah harus memenuhi ketentuan-ketentuan tentang perkawinan yang telah diatur dalam hukum perkawina Islam. Demikian juga bagi mereka yang beragama Nasrani, Hindu dan Budha, hukum agama merekalah yang menjadi dasar pelaksanaan yang menentukan sahnya perkawinan. Dalam ketentuan Pasal di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak ada perkawinan yang dapat dilangsungkan diluar hukum agama dan kepercayaan, sebab untuk dapat sah atau tidak suatu perkawinan yang akan dan telah dilangsungkan adalah berdasarkan ketentuan agama dan kepercayaan. Perkawinan sejenis tidak memenuhi ketentuan-ketentuan dalam agama dimana perkawinan tersebut jelas-jelas menyalahi fitrah manusia. Dalam surat An-nisa’ ayat 1 dan surat Ar-rum ayat 21 menunjukkan bahwa fitrah manusia itu dilahirkan berpasang-pasang yang seharusnya laki-laki berpasangan dengan perempuan dan sebaliknya.
Ketentuan Undang-undang Dasar 1945 Bab XA Pasal 28B ayat (1) menyatakan bahwa “setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah”. Artinya perkawinan sejenis tetap tidak dapat dilakukan karena perkawinan yang sah harus tetap berdasarkan peraturan perundang-undangan dan ketentuan agama.
51 Tim Redaksi, KHI, Hukum Perkawinan,kewarisan dan perwakafan, (Bandung: CV. Nuansa Aulia, 2015), 74.
4. Konsep Perkawinan Sejenis Menurut Hukum Islam
Hukum Islam merupakan hukum yang universal yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik hubungan dengan tuhan, maupun sesama manusia dan alam. Hukum Islam pada hakikatnya adalah peraturan Allah untuk menata kehidupan manusia. Peraturan ini dapat terealisasi dalam kehidupan nyata bila ada kesadaran umat Islam untuk mengamalkannya, yakni melaksanakan setiap perintah dan menjauhi seluruh larangan yang digariskan oleh Al-qur’an dan Hadits. Hukum Islam merupakan suatu sistem hukum yang sangat sesuai dengan manusia, karena pembentukannya senantiasa memperhatikan kemaslahatan manusia dalam menghadapi pelbagai masalah dan tantangan kehidupannya. Hal ini disebabkan Allah mengetahui hakikat jiwa manusia dan kemampuanya dalam membentuk akhlak.
Akhlak yang diajarkan Islam bukan hanya menuntut larangan dan pencegahan, tetapi juga dorongan untuk mewujudkan kepribadian yang bertaqwa kepada Allah. Akhlak Islam menganjurkan kebaikan dan memberantas kejahatan.
Ini berdasarkan pandangan Islam bahwa fitrah manusia cenderung berbuat baik, sebab manusia diciptakan dari proses alami yang suci yang substansi jiwanya berasal dari substansi Yang Maha suci Allah. Akan tetapi di balik itu ada kehendak hawa nafsu manusia yang ingin melampiaskan seks di luar ketentuan hukum Islam, yang merupakan penyimpangan biologis yang melanggar fitrah manusia.
Hukum Islam senantiasa memperhatikan kemaslahatan manusia dalam menghadapi masalah kehidupannya, salah satunya terkait dengan subtansi jiwa
yang bersal dari kehendak hawa nafsu manusia yang ingin melampiaskan seks diluar ketentuan Hukum Islam. Penyimpangan biologis yang melanggar fitrah manusia seperti perkawinan sejenis dalam Hukum Islam ditentang secara keras karena telah menyalahi aturan yang telah ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis sebagai dasar Hukum Islam yang telah ada.52 Lebih lanjut menekankan bahwa Islam memberikan bentuk liwath53 kedalam perbuatan yang tercela yang pernah terjadi pada kaum Nabi Luth yang terbukti telah membawa malapetaka yang luar biasa baik berwujud kutukan wabah penyakit dan lainnya.54
Dalam Hukum Islam Perkawinan adalah melakukan suatu akad atau perjanjian untuk mengikatkan diri antara seorang laki-laki dan perempuan untuk mewujudkan suatu kebahagian hidup berkeluarga yang diliputi rasa kasih sayang dan ketentraman dengan cara-cara yang di ridhai Allah. Perkawinan sejenis tentu bukan merupakan hal yang di ridhoi oleh Allah karena telah menyahi fitrah manusia. Dalam surat An-nisa ayat 1 dan surat Ar-rum ayat 21 menunjukkan bahwa fitrah manusia itu dilahirkan berpasang-pasang yang seharusnya laki-laki berpasangan dengan perempuan dan sebaliknya.
Di dalam Islam, suatu pernikahan memiliki syarat dan rukun perkawinan yang hal ini sangat jelas ditetapkan dalam syari’at Islam. Rukun perkawinan adalah sesuatu yang harus ada dalam perkawinan, jika salah satu rukunya tidak terpenuhi maka perkawinan tidak akan sah. Dimana salah satu rukun perkawinan
52 Terdapat 7 (tujuh) surat yang menyatakan lingkupan homoseksual atau gay, yakni QS.Al-A;raf (7):80-102, QS. Hud (11):77-82, QS. Al-Anbiya’ (21):74, QS. Al-Syu’ara’ (26): 160-173, QS. An-Naml (27):54-58, dan QS. Al-Ankabut (29): 26-35, dikutip dari Tafsir Al-Azhar (Hamka), 1975, Surabaya: Bina Ilmu Offset, hal. 165.
53 Liwat (Sodomi) dalam bahasa arab artinya melakukan jima’ (persetubuhan) melalui lubang dubur yang dilakukan oleh sesama pria.
54 QS. Al-Ankabut (29) : 28-35.
dalam Islam adalah adanya calon pengantin laki-laki dan calon pengantin perempuan. Perakwinan sejenis tidak memenuhi rukun tersebut dimana calon pengantin adalah orang yang berjenis kalamin sama.
Selain itu juga, dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) mempertegas dengan beberapa Pasal yang tidak jauh berbeda dengan Hukum normatif, yaitu syarat perkawinan yang sah adalah ikatan lahir batin dan biologis antara laki-laki dan perempuan sebagaimana ketentuan Pasal 1 huruf a, Pasal 1 huruf d, Pasal 29 ayat (3) serta Pasal 30 Kompilasi Hukum Islam. Artinya pasal-pasal dalam Kompilasi Hukum Islam tersebut dengan tegas menyatakan melarang perkawinan sejenis. Dalam Pasal 77-84 Kompilasi Hukum Islam juga mengatur tentang hak dan kewajiban suami isteri yang menyatakan bahwa suami adalah kepala keluarga dan istri adalah ibu rumah tangga. Perkawinan sejenis tidak dapat menentukan hak dan suami istri tersebut karena tidak jelas mengenai siapa yang menjadi kepala rumah tangga dan siapa yang menjadi ibu rumah tangga.
Islam mengakui bahwa manusia mempunyai hasrat yang sangat besar untuk melangsungkan hubungan seks, terutama terhadap lawan jenisnya. Allah SWT telah menciptakan dua jenis kelamin yang berbeda dan masing-masing merupakan pasangan bagi yang lainnya seperti firman Allah berikut ini:
َ وَ اَ نَ
َ خَ ل هَ
َ قَ
َ زلا
َ وَ ج
َن ي
َ
َ ذلا
َ رََ َ ك
َ لا و
ََ نَ ث ى
( ٥٤ )
Artinya: Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasang pria dan wanita (Q.S An-Najm: 45).55
Kendati Islam telah mengatur hubungan biologis yang halal dan sah, namun dalam pratiknya muncul penyimpangan-penyimpangan yang tetap bisa
55 Departemen Agama RI,Al-Qur’an Dan Terjemahnya (Surabaya: CV. Karya Utama, 2005), 766.
terjadi, baik berupa perzinaan, lesbian maupun homoseksual dan lain-lain.
Homoseksual ialah hubungan seksual antara orang-orang yang sama kelaminnya, baik sesama pria maupun sesama wanita. Namun, biasanya homoseksual itu dipakai untuk seks antara pria, sedangkan untuk seks antara wanita disebut lesbian.
Dalam pandangan Hukum Islam homoseksual merupakan perbuatan keji dan termasuk dosa besar. Homoseksal adalah hubungan antara sesama jenis (laki-laki dengan (laki-laki-(laki-laki), perbuatan ini merupakan salah satu penyelewengan seksual, karena menyalahi sunnah Allah, dan menyalahi fitrah makhluk ciptaanNya.
Homoseksual merupakan dosa besar dalam Islam dan hukumnya haram. Karena bertentangan dengan norma agama, norma susila, merusak kesehatan jiwa, dan juga menyalahi fitrah manusia. Perilaku homoseksual merupakan suatu perbuatan keji yang dapat merusak akal fitrah dan akhlak manusia, karena banyak dampak yang diakibatkan dari perilaku tersebut dari segi kesehatan, ekonomi, sosial, dan agama Islam bersikap tegas terhadap perbuatan terlarang ini. Ketegsan Islam dapat dilihat dari nash serta hadis yang menjadi dasar hukum bagi para ulama fiqh dalam menetapkan hukuman homoseks.
Dalam Islam pun sudah jelas Allah SWT melarang keras hamba-Nya agar tidak masuk ke dalam golongan orang-orang yang menyukai sesama jenis, seperti lesbi maupun gay, biseksual, dan transgender. Allah telah mengharamkan dan mengecam homoseksual dengan siksa yang maksimal. Allah telah membalikkan bumi terhadap kaum Luth yang telah keterlaluan menjalakan homoseks serta Allah telah menghujani batu yang menyala kepada mereka sebagai balasan atas
perbuatan mereka yang menjijikan itu. Tak hanya itu, bahkan pelaku sodomi harus dibinasakan dari permukaan bumi ini. Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
َ أَ تَ أ
َ تَ و
َ نَ
َ ذلا
َ كَ ر
َ نا
َ نَ ََنم
َ لاَ ع
َ لا
َ ي َنم
َ وَ.
َ تَ ذ
َ رَ و
َ م َ نَ
َ خَا
َ لَ ق
ََ ل
َ مََ َ ك رَ ب
َ مَ َ ك
َ نََ َنم أَ زَ و
َ ك َنجا
َ مََ ب
َ لََ
أَ نَ ت
َ مَ
َ قَ وَ م
َ داَ ََ ع
َ ن و
َ.
:ءارعشلا(
561 -566 )
Artinya : Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Asy-Syu’ra’:
165-166)56
َ وَ لَ و
َ ط
َنإَا
َ ذَ ق
َ لا
َ قَ وَنم ََنل
َنهََ
أَ تَ أ
َ تَ و
َ نَ
َ لاَ ف
َ شَ ة َنحا
ََ م
َ سَا
َ بَ ق
َ مَ َ ك
َ نب
َنمَا
َ نََ
أَ ح
َ دَ
َ نَ َنم
َ لاَ ع
َ لا
َ ي َنم
َنإَ.
َ ك َ ن
َ مََ ل
َ تَ أَ ت
َ وَ ن
َ رلا َ
َ ج
َ لا
َ ش َ
َ هَ وَ ة
َ
َ نَ َنم
َ دَ و
َ نلا َننَ
َ س
ََ بَ ل َنءا
ََ أَ ن
َ تَ م
ََ ق
َ وَ مَ
َ مَ س
َنرَ ف
َ وَ ن
َ.
َ:فرعلألا(
08 -05 )
Artinya : Dan (Ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya:
Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah (amat keji) yang belum pernah terjadi oleh seorang pun dari umat-umat semesta alam.
Sesungguhnya kamu menggauli lelaki untuk memenuhi syahwat, bukan isteri. Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan. (QS. Al-A’raf: 80-81)57
Namun ada penafsiran berbeda dalam tek al-Qur’an menurut Musdah Mulia dan Husein Muhammad adalah intelektual muslim yang seringkali disebut-sebut sebagai pendukung halalnya pratik hubungan LGBT di Indonesia. Mereka berpandangan bahwa tidak ada larangan secara eksplisit dalam tek al-Qur’an terhadap homoseksual maupun lesbian. Yang dilarang adalah perilaku seksual dalam bentuk sodomi atau liwath. Umumnya, masyarakat mengira setiap homo
56 Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya (Surabaya: CV. Karya Utama, 2005), 525.
57 Ibid., 215.
pasti melakukan sodomi untuk pemuasan nafsu biologisnya, padahal tidak demikian. Sodomi bahkan dilakukan juga oleh orang-orang heteroseksual.58
Lebih lanjut Musdah beragumentasi tentang kebolehan perkawinan sejenis (LGBT), yakni: pertama, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
Manusia, baik laki-laki maupun perempuan adalah sederajat tanpa memandang etnis, kekayaan, status sosial, ataupun orintasi seksual. Dalam pandangan Tuhan, manusia dihargai hanya berdasarkan ketaatannya. Kedua, intisari dari ajaran Islam adalah memanusikan manusia dan menghormati kedaulatannya. Homoseksual adalah pemberian Tuhan yang bersifat alami dan diciptakan oleh Tuhan (takdir), oleh karena itu diperbolehkan dalam agama Islam. Ketiga, dalam teks-teks suci yang dilarang lebih tertuju kepada perilaku seksualnya, bukan pada orientasi seksualnya. Manusia menjadi heteroseksual atau homoseksual itu bersifat kodrati, sementara perilaku seksual itu bersifat konstruksi manusia. Sehingga perlu ada pendefinisian ulang tentang konsep perkawinan, dimana pasangan perkawinan tidak harus berjenis kelamin yang berbeda, tapi juga boleh sejenis.59
Intelektual muslim lainya, Ulil Abshar Abdallah, yang merupakam ketua Indonesia Conference on Religion and Peace, turut meramaikan perbincangan tentang isu perkawinan LGBT. Ulil berpendapat bahwa LBGT secara sains bukanlah penyakit atau penyimpangan.60 Terkait kisah Luth, Ulil berpendapat
58 Inayatul Aini, “Kisah Homoseksual Kaum Nabi Luth dalam Al-Qur’an Menurut Penafsiran Musdah Mulia dan Husein Muhammad”, Skripsi, Fakultas Usulluddin dan Pemikiran Islam UIN Yogyakarta; Baca Juga Musdah Mulia, “Seksualitas Lesbian”, dalam Jurnal Peremmpuan, 124.
59 Abdul Haq Syawqi, “Kawin Sejenis dalam Pandagan Musdah Mulia”(Skripsi :UIN Yogyakarta Tahun 2009),105-106.
60 Ulil: Bersikap Adil pada LGBT, Jangan Paksa Terapi Penyembuhan,
http://www.readingislam.net/2016/02/ulil-bersikap-adil-pada-lgbt-jangan.html diakses pada 12 September 2018.
bahwa kritik al-Qur’an pada kaum sodomi bukan perilaku homoseksualnya secara langsung, melainkan perampokan dan homoseksual yang dilakukan dengan cara pemerkosaan.61
Mui’im Sirri, yang juga mendukung legitimasi perkawinan sejenis, berpendapat bahwa penolakan legalitas homoseksualitas dan pernikahan sejenis berasal dari cara pandang tekstual terhadap Al-Qu’an. Menurutnya, perkawinan sejenis dapat dibenarkan atas pertimbangan kemaslahatan yang bermuara pada terwujudnya kesetaraan, keadilan, dan kehormatan manusia. Konsep kemaslahatan ini muncul cukup awal dalam tradisi yurisprudensi Islam dan terus berkembang hingga sekarang, yang mengindikasikan bahwa konsep itu merepesentasikan spirit agama yang mampu menyerap perkembagan zaman.
Menurutnya, pelembagaan perkawinan sejenis memungkinkan pasangan dapat menikmati berbagai hak keistimewaan (privilages) yang dinikmati suami-istri lain.62
Di samping itu dukungan datang dari beberapa organisasi internasional yang diduga kuat menyokong secara finansial terhadap gerakan kampaye pengesahan perkawinan LGBT di Indonesia, yaini United Nations Development Programe (UNDP) dan United State Agency International Development (USAID).
61 LGBT dalam al-Qur’an, Ini Tafsir Ulil Soal Kisah Nabi Luth, http://www.satuharapan.com/red-detail/read/lgbt-dalam-alquran-ini-tafsir-ulil-soal-kisah-nabi-luth,diakses pada 12 September 2018.
62 Mun’im Sirry, Islam LGBT dan Perkawinan Sejenis, diakses dari
https://www.inspirasi.co/post/detail/5806/munim-sirry-menafsir-kisah-nabi-luth-secara-berbeda, diakses pada 12 September 2018.
Adapun hadist tentang haramnya homoseksual yang diriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
َ مَ ن
ََ و
َ ج
َ تَ وَ ه َ دَ
ََ يَ ع
َ مَ ل
َ مَ ل ََ ع
ََ ق
َ وَنمَ
َ لَ و
ََ ف َ ط
َ قاَ ت
َ لَ و
َ لاَا
َ ف
َ لَ َنعا
َ وَ لا
َ مَ ف
َ عَ و
َ لَ
َنبَنه .
Artinya : Siapa menjumpai orang yang melakukan perbuatan homo seperti kelakuan kaum Luth maka bunuhlah pelaku dan objeknya. (HR.
Ahmad).63
َ عَ ن
ََ عَ ب
َ رلا َندَ
َ ح
َنن ب َننَ
َ نبَ َ أ
َ سَنع
َ يَ د
َ لا َ
َ دَنر
َ عَ, َ ي
َ نََ
أَنبَ يَنه
َ أَ,
َ رَ س َ نَ
َ وَ ل
َ
َنللا
َ صَ ل َ
َ للاَى
ََ عَ ل
َ يَنهَ
َ وَ س
َ لَ مَ
َ ق
َ ل"َ: َ لا
ََ يَ ن
َ رَ َ ظ
َ رلا
َ لََنإ َ ج
َ عَ َ ل
َ وَ رَنة
َ رلا َ
َ ج
َ وَ, َنل
َ ل
َ لاَ
َ مَ رَ أ
َ ةََنإ
َ عَ َ ل
َ وَ رَنة
ََ لا
َ مَ رَ أ
َ وَ, َنة
َ يَ ف َ لَ
َ رلاَي َنض
َ لَ َ ج
َنل ج رلاَلإ
َ
َ ََ َنف
َ و
ََ و َنب
َنحا
َ وَ, َ د
َ لَ )ملسمَهاور( َ." َند َنحا َ و ََ لا َنب َ و َ ثلاَ َنف َ َنة أ ر م لاَ لنإ َ ةَ َ مَ رَ أ َ لاَي َنض َ تَ ف
Artinya : Dari ‘Abdur rahman ibn Abu Sa’id Al-Khudri dari ayahnya, bahwasanya Rasulullah SAW. Bersabda: “Tidak boleh lelaki melihat aurat lelaki, dan tidak boleh wanita melihat aurat wanita, tidak boleh lelaki bersentuhan kulit dengan lelaki dalam satu busana, dan tidak boleh wanita bersentuhan kulit dengan wanita dalam satu busana.
(HR. Muslim)64
َ عَ ن
ََ أ
َ ََُ َنب رَ يَ رَ ة
ََ ق
َ قَ: َ لا
ََ ر َ لا
َ سَ و
َ لَ
َنللا
َ صَ ل َ
َ للاَى
ََ عَ ل
َ يَنهَ
َ وَ س
َ لَ م
َ ل"َ:
َ تََ ب
َ رََ لا َنشا
َ مَ رَ أ
َ لاَ م َ ةَ
َ رَ أَ ة
ََ و
َ رلا َ لَ
َ لَ َ ج
َ رلا
َ ل َ ج
َ."
)دوادَوبأوَدحأَهاور(
Artinya : Dari Abu hurirah, berkata: Rasulullah SAW. Bersabda: “Janganlah wanita bersentuhan kulit (tanpa busana) dengan wanita lain, dan janganlah lelaki bersentuhan kulit (tanpa busana) dengan lelaki lain.
(HR. Ahmad dan Abu dawud).65
Sebagai penguat hadist diatas, dalam hadist lain diterangkan bahwa pelampiasan nafsu seksual sesama jenis termasuk zina, hadistnya sebagai berikut:
َ عَ ن
ََ أ
َ مََ َنب
َ س و
َ قَى
َ قَ: َ لا
ََ ر َ لا
َ سَ و
َ لَ
َنللا
َ صَ ل َ
َ للاَى
ََ عَ ل
َ يَنهَ
َ وَ
َ سَ ل
َ م
َنإَ:
َ ذ
َ أَا
َ ت
َ رلاَى
َ لَ َ ج
َ رلا
َ لَ َ ج
َ فَ ه
َ م
َ زَا
َنناَ ي
َ وَ, َننا
َنإَ ذ
َا
َ أَ ت
ََ لا َنت
َ مَ رَ أ
َ لاَ مَ َ ةَ
رَ أَ ة
ََ ف
َ هَ م
َ زَا
َنناَ ي
َننا
َ."
)يقهيبلاَهاور(
63 Muhmmad bin Yazid Abu Abdillah Qozwaini, Sunan Ibnu majah, Juz. 2, (Bairut:Daar al-Fikri), 856.
64 Fatwa Majelis Ulama Indonesia No 57 Tahun 2014 Tentang Lesbian, Gay, Sodomi dan Pencabulan, 4.
65 Ibid., 5.
Artinya : Dari Abu Musa, berkata: Rasulullah. SAW. Bersabda: “Apabila lelaki mengauli lelaki, maka keduanya berzina. Dan apabila wanita menggauli wanita, maka keduanya berzina. (HR. Al-Baihaqi).66
Selanjutnya terdapat hadist yang menerangkan adanya laknat Allah SWT atas tindakan homoseksualitas dan sodomi serta sangat dikhawatirkan oleh Nabi SAW, antara lain:
َ عَ ن
ََ عَ ب
َندَ
َنللا
ََ ب
َ م َننَ
َ م
َ بَنن َندَ
َ قَ ي ََ ع
َنلَ
َ أَ ن
َ هَ
َ عَ َن س
َنباَ ر َ ج
َ يَا
َ قَ و
َ قَ: َ ل
ََ ر َ لا
َ سَ و
َ لَ
َنللا
َ صَ ل َ
َ للاَى
ََ عَ ل
َ يَنهَ
َ وَ س
َ لَ م
َنإ"َ:
َ نَ
َ خَ و َ أ
ََ م َ ف
َ أَا
َ خ
ََ عَ ل َ فا
َ أَى
َ م
َ عَ َنت
َ مَ ل
ََ ق
َ وَنمَ
َ لَ و
َ ط
َ."
)يذمترلاَهاور(
Artinya : Dari Abdullah ibn Muhammad ibn ‘Uqail, bahwasanya ia mendengar jabir berkata: Rasulullah SAW. bersabda : “Sesunggunya apa yang saya khawatirkan menimpa umatku adalah perbuatan umat Nabi Luth”. (HR.
At-Tirmidzi).67
َ عَنن
ََ با
َ عَ ب َننَ
ََ ر َ سا
َ يَ َنض
َ للا
َ نَ ه ََ ع
َ م
َ أَا
َ رَ س َ نَ
َ وَ ل
َ
َنللا
َ صَ ل َ
َ للاَى
ََ عَ ل
َ يَنهَ
َ وَ س
َ لَ مَ
َ ق
َ ل"َ: َ لا
َ عَ ن
َ للا َ
ََ م
َ نَ
َ عَنم
َ لَ
َ عَ م
َ لَ َ." َ ط ََ لَ و َ قَ وَنم َ لَ َ عَ م َ لَ َ عَنم َ نَ ََ م َ للا َ َ عَ ن َ لَ, َ ط ََ لَ و َ قَ وَنم َ لَ َ عَ م َ لَ َ عَنم َ نَ ََ م َ للا َ َ عَ ن َ لَ, َ ط ََ لَ و َ قَ وَنم
)دحأوَيئاسنلاَهاور(
Artinya : Dari Ibn Abbas, bahwasanya Rasulullah SAW. Bersabda : “Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan umat Nabi Luth, Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan umat Nabi Luth, Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan umat Nabi Luth”. (HR. An-Nasai dan Ahmad).68
Adapun dalam qaidah ushuliyyah dan qaidah fiqhiyyah, antara lain:
َنفَ ل صَ لأا
َ نلاَ
َ هَني
َ تل ََنل
َ حَن رَن ي .
Artinya : “Hukum asal dalam larangan itu untuk pengharaman”.69
َ لأا
َ لَ َ ص
َنف
َ نلاَ
َ هَني
ََ يَ ق
َ ت
َ فَي َنض
َ س
َ داَ
َ لا
َنهنم
َ يَ
َ عَ نَ
Artinya : “Pada dasarnya, di dalam larangan tentang sesuatu menuntut adanya
ه.
rusaknya perbuatan yang terlarang tersebut”.70
66 Fatwa Majelis Ulama Indonesia No 57 Tahun 2014 Tentang Lesbian, Gay, Sodomi dan Pencabulan, 5.
67 Ibid., 6.
68 Ibid., 6.
69 Ibid., 7.
70 Ibid., 7.
َ ضلا
َ رَ رَ
َ يَ دَ
فَ ع
َ قَ د ََنب
َن لا َنرَ
َ مَ ك
َننا .
Artinya : “Segala mudharat (bahaya) harus dihindarkan sedapat mungkin”.71
َ دَ رَ ء
َ لاَ م
َ ف
َنسا
َ مَ ق َندَ
َ دَ م
ََ عَ ل
َ جَى
َ ل
ََ لا َنب
َ م
َ ص
َنلَا
َنح .
Artinya : “Menghindarkan mafsadat didahulukan atas mendatangkan maslahat”.72 Meskipun di antara ulama fiqh terdapat perbedaan pendapat, namun mereka sepakat atas keharaman homoseksual. Perbedaan pendapat hanya terjadi dalam masalah sanksi hukum yang dijatuhkan kepada pelakunya. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan sumber hukum yang digunakan masing-masing ulama fiqh; di samping berbedanya cara menafsirkan ayat-ayat serta hadits yang menjadi dasar bagi penetapan hukumnya.
Homoseksual tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi juga memberikan dampak sosial yang buruk terhadap lingkungannya. Hak untuk menikah dan berkeluarga bukan ditunjukan untuk menjustifikasi pernikahan sesama jenis. Hukum perkawinan kita mendefinisikan perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa sebagaimana diatur dalm Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.73
Di dalam litertur fiqh, telah dijelaskan tentang ketetapan hukum bagi pelaku homoseksual (LGBT), namun para fuqaha’ berbeda pendapat dalam
71 Fatwa Majelis Ulama Indonesia No 57 Tahun 2014 Tentang Lesbian, Gay, Sodomi dan Pencabulan, 7.
72 Ibid, 7.
73 Sinyo, Anakku Bertanya Tentang LGBT (Jakarta: PT Elek Media Komputindo, 2014), 7.
menentukan jenis hukumannya. Terdapat tiga varian pendapat, yakni,74 (1) dibunuh secra mutlak,75 (2) dihad sebagaimana had zina. Jika pelakunya ghairu muhshan itu harus didera, jika pelakunya muhshan ia harus dihukum rajam,76 (3) dikenakan hukuman ta’zir.77
Berdasarkan Al-Qur’an dan hadist, para ulama terdahulu sepakat bahwa hukum perbuatan homoseksual adalah haram. Tentang keharaman tindakan homoseksual, para ulama sudah tidak berpendapat lagi. Namun, yang masih menjadi perselisihan adalah hukuman bagi orang yang melakukan tindakan homoseksual setelah berlalunya kaum Luth. Berikut ini beberapa kutipan ijma’
para ulama tentang hukuman bagi orang yang melakukan aktivitas homoseksual78: 1) Imam Abu Hanifah (pendiri mazhab Hanafi) berpendapat bahwa praktik homoseksual tidak dikatagorikan zina dengan beberapa alasan. Pertama, karena tidak adanya unsur (kriteria) kesamaan antara keduanya. Unsur menyia-nyiakan anak dan ketidakjelasan nasab (keturunan) tidak didapatkan dalam praktik homoseksual. Kedua, berbedanya jenis hukuman yang diberlakukan para sahabat. Berdasarkan kedua alasan ini Abu Hanifah berpendapat bahwa
74 Sayyid As-Sabiq, Fikih Sunnah, alih bahasa Mohammad Thalib Cet, Ke 13 (Bandung: Al- Ma’arif 1997), 132.
75 Pendapat ini dikemukakan oleh sahabat Rasulullah saw., yaitu Nashir, Qasim bin Ibrahim dan Imam Syafi’i. Dalam satu pendapat ia menyatkan bahwa para pelaku homoseksual dikenakan hukuman mati, baik muhshon maupun ghairu muhshan. Dasar hukumannya adalah hadist yang artinya “Dari Ikramah, bahwa Ibn Abbas berkata: rasulullah bersabda “siapa orang yang kamu dapati berbuat sebagaimana perbuatan kaum Nabi Luth, maka bunuhlah Fa’il dan maf’ul-nya.
“Namun hadis ini diperselihsihkan kesehihhannya.
76 Pendapat ini dipelopri oleh Sa’id bin Musyyab, Qatadah, Auza’i, Nasa’i, dengan berdasarkan hadis Rasul saw. “Hukuman (bagi homoseksual) sebagaimana hukuman bagi pezina, jika muhshan dirajam dan jika ghairu muhshan dicambuk seratus kali”
77 Pendapat ini pertama kali dikemukakan oleh Abu Hanifah. Hukuman ta’zir pandangan lebh esdukatif, bdrat ringanya diserahan kepada hakim.
78 Ramlan Yusuf Rangkuti, Homoseksual Dalam Perspektif Hukum Islam, Jurnal Syari’ah dan Hukum, Vol. 46 No. 1 (Januari-Juni 2012), 208.
hukuman terhadap pelaku homoseksual adalah ta’zir (diserahkan kepada penguasa atau pemerintah).
2) Muhammad Ibn Al Hasan as-Syaibani dan abu Yusuf (murid Abu Hanifah), praktik homoseksual dikatagorikan zina karena adanya beberapa unsur kesamaan antara kedua-nya. Pertama, tersalurkannya syahwat pelaku. Kedua, tercapainya kenikmatan (karena penis dimasukkan kelubang dubur). Ketiga, tidak diperbolehkan dalam Islam. Keempat, menumpahkan (menyia-nyiakan) air mani. Berdasarkan alasan-alasan tersebut, Muhammad Ibn Al-Hasan dan Abu Yusuf berpendapat bahwa hukuman yang dikenakan kepada pezina. Kalau pelakunya muhshan (sudah menikah), maka dihukum rajam (dilempari batu sampai mati). Sedangkan gair muhshan (perjaka), maka dihukum cambuk dan diasingkan selama satu tahun.
3) Menurut Imam Malik, praktik homoseksual dikatagorikan zina dan hukuman yang setimpal untuk pelakunya adalah dirajam, baik pelakunya muhshan (sudah menikah) maupun gair muhshan (perjaka).
4) Menurut Imam Hambali, praktik homoseksual dikatagorikan zina, mengenai jenis hukuman yang dikenakan kepada pelakunya, beliau mempunyai dua riwayat (pendapat). Pertama, dihukum sama seperti pezina. Kalau pelakunya muhshan (sudah menikah) maka hukuman rajam. Kalau pelakunya gair muhshan (perjaka), maka dihukum cambuk 100 kali dan diasingkan selama satu tahun, kedua, dibunuh dengan dirajam, baik dia itu muhshan, maupun gair muhshan.
5) Menurut Imam Syafi’i, praktik homoseksual tidak dikatagorikan zina, tetapi terdapat kesamaan, yaitu keduanya sama-sama merupakan hubungan seksual terlarang dalam Islam. Hukuman untuk pelakunya apabila pelakunya muhshan (sudah menikah), maka dihukum rajam. Sedangan apabila gair muhshan (perjaka) maka dihukum cambuk 100 kali dan diasingkan selama satu tahun.
Adapun pendapat para fuqaha’, antara lain:
1. Pendapat Sulaiman ibn Muhammad ibn ‘Umar al-Bujairimi:79
َ و(
َ ح
َ مَ َ ك
َ للا
َ و
َ وَ) َنطا
َ َُ و
ََنإَ ي
َ جَ َ ل
َ لا
َ ش
َ فَنة
َ وََ ق ََ أ
َ دَنر
َ ُ
َنفَا
َ دََ ب
َ ذَ ك َنرَ
َ وَ لَ و َ رَ
ََ عَ ب
َ دَ ه
َ وََ أ ََ أ
َ نَ ث
َ غَى
َ يَ رَ
َ زَ و
َ جَنت
َ وَ أَ م َنهَ
َنتَنه
َ
َ و(َنإ
َ تَ ي
ََ لا َننا
َ بَ ه
َنئا
َ مَ) َنم
َ طَ ل
َ ق
َنفَا
َ وَ
َ جَ و
َنب
َ لا َ
َ ح( َ دَ
َ مَ َ ك
َ زلاَ ن
َنفَ)ا
َ لاَ
َ قَ ب
َنل .
Artinya : Hukum “liwath”, yaitu memasukkan “hasyafah” (ujung kelamin) atau seukuran ke dalam anus lelaki walau hambasahaya miliknya, atau wanita selain isteri dan “umat” (budak wanita) dan senggama dengan binatang secara mutlak dalam kewajiban “hadd” (hukuman) adalah sama dengan hukuman zina ke dalam “vagina” (alat kelamin wanita).
2. Pendapat Imam al-Nawawi:80
َ وَ أَ م
َ قَا
َ وَ لَ ه
َ صَ ل َ
َ للاَى
ََ عَ ل
َ يَنهَ
َ وَ س
َ لَ مَ
َ و"
َ يََ ف َ ل
َ رلاَي َنض
َ لََنإ َ ج
َ رلاَ َ ل
َ ج
َنلَ
َ ََ َنف
َ و
ََ و َ ب
َنحا
َ وَ" َ د
َ ك
َ ذَنل
َ ك
َ
َ لاَ َنف
َ مَ رَ أ
َ مَ ع َنةَ
َ
َ لاَ م
َ رَ أَنة
ََ ف
َ هَ و
ََ ن
َ هَ ي
َ تَنر َ
َ يَ
َنإَ ذ
َ لَا
ََ ي
َ نَ َ ك
َ بَ يَ ن
َ هَ م
َ حَا
َنئَا
َ لَ
َ وَنفَ ي
َ دَنلَ ي َنهَ
َ لَ
َ عَ ل
َ تَى
َنرَن ي
َ م ََ ل
ََ ع َنس
َ وَ رَنة
َن يَنه ََ غ
ََنبَ أ
ََ مَ َ ي و
َ عَ َنض
َ نَ َنم
َ بَ دَنن
َنهََ
َ نا َ ك
ََ وَ ُ
َ مَا َ ذ
َ تَ ف
َ عَ لَ ي َ قَ
َنه.
Artinya : Adapun peryataan Nabi SAW. Mengenai tidaklah bergumul bagi seseorang lelaki dengan sesama lelaki dalam satu busana, dan demikian pula bagi wanita dengan sesama wanita, merupakan larangan yang mengandung hukum haram, jika bersentuhan langsung tanpa pelapis antara aurat keduanya. Hal ini menjadi dalil atas diharamkannya bersentuhan aurat sesama jenis pada bagain mana pun.
Hukum inilah yang menjadi kesepakatan diantara ulama.
79 Sulaiman ibn Muhammad ibn ‘Umar al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib ‘Ala Syarh al-Khathib (Bairut, Dar al-Fikr), Jilid 4, 176. Lihat lebih lanjut di Fatwa Majelis Ulama Indonesia No 57 Tahun 2014 Tentang Lesbian, Gay, Sodomi dan Pencabulan, 8.
80 Imam al-Nawawi, Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim (Bairut, Th. 1392 H., Cet.II). Jilid 4, 31.
Lihat lebih lanjut di Fatwa Majelis Ulama Indonesia No 57 Tahun 2014 Tentang Lesbian, Gay, Sodomi dan Pencabulan, 8.
3. Pendapat Ibnu Qayyim:81
َ وَ ُ
َ لاَا َ ذ
َ مَ َ ك
َ عَ ل
َنوَى
َ فَنق
َ ح َ
َ ك
َ شلا َنمَ
َنع َنرا
َ فَ,
َنإَ ن
ََ لا
َ م
َ حَ ر
َ م
َنتا
َ كَ ل ََ
َ م
َ تَا
َ غَ ل
َ ت َ ظ
َ تَ,
َ غَ ل
َ ت َ ظ
َ قَ وَ ب ََ ع
َ تاَ ه
َ وَ,ا
َ وَ ط
َ ءََ م
َ نَ . َ ظ َ غَ ل ََ أ َ دَ ه َ ح َ َ وَ ن َ يَ ك َ فَ, َنلا َ حَ و َ لأا َ َنض َ بََ ع َنف َ َ حا ََ يَ ب َ مَ ن َنءَ َ وَ ط َ نَ َنمَا َ م َ جَ ر َ مَ ظ َ عَ ََ أ َ لا َ نب َ َ حا َ يََ ب َ ل
Artinya : Hukuman ini (yakni hukuman bagi pelaku sodomi) sudah sesuai dengan hukum Allah. Karena semakin besar perbuatan yang diharamkan maka semakin berat pula hukumanya, dalam hal ini persetubuhan yang tidak dibolehkan sama sekali lebih besar dosanya dari persetubuhan yang diperbolehkan dalam kondisi tertentu, oleh karena itu hukumannya harus diperberat.
4. Pendapat Ibnu Qudamah:82
َ وَ نلأ
َ نَ هَ
َ ج َنإ
َ عاَ
َ صلا
َ ح
َ باَنة
ََ ر
َ يَ َنض
َ للا
َ نَ ه ََ ع
َ م
َ فَ,
َنإَ ن
َ هَ م
َ ج ََ أ
َ عَ و
َ عَا
َ قَى َ ل
َ تَنلَنه
َ وَ,
َنإَ نّ
َناَا
َ خَ ت
َ لَ ف
َنفَاو
َ فَنتَنه َنصَ
.
Artinya : “Hukuman tersebut adalah ijma’ para sahabat, mereka telah sepakat untuk menghukum mati pelaku sodomi sekalipun mereka berbeda pendapat dalam tata cara pelaksanaan hukuman mati tersebut”
5. Pendapat Al-Buhuuti:83
َ وَ ل
َ حَ
َنإَ ن َ دَ
َ كَن ََ أ رَ هَ
َ مَ لَ و
َ ط
ََنب
َ عَ ل َنهَ
َ للاَى
َ و
َنطا
َ لإ ََنب
َنءا
ََنبَ أ
َ غَ لَ ب َ نَ
َ هََ لا
َ وَنطا
َ ئَ
َ عَ ل
َ نَى
َ ف
َنس
َنهََ
أَ وَ
َنبَ ت
َ هَند
َ يَ د
ََنبَ ن
َ ح
َ قَ ت َنوَ
َ أَ وَ َ لَ
َ ضَ
ر
َ ب .
Artinya : Tidak berlaku hukum had apabila pasangan pelaku sodomi dipaksa untuk melakukan sodomi dengan pemerkosaan, ancaman pembunuhan atau ancaman fisik lainnya.
81 Ibnu Qayyim, Zaadul Ma’ad (Jakarta: Pustaka Al-Kausar, 691-751H), 5/38. Lihat lebih lanjut di Fatwa Majelis Ulama Indonesia No 57 Tahun 2014 Tentang Lesbian, Gay, Sodomi dan Pencabulan, 8.
82 Ibnu Qudamah, Al-Mughni (Bairut: Dar Alamul Kutub, 1997), 12/350. Lihat lebih lanjut Fatwa Majelis Ulama Indonesia No 57 Tahun 2014 Tentang Lesbian, Gay, Sodomi dan Pencabulan, 12.
83 Al-Buhuuti, Syarkhu muntha Al-Iradat (Bairut: Dar al-yamamah, 1407 H), 3/348. Lihat lebih lanjut Fatwa Majelis Ulama Indonesia No 57 Tahun 2014 Tentang Lesbian, Gay, Sodomi dan Pencabulan, 12