• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Willingness to Pay terhadap Asuransi Pertanian

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 23-29)

Willingness to pay adalah sejumlah uang atau kompensasi yang siap dibayar oleh konsumen untuk suatu peningkatan/penurunan konsumsi produk (barang dan jasa) yang diinginkan. Preferensi konsumsi suatu produk dapat direpresentasikan oleh kurva nilai total, yaitu : suatu kurva indeference yang menggambarkan garis preferensi konsumen yang optimal.

Bentuk kurva nilai total merupakan garis melengkung yang melewati titik original pada diagram 4 kuadran, sumbu X menggambarkan peningkatan dan penurunan konsumsi, sumbu Y menggambarkan peningkatan dan penurunan pendapatan konsumen. Titik awal Qo, Yo titik yang menggambarkan kondisi awal.

Pergeseran ke kanan dari titik asal (A) → tingkat konsumsi produk yang lebih tinggi, tingkat pendapatan rendah/menurun. Kalau bergeser kekiri dari titik asal (B) menunjukkan tingkat konsumsi produk yang lebih rendah, tingkat pendapatan tinggi/meningkat.

Gambar 3. Kurva Nilai Total

Y- A

Q- Yo

Qo Q+

Y+ B

Sumber : Randall, 2010

Kuadran I, menggambarkan konsumen mau membayar untuk memperoleh kenaikan konsumsi suatu produk. Kuadran III, konsumen mau menerima sejumlah uang untuk mengurangi konsumsi suatu produk.

U (Qo, Yo) = U (Q-, Y+) = U (Q+, Y-)

= U (Q-, Y + WTA) = U (Q+, Y – WTP)

Dengan pendekatan model tersebut dapat dikemukakan beberapa pengertian penting :

 Yo– Y = WTP untuk kenaikan kuantitas produk dari Qo ke Q+

 Y+ - Yo = WTA untuk penurunan kuantitas produk dari Qo ke Q

- Konsumen cenderung bersedia mengorbankan sejumlah uang tertentu dengan prosentase kenaikan yang relatif lebih kecil dari prosentase kenaikan tingkat konsumsi barang yang diperoleh.

 Konsumen cenderung bersedia menerima sejumlah uang tertentu dengan prosentase kenaikan yang relatif lebih dari prosentase penurunan tingkat konsumsi barang yang diperoleh.

Price Line

Total Value Curve

Increaments in quantity Decrements in

quantity

Increaments in income

Decreaments in income

Ketika kita berbicara tentang nilai kesediaan untuk membayar, kita mengartikan jumlah maksimal yang bersedia dibayarkan oleh individu untuk suatu produk/pelayanan. Ini adalah jumlah dari harga produk (P) dan konsumer surplus individu (CS).

WTP = P + CS

Nilai WTP ini juga merepresentasikan manfaat marginal (marginal benefit) dari individu pada setiap titik disepanjang kurva permintaan. Konsumer surplus adalah ekses yang mana individu bersedia untuk membayar sesuatu di atas dan di bawah harga produk tersebut.

Konsep ini diilustrasikan, ketika Q0 barang dibeli dengan harga pada P0. Nilai total kesediaan untuk membayar adalah seluruh area dibawah kurva permintaan disebelah kiri dari Q0. Ini adalah penjumlahan dari pendapatan produsen (producer revenues) dan semua surplus konsumen (consumer surpluses).

Gambar 4. Surplus Konsumen P (Rp)

Permintaan (WTP) P0

Q0 (Q) Kuantitas Sumber : Randall, 2010

Nyata sekali, makin rendah harga sepertinya consumer surplus akan menjadi semakin penting. Pada kasus barang non market (non market goods), semua manfaat adalah konsumer surplus, terutama barang lingkungan (environmental goods).

Presumsi yang penting dari nilai WTP (Willingness to Pay) adalah bahwa individu biasanya memiliki kemampuan menentukan yang lebih baik untuk kebutuhan mereka dan bagaimana untuk memperoleh kepuasan sebesar-besarnya daripada pemerintah atau expert. Hal ini sepertinya presumsi yang masuk akal

Consumer surpluses

Producer revenues

untuk kebanyakan barang. Kebanyakan individu mempunyai insentif yang kuat untuk mempelajari bagaimana untuk meningkatkan kondisi kesejahteraan mereka.

Meskipun ini prinsip umum, orang tidak selalu tahu apa yang terbaik untuk mereka terutama yang berkaitan dengan hal lingkungan. Sebagai contoh mereka mungkin tidak mengerti keterkaitan antara asuransi dan risiko. Respon pada pertanyaan survey tentang nilai dari lingkungan mungkin tergantung pada informasi yang disediakan oleh peneliti kepada responden. Ketika nilai individu terbukti (evidently) didasarkan pada informasi yang tidak benar mereka sebaiknya diperlakukan dengan penuh perhatian dan sangat mungkin dimodifikasi. (Randall, 2010).

Asuransi pertanian memiliki karakteristik barang kuasi-publik (Mitchell et al., 1989 dalam Xiu et al.,2012). Asuransi pertanian yang memiliki karakteristik barang kuasi-publik memiliki makna bahwa asuransi pertanian ini memiliki sifat-sifat public goods sekaligus sifat-sifat private goods. Asuransi pertanian merupakan program yang dibuat oleh pemerintah dengan sasaran penerima manfaatnya adalah petani, sehingga petani secara umum bisa untuk menjadi peserta program ini dan menerima manfaat dari adanya program, sehingga asuransi pertanian ini dikatakan memiliki sifat public goods. Sifat private goods yang dimiliki oleh asuransi pertanian ini dapat terlihat dari pembayaran premi yang harus dilakukan oleh petani untuk memperoleh perlindungan bagi usahataninya melalui asuransi pertanian dan juga dapat dilihat dari intervensi atau peran pemerintah dalam pemberian subsidi premi bagi petani yang didasarkan pada risiko yang dihadapi oleh petani yang menyebabkan rendahnya produksi, rendahnya pendapatan, dan dapat menghambat keberlangsungan usahataninya.

Sebagai barang publik, asuransi pertanian bisa dirasakan manfaatnya baik oleh pengguna langsung maupun tidak langsung. Nilai-nilai yang bisa dirasakan manfaatnya oleh pengguna tidak langsungnya antara lain (Yakin, 1997) :

1. Nilai pilihan (option value). Meskipun seseorang tidak mempunyai rencana untuk menggunakan barang atau jasa itu, mereka terkadang bersedia membayar sebagai pilihan untuk memanfaatkannya di masa datang.

2. Nilai eksistensi/keberadaan (existence value). Nilai atau harga yang

diberikan oleh seseorang terhadap eksistensi barang tertentu, misalnya objek tertentu, spesies, atau alam dengan didasarkan pada etika atau norma tertentu.

3. Nilai masa depan (bequest value). Seseorang bisa jadi membayar ketersediaan barang-barang tertentu, seperti objek, spesies, alam, untuk generasi yang akan datang.

4. Nilai kepentingan orang lain (altruistic value). Seseorang menilai barang publik tidak hanya karena keuntungan yang dirasakannya terhadap kualitasnya, namun karena dia menilai barang publik sebagai peluang agar orang lain dapat menikmati kualitas barang publik yang lebih baik.

Metode ekonomi dapat digunakan untuk menilai perubahan kualitas atau ketersediaan barang publik, baik yang biasa diperjualbelikan sebagai produk barang atau jasa di pasar maupun tidak. Sedangkan untuk mengukur permintaan potensial terhadap produk atau jasa tersebut dapat digunakan metode willingness to pay (Foreit, 2004:2) dengan bertanya kepada konsumen, "Maukah Anda membeli produk ini jika ditawarkan dengan harga ini?". Metode ini sering digunakan dalam program kesehatan, sosial, dan lingkungan untuk penetapan harga dan analisis biaya-manfaat. Dengan analisis WTP, dari data yang didapat memungkinkan pengelola program memperkirakan jumlah konsumen yang akan membayar pada harga tertentu, dan jumlah pendapatan yang akan dihasilkan pada harga tersebut, dan jika pertanyaan yang sesuai disertakan dalam kuesioner, data WTP juga dapat menggambarkan karakteristik individu yang mau atau tidak mau membayar produk atau jasa pada harga tersebut. Data WTP juga dapat digunakan untuk memperkirakan harga yang memaksimalkan pendapatan untuk produk atau layanan tertentu (Foreit, 2004:).

Willingness To Pay (WTP) menurut Tamin et al. (1999) adalah kesediaan pengguna untuk mengeluarkan sejumlah biaya atas penggunaan jasa yang dipakai.

Dalam penelitian ini maka WTP adalah kesediaan petani dalam hal melakukan pembayaran premi asuransi usaha tani padi (AUTP).

Menurut Foreit (2004) penelitian WTP cepat dilakukan dan relatif membutuhkan ukuran sampel yang sederhana. Survey kesediaan membayar

(WTP) memungkinkan pengelola program untuk mensimulasikan perubahan harga terkait permintaan tanpa benar-benar mengubah harga, salah satu cara proses penetapan harga berdasarkan informasi empiris. Manfaat survei WTP adalah sebagai berikut :

a. Metodologi survei sederhana dan tidak menyulitkan untuk diterapkan, teknik estimasi langsung dapat diterapkan oleh unit penelitian manapun.

b. Teknik WTP dapat digunakan baik untuk produk dan jasa yang ada maupun barang baru yang belum tersedia di pasaran. Bergantung pada konteks dan keputusan program yang akan dibuat, survei dapat diberikan pada sampel berbasis populasi atau berbasis fasilitas.

c. Bahkan sampel tanpa pendidikan formal dapat menjawab pertanyaan hipotesis harga, dan jawaban mereka biasanya konsisten secara internal.

d. WTP dugaan sensitif terhadap karakteristik sampel, seperti motivasi untuk menggunakan produk atau jasa, atau status sosial ekonomi.

e. WTP dugaan bersifat konservatif artinya, mereka merendahkan WTP maksimum sehingga mencegah pengelola program menaikkan harga terlalu tinggi.

f. Informasi yang diberikan oleh survei WTP meningkatkan keakuratan respon prediksi terhadap perubahan harga.

Pengukuran WTP yang dapat diterima (reasonable) harus memenuhi syarat (Haab dan McConnel 2002, diacu dalam Fauzi 2006):

1) WTP tidak memiliki batas bawah yang negative 2) Batas atas WTP tidak boleh melebihi pendapatan

3) Adanya konsistensi antara keacakan (randomness) pendugaan dan keacakan perhitungannya.

Fauzi (2006) menyatakan secara umum, teknik yang digunakan untuk mengukur nilai Willingness To Pay terdiri dari dua kelompok model. Adapun teknik yang termasuk ke dalam kelompok pertama adalah travel cost, hedonic pricing, dan teknik yang relatif baru yang disebut random utility model.

Kelompok kedua adalah teknik valuasi yang didasarkan pada survei dimana keinginan membayar atau nilai WTP diperoleh langsung dari ungkapan

responden secara lisan maupun tertulis. Salah satu teknik yang cukup populer dalam kelompok ini adalah Contingent Valuation Method (CVM).

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 23-29)

Dokumen terkait