Pendidikan kesehatan adalah proses perubahan prilaku yang dinamis, dimana perubahan tersebut bukan sekedar proses transfer materi atau teori dari seseorang ke orang lain, akan tetapi peerubahan tersebut terjadi karena adanya kesadaran dari dalam diri individu, atau kelompok masyarakat sendiri (Mubarak dan Chayatin, 2009).
Merujuk pada pengertian pendidikan kesehatan menurut President’s
Committee on Health Education yang dimaksud dengan pendidikan
kesehatan adalah suatu proses yang menjembatani kesenjangan antara informasi dan tingkah laku kesehatan yang mampu memotivasi seseorang untuk menerima informasi kesehatan dan berbuat sesuai dengan informasi tadi agar mereka menjadi lebihsehat dengan cara menghindarkan diri dari
perbuatan-perbuatan yang mengganggu kesehatan serta membentuk
kebiasaan hidup yang bermanfaat bagikesehatan. 2.3.2 Tujuan Pendidikan Kesehatan
Tujuan utama pendidikan kesehatan adalah agar orang mampu: a. Menetapkan masalah dan kebutuhan mereka sendiri
b. Memahami apa yang dapat mereka lakukan terhadap masalah, dengan sumber daya yang ada pada kmereka di tambah dengan dukungan dari luar
c. Memutuskan kegiatan yang paling tepat guna untuk meningkatkan taraf hidup sehat dan kesejahteraan masyarakat.
Tujuan dari pendidikan kesehatan menurut Undang-Undang Kesehatan No.36 tahun 2009 maupun WHO adalah meningkatkan kemampuan masyarakat; baik fisik, mental dan sosialnya sehingga produktif secara ekonomi maupun secara sosial, pendidikan kesehatan disemua program kesehatan; baik pemberantasan penyakit menular, sanitasi, lingkungan, gizi masyarakat, pelayanan kesehatan, maupun program kesehatan lainnya.
2.3.3 Misi Pendidikan Kesehatan
Misi pendidikan kesehatan secara umum dapat dirumuskan menjadi: a. Advokat (Advocate)
Melakukan upaya-upaya agar para pembuat keputusan atau penentu kebijakan tersebut mempercayai dan meyakini bahwa program kesehatan yang ditawarkan perlu didukung melalui kebijakan-kebijakan atau keputusan-keputusan politik
b. Menjembatani (Mediate)
Diperlukan kerjasama dengan lingkungan maupun sektor lain yang terkait dalam melaksanakan program-program kesehatan
c. Memampukan (Enable)
Memberikan kemampuan dan keterampilan kepada masyarakat agar mereka dapat mandiri untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka (Notoatmodjo, 2010).
2.3.4 Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan
Ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dilihat dari berbagai dimensi, antara lain:
a. Dimensi sasaran
1. pendidikan kesehatan individu dengan sasaran individu 2. pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok
3. pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas b. Dimensi Tempat pelaksanaan
Pendidikan kesehatan dapat berlangsung di berbagai tempat, dengan sendirinya sasarannya berbeda pula, misalnya:
1. Pendidikan kesehatan disekolah dengan sasarannya murid
2. Pendidikan kesehatan dirumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan lainnya, dengan sasarannya pasien dan keluarga pasien 3. Pendidikan kesehatan ditempat kerja dengan sasarannya buruh atau
karyawan.
c. Dimensi Tingkat Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan dapat dilaksanakan berdasarkan lima tingkatan pencegahan (five levels of prevention) menurut Leavel dan Clark, yaitu sebagai berikut:
1. Peningkatan kesehatan (Health Promotion)
Peningkatan status kesehatan masyarakat dapat dilakukan melalui beberapa kegiatan seperti pendidikan kesehatan (Health education), penyuluhan kesehatan, pengadaan rumah sakit,
konsultasi perkawinan, pendidikan seks, pengendalian lingkungan dan lain-lain.
2. Perlindungan Umum dan Khusus (General and Specific
Protection)
Perlindungan umum dan khusus merupakan usaha kesehatan untuk memberikan perlindungan secara khusus atau umum kepada seseorang atau masyarakat. Bentuk perlindungan tersebut seperti imunisasi dan higiene perseorangan, perlindungan diri dari kecelakaan, kesehatan kerja, pengendalian sumber-sumber pencemaran dan lain-lainnya.
3. Diagnosisi dini dan pengobatan segera atau adekuat (Early diagnosis and prompt Treatment)
Pengetahuan dan kesadaran masyarakat yang rendah terhadap kesehatan mengakibatkan masyarakat mengalami kesulitan untuk mendeteksi penyakit bahwa enggan untuk memeriksakan kesehatan dirinya dan mengobati penyakitnya
4. Pembatasan Kecacatan (Disability Limitation)
Kurangnya pengertian dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan penyakit sering membuat masyarakat tidak melanjutkan pengobatan sampai tuntas, yang akhirnya dapat mengakibatkan kecacatan atau ketidakmampuan. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan juga diperlukan pada tahap ini dalam
bentuk penyempurnaan dan intesifikasi terapi lanjut, penurunan beban sosial penderita dan lain-lain
5. Rehabilitasi (Rehabilitation)
Latihan diperlukan untuk pemulihan seseorang yang telah sembuh dari suatu penyakit atau menjadi cacat. Karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran tentang pentingnya rehabilitas, masyarakat tidak mau untuk melakukan latihan-latihan tersebut (Mubarok dan Chayatin, 2009).
2.3.5 Pertimbangan Umur dalam Pendidikan Kesehatan
Pendidikan adalah proses menumbuh-kembangkan seluruh
kemampuan dan perilaku manusia melalui pengajaran, sehingga dalam pendidikan ini dipertimbangkan umum (proses perkembangan) klien dan hubungannya dengan proses belajar. Adapun yang dimaksud dengan perkembangan (dalam Dictionary of Psychology, 1998) adalah tahap-tahap perubahan yang progresif yang terjadi dalam rentang kehidupan manusia dan organisme lain, tanpa membedakan aspek-aspek yang terdapat dalam diri organisme tersebut.
Perkembangan pada asasnya adalah tahapan perubahan psikofisik manusia yang progresif sejak lahir hingga akhir hayat. Pertimbangan umur dalam pendidikan kesehatan meliputi perkembangan kognitif, menurut Jean Piaget (1963) dan tugas-tugas perkembangan menurut Havigurst (1957).
a. Perkembangan kognitif menurut Jean Piaget
Tahap perkembangan kognitif pada anak usia kanak-kanak sampek menjelang usia remaja (7-11 tahun), anak memperoleh tambahan kemampuan yang disebut dengan langkah berpikir. Kemampuan itu berfaedah baginya untuk mengkoordinasikan pikirannya dengan peristiwa tertentu, dalam tahap ini terdapat sistem operasi kognitif yang meliputi:
1. Konservatif/pengekalan, yaitu kemampuan anak dalam memahami
aspek kumulatif materi, seperti volume dan jumlah. Anak yang mampu mengenali sifat kuantitatif sebuah benda akan tahun bahwa sifat kuantitaif benda tersebut tidak akan berubah secara sembarangan.
2. Penambahan golongan benda (addition of clasess), yaitu kemampuan anak dalam memahami cara mengkombinasikan beberapa golongan benda yang dianggap berkelas lebih rendah 3. Pelipatan gandaan golongan benda (multiplication of classes),
yaitu kemampuan anak yang melibatkan pengetahuan mengenai cara mempertahankan dimensi-dimensi benda tersebut.
2.3.6 Pendidikan Kesehatan Pada Anak Sekolah Dasar
Usaha kesehatan melalui sekolah-sekolah adalah salah satu langkah yang lebih efektif dibandingkan dengan beberapa usaha lainnya. Hal tersebut dimungkinkan mengingat bahwa masyarakat sekolah mempunyai persentase yang tinggi, peka terhadap pendidikan pada umumnya, usia
yang mudah dibimbing dan dibina sehingga dapat meyebarkan modernisasi (agent of change).
Kesehatan akan tercapai apabila terjadi perubahan ke arah positif dapat dilihat dari pengetahuan, nilai, sikap dan prilaku individu yang bersangkutan. Pendidikan kesehatan disekolah memusatkan usaha kepada individu atau kelompok individu selama waktu tertentu dalam hidupnya, yaitu kehidupan sekolah.mengingat pertumbuhan, perkembangan, keadaan lingkungan dan kesehatan anak saling berkaitan. Maka agar berfungsi dengan baik,perlu dilakukan pendidikan kesehatan disekolah untuk menangani berbagai hal yang dapat mengganggu kesehatan anak didik.
Bila kita lihat dari materi yang termuat dari GBPP Penjaskes untuk sekolah dasar(SD) dari kelas I s/d III adalah penanaman kebiasaan hidup sehat, sedangkan pada anak kelas IV s/d VI mampu melaksanakan pencegahan terhadap penyakit menular, melaksanakan tugas UKS serta melaksanakan pertolongan pertama terhadap penyakit yang sederhana.
Untuk dapat berhasil dengan baik, yaitu meningkatkan pengetahuan anak didik, memupuk mental yang baik, meningkatkan keterampilan dan meningkatkan perilaku sehat dikalangan anak didik, maka dilakukan pendidikan kesehatan pada anak sekolah dasar (Depkes RI, 2003).