• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : Analisis Hukum Islam Terhadap Konsep Pernikahan dan Konsep Berkeluarga Menurut Pelaku Pernikahan Dini Karena Hamil di Kecamatan

KONSEP PERNIKAHAN DAN KONSEP BERKELUARGA DALAM HUKUM ISLAM DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM

A. Konsep Pernikahan dalam Hukum Islam dan Kompilasi Hukum Islam. 1.Konsep Pernikahan dalam Hukum Islam

2. Konsep Pernikahan dalam Kompilasi Hukum Islam

Sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam, konsep perkawinan atau pernikahan itu di atur di dalam BUKU I tentang hukum perkawinan, terutama pada BAB II tentang dasar-dasar perkawinan pasal 2 sampai 10. Mengenai pengertian pernikahan atau perkawinan diatur dalam pasal 2 yang berbunyi: “Perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mitssaqan ghalidzan untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.49

48 Ibid., 60-61.

Sedangkan mengenai tujuan pernikahan dalam KHI diatur secara sederhana pada pasal 3 yang berbunyi: “Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.” Pada pasal 4 sampai 7 dalam Kompilasi Hukum Islam diatur mengenai perkawinan yang sah dan aturan tentang pencatatan akta pernikahan. Bunyi pasal tersebut adalah sebagai berikut:

Pasal 4

Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum Islam sesuai dengan pasal 2 ayat (1) Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Pasal 5

(1) Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkawinan harus dicatat.

(2) Pencatatan perkawinan tersebut apada ayat (1), dilakukan oleh Pegawai Pencatat Nikah sebagaimana yang diatur dalam Undang-undang No.22 Tahun 1946 jo Undang-Undang No. 32 Tahun 1954.

Pasal 6

(1) Untuk memenuhi ketentuan dalam pasal 5, setiap perkawinan harus dilangsungkan dihadapan dan di bawah pengawasan Pegawai Pencatat Nikah.

(2) Perkawinan yang dilakukan di luar pengawasan Pegawai Pencatat Nikah tidak mempunyai kekuatan Hukum.50

Pasal 7

(1) Perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan Akta Nikah yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah.

(2) Dalam hal perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan Akta Nikah, dapat diajukan itsbat nikahnya ke Pengadilan Agama.

(3) Itsbat nikah yang dapat diajukan ke Pengadilan Agama terbatas mengenai hal-hal yang berkenaan dengan:

(a) Adanya perkawinan dalam rangka penyelesaian perceraian; (b) Hilangnya Akta Nikah;

(c) Adanya keraguan tentang sah atau tidaknya salah satu syarat perkawinan;

(d) Adanyan perkawinan yang terjadi sebelum berlakunya Undang-undang No.1 Tahun 1974 dan;

(e) Perkawinan yang dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai halangan perkawinan menurut Undang-Undang No.1 Thaun 1974; (4) Yang berhak mengajukan permohonan itsbat nikah ialah suami atau isteri,

anak-anak mereka, wali nikah dan pihak yang berkepentingan dengan perkawinan itu.51

Selanjutnya pada pasal 8 sampai pasal 10 dalam Kompilasi Hukum Islam mengatur secara sederhana tentang putusnya suatu perkawinan. Bunyi pasal tersebut adalah sebagai berikut:

Pasal 8

Putusnya perkawinan selain cerai mati hanya dapat dibuktikan dengan surat cerai berupa putusan Pengadilan Agama baik yang berbentuk putusan perceraian, ikrar talak, khuluk atau putusan taklik talak.

Pasal 9

(1) Apabila bukti sebagaimana pada pasal 8 tidak ditemukan karena hilang dan sebagainya, dapat dimintakan salinannya kepada Pengadilan Agama. (2) Dalam hal surat bukti yang dimaksud dalam ayat (1) tidak dapat diperoleh,

maka dapat diajukan permohonan ke Pengadilan Agama. Pasal 10

Rujuk hanya dapat dibuktikan dengan kutipan Buku Pendaftaran Rujuk yang dikeluarkan oleh Pegawai Pencatat Nikah.52

Selanjutnya mengenai pernikahan dini dan kawin hamil dalam Kompilasi Hukum Islam. Dalam Kompilasi Hukum Islam, tidak mengatur mengenai pernikahan dini secara khusus. Karena pada dasarnya yang membedakan pernikahan dini atau tidak adalah umur dari kedua mempelai disaat menikah. Mengenai batasan umur diperbolehkannya menikah dalam Kompilasi Hukum Islam di atur dalam pasal 15 yang berbunyi:

(1) Untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga, perkawinan hanya boleh dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang ditetapkan dalam pasal 7 Undang-undang No.1 tahun 1974 yakni calon suami

sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan calon isteri sekurangkurangnya berumur 16 tahun.

(2) Bagi calon mempelai yang bgelum mencapai umur 21 tahun harus mendapati izin sebagaimana yang diatur dalam pasal 6 ayat (2),(3),(4) dan (5) UU No.1 Tahun 1974.

Sedangkan mengenai kawin hamil dalam Kompilasi Hukum Islam diatur pada pasal 53, yang berbunyi:

(1) Seorang wanita hamil di luar nikah dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya.

(2) Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya.

(3) Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.53

Dari ketentuan Pasal 53 di atas, Kompilasi Hukum Islam secara tegas mengatur bahwa perkawinan hamil dapat dilakukan asalkan yang menikahi wanita hamil itu adalah laki-laki yang menghamilinya. Perkawinan semacam ini tidak perlu menunggu habis masa iddah wanita hamil tersebut, dan tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.54

M. Yahya Harahap menandaskan: “Suatu hal yang perlu dicatat sehubungan dengan kawin hamil. Dalam KHI sengaja dirumuskan dengan singkat dan agak bersifat umum. Maksudnya untuk memberi keluasan bagi

53 Ibid.

pengadilan untuk mencari dan menemukan asas-asas baru melalui terobosan dan konstruksi yang lebih aktual dan rasional.”

M. Yahya Harahap juga menyampaikan bahwa tujuan dilegalkan perkawinan hamil antara lain adalah untuk memberikan kepastian pada kedudukan anak yang dilahirkan, sehingga silsilah keturunan anak tersebut dapat dinisbahkan kepada ibu dan laki-laki yang menghamili ibunya. Pemikiran M. Yahya Harahap tersebut telah terumuskan di dalam Pasal 99 Kompilasi Hukum Islam, yang menyatakan: “Anak yang sah adalah:

(a) Anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah;

(b) Hasil perbuatan suami istri yang sah di luar rahim dan dilahirkan oleh istri tersebut.

Kalau diperhatikan ketentuan pada huruf (a) akan jelas bahwa Kompilasi Hukum Islam membuka kemungkinan bagi tertampungnya anak yang lahir akibat perkawinan hamil ke dalam pengertian anak sah, sekalipun anak itu dilahirkan beberapa hari setelah perkawinan dilaksanakan. Karena itu Kompilasi Hukum Islam memformulasikan suatu cara untuk menghindari atau menutupi adanya anak luar kawin dengan ketentuan Pasal 53 di atas. Menurut pasal ini perempuan yang hamil di luar nikah dapat dikawinkan dengan laki-laki yang menghamilinya.55

B. Konsep Berkeluarga dalam Hukum Islam dan Kompilasi Hukum Islam.