BAB II LANDASAN TEORI
B. Tinjauan Umum Semiotika
2. Konsep Semiotika Roland Barthes
Roland Barthes lahir tahun 1915 dari keluarga kelas menengah Protestan di Cherbourg dan dibesarkan di Bayonne, kota kecil dekat pantai Atlantik di sebelah barat daya Prancis. Ayahnya seorang perwira angkatan laut, meninggal dalam sebuah pertempuran di Laut Utara. Sepeninggalan ayahnya, Barthes kecil di asuh oleh ibu, kakek, dan neneknya.
Barthes dikenal sebagai salah seorang pemikir strukturalis yang getol mempraktikkan model linguistik dan semiologi Saussurean. Ia juga intelektual dan kritikus sastra Prancis yang ternama, eksponen penerapan strukturalisme dan semiotika pada studi sastra. Bartens menyebutnya sebagai tokoh yang memainkan peranan sentral dalam strukturalisme tahun 1960-an dan 70-an. Barthes berpendapat bahwa bahasa adalah sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu.
Barthes telah menulis banyak buku, dan beberapa diantaranya telah menjadi bahan rujukan penting untuk studi semiotika di Indonesia. Dalam bukunya yang terkenal, S/Z (1970), yang oleh Bartens pantas disebut sebuah buku dengan judul cukup aneh. Buku ini merupakan salah satu contoh bagus tentang cara kerja Barthes. Dalam buku ini Barthes menganalisa sebuah novel kecil yang relatif kurang dikenal, berjudul
Sarrasine, ditulis oleh sastrawan Prancis abad ke-19, Honore de Balzac.
Dalam penilaian John Lechte, buku ini ditulis Barthes sebagai upaya untuk mengeksplisitkan kode-kode narasi yang berlaku dalam suatu naskah realis. Barthes berpendapat bahwa Sarrasine ini terangkai dalam kode rasionalisasi, suatu proses yang mirip dengan yang terlihat dalam retorika tentang tanda mode. Ada lima kode yang ditinjau oleh Barthes yaitu, kode
hermeneutic (kode teka-teki), kode semik (makna konotatif), kode
simbolik, kode proaretik (logika tindakan), dan kode gnomic atau kode
Pada tahun 1954-1956, sebuah rangkaian tulisan muncul dalam majalah Prancis, Le Letters nouvelles. Pada setiap terbitannya Roland Barthes membahas “Mythology of the Month” (Mitologi Bulan Ini), sebagian besar dengan menunjukkan bagaimana aspek denotatif tanda-tanda dalam budaya pop menyikapkan konotasi yang pada dasarnya adalah
“mitos-mitos” (myths) yang dibangkitkan oleh sistem tanda yang lebih luas yang membentuk masyarakat.
John Lechte memaparkan, imaji dan pesan iklan, hiburan, kultur popular dan literer, serta barang-barang konsumsi sehari-hari menemui telaah subjektif yang cukup unik dalam hasil dan penerapannya. Cobley & Jansz mengungkapkan bahwa Barthes membahas fenomena keseharian yang luput dari perhatian. Dia menghabiskan waktu untuk menguraikan dan menunjukkan bahwa konotasi yang terkandung dalam mitologi-mitologi tersebut biasanya merupakan hasil konstruksi yang cermat.18
Salah satu area penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca (the reader). Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes secara panjang lebar mengulas apa yang sering disebut sebagai sistem pemaknaan tataran kedua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya. Sastra merupakan contoh paling jelas sistem pemaknaan tataran kedua yang dibangun di atas bahasa sebagai sistem yang pertama. Sistem kedua ini oleh Barthes diebut dengan konotatif, yang di dalam Mythologies nya secara tegas ia bedakan dari denotatif atau
sistem pemaknaan tataran pertama. Barthes menciptakan peta tentang bagaimana tanda bekerja.
Tabel 3: Peta Tanda Roland Barthes 1. Signifier
(penanda)
2. Signified (Petanda) 3. Denotative sign (tanda denotatif)
4. CONNOTATIVE SIGNIFIER
(PENANDA KONOTATIF)
5. CONNOTATIVE SIGNIFIED
(PETANDA KONOTATIF)
6. CONNOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIF)
Dari tabel diatas, dijelaskan bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4). Dengan kata lain, hal tersebut merupakan unsur materi: hanya jika kita mengenal tanda “singa”, barulah
konotasi seperti harga diri, kegarangan, dan keberanian menjadi mungkin. Jadi, dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Sesungguhnya, inilah sumbangan barthes yang sangat berarti bagi penyempurnaan semiologi Saussurean, yang berhenti pada penandaan dalam tataran denotatif.
Dalam pengertian umum, denotasi adalah konotasi tanda yang paling stabil dan teruji secara objektif. Sebagai hipitesis bahwa stabilitas relatif denotasi bisa muncul dengan sejumlah cara:
1) Ketika rentangan makna umum tertentu berlaku umum yaitu dinisbatkan kepada suatu tanda oleh sejumlah kode dimana tanda beroperasi.
2) Ketika kode tertentu berfungsi dominan.
3) Ketika tanda bekerja dalam berbagai kode objektif atau ilmiah tertentu.
Walaupun denotasi merupakan makna yang relatif stabil, namun denotasi dihasilkan dalam permainan diferensial nilai di antara tanda dan kode, bukan oleh korespondensi sederhana antara penanda dan petanda. Stabilitas denotasi sama sekali merupakan perkara relatif, dan oleh karenanya tak ada perbedaan yang jelas dan absolute antara denotasi dan konotasi
Konotasi merupakan kumpulan petandanya yang mungkin. Konotasi muncul melalui kode yang pada dasarnya dimiliki bersama dan bersifat sosial. Konotasi bukanlah sesuatu yang diciptakan secara personal dari suatu tanda. Konotasi adalah sesuatu yang diciptakan dari kode yang tersedia dari suatu tanda. Konotasi sangatlah terstruktur, sekalipun dengan cara yang sangat aktif dan fleksibel.
Mitos adalah pengkodean. Mitos merupakan sebuah peristilahan dominan secara metonimis mewakili semua peristilahan dalam suatu sistem. Sebuah relasi metonimis dominan diantara berbagai peristilahan secara metonimis mewakili semua relasi. Efek dari mitos adalah simplifikasi radikal atas semua relasi didalam sistem. Mitos mengkodekan secara belebihan (over code) keseluruhan sistem kepada satu unsur dominan tunggal dan satu relasi tunggal.19
19 Tony Thwaites, dkk, Introducing Cultural And Media Studies Sebuah Pendekatan
Denotasi biasanya dimengerti sebagai makna harfiah yaitu makna yang sesungguhnya. Proses signifikasi yang secara tradisional disebut sebagai denotasi ini biasanya mengacu kepada penggunaan bahasa dengan arti yang sesuai dengan apa yang terucap. Akan tetapi, denotasi menurut Roland Barthes merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi merupakan tingkat kedua. Barthes mengungkapkan, konotasi identik dengan operasi ideologi yang disebutnya sebagai “mitos”, dan
berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu.
Didalam mitos juga terdapat tiga pola dimensi penanda, petanda, dan tanda. Namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau, dengan kata lain, mitos adalah juga suatu sistem pemaknaan tataran kedua. Didalam mitos sebuah petanda memiliki beberapa penanda. Imperialism Inggris misalnya, ditandai oleh berbagai ragam penanda, seperti teh (yang menjadi minuman wajib ditanam), bendera Union Jack yang lengan-lengannya menyebar kedelapan penjuru, bahasa inggris yang kini telah menjadi bahasa internasional, dll. Arti dari segi jumlah, petanda lebih miskin jumlahnya dari pada penanda, sehingga dalam praktiknya terjadilah pemunculan sebuah konsep secara berulang-ulang dalam bentuk-bentuk tersebut karena pengulangan konsep terjadi dalam wujud berbagai bentuk tersebut.20
C. Konsep & Definisi Komunikasi AntarBudaya 1. Definisi Komunikasi AntarBudaya
Andre L. Rich E dan Denis M. Ogawa dalam buku Larry A. Samovar dan Richard E. Porter Intercultural Communication A Reader mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda kebudayaan, misalnya antar suku bangsa, antar etnik dan ras, maupun antar kelas sosial.
Charley H. Dood mengatakan komunikasi antarbudaya meliputi komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi, antarpribadi, dan kelompok, dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta.
Lustig dan Koester dalam Intercultural Communication
Competence, menyatakan komunikasi antarbudaya adalah suatu proses
komunikasi simbolik, interpretatif, transaksional, kontekstual yang dilakukan oleh sejumlah orang yang karena memiliki perbedaan derajat kepentingan tertentu memberikan interpretasi dan harapan secara berbeda terhadap apa yang disampaikan dalam bentuk perilaku tertentu sebagai makna yang dipertukarkan. Intercultural Communication yang disingkat ICC, mengartikan komunikasi antarbudaya merupakan interaksi antarpribadi antara seorang anggota dengan kelompok yang berbeda kebudayaan.
Dari semua pendapat beberapa tokoh di atas, dalam hal ini peneliti menggunakan pendapat menurut Alo Liliweri yaitu definisi yang paling sederhana dari komunikasi antarbudaya adalah menambah kata budaya ke
dalam pernyataan “komunikasi antara dua orang/lebih yang berbeda latar
belakang kebudayaan”.21
Pengertian-pengertian komunikasi antarbudaya diatas, membenarkan sebuah hipotesis proses komunikasi antarbudaya, bahwa semakin besar derajat perbedaan antarbudaya maka semakin besar pula kita kehilangan peluang untuk merumuskan suatu tingkat kepastian sebuah komunikasi yang efektif. Jadi harus ada jaminan terhadap akurasi interpretasi pesan-pesan verbal maupun non verbal. Hal ini disebabkan karena ketika kita berkomunikasi dengan seseorang dari kebudayaan yang berbeda, maka kita memiliki pula perbedaan dalam sejumlah hal, misalnya derajat pengetahuan, derajat kesulitan dalam peramalan, derajat ambiguitis, kebingungan, suasana misterius yang tak dapat dijelaskan, tidak bermanfaat, bahkan nampak tidak bersahabat.
Dengan demikian manakala suatu masyarakat berada pada kondisi kebudayaan yang beragam maka komunikasi antarpribadi dapat menyentuh nuansa-nuansa komunikasi antarbudaya. Disini, kebudayaan yang menjadi lata belakang kehidupan, akan mempengaruhi perilaku komunikasi manusia.22
Dalam bukunya, Alo Liliweri mengasumsi sebuah teori komunikasi antarbudaya merupakan seperangkat pernyataan yang menggambarkan sebuah lingkungan yang vali tempat dimana teori-teori
21 Dr. Alo Liliweri, M.S., Dasar-dasar Komunikasi AntarBudaya, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2007) hal. 8
22 Dr. Alo Liliweri, M.S., Dasar-dasar Komunikasi AntarBudaya, (Yogyakarta: Pustaka
komunikasi antarbudaya itu dapat diterapkan. Ada beberapa asumsi komunikasi antarbudaya, yaitu:
1. Perbedaan persepsi antara komunikator dengan komunikan
Apapun bentuk dan konteksnya, selalu menampilkan perbedaan iklim antara komunikator dengan komunikan. Karena ada perbedaan iklim budaya tersebut maka pada umumnya perhatian teoritis atau praktis dari komunikasi selalu difokuskan pada pesan-pesan yang menghubungkan individu atau kelompok dari dua situasi budaya yang berbeda. Prinsip-prinsip yang terkandung dalam perbedaan itu umumnya mengimplikasikan bahwa hambatan komunikasi antarbudaya sering kalii tampil dalam bentuk perbedaan persepsi terhadap norma-norma budaya, pola-pola berpikir, struktur budaya, dan sistem budaya.
2. Dalam komunikasi antarbudaya terkandung isi dan relasi antarpribadi Secara alamiah proses komunikasi antarbudaya berakar dari relasi sosial antarbudaya yang menghendaki adanya interaksi sosial. Watzlawick, Beavin dan Jackson menekankan bahwa isi (content of
communication) komunikasi tidak berada dalam sebuah ruang yang
terisolasi. Isi (content) dan makna (meaning) adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dua hal yang esensial dalam membentuk relasi
(relations).
3. Gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi
Candia Elliot berkata bahwa secara normatif komunikasi antarpribadi itu mengandalkan gaya berkomunikasi yang dihubungkan
dengan nilai-nilai yang dianut orang. Nilai-nilai itu berbeda diantara kelompok etnik yang dapat menunjang dan mungkin merusak perhatian tatkala orang berkomunikasi. Disini gaya itu bisa berkaitan dengan individu maupun gaya dari sekelompok etnik.
4. Komunikasi antarbudaya bertujuan mengurangi tingkat ketidakpastian Tujuan komunikasi antarbudaya adalah mengurangi tingkat ketidakpatian tentang orang lain. Gudykunstt dan Kim menunjukkan bahwa orang-orang yang kita tidak kenal selalu berusaha mengurangi tingkat ketidakpastian melalui peramalan yang tepat atas relasi antarpribadi. Usaha untuk mengurangi tingkat ketidakpastian itu dapat dilakukan melalui tiga tahap interaksi, yakni:
1) Pra-kontrak atau tahap pembentukan kesan melalui simbol verbal maupun non verbal (apakah komunikan suka berkomunikasi atau menghindari komunikasi)
2) Initial contact and impression, yakni tanggapan lanjutan atas
kesan yang muncul dari kontrak awal tersebut.
3) Closure, mulai membuka diri anda yang semula tertutup
melalui atribusi dan pngembangan kepribadian implisit. 5. Komunikasi berpusat pada kebudayaan
Smith berpendapat bahwa komunikasi dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan. Edward T. Hall mengatakan komunikasi adalah kebudayaan dan kebudayaan adalah komunikasi. Dalam kebudayaan ada sistem dan dinamika yang mengatur tata cara pertukaran simbol-simbol komunikasi dan hanya dengan komunikasi maka pertukaran
simbol-simbol dapat dilakukan, dan kebudayaan hanya akan eksis jika ada komunikasi.
6. Efektivitas antarbudaya merupakan tujuan komunikasi antarbudaya Dalam kenyataan sosial disebutkan bahwa manusia tidak dapat dikatakan berinteraksi sosial kalau dia tidak berkomunikasi. Demikian pula dapat dikatakan bahwa interaksi antarbudaya yang efektif sangat tergantung dari komunikasi antarbudaya. Konsep ini juga sekaligus menerangkan tujuan komunikasi antarbudaya akan tercapai (komunikasi yang sukses) bila bentuk-bentuk hubungan antarbudaya menggambarkan upaya apa yang sadar dari peserta komunikasi untuk memperbaharui relasi antara komunikator dengan komunikan, menciptakan dan memperbaharui sebuah manajemen komunikasi yang efektif.23
2. Unsur-unsur Komunikasi AntarBudaya
Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosial-budaya tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Unsur-unsur sosial-budaya merupakan bagian-bagian dari komunikasi antarbudaya. Bila digabungkan, sebagaimana dilakukan ketika kita sedang berkomunikasi, unsur-unsur tersebut bagaikan komponen-komponen suatu sistem, setiap komponen-komponen berhubungan dan membutuhkan satu sama lainnya. Dalam keadaan sebenarnya, unsur-unsur tersebut tidak terisolasi dan tidak berfungsi sendiri-sendiri. Unsur-unsur tersebut membentuk suatu matriks yang kompleks mengenai unsur-unsur yang
23 Dr. Alo Liliweri, M.S., Dasar-dasar Komunikasi AntarBudaya, (Yogyakarta: Pustaka
sedang berinteraksi yang beroperasi bersama-sama, yang merupakan suatu fenomena kompleks yang disebut komunikasi antarbudaya.
Persepsi adalah proses internal yang kita lakukan untuk memilih, mengevaluasi dan mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan eksternal. Dengan kata lain, persepsi adalah cara kita mengubah energi-energi fisik lingkungan kita menjadi pengalaman yang bermakna. Secara umum dipercaya bahwa orang-orang berperilaku sedemikian rupa sebagai hasil dari cara mereka mempersepsikan dunia yang sedemikian rupa pula. Komunikasi antarbudaya akan lebih dapat dipahami sebagai perbedaan budaya dalam mempersepsi objek-objek sosial dan kejadian-kejadian. Suatu prinsip penting dalam pendapat ini adalah bahwa masalah-masalah kecil dalam komunikasi sering diperumit oleh perbedaan-perbedaan persepsi.24
Dalam ilmu sosial-budaya, mempunyai tiga unsur yang mempunyai pengaruh yang besar dan langsung atas makna-makna yang kita bangun dalam persepsi kita. Unsur-unsur tersebut adalah sistem-sistem kepercayaan (belief), nilai (value), sikap (attitude), pandangan dunia (world view), dan organisasi sosial (social organization). Ketika ketiga unsur utama ini mempengaruhi persepsi kita dan makna yang kita bangun dalam persepsi, unsur-unsur tersebut mempengaruhi aspek-aspek makna yang bersifat pribadi dan subjektif. Berikut ini akan dijelaskan secara jelas ketiga unsure utama dalam komunikasi antarbudaya.
1) Sistem-sistem kepercayaan, nilai, sikap