BAB II LANDASAN TEORI
F. Konsep Semiotika Model Roland Barthes
Roland Barthes dikenal sebagai salah seorang pemikir strukturalis yang getol mempraktikkan model linguistik dan semiologi Saussurean. Ia juga intelektual dan kritikus sastra Perancis yang ternama; eksponen penerapan strukturalisme dan semiotika pada studi sastra. Bartens (2001:208) menyebutnya sebagai tokoh yang memainkan peranan sentral dalam strukturalisme tahun 1960-an d1960-an 1970-1960-an. Ia berpendapat bahasa adalah sebuah sistem t1960-anda y1960-ang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu. Ia mengajukan pandangan ini dalam Writing Degree Zero (1953;terj. Inggris 1977) dan Critical Essays (1964; terj. Inggris 1972)21
Semiologi Roland Barthes mendasari kajian-kajian Barthes selanjutnya terhadap objek-objek kenyataan atau unsur-unsur kebudayaan yang sering ditelitinya. Cakupan kajian kebudayaan barthes sangat luas. Kajian itu meliputi
21
kesusastraan, perfilman busana dan berbagai fenomena kebudayaan lainnya. Sebuah garmen, sebuah mobil, sepinggan masakan, sebuah bahasa isyarat, sebuah film, sekeping musik, sebuah gambar iklan, sepotong perabot, sebuah kepala judul surat kabar, ini semua memang nampaknya objek-objek heterogen. Apa yang mereka miliki secara umum? Roland barthes (1988: 157) akan menyatakan bahwa sekurang-kurangnya mereka semua adalah tanda-tanda.22
Roland Barthes menyatakan bahwa dalam memaknai sesuatu simbol teradapat dua sistem pemaknaan tanda, yaitu konotasi dan denotasi. Denotasi merupakan tingkat makna lapisan pertama yang deskriptif dan literal serta dipahami oleh hampir ssebagian besar anggota suatu kebudayaan tertentu tanpa harus melakukan penafsiran yang mendalam terhadap tanda denotasi tersebut, atau dengan kata lain disebut juga sebagai analogon.
Sedangkan pada tingkat makna lapisan yang kedua, yaitu konotasi. Makna bisa tercipta melalui penggabungan penanda-petanda dengan aspek kebudayaan yang lebih luas seperti keyakina-keyakinan, sikap, kerangka kerja serta ideologi-ideologi suatu formasi sosial tertentu. Konotasi juga merupakan sebuah sistem ganda dimana sistem semiotikan pada tingkatan yang kedua mengambil sistem semiotika pada tingkat yang pertama sebagai signifier atau konsep.
Konotasi merupakan makna yang diinterpretasikan melalui penggabungan penanda-petanda dengan berbagai macam aspek kebudayaan yang cakupannya luas dan juga berkaitan erat dengan keyakinan-keyakinan dari seseorang yang menginterpretasikan sebuah simbol tertentu. Jadi konotasi bisa sangat multi tafsir tergantung pada setiap orang yang menginterpretasikannya.
22
Berikut ini merupakan skema mengenai proses denotasi dan konotasi yang dikembangkan oleh Barthes :
Language / Bahasa (Lapis I : Denotasi) 1. Signifier 2. Signified 3. Sign (Meaning) Myth / Mitos (Lapis II : Konotasi) (II. Signifier) FORM (II. Signified) CONCEPT
(III. Sign) SIGNIFICATION
Dalam tataran bahasa (language), yaitu sistem semiologis lapis pertama, penanda-penanda berhubungan dengan petanda-petanda sedemikian sehingga menghasilkan tanda. Adapun selanjutnya pada tataran mitos, yakni sistem semiologis lapis kedua, tanda-tanda pada tataran pertama tadi menjadi penanda-penanda yang berhubungan lagi dengan petanda-petanda.
Adapun mengenai mitos, Claude Levi-strauss yang merupakan seorang antropolog strukturalis menyebutkan bahwa satuan paling dasar dari sebuah mitos adalah mytheme (seperti halnya signeme). Mytheme tidak dapat dilihat secara terpisah dari bagian lainnya pada satu mitos, hubungan antara satu mytheme dengan mytheme lainnya membentuk satu rangkaian narasi yang kemudian menjadi kepercayaan budaya tertentu.
Pendekatan semiotik Roland Barthes secara khusus tertuju kepada sejenis tuturan (speech) yang disebutnya sebagai mitos. Menurut Barthes (1983: 109), bahasa membutuhkan kondisi tertentu untuk dapat menjadi mitos, yaitu yang secara semiotis dicirikan oleh hadirnya sebuah tataran signifikasi yang disebut
sebagai sistem semiologis tingkat kedua (the second order semiological system). Maksudnya pada tataran bahasa atau sistem semiologis tingkat pertama (the first semiological system), penanda-penanda berhubungan dengan petanda-petanda sedemikian sehingga menghasilkan tanda. Selanjutnya, tanda-tanda pada tataran pertama ini pada gilirannya hanya akan menjadi penanda-penanda yang berhubungan pula dengan petanda-petanda pada tataran kedua. Pada tataran signifikasi lapis kedua inilah mitos bercokol (Barthes, 1983: 114-115). Aspek material mitos, yakni penanda-penanda pada the second order semiological system itu, dapat disebut sebagai retorik atau konotator-konotator, yang tersusun dari tanda-tanda pada sistem pertama; sementara petanda-petandanya sendiri dapat dinamakan sebagai fragmen ideologi (Barthes, 1981: 91).23
Kajian semiotik ini pada perkembangannya tidak hanya berkutat di ranah bahasa atau sastra yang identik dengan simbol-simbol, namun meluas ke ranah lain seperti musik dan juga film yang di dalamnya juga terdapat simbol-simbol yang dapat dikaji dengan pendekatan semiotik.
In recent years a considerable degree of interest has developed in the semiology of the cinema, in the question wether it is possible to dissolve cinema criticism and cinema aesthetics into a special province of the general science of signs. It has become increasingly clear that traditional theories of film language and grammar, wich grew up spontaneously over the years, need to be reexamined and related to the established discipline of linguistics. If the concep is „language’ is to be used scientifically and not simply as a loose, though suggestive, methapor. The debated which has arisen in France and Italy, round the work of Roland Barthes, Christian Metz, Pier Paolo Pasolini and Umberto Eco, points of this direction.24 (Dalam beberapa tahun terakhir banyak para akademisi tingkat atas yang tertarik untuk meneliti kajian semiotika dalam film, yang kajian pertanyaannya
23
Kris Budiman. Semiotika Visual (Jogjakarta: Penerbit Buku Baik dan Yayasan Seni Cementi) 2004 h. 63
24
Peter Wollen. Signs and Meaning in the Cinema (London: Indiana University Press and British Film Institute) 1976 h.116.
entah memungkinkan untuk meleburkan antara kritik terhadap film dan juga seni keindahan dalam film untuk menjadi bagian dari tema umum dalam kajian ilmu tentang tanda-tanda. Hal ini jelas menjadi sebuah perkembangan yang pesat dibandinkan teori tardisional tentang film dan struktur bahasa, yang berkembang spontan selama bertahun-tahun, dibutuhkan kajian ulang untuk mencari kaitannya dengan munculnya disiplin ilmu lingustik, meskipun konsep „bahasa’ digunakan
untuk dunia akademis serta tidak mudah mengendur, seperti hanlnya menyugesti dan mengumpamakan. Perdebatan mengenai hal ini telah terjadi di Perancis dan Italia, selama masa penelitian Roland Barthes, Christian Metz, Pier Paolo Pasolini dan Umberto Eco yang merupakan poin penunjuk arah atas hal ini.)
Melalui pemaparan tersebut terlihat jelas bahwa Roland Barthes merupakan salah satu orang yang mencoba untuk memperlebar kajian semiotika ke ranah yang lebih luas. Jika sebelumnya kajian semiotika hanya berkutat di ranah bahasa atau sastra, maka seiring perkembangan dunia seni khususnya film, kajian semiotika yang berkaitan dengan filmpun mulai berkembang. Hal ini dikarenakan dalam film juga terdapat berbagai macam elemen tanda yang bisa diteliti menggunakan metode semiotika.