BAB 2. KERANGKA PEMIKIRAN
2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.6. Konsepsi Kelayakan Finansial
Kelayakan merupakan penelitian yang dilakukan terhadap suatu usaha yang dijalankan untuk mengetahui apakah usaha tersebut akan memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan dengan biaya yang akan dikeluarkan (Kasmir dan Jakfar, 2013). Layak yang dimaksud juga berarti akan memberikan keuntungan tidak hanya bagi perusahaan yang menjalankannya tetapi juga bagi investor, kreditur, pemerintah dan masyarakat luas. Keuntungan dalam perusahaan bisnis tersebut berupa keuntungan finansial. Oleh karena itu, dengan dilakukannya studi kelayakan finansial untuk dapat memberikan gambaran apakah usaha atau bisnis yang dijalankan oleh perusahaan tergolong layak atau tidak untuk dijalankan.
Salah satu cara yang dilakukan untuk mengetahui dan menentukan kelayakan suatu usaha atau bisnis yang dijalankan yaitu dengan menganlisis kelayakan finansial. Aspek finansial merupakan aspek kunci dari suatu studi kelayakan, karena biarpun aspek kelayakan lain tergolong layak tetapi jika aspek finansial memberikan hasil yang tidak layak maka usulan proyek akan ditolak karena tidak akan memberikan manfaat ekonomi. Manfaat yang dapat diperoleh daerah sekitar perusahaan tersebut apabila keberadaan perusahaan tersebut terus berkembang maka kemajuan dan keuntugan ataupun manfaat bagi daerah akan terasa jauh lebih kompleks. Keuntungan yang akan diterima oleh daerah sekitar perusahaan adalah dapat meningkatkan pendapatan daerah dari segi fisikal daerah dan memperluas lapangan pekerjaan bagi masyarakat disekitar daerah tersebut sehingga mampu menurunkan akan pengangguran serta dapat memperbaiki dan meningkatan perekonomian daerah tersebut (Kasmir dan Jakfar, 2013).
Suatu usaha yang dijalankan dalam jangka panjang biasanya perlu diketahui kelayakannya dengan menggunakan alat analisis kelayakan finansial atau kriteria investasi. Kriteria kelayakan usaha tergantung dari kebutuhan masing-masing perusahaan dan metode mana yang akan digunakan. Setiap metode analisis finansial memiliki kelemahan dan kelebihan maisng-masing. Dalam penelitian
Universitas Sriwijaya suatu usaha hendaknya peneliti menggunakan beberapa alat atau metode sekaligus yang diharapkan dengan semakin banyak metode yang digunakan, maka hasil yang diperoleh akan semakin memberikan gambaran yang lengkap dan menjadi lebih sempurna. Alat kriteria investasi antara lain yaitu, Analisis NPV, IRR, Net B/C Ration dan Analisis Sensitivitas.
1. Net Present Value (NPV)
Menurut Husnan dan Suwarsono (2008), Metode Net Present Value merupakan metode yang menghitung selisih antara nilai investasi sekarang dengan nilai sekarang penerimaan kas bersih (present value of proceed) baik dari operational cash flow maupun dari terminal cash flow pada masa yang akan datang (selama umur investasi). Metode ini memerlukan tingkat bunga yang relevan untuk menghitung nilai-nilai sekarang dan menggunakan pertimbangan bahwa nilai uang sekarang lebih tinggi bila dibandingkan dengan nilai uang pada waktu mendatang, karena adanya faktor bunga.
Kriteria untuk mengetahui apakah suatu proyek investasi layak dilaksanakan atau tidak dengan cara mengurangkan antara present value (nilai saat ini) dan aliran kas bersih operasional atas proyek investasi selama umur ekonomis termasuk terminal cash flow dengan initial cash flow. Jika NPV positif, usulan proyek investasi dinyatakan layak, sedangkan jika NPV negatif dinyatakan tidak layak.
Penentuan present value atas aliran kas operasional dan terminal cash flow didasarkan pada cost of capital sebagai cut off rute atau discount factor-nya (Suliyanto, 2010). Secara sistematis Net Present Value (NPV) dapat dihitung berdasarkan rumus berikut (Mariyah, 2010) :
NPV = ∑nt=1((Bt – Ct)/(1 + i)k) Keterangan :
NPV = Net Present Value
Bt = Manfaat proyek pada tahun t Ct = Biaya proyek pada tahun t n = Umur ekonomis proyek i = Discount rate (%) t = Tahun
Universitas Sriwijaya Apabila diperoleh :
NPV > 0, artinya proyek layak untuk dilaksanakan.
NPV = 0, artinya proyek berada dalam keadaan break even point.
NPV < 0, artinya proyek tidak layak untuk dilaksanakan.
2. Internal Rate of Return (IRR)
Internal Rate of Return adalah tingkat bunga yang menjadikan NPV sama dengan nol, karena present value dari cash flow pada tingkat bunga tersebut sama dengan internal investasinya. Metode Internal Rate of Return adalah metode yang digunakan untuk menghitung tingkat suku bunga yang mampu menyamakan nilai sekarang dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan kas bersih. Metode ini merupakan alat untuk mengukur tingkat pengembalian hasil internal serta memperhitungkan nilai waktu dari uang, sehingga cash flow yang digunakan telah didiskontokan atas dasar cost of capital atau interest rate atau required rate of return.
Cara menghitung metode Internal Rate of Return dengan menghitung nilai sekarang dari arus kas dari suatu investasi dengan menggunakan suku bunga yang wajar. Nilai investasi jika lebih kecil, maka dicoba lagi dengan suku bunga yang lebih tinggi demikian seterusnya sampai biaya investasi menjadi sama besar.
Sebaliknya, dengan suku bunga wajar tadi nilai investasi lebih besar, maka coba lagi dengan suku bunga yang lebih rendah sampai mendapatkan nilai investasi yang sama besar dengan nilai sekarang (Horne dan John, 2007). Secara sistematis, metode Internal Rate of Return (IRR) dapat dihitung menggunakan rumus berikut (Mariyah, 2010) :
IRR = i1+ NPV1
NPV1+ NPV2 x (i2− i1) Keterangan :
NPV1 = NPV positif NPV2 = NPV negatif
i1 = discount rate yang menghasilkan NPV positif i2 = discount rate yang menghasilkan NPV negatif Apabila diperoleh :
IRR > SOCC, artinya proyek layak untuk dilaksanakan.
Universitas Sriwijaya IRR = SOCC, artinya proyek berada dalam keadaan break even point.
IRR < SOCC, artinya proyek tidak layak untuk dilaksanakan.
3. Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C Ratio)
Net B/C Ratio adalah metode untuk menghitung perbandingan antara jumlah present value penerimaan dengan jumlah present value biaya. B/C Ratio merupakan rasio aktivitas dari jumlah nilai sekarang penerimaan dengan nilai sekarang pengeluaran investasi selama umur investasi (Ibrahim, 2003). Net B/C merupakan angka perbandingan antara jumlah present value positif dengn jumlah present value yang negatif (Gray, 2005). Proyek dikatakan layak bila nilai Net B/C Ratio lebih besar daripada satu, proyek dikatakan tidak untung bila nilai Net B/C Ratio lebih kecil dari satu dan proyek dikatakan tidak untung tidak rugi atau impas (break event point) bila nilai Net B/C Ratio sama dengan satu. Secara sistematis Net Present Value (NPV) dapat dihitung berdasarkan rumus berikut (Mariyah, 2010) :
Net B/C = ∑ni=1NBt(+)
∑ni=1NBt(– ) Keterangan ;
NBt(+) = Net benefit positif pada tahun t = Bt - Ct NBt(– ) = Net benefit negatif pada tahun t = Bt - Ct Apabila diperoleh :
Net B/C > 1, artinya proyek layak untuk dilaksanakan.
Net B/C = 1, artinya proyek berada dalam keadaan break even point.
Net B/C < 1, artinya proyek tidak layak untuk dilaksanakan.
4. Analisis Sensitivitas
Suatu usaha yang telah diputuskan untuk dilaksanakan berdasarkan perhitungan dan analisis serta hasil evaluasi (NPV, IRR, B/C), ternyata terdapat kemungkinan terjadinya kesalahan-kesalahan dalam perhitungan. Kesalahan perhitungan tersebut dapat disebabkan oleh ketidakstabilan harga faktor-faktor produksi maupun harga jual produk. Oleh karena itu, diperlukan untuk mengkaji kembali serta meninjau dan mengetahui sejauh mana dapat dilakukan penyesuaian-penyesuaian dengan adanya perubahan-perubahan tersebut. Tindakan menganalisa
Universitas Sriwijaya kembali dinamakan analisisi sensitivitas. Analisis sensitivitas merupakan analisis yang dilakukan untuk mengetahui akibat dari perubahan parameter-parameter produksi terhadap perubahan kinerja sistem produksi dalam menghasilkan keuntungan.
Analisis kepekaan ini dilakukan untuk meneliti kembali suatu analisis kelayakan usaha agar dapat melihat pengaruh yang akan terjadi akibat adanya keadaan yang berubah atau kesalahan dalam perhitungan. Selain itu, analisis ini juga dilakukan untuk melihat sampai berapa persen penurunan harga atau kenaikan biaya yang terjadi dapat mengakibatkan perubahan dalam kriteria investasi. Hal ini terjadi karena dalam menganalisis kelayakan suatu usaha, biasanya didasarkan pada proyeksi yang mengandung banyak ketidakpastian dan perubahan yang akan terjadi di masa datang.