TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Teori .1 Neonatus
2.1.6 Konsep Plebitis a. Pengertian Plebitis a.Pengertian Plebitis
Smeltzer & Bare dikutip Mulyani (2010) mendefinisikan plebitis sebagai inflamasi vena yang disebabkan oleh iritasi kimia maupun mekanik. Sedangkan
29
menurut Hafifah (2010) dikutip dari Hankins (2001) menjelaskan bahwa plebitis adalah suatu peradangan atau inflamasi pada pembuluh darah vena yang disebabkan oleh iritasi kimia maupun mekanik, yang mengakibatkan kerusakan pada endotelium dinding-dinding pembuluh darah khususnya vena. Brunner & Sudarth (2002) menyatakan bahwa plebitis merupakan inflamasi pada vena yang ditandai dengan adanya daerah yang merah, nyeri dan pembengkakan di daerah penusukan atau sepanjang vena.
b. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Plebitis
Banyak faktor telah dianggap terlibat dalam terjadinya plebitis. Faktor tersebut terdiri dari faktor internal (usia, status nutrisi, stress, keadaan vena, kondisi penyakit pasien seperti DM) dan faktor eksternal (Perry dan Potter, 2005). Sementara pada neonatus faktor internal lebih dipengaruhi oleh usia, imunitas, keadaan vena, dan juga gerakan reflek bayi (Daugherty, 2010).
Faktor eksternal terdiri dari: 1. Faktor Kimia
Terry (1995) menyatakan bahwa PH dan osmolaritas cairan infus yang ekstrem, mikropartikel yang terbentuk bila partikel obat tidak larut sempurna selama pencampuran, bahan kateter, kecepatan pemberian infus dan obat (kecepatan yang tidak cepat kurang menyebabkan iritasi daripada pemberian cepat).
2. Faktor mekanis
Faktor mekanis dikaitkan dengan penempatan kateter. Kateter yang dimasukkan pada daerah lekukan sering menghasilkan plebitis mekanis, dalam
30
hal ini ukuran kateter disesuaikan dengan ukuran vena dan difiksasi dengan baik ( Terry, 1995).
3. Faktor bakterial
Salah satu yang berkontribusi dalam faktor bakterial adalah tehnik aseptik dressing yang tidak baik (Terry, 1995). Pendeteksian dan penilain plebitis bisa dilakukan dengan cara melakukan aseptik dressing. Menurut Lee KE (2000) perawatan infus dilakukan tiap 24 jam sekali guna melakukan pencegahan adanya plebitis dengan cara melakukan pendeteksian dan penilaian adanya plebitis akibat infeksi bakteri, sehingga kejadian plebitis dapat dicegah dan diatasi secara dini. Sedangkan menurut Perry dan Potter (2005) infeksi yang terkait dengan pemberian infus dapat dikurangi dengan mempertahankan sterilisasi sistem intravena saat mengganti larutan dan balutan, penggantian larutan dan balutan sekurang-kurangnya setiap 24 jam.
Intervensi yang perlu dilakukan saat terjadi plebitis adalah dengan memindahkan kateter ke area insersi yang lain, jika parah dilakukan kompres hangat. Jika pasien mengalami peningkatan suhu (suhu meninggi secara tiba-tiba atau bertahap), menggigil dan gemetar, frekuensi napas dan nadi meningkat maka intervensi yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan kultur bakteri (diambil dari kateter dan vena) dan melakukan insersi ditempat lain untuk pemberian obat (Joanne, 1998).
Penggunaan kateter pada pemasangan infus yang tidak memperhatikan standar medis menimbulkan masalah seperti plebitis. Menurut Ariningsih (2010) pada
31
kejadian plebitis mikroorganisme terbanyak adalah kolonisasi Staphylococcus. Semua kateter dapat memasukkan bakteri ke dalam aliran darah, mekanisme infeksi oleh bakteri dapat berupa infeksi lokal saat insersi yang masuk ke dalam kateter atau kolonisasi yang diikuti oleh infeksi lewat rute insersi. Ariningsih (2010) juga menjelaskan bahwa kultur darah yang diambil dari kateter dan vena dilakukan saat dijumpai tanda-tanda infeksi sistemik. Dari hasil uji statistik yang dilakukan menunjukkan tidak ada pengaruh umur, jenis kelamin, kecepatan tetesan, pemberian obat intravena, lokasi pemasangan dan lama pemasangan terhadap kolonisasi bakteri. Sebaliknya penggunaan sarung tangan dan aseptik dressing menunjukkan ada hubungan terhadap kolonisasi bakteri.
Faktor Internal Terdiri dari: 1. Usia
Usia berkaitan erat dengan pertumbuhan dan perkembangan fisologis jaringan dan seluruh sistem pada tubuh manusia. Seperti pernyataan Perry dan Potter (2005) pengaruh usia pada kejadian plebitis terjadi karena pertahanan tubuh seseorang terhadap infeksi dapat beubah sesuai usia. 2. Sistem Imun Bayi yang Belum Matang.
Secara sederhana plebitis berarti peradangan vena. Terjadinya peradangan dipengaruhi oleh sistem imun tubuh seseorang. Darmawan (2008), mengatakan bahwa imun berkembang sesuai dengan perkembangan tubuh kita, pada waktu bayi umumya sistem imun masih belum banyak berkembang, beberapa komponen masih belum dapat bekerja optimal. Hal
32
ini akan menyebabkan risiko terjadinya plebitis semakin besar. Dengan bertambahnya usia dari anak-anak menuju remaja hingga dewasa, sistem imun berkembang untuk bekerja lebih optimal. Pada prinsipnya, orang dengan kondisi sistem imun dalam keadaan prima, tidak mudah terkena infeksi yang sangat erat kaitannya dengan plebitis. Sistem imun yang belum bekerja dengan baik pada bayi ini akan memicu terjadinya plebitis dari agen infeksius sebagai penyebab terjadinya plebitis.
3. Struktur Pembuluh Darah Vena Bayi yang Masih Rentan
Rejeki (2012), menjelaskan bahwa struktur tubuh bayi belum berkembang sempurna, temasuk struktur pembuluh darah vena. Pembuluh darah vena memiliki struktur yang lembut dan berdinding tipis (Medicastore, tahun tidak dipublikasikan). Tentunya kondisi tersebut lebih lembut dan berdinding jauh lebih tipis pada tubuh bayi. Strukur pembuluh darah vena yang tipis dan lembut akan lebih mudah pecah yang bisa berakibat terjadinya peningkatan plebitis pada bayi. Semakin meningkat usia bayi, maka secara perlahan struktur pembuluh darah venanya juga akan semakin baik.
4. Gerak Refleks pada Bayi
Gerak refleks merupakan gerak alami diluar kesadaran bayi yang bersifat normal dan berguna untuk melindungi tubuh bayi (Informasitips, 2012). Gerak refleks juga merupakan cara bayi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan diawal kehidupannya yang masih sangat lemah. Apabila pada bayi sudah dipasang kanula infus, maka gerakan refleks ini sewaktu-waktu
33
dapat menggangu konsistensi kanula tersebut. Gangguan-gangguan yang diakibatkan gerakan spontan ini dapat mengakibatkan terjadinya
peningkatan insiden plebitis.
b. Tanda dan Gejala Plebitis
Jackson (2008) dalam Wening (2013) mengatakan vena pada daerah pemasangan infus dikatakan plebitis apabila terdapat dua tanda atau lebih dari tanda berikut, yaitu: nyeri, kemerahan, bengkak, indurasi (pengerasan jaringan atau organ yang abnormal), vena cord (struktur mirip tali/benang). Brunner dan Sudarth (2002) mengatakan plebitis ditandai dengan adanya daerah yang merah, nyeri dan pembengkakan di daerah penusukan atau sepanjang vena.
Terry (1995) menjelaskan bahwa tanda dari plebitis adalah terdapat dua atau lebih dari tanda plebitis, yang terdiri dari: nyeri pada lokasi pemasangan kateter, erytema, edema, terdapat garis merah pada vena yang terpasang infus, teraba keras. Skala plebitis menurut Terry (1995) adalah sebagai berikut:
1. 0: tidak terdapat tanda plebitis 2. 1+: terdapat satu tanda plebitis
3. 2+ : terdapat lebih dari satu tanda plebitis 4. 3+: terdapat jelas semua tanda dari plebitis
Skor visual untuk plebitis yang telah dikembangkan oleh Jakson (2008) adalah: 1. Tempat insersi tampak sehat, skor 0 = tidak ada tanda plebitis.
2. Terdapat salah satu tanda (nyeri atau kemerahan) pada daerah insersi terlihat jelas, skor 1 = mungkin tanda dini plebitis.
34
3. Terdapat dua tanda (nyeri, kemerahan, pembengkakan) pada daerah insersi terlihat jelas, skor 2 = stadium dini plebitis.
4. Terdapat semua tanda (nyeri, kemerahan, pembengkakan) pada daerah insersi terlihat jelas, skor 3 = stadium moderat plebitis.
5. Terdapat semua tanda (nyeri, kemerahan, indurasi, vena cord) pada daerah insersi terlihat jelas, skor 4 = stadium lanjut atau awal tromboplebitis. 6. Terdapat semua tanda (nyeri, kemerahan, indurasi, vena cord, demam)
terlihat jelas, skor 5 = stadium lanjut tromboplebitis
2.1.7 Perbedaan Kejadian Plebitis pada Pasien yang Dipasang AksesVena Central dengan Akses Vena Perifer.
Pemasangan infus vena perifer merupakan suatu tehnik yang digunakan untuk memungsi vena secara transcutan dengan menggunakan teknik steril seperti angeochateter atau dengan jarum yang disambungkan dengan spuit (Kusyati, 2006). Pemasangan Central Venous Chateter (CVC) adalah merupakan prosedur memasukkan kateter intravena yang fleksibel kedalam vena sentral pasien dalam rangka memberikan terapi melalui vena sentral.
Beberapa penelitian yang sudah dilakukan sebagian besar menyatakan ada perbedaan antara pemasangan IV Perifer dengan IV Sentral. Saleem (2009) menyatakan bahwa terjadi komplikasi infeksi yang lebih tinggi pada pasien yang dilakukan pemasangan vena perifer dibandingkan pada pemasangan akses vena sentral. Hal ini disebabkan karena terjadi kontaminasi kuman pada saat dilakukan pemasangan akses vena perifer.
35
Sementara pada penelitian Halton (2009) menemukan bahwa ada perbedaan pemasangan IV Sentral dengan IV perifer dari segi biaya. Ditemukan bahwa dari segi biaya pemasangan akses IV sentral lebih efektif dibandingkan dengan akses IV perifer. Satu kali pemasangan IV Sentral bisa digunakan untuk pemberian terapi intravena selama kurang lebih 14 hari.Sedangkan untuk pemasangan IV perifer pada neonatus hanya bertahan satu sampai dengan dua hari,yang apabila diakomulasikan biayanya akan lebih besar daripada pemasangan IV Sentral.
Setiasih (2013), menyatakan bahwa dengan pemakaian akses vena sentral yang berupa Peripherally Inserted Central Catheter (PICC) mempunyai multi fungsi yaitu selain untuk pemberian parenteral nutrisi juga bisa sebagai akses untuk pengambilan sampel laboratorium. Sedangkan akses IV perifer hanya mempunyai satu fungsi saja yaitu sebagai akses untuk memberi terapi intravean. Selain itu juga dapat mengurangi dilakukannya insersi secara berulang–ulang pada neonatus.