C. Tujuan Penelitian
4. Konsep Strategi Pengembangan Kurikulum Pembelajaran Berbasis K13 Ada bebrapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam aktivitas
pengembangan kurikulum pembelajaran berbasis K13yaitu :
Pertama prinsip relevansi. Ada relevansi yang harus dimiliki kurikulum
pembelajaran berbasis K13 yaitu tujuan, isi, dan proses belajar yang terdapat dalam kurikulum pembelajaran berbasis K13 hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan, dan perkembangan masyarakat. Kurikulum pembelajaran berbasis K13 juga harus memiliki relevansi di dalam yaitu ada kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen kurikulum, yaitu tujuan, isi, proses pembelajaran dan penilaian untuk menunjukkan suatu keterpaduan kurikulum.
Kedua, prinsip fleksibilitas, yaitukurikulum pembelajaran berbasis K13 hendaknya memilih sifat lentur atau fleksibel. Suatu kurikulum pembelajaran
berbasis K13 yang baik adalah kurikulum yang berisikan hal-hal yang solid, tetapi dalam pelaksanaannya terjadi penyesuaian-penyesuaian berdasrkan kondisi daerah, waktu maupun kemampuan, dan latar belakang anak. Ketiga kontuinitas yaitu kesinambungan.Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum juga hendaknya berkesinambungan antara satu tingkat kelas, dengan kelas lainnya, antara satu jenjang pendidikan dengan jenjang yang lainnya, juga antara jenjang pendidikan dan pekrjaan.
Kempat prinsip praktis, mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat
sederhana dan biaya yang murah.Prinsip ini juga disebut prinsip efisien.Kelima, prinsip efektivitas.Walaupun kurikulum tersebut harus sederhana dan murah tetapi keberhasilannya tetap harus diperhatikan.Keberhasilan pelaksanaan kurikulum ini dilihat baik secara kuantitas maupun kulitas.
Selain prinsip dasar, dalam pengembangan kurikulum pembelajaran berbasis K13 ada empat dasar atau landasan utama pengembangan kurikulum yaitu:
a. Dasar filosofis dan sejarah
Dalam pengembangan kurikulum pembelajaran berbasis K13, tentunya harus berpijak pada aliran-aliran filsafat tertentu, langkah ini akan memberi nuansa terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan. Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, dan Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap
pengembangan model kurikulum subjek-akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan model kurikulum pendidikan pribadi.Sementara itu, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam pengembangan model kurikulum interaksional.
Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri.Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara seklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasi berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan.Meskipun demikian saat ini, pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme.
b. Dasar Psikologis
Pada dasarnya pendidikan tidak terlepas dengan unsur-unsur psikologi, sebab pendidikan adalah menyangkut perilaku manusia itu sendiri, mendidik berarti merubahtingkah laku anak menuju kedewasaan.
Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, penahapan perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang berhubungan dengan perkembangan individu, dimana semuanya dapat dijadikan bahan pertimbangan yang mendasari pengembangan kurikulum.Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari perilaku
individu dalam konteks belajar.Psikologi Belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar, yang dapat dijadikan bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum pembelajaran berbasis K13.
Dari uraian di atas, setidaknya dapat dipahami, bahwa landasan psikologis dalam pengembangan kurikulum pembelajaran berbasis K13 menempati posisi dan peran penting. Anak merupakan sasaran dan sekaligus target kurikulum, maka pertimbangan secara psikologis menjadi sesuatu yang penting dalam merencanakan dan menyusun kurikulum, sehingga dimungkinkan memperoleh hasil maksimal.
c. Dasar Sosial-Budaya
Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan.Sebagai suatu rancangan pembelajaran, kurikulum menentukan pelaksanaan danhasil pendidikan.Pendidikan merupakan usaha sadar untuk mempersiapkan peserta didik untuk terjun kelingkungan masyarakat.Pendidikanlebih penting lagi untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.
Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula.Kehidupan masyarakat, dengan segala
karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat.
d. Dasar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Kurikulum selayaknya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan keberlangsungan hidup manusia.
Masing-masing dasar tentunya memiliki sumbangan penting terhadap pengembangan kurikulum pendidikan.Dasar filosofis berperan dalam merumuskan tujuan pendidikan.Sementara dasar psikologis memberi gambaran terhadap isi, proses dan evaluasi pendidikan.Adapun dasar sosial-budaya, memberi gambaran tentang tujuan dan isi pendidikan.
Sedangkan dasar ilmu teknologi, memberi gambaran tentang isi dan proses pendidikan.
Dalam strategi pengembangan kurikulum pembelajaran ada empat langkah yaitu sebagai berikut:
a. Merumuskan tujuan pembelajaran (Instructional objective), terdapat tiga tahap dalam merumuskan tujuan pembelajaran yaitu: pertama yang harus diperhatikan dalam merumuskan tujuan pembelajaran adalah memahami tiga sumber yaitu siswa (source of student), masyarakat (source of
society), dan konten (source of content). Tahap kedua adalah
merumuskantentative general objective atau standar kompetensi (SK) dengan memperhatikan landasan sosiologi, kemudian di screen melalui dua landasan lain dalam pengembangan kurikulum yaitu landasan filosofi pendidikan dan psikologi belajar, dan tahap terakhir merumuskan precise education atau kompetensi dasar (KD).
b. Merumuskan dan menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar (selection of learning experiences) dalam merumuskan dan menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar dalam pengembangan kurikulum pembelajaran harus memahami defenisi pengalaman belajardan lamdasan psikologi belajar. Pengalaman belajar merupakan bentuk interaksi yang dialami atau dilakukan oleh siswa yang dirancang oleh guru untuk memperoleh pengetahuan danketerampilan. Pengalaman belajar yang harus dialami oleh siswa sebagai learning activity menggambarkan interaksi siswa dengan objek belajar.
c. Mengorganisasi pengalaman-pengalaman belajar (organixation of learning experiences) pengorganisasian atau desain kurikulum pembelajaran diperlukan untuk memudahkan anak didik untuk belajar.
Dalam pengorganisasian kurikulum tidak lepas dari beberapa hal penting yang mendukung, yakni tentang teori, konsep, pandangan tentang pebndidikan, perkembangan peserta didik, dan kebutuhan masyarakat.
d. Mengevaluasi kurikulum (evaluating curiculum), langkah terakhir dalam pengembangan kurikulum adalah evaluasi. Evaluasi adalah proses dalam yang berkelanjutan dimana data yang terkumpul dan dibuat pertimbangan untuk tujuan memperbaiki sistem. Evaluasi yang seksama adalah sangat esensial dalam perkembangan kurikurum. Evaluasi dirasa sebagai suatu proses membuat keputusan, sedangkan riset sebagai proses pengumpulan data sebagai dasar pengambilan keputusan
Sedangkan dalam strategi pengembangan kurikulum pembelajaran berbasis K13 ada beberapa model pengembangan kurikulum yang dapat diginakan yaitu sebagai berikut :
a. Model Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional
Konsep dari PPSI ini adalah bahwa sistem instruksional yang menggunakan pendekatan sistem, yaitu satu kesatuan yang terorganisasi, yang terdiri dari sejumlah komponen yang berhubungan satu dengan yang lainnya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan. Sedangkan fungsi PPSI adalah untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi pendidik dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
Adapun langkah-langkah dari pengembangan model PPSI adalah sebagai berikut :
1) Merumuskan tujuan. Langkah ini menggunakan istilah yang operasional, berbentuk hasil belajar, berbentuk tingkah laku, dan hanya ada satu bentuk kemampuan dan tujuan.
2) Pengembangan alat evaluasi. Dalam mengembangkan alat evaluasi, lakah-langkahnya adalah menentukan jenis tes yang akan digunakan dan menyusun item soal untuk setiap tujuan.
3) Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Langkah ketiga yaitu merumuskan semua kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan dan menetapkan kegiatan pembelajaran yang akan ditempuh.
4) Pengembangan program KBM. Dalam pengembangan program KBM, maka langkah-langkahnya ialah merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode yang digunakan, memilih alat dan sumber yang digunakan, dan menyusun program kegiatan atu jadwal.
5) Pelaksanaan langkah yang terakhir yaitu mengadakan pra-tes, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan post-tes dan revisi.
b. Model Glasser
Model ini merupakan model yang paling sederhana, dimana menggambarkan suatu perencanaan atau pengembangan pembelajaran ke dalam empat langkah, diantaranya :
1) Tujuan pembelajaran (instructional objectives). Tahap pertama adalah tujuan pembelajaran atau dalam proses produksi merupakan tujuan dari
program yang akan dirancang. Tujuan ini lebih menitikberatkan kepada apa yang ingin disampaikan dari program yang diinginkan 2) Pemberian perlakuan (entering behavior). Pada tahap ini, memasukkan
materi-materi atau unsur-unsur yang berkenaan dengan program yang dibuat. Dimana segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan produksi.
3) Prosedur pelaksanaan (instructional prosedures). Prosedur pelaksanaan merupakan sebuah tahapan dalam menguraikan langkah-langkah yang akan dilaksanakan. Hal ini dilakukan ahar proses pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan rencana yang ditetapkan.
4) Penilaian hasil produksi (performance assessment). Pada tahap ini dilakukan penilaian terhadap kinerja yang telah dilaksanakan. Tahap ini merupakan sebuah upaya menyelaraskan segala sesuatu yang telah dilaksanakan pada tahap sebelumnya.
c. Model Pengembangan Kurikulum Rogers
Model yang dikemukakan oleh Rogers berguna bagi pengajar di sekolah dan perguruan tinggi. Ada beberapa model yang dikemukakan oleh Rogers, yaitu dari model yang paling sederhana sampai dengan yang kompleks.Model-model tersebut disusun sedemikian rupa sehingga model yang berikutnya merupakan penyempurnaan model-model sebelumnya.
Adapun model-model tersebut ada empat, yaitu:
1) Model I menggambarkan bahwa kegiatan pendidikan semata-mata terdiri atas kegiatan memberikan informasi (isi pelajaran) dan ujian.
Model tersebut merupakan model tardisional yang masih dipergunakan.
2) Model II merupakan penyempurnaan model I dengan menambahkan metode dan organisasi bahan pelajaran
3) Model III pengembangan kurikulum, yang merupakan penyempurnaan pula dari model II yang belum dimasukkan unsur teknologi pendidikan, hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa, teknologi pendidikan merupakan faktor yang menunjang dalam keberhasilan belajar mengajar. Model ini juga memerlukan perbaikan lanjut lagi
4) Model IV pengembangan kurikulum merupakan penyempurnaan model III dengan memasukan unsur tujuan. Tujuan inilah yang bersifat mengikat semua komponen yang lain.
Dari keempat model tersebut di atas, menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum pembelajaran berbasis K13 secara bertahap dan terus menerus, yakni dengan cara mengadakannya terhadap pelaksanaan dari hasil-hasil yang telah dicapai untuk melakukan perbaikan, pemantapan, dan pengembangan lebih lanjut. Hal ini mempunyai implikasi bahwa kurikulum senantiasa mengalami revisi-revisi, namun revisi tersebut tetap mengacu pada apa yang sudah ada dan
memperhatikan kedepan, sehingga keberadaannya cukup berarti bagi anak didik dan dinamis.
d. Model Pengembangan Kurikulum menurut Robert S. Zain 1) Model Administratif
Model ini dikenal dengan adanya garis dan staf atau model dari atas ke bawah. Kerja model ini adalah: pejabat pendidikan membuat panitia pengarah yang biasanya terdiri dari atas pengawas pendidikan, kepala sekolah dan staf pengajar inti. Panitia pengarah ini bertugas merencanakan, memberikan pengarahan tentang garis besar kebijakan, menyiapkan rumusan falsafah dan tujuan umum pendidikan.Selesai pekerjaan tesebut, mereka menunjuk kelompok-kelompok kerja sesuai dengan keperluannya.Kelompok kerja umumnya terdiri atas staf pengajar dan spesialis kurikulum.Tugasnya adalah menyusun tujuan khusus, isi dan kegiatan belajar.Hasil pekerjaan direvisi oleh panitia pengarah. Bila dipandang perlu dan meskipun hal ini jarang terjadi, akan diadakan uji coba untuk meneliti kelayakan pelaksanaannya. Hal ini dikerjakan oleh suatu komisi lainnya yang ditunjuk oleh panitia pengarah dan anggotanya terdiri atas sebagian besar kepala sekolah.Setelah selesai, maka pekerjaan itu diserahkan kembali kepada panitia pengarah untuk ditelaah sekali lagi kemudian diimplementasikan.
Pengembangan kurikulum model ini menekankan kegiatannya pada orang-orang yang terlibat sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.Karena pengarahan kegiatan berasal dari atas ke bawah, pada dasarnya model ini mudah dilaksanakan pada negara yang menganut sistem sentaralisasi dan negara yang kemampuan profesional tenaga pengajarnya masih rendah.Kelemahan model ini terletak pada kurang pekanya terhadap perubahan masyarakat, disamping juga karena kurikulum ini biasanya seragam nasional sehingga kadang-kadang mengabaikan kebutuhan dan kekhususan pada tiap daerah.
2) Model Grass Roost (dari bawah)
Dari model ini yang disebut model bawah, maka inisiatif pengembangan kurikulum model ini berada ditangan staf pengajar sebagai pelaksana pada suatu sekolah atau pada beberapa sekolah sekaligus. Model ini didasarkan pada pandangan bahwa implementasi kurikulum akan lebih berhasil jika staf pengajar sebagai pelaksana sudah sejak semula diikutsertaan dalam pengembangan kurikulum.
Kegiatan pengembangan kurikulum cara ini sangat memperhatikan kerjasama dengan orang tua, peserta didik dan masyarakat. Kerjasama diantara sesama pengajar dengan sendirinya merupakan bagian yang penting dalam model ini. Kedudukan administrator hanyalah cukup memberikan bimbingan dan dorongan saja dan staf pengajar akan melaksanakan tugas pengembangan
kurikulumnya secara demokratis. Kemudian diadakan lokakarya untuk membahas langkahlangkah selanjutnya dan melibatkan staf pengajar, kepala sekolah, orang tua, peserta didik, para konsultan serta para nara sumber lainnya.
Pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas perubahan tuntutan kehidupan dalam masyarakat, tetapi juga perlu dilandasi oleh perkembangan konsep-konsep dalam ilmu.Oleh karena itu, pengembangan kurikulum membutuhkan bantuan pemikiran para ahli, baik ahli pendidikan, ahli kurikulum, maupun ahli bidang studi/disiplin ilmu.
5. Hambatan-hambatan DalamPengembangan Kurikulum Pembelajaran