KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA TEORETIS, DAN KERANGKA BERPIKIR
2.2 Kerangka Teoretis
2.2.1 Konsep Perubahan Sosial
Perubahan sosial sebagai suatu proses perubahan bentuk yang mencakup keseluruhan aspek kehidupan masyarakat yang terjadi baik secara alami maupun akibat rekayasa sosial. Proses tersebut berlangsung sepanjang sejarah hidup manusia mulai dari tingkatan lokal, regional, hingga global (Salim, 2002). Ini menggambarkan bahwa betapa luasnya ruang lingkup (scope) perubahan sosial.
Perubahan sosial sebagai kajian dalam ilmu sosial meliputi tiga dimensi waktu yang berbeda, dulu (past), sekarang (present), dan masa depan (future) (Martono, 2016). Sehingga, peradaban manusia tidak akan mencapai wujudnya seperti saat ini jika tidak terjadi proses perubahan sosial.
Perubahan sosial yang terjadi karena adanya upaya pemenuhan kebutuhan yang dilakukan antar individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok, merupakan suatu proses perubahan yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri maupun karena adanya interaksi dengan masyarakat luar (Mulyadi, 2015). Perubahan tersebut sesuai dengan sifat fundamental manusia yang tidak pernah merasa puas atas apa yang diperoleh, terus berusaha untuk menemukan hal baru.
Perubahan sosial merupakan variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun
penemuan-penemuan baru dalam masyarakat (Gillin & Gillin, 1950). Pengertian lain dari perubahan sosial adalah suatu proses perubahan, modifikasi, atau penyesuaian-penyesuaian yang terjadi dalam pola hidup masyarakat, yang mencakup nilai-nilai budaya, pola perilaku kelompok masyarakat, hubungan-hubungan sosial ekonomi, serta kelembagaan-kelembagaan masyarakat, baik dalam aspek kehidupan material maupun nonmateri (Kasnawi & Asang, 2009). Secara umum perubahan sosial dapat diartikan sebagai suatu proses pergeseran atau berubahnya struktur atau tatanan pada masyarakat, yang meliputi pola pikir yang lebih inovatif, sikap, serta kehidupan sosialnya untuk mendapatkan kesejahteraan dalam hidupnya.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial merupakan perubahan pola perilaku, hubungan sosial, lembaga, dan struktur sosial yang berlangsung secara terus menerus di lingkungan masyarakat pada waktu tertentu.
Perubahan sosial bukanlah sebuah proses yang terjadi dengan sendirinya secara tiba-tiba. Secara umum ada beberapa faktor yang berkontribusi dalam memunculkan perubahan sosial. Faktor tersebut dapat digolongkan pada faktor dari dalam dan faktor dari luar masyarakat. Adapun faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial dari dalam masyarakat, antara lain:
1. Bertambah atau berkurangnya penduduk
Pertambahan penduduk yang sangat cepat menyebabkan terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat, terutama lembaga kemasyarakatan. Berkurangnya penduduk disebabkan berpindahnya penduduk dari desa menuju ke
kota atau dari suatu daerah menuju daerah yang lain. Perpindahan penduduk mengakibatkan kekosongan, misalnya dalam pembagian kerja dan stratifikasi sosial yang mempengaruhi lembaga-lembaga kemasyarakatan.
2. Penemuan-penemuan baru
Penemuan-penemuan baru sebagai sebab terjadinya perubahan dapat dibedakan menjadi discovery dan invention. Discovery merupakan penemuan unsur kebudayaan yang baru seperti alat, ataupun berupa gagasan yang diciptakan oleh seseorang individu atau serangkaian ciptaan para individu. Sedangkan invention yaitu penemuan baru yang telah diterapkan dan mendapat pengakuan oleh masyarakat.
Adanya penemuan teknologi baru dalam berbagai bidang seperti informasi dan transportasi akan memunculkan unsur kebudayaan baru dalam masyarakat, akan menyebar, dipelajari, digunakan, dan akhirnya diterima seperti penemuan telepon seluler yang menggantikan telepon gagang, dan sebagainya.
3. Konflik pada masyarakat
Konflik dapat menjadi penyebab terjadinya perubahan sosial. Pertentangan (konflik) dapat terjadi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Umumnya masyarakat tradisional di Indonesia bersifat kolektif. Segala kegiatan didasarkan pada kepentingan masyarakat. Konflik antarkelompok juga dapat terjadi antara generasi tua dengan generasi muda. Konflik kerap terjadi pada masyarakat yang sedang berkembang dari tahap tradisional menuju modern. Generasi muda yang belum terbentuk kepribadiannya lebih mudah menerima unsur-unsur kebudayaan luar, sehingga menimbulkan
perubahan tertentu pada masyarakat, seperti pergaulan yang lebih bebas antara pria dan wanita (Soekanto, 2015).
Observasi awal yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat Kecamatan Soppeng Riaja Kabupaten Barru disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi, seperti: (1) penduduk mengalami relokasi ke wilayah lain akibat tempat tinggalnya tergusur karena menjadi lokasi Pembangunan Jalur Kereta Api Makassar - Parepare, sehingga menyebabkan berkurangnya jumlah penduduk; (2) Adanya penemuan baru di bidang transportasi bagi masyarakat Kecamatan Soppeng Riaja yaitu jalur kereta api dan stasiun di daerah tersebut; dan (3) Konflik sosial yang terjadi antara masyarakat, pemerintah, dan pihak kontraktor pembangunan jalur kereta api yang berlangsung selama satu tahun yang disebabkan oleh para ahli waris makam tidak setuju apabila TPU Kiru-Kiru harus dipindahkan.
Sementara itu, faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial dari dalam masyarakat, antara lain sebagai berikut:
1. Bencana alam atau lingkungan fisik
Tejadinya bencana alam seperti gempa bumi, angin puting beliung, banjir, dan lain-lain dapat menyebabkan masyarakat yang mendiami wilayah tersebut, terpaksa harus mengungsi dari tempat tinggalnya. Apabila masyarakat tersebut mendiami tempat tinggalnya yang baru, maka harus menyesuaikan diri dengan keadaan alam yang baru.
Bagi masyarakat yang semula hidup berburu kemudian menetap di suatu daerah pertanian, akan melahirkan perubahan pada diri masyarakat, misalnya
muncul kelembagaan masyarakat yang baru yaitu pertanian. Sebab yang bersumber pada lingkungan alam fisik terkadang ditimbulkan oleh tindakan masyarakat itu sendiri. Misalnya penggunaan tanah secara sembrono tanpa memperhatikan kelestarian tanah, penebangan hutan secara masif tanpa reboisasi, dan sebagainya. 2. Peperangan
Peperangan dengan negara lain dapat menyebabkan terjadinya perubahan sosial karena biasanya negara yang menang akan memaksakan kebudayaannya pada negara yang kalah.
3. Pengaruh kebudayaan masyarakat lain
Apabila sebab-sebab perubahan bersumber pada masyarakat lain, itu mungkin terjadi karena kebudayaan dari masyarakat lain melancarkan pengaruhnya. Hubungan yang di lakukan secara fisik antara dua masyarakat mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan pengaruh timbal balik. Namun apabila hubungan tersebut berjalan melalui alat - alat komunikasi, ada kemungkinan pengaruh itu datang dari satu pihak saja. Di dalam pertemuan dua kebudayaan tidak selalu terjadi proses saling mempengaruhi. Kadang kala pertemuan dua kebudayaan yang seimbang akan saling menolak.
Apabila salah satu dari dua kebudayaan yang bertemu memiliki taraf teknologi yang lebih tinggi, maka akan terjadi proses imitasi, yaitu peniruan terhaap unsur-unsur kebudayaan lain. Unsur-unsur kebudayaan asli yang diubah dan perlahan akan digantikan oleh kebudayaan asing tersebut (Soekanto, 2015).
Sementara itu, faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial dari dalam masyarakat, antara lain sebagai berikut:
Peneliti menemukan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial dari dalam masyarakat setelah melakukan pengamatan awal di Kecamatan Soppeng Riaja, yaitu: (1) setiap tahun terjadi banjir yang lebih besar dengan dampak yang lebih luas setelah Pembangunan Jalur Kereta Api Makassar - Parepare di Desa Ajakkang; (2) munculnya sugesti akan kekhawatiran terhadap dampak buruk yang akan ditimbulkan Pembangunan Jalur Kereta Api Makassar - Parepare pada masyarakat Desa Ajakkang sehingga pernah terjadi penolakan pada awal pembangunan walaupun tidak berlangsung lama, karena mereka menganggap bahwa dengan beroperasinya kereta api di wilayah tersebut akan mengubah kebudayaan dan pola interaksi sosial yang telah terjadi erat selama ini.
Perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat juga dapat dibedakan kedalam beberapa bentuk, seperti bentuk perubahan sosial berdasarkan proses. Perubahan sosial ini terdiri atas dua bentuk, yaitu perubahan terencana (by design) dan perubahan alami (natural). Perubahan yang terencana yaitu perubahan sosial yang terorganisir secara baik. Perubahan ini biasanya dilakukan oleh pihak yang menginginkan perubahan, yang disebut agent of change (agen perubahan). Agen perubahan melakukan perencanaan terlebih dahulu, untuk mewujudkan perubahan sosial pada masyarakat.
Sedangkan perubahan alami adalah perubahan yang berlangsung dengan sendirinya secara alami, tanpa rencana atau kehendak tertentu serta tidak dapat diperkirakan oleh masyarakat. Perubahan seperti ini dapat menimbulkan dampak yang merugikan masyarakat, seperti kemunculan internet yang diharapkan dapat
memudahkan dalam mengakses informasi justru disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Peneliti menemukan beberapa hal setelah melakukan observasi awal yaitu, Pembangunan Jalur Kereta Api Makassar - Parepare termasuk dalam perubahan sosial yang terencana, hal ini terjadi setelah pemerintah melakukan studi kelayakan yang cukup lama hingga memasukkan ke dalam salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN). Sedangkan berbagai dampak yang ditimbulkan dalam pembangunan tersebut seperti konflik sosial di Kelurahan Kiru-Kiru dan bencana banjir di Desa Ajakkang termasuk dalam perubahan sosial yang berlangsung secara alami.