• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA DAN KONSEP DESAIN

4.7 Konsep Visual

Diambilnya media fotografi sebagai media penyampayan pesan, yaitu agar pembaca dapat merasan dan melihat serta jelas bagaiman tradisi yang telah di selenggarakan serta kehidupan sehari-hari warga Toraja. Buku Fotografi ini dapat berguna sebagai dekumentasi, media pembelajaran, acuan bagi pekerja atau hobi di bidang seni budaya, dan jendela budaya khususnya di budaya Toraja.

Dengan tampilan menarik, buku fotografi budya Toraja ini dapat memberikan informasi dan membangkitkat rasa ketertarikan target audience untuk membaca memiliki buku tersebut. Dengan demikiaan diharapkan masyrakat memiliki kepedulian lebih terhadap menjaga kelestarian budaya nenek moyang di Indonesia, yang mampu membantu memberikan solusi alternative sebagai dekumentasi kebudayaan Toraja.

Keterkaitan isi adalah menampilakan kegiatan dari kegiatan upacara adat sesuai dengan kenyataan sekarang. Selain itu beberapa hal yang akan terjadi strategi kreatif tersebut antara lain:

1. Dominasi unsur visual sebagai elemen dan daya tarik utama, serta tulisan singkat yang menggambarkan kondisi dan pendukung dari visual yang di tampilkan.

Visual yang di tampilkan merupakan hasil kekuatan fotografi kreadibilitas dan kemampuannya untuk memberikan kesan di percaya (Rustan Suryanto, 2018 : 54). Sehingga Foto yang di tampilkan murni yang telah melewati proses sleksi. Serta pengelolaan digital sebatas Brightness/Contrast dan Levels di karenakan buku ini memberikan ilmu tentang kesederhanaan dalam fotografi.

Dalam buku etnobudaya, ikatan antar foto haruslah sangat kuat, sehingga alur cerita etnofotografi itu tetap fokus dan tidak melebar kemana-mana serta memberikan wawasan bagi pembaca. Pesan dari Pelaku fotografer memberikan wawasan terhadap ilmu budaya. Maka kesimpulan terhadap visual fotografi ini berangkat dari kesederhanaan dan keberanian terhadap objek serta keahlian dalam membidik serta

68

tidak meninggalkan ilmu dasar dari Fotografi. Format gambar dan keteria Foto sebagai berikut :

a) Menjaga keoraginalitasan gambar (foto)

b) Editan sebatas Croping Brightness/Contrast dan Levels c) Format gambar pertikal dan horizontal

d) Memenuhi keteria dasar fotografi (komosisi)

• Komposisi golden section

Gambar 4.1 (sumber pribadi(data pribadi 14/12/12 )

• Komposisi Rule of Third

Gambar 4..2 (sumber pribadi data pribadi 14/12/12 )

• Komposisi Break The Rule

Gambar 4.3 (sumber pribadi data pribadi 15/12/12 )

Pesan yang di sampaikan dengan bentuk visual ini mempengaruhi dari karakter fotografer mempunyai karakter yang

69

berbeda. Dalam bentuk visual ini masih di kurasi (disaring) oleh curator-kurator fotografer maupun dari pihak terkait. Alasan untuk dikurasi merupakan daya untuk mengangkat dari kualitas buku ini.

2. Penulisan Teks yang singkat, padat, namun tetap jelas dan serta gaya bahasa naratif informatife dengan maksud memudahkan audiens untuk dapat menangkap makna dari teks dan visual.

Untuk menarik daya tarik pembeli maka awal yang di lihat adalah cover depan, maka cover sangat penting. Cover depan di sertai foto tengkorak yang ada di Londa, foto ini memberikan kesan yang sedikit seram tetapi kuat akan sosok Toraja. Hal ini di lakukan untuk menarik daya tarik audience (pambeli) karena keunikan dan ciri khas Toraja serta menjadi mark-ing (nudah di ingat) yang dimana tempat persemayaman yang sangat berbeda ketimbang di tempat yang lain.

Ditoraja menjumpai tengkorak merupakan hal biasa tetapi untuk masyarakat lain inimerupakan hal yang berbeda, maka alas an memakai foto tengkorak ini merupakan hal yang wajar dan bisa menjadikan mark-ing (nudah di ingat) point dari buku ini. Font judul (judul buku) untuk cover depan menggunakan jenis font tegas dan mudah di baca, dengan ukuran minimal 35, agar jelas di baca dengan jarak pandang 3m. Untuk cover menampilkan profil dari penulis buku “Etnofotografi of to Riaja” di sertai foto berukuran kecil dan disertai teks cerita perjalanan dari penulis.

Setiap halaman selalu di sertai visual khususnya foto dominan dari pada taks, ini di dukung dari penerbit serta wawancara dengan Fotografer Edi Purnomo. Buku fotografi ini hendanya memberikan unsur pendidikan moral, pengetahuan tentang isi buku tersebut dan tentang tekhnik dari fotografi (wawancara fotografer , Edy Purnomo). Tujan dari buku ini memenuhi target penjualan serta eksistensi fotografer.

4.8 Konsep Warna

Penggunaan warna dalam buku ini menggunankan mayoritas warna hitam, putih, merah dan kuning serta warna turunannya. Warna putih untuk font merupakan warna solid. Serta warna hitam sebagai dasar da bagian besar tulisan

70

sebagai warna netral untuk menonjolkan tulisan dan foto. Warna merah kuning merupakan warna corporate idetity dari budaya Toraja.

Warna tradisional terdiri dari kuning hitam merah merupakan dominan dari daerah.

• Unsur warna kuning digunakan untuk menggambarkan kesan identitas dari Toraja. Asosiasi pada sinar matahari, bahkan pada matahari itu sendiri. Memiliki karakter terang, gembira, ramah, supel, riang, cerah. Kuning simbol dari kecerahan, kehidupan, kemenangan, kegembiraan, kemeriahan.

• Merah sebagai api melambangkan keberanian, kekuatan, kemarahan. Jika merah sebagai darah berarti peperangan, kekejaman, sadisme. Karena merah merupakan warna dari sadisme merupakan hasil dari korban yang di sertai penyembelihan hewa korban.

Serta sangat kuat warna Hitam, putih merah kuning sangat cocok di gunakan dalam buku ini disamping warna ini mempunyai makna tersendiri untuk budaya Toraja.

Merah Kuning Hitam

Gambar 4.4 : (sumber pribadin data pribadi 14/12/12 )

Warna dari daerah ini mempunyai chiri khas tertentu, yaitu warna kuning merah dan hitam. Dari gaya warna ini di dominasi dari warna-warna pilihan bertujuan untuk menyeragamkan gaya visual.

71

4.9 Ornamen

J.S. SANDE 1988 Dalam bukunya menyatakan bahwa ukiran Toraja mengandung arti dan nilai-nilai kehidupan yang berhubungan erat dengan falsafah hidup orang Toraja. Ukiran Toraja umumnya berupa nasehat-nasehat agar menjalani hidup ini dengan baik dan benar, selalu bekerja keras, saling menghargai serta senantiasa membina persatuan dan kekeluargaan serta ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Arti dan makna ukiran Toraja Pa’Barre Allo ( sang pencipta )

Gambar 4.5: ukiran Pa’Barre Allo ( sang pencipta ) (http://alexnova-alex.blogspot.com/2011/11)

Berasal dari Bahasa Toraja, yaitu Barre: Bulatan atau Bundaran dan Allo: Matahari. Pa’Barre Allo berarti ukiran yang menyerupai matahari yang bersinar terang, memberi kehidupan kepada seluruh mahluk penghuni alam semesta. Ukiran ini diletakkan pada bagian rumah adat yang berbentuk segitiga dan mencuat condong keatas yang dalam bahasa Toraja disebut Para Longa, dan di letakkan di bagian belakang dan depan Rumah adat. Ukiran ini biasa diletakkan diatas ukiran Pa’Manuk Londong

72

Selain sebagai rumah adat, Suku Toraja mengenal 3 jenis Tongkonan menurut peran adatnya, walau bentuknya sama persis, yaitu: Tongkonan Layuk : sebagai pusat kekuasaan adat, tempat membuat peraturan. Tongkonan Pekaindoran/Pekanberan : tempat untuk melaksanakan peraturan dan perintah adat. Tongkonan Batu A’riri : tempat pembinaan keluarga serumpun dengan pendiri Tongkonan.

No Nama Ukiran Makna Ukiran

1.

2.

3.

PA' KAPU' BAKA

PA' DAUN PARIA

PA' ULU KARUA

Kapu' Baka = Pengikat bakul tampat menyimpan harta kekayaan rumah.

Makna dari ukiran ini adalah: Melambangkan kekayaan dan kebangsawanan, simpul rahasia melambangkan pemilik rumah memiliki pola kepemimpinan dan sukar ditiru oleh orang lain, selain itu juga pandai dalam memelihara rahasia keluarga.

Paria = sayur paria atau Pare

Makna dari ukiran ini adalah: kadang sesuatu yang pahit itu adalah obat yang dapat menyembuhkan. seperti teguran atau nasehat yang harus diterima walau menyakitkan namun akan membawa kebaikan.

Pa' ulu karua juga berarti bahwa orang yang mempunyai kemampuan untuk berbaur dengan orang lain.

Makna dari ukiran ini adalah: diharapkan dalam keluarga muncul orang (anggota keluarga) yang memiliki ilmu yang tinggi untuk kepentingan keluarga, masyarakat.

73 Gambar 4.7 Tabel Ukiran

4.

5.

6.

PA' DOTI LANGI

PA' BOMBO UAI

PA’BUKANG TASIK

Makna dari ukiran ini adalah: Kepintaran / prestasi yang tinggi, kearifan dan ketenangan, juga mempunyai cita-cita yang tinggi pemikiran yang jauh cemerlang kedepan, bisa juga berarti wanita bangsawan, mempunyai kasta tinggi.

Makna dari ukiran ini adalah: Pintar-pintarlah menitih kehidupan ini dalam hal ini adalah lincah, cekatan, cepat, dan tepat. selain itu ukiran ini juga berarti manusia harus mempunyai keterampilan dan kemampuan yang cukup dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab

Pa’bungkang tasik menyerupai (kepiting). Makna dari ukiran ini adalah: Ukangkapan harapan kepada anak cucu, agar anak cucu dari gunung mendapatkan rejki dari laut .

74

4.10 Grid

Dalam buku 7 essentials of Graphic Design, menyebutkan grid adalah kolom-kolom atau garis Bantu yang membantu untuk menentukan ruang text, illustrasi, photography, dll. Tujuan utama dari grid adalah untuk menghindari ketidakrapian. Dengan terciptanya alur baca, grid membantu pemakainya untuk menemukan materi yang dicari setiap saat.

Penggunaan Grid Column Grid berbagai macam informasi. Lebar dari kolom ditentukan dari ukuran teksnya. Tujuannya adalah menemukan lebarnya yang paling sesuai. Grid juga menentukan untukmengikuti dari bentuk layout. System Grid Column Grid menunjukan kesan bebas serta tidak memiliki penilaiyan yang formal karena buku ini untuk kalangan menengah atas yang mempunya kesan exklusif. Manuscript Grid Ini adalah jenis grid yang paling sederhana, strukturnya berbentuk rectangular yang meliputi hampir seluruh halaman. Tugasnya adalah untuk mengakomodasi teks bersambung yang ekstensif, seperti buku atau essay panjang. Modular Grid adalah column grid yang dibagi dengan bentangan-bentangan horizontal yang membagi kolom kolom menjadi baris, menciptakan sel-sel matriks disebut modul. Ditujukan untuk projek yang kompleksitasnya tinggi.

4.10 Typhografi

Huruf yang di gunakan adalah huruf yang eklusif serta tidak terlepas dari sifat budaya Toraja. Pemilihan font ini berdasarkan beberapa alasan yaitu memberikan kesan klasik, dan kuat akan ednobudaya dari toraja itu sendiri. Font merupakan sarana komunikasi untuk menyampaikan pesan yang berupa teks. Untuk pemilihan font cenderung lebih sederhana sehingga memudahka pembaca untuk membaca teks di dalam buku ini.

Alternative Jenis Tipografi yang dipilih untuk Judul buku dan sub-judul ini adalah Trojan Pro. Pemilihan font ini berdasarkan bebberapa alasan yaitu memberikan kesan kuno, dan kuat seperti melambangkan fondasi kekuatan dan kekuatan kekeluargaan di masyarakat toraja. Sedangkan Alternatife isi teks menggunakan font Myried pro, karena cenderung lebih sederhana memudahkan pembaca untuk mambaca teks di dalam buku ini. Untuk alternative keterangan

75

gambar, menggunakan font Helveteria Neue Pro Thin, katrena jenis font ini mudah untuk di baca dan tipis sehingga tidak mengganggu layout atau tulisan lainnya, karena hanya berupa tulisan-tulisan keterangan foto saja.

Contoh Font Trojan Pro

Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja,

Budaya toraja,Budaya toraja

,

Budaya toraja

,

Budaya toraja,

Budaya toraja,Budaya toraja

Budaya toraja.

Budaya toraja

Pemilihan font ini berdasarkan beberapa alasan yaitu memberikan kesan kuno, dan kuat seperti melambangkan fondasi kekuatan dan kekuatan kekeluargaan di masyarakat toraja.Pemilihan font ini berdasarkan bebberapa alasan yaitu memberikan kesan kuno, dan kuat seperti melambangkan fondasi kekuatan dan kekuatan kekeluargaan di masyarakat toraja.

Contoh Font Myried pro

A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W

X Y Z

a b c d e f g h I j k l m n o p q r s t u v w x y z

1234567890 .’;[]()!*&

A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V

W X Y Z

a b c d e f g h I j k l m n o p q r s t u v w x y z

1234567890 .’;[]()!*&

76

Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja

Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja Budaya toraja, Budaya tora

Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja,

Budaya toraja,

Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja,

Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja, `Budaya toraja, Budaya toraja,

Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja,

Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja, Budaya toraja,

Memilih font untuk Taks buku, font Myried pro mungkin yang dipili menurut penulis disini semata-mata hanya bisa di baca dengan nyaman dan tidak memlelahkan mata. Serta gaya taks ini tidak memudarkan dari konsep keseluruhan untuk karakter dari buku budaya Toraja.

Contoh font Helveteria Neue Pro Thin

Budaya toraja Budaya toraja,1234567890, Budaya toraja Budaya toraja,1234567890, Budaya toraja Budaya toraja,1234567890, Budaya tora ja Budaya toraja,1234567890, Budaya toraja Budaya toraja,1234567890, Budaya toraja Budaya toraja,1234567890, Budaya toraja Budaya toraja,1234567890, Budaya toraja Budaya toraja,1234567890, Budaya toraja Budaya toraja,1234567890, Budaya toraja Budaya toraja,1234567890,

Untuk alternative keterangan gambar, menggunakan font Helveteria Neue Pro Thin, katrena jenis font ini mudah untuk di baca dan tipis sehingga

A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y

Z

a b c d e f g h I j k l m n o p q r s t u v w x y z

1234567890 .’;[]()!*&

77

tidak mengganggu layout atau tulisan lainnya, karena hanya berupa tulisan-tulisan keterangan foto saja.

4.11 Layout

Menurut Surianto Rustan dalam bukunya “Layout Dasar & Penerapannya”, pada dasarnya layout dapat dijabarkan sebagai tata letak elemen-elemen desain terhadap suatu bidang dalam media tertentu untuk mendukung konsep/pesan yang dibawanya. Membuat layout adalah salah satu proses/tahapan kerja dalam desain. Elemen-elemen desain sendiri antara lain ; tipografi, simbolisme, ilustrasi dan fotografi

Konsep gaya desain dan layout dalam desain buku ini menggunakan prinsip simplycity yang berisi teks dan foto serta unsure-unsur grafis sebagai pendukung visualisasi. Sehingga tercipta kesan sesuatu yang indah dan simple tetapi juga mewah. Layout pada tiap halaman di buat berfariasim, namun tetap mengacu pada grid yang digunakan yaitu Column Grid, Modular Grid, dan Manuscript Grid. Dengan tampilan beda yang berfariasi diharapkan mampu menampilkan irama pada setiap halaman demi halaman. Hal ini bertujuan agar dalam kesatuan buku terasa irama yang tidak menjemukan bagi pembaca.

Menurut kamus istilah advertising, definisi layout adalah penalataletakan, pengorganisasian atau strukturisasi dari berbagai unsur desain agar teratur dan tercipta hirarki yang baik guna mendapatkan dampak yang kuat dari yang melihat (Rustan Suryanto, 2011). Dalam buku Layout dan Penerapannya, prinsip-prinsip sebuah layout adalah :

a) Sequence/urutan

Kita membuat prioritas dan mengurutkan dari yang harus dibaca pertama kali sampai yang paling terkahir dibaca. Dengan adanya sequence akan membuat para pembaca secara otomatis mengurutkan pandangan matanya sesuai yang diinginkan.

Menurut analisa dari audies mungkin teori ini bisa menjadikan alternative untuk melengkapi hasil dari Layout.

78

b) Emphasis/penekanan

Dalam rangka menarik perhatian pembaca, setiap pesan dan layout harus memiliki daya tarik / penekanan yang tinggi agar audience dapat merespons lebih cepat. Daya tarik dari layout ini mugkin di tunjang dari gaya buku yang dominan dengan visual gambar. Emphasis/penekanan selaknya ada kecocokan dengan kobinasi layout ini mendukung dengan gaya buku fotografi

c) Balance/keseimbangan

Merupakan pembagian yang berat dan merata pada sebuah layout. Pembagian ini dimaksudkan agar menghasilkan kesan seimbang dengan menggunakan elemen-elemen yang dibutuhkan dan meletakkannya pada tempat yang tepat. Keseimbangan dalamn konsep dan karekter dalam buku fotografi. irama ini diharapkan sebagai pembagian visual gambar dalam buku ini agar bisa di konsumsi sesuai dengan irama dan konsep dari buku ini.

d) Unity/kesatuan

Semua elemen harus saling berkaitan dan disusun secara tepat. Kesatuan disini juga mencakupselarasnya elemen-elemen yang terlihat secara fisik dan pesan yang ingin disampaikan pada konsepnya. Gaya layout Unity/kesatuan bisa di selaraskan dengan pesan atau kepstion dalam keterangan oprasional kamera. Konsepni bisa disinergikan dengan gaya leyoy lainnya.

Mungkin beberapa karakter layout yang menjadikan sebuat penilayan tersendiri dari karakter bukuyang sama mengenai buku budaya adalah. Bermacam gaya layout yang di tuangkan dalam buku fotografi merupakan salah satu data tarik terhadap pembaca. Salah satu contoh layout buku fotografi dari Henry C. Widjaja yang berjudul Celebrating The Moment buku ini di terbitkan olek Kompas Gramedia edisi 2010 yang berukuran 26x28 cm, sebanyak 130 lembar halaman, dan di jilid soft cover. Buku tersebut dibuat referensi untuk buku budaya.

79 Gambar 4.8 : Cover Depan dan Belakang

Gambar 4.9 : layout isi buku

Layout buku fotografi dari Henry C. Widjaja yang berjudul Celebrating The Moment buku bisa menjadi alternative dari buku budaya. Dari isi layout ini sangatlah sederhana tetapi tidak menghilangkan kesan mewah, dari peletakan dan fout sangatlah serasi maka nilai-nilai yang terkandung bisa di asumsi dan di amplikasikan ke dalam buku fotografi budaya.

80

4.11 Analisa Visual

Dokumen terkait