BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.4 Upaya Pelestarian Naskah Kuno Lontar
2.4.2 Konservasi (pemeliharaan) Naskah Kuno Lontar
Konservasi merupakan sebuah bentuk kegiatan yang bertujuan untuk memelihara lingkungan, fisik dan memastikan keutuhan nilai intelektual dari isi sebuah bahan pustaka. Menurut Budi Rachman (2017: 8) menyatakan bahwa
“Konservasi adalah upaya untuk memelihara dan memperbaiki kondisi fisik bahan pustaka, baik melalui cara – cara tradisional dan modern guna memastikan materi atau bahan aman dari berbagai faktor perusak”.
Sedangkan menurut Lasa HS (2009: 180) menjelaskan bahwa:
Konservasi dapat diartikan sebagai kegiatan dan kebijakan yang mencakup dan melindungi bahan pustaka dari kerusakan. Kegiatan ini mencakup metode dan teknik yang digunakan dan dilakukan oleh teknisi. Kegiatan konservasi yang biasanya dilakukan oleh desifikasi, inkapsulasi, atau laminasi, membuat mikro, penyimpanan dalam bentuk digital atau elektronik, penggunaan prosedur kimia atau fisika dalam pemeliharaan dan penyimpanan bahan pustaka untuk menjaga keawetan.
Selain itu, Fatmawati (2018) juga berpendapat bahwa Konservasi artinya kegiatan untuk mengawetkan bahan perpustakaan. Hal ini mencakup adanya kebijakan spesifik dan teknis yang terlibat dalam melindungi bahan perpustakaan dari kerusakan dan kehancuran, termasuk metode dan teknik yang dibuat oleh staf teknis konservator.
Kegiatan pemeliharaan lingkungan merupakan sebuah kegiatan yang bertujuan untuk mengupayakan bagaimana cara menciptakan lingkungan tempat penyimpan lontar yang kondusif agar terhindar dari ancaman faktor perusak internal maupun eksternal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memelihara kebersihan lingkungan dan melakukan pengawasan terhadap ruangan.
Menurut Budi Rachman (2017: 62) menjelaskan bahwa terkegiatan pemeliharaan lingkungan atau tempat bahan pustaka agar tetap ideal dan kondusif terdiri dari:
1. Pengawasan suhu dan kelembaban relative di ruang penyimpanan
Kerusakan yang disebabkan oleh suhu dan kelembaban relatif biasanya terjadi pada bahan pustaka organik seperti kertas, kertas lontar, vellum, leather, perkamen dan kertas daluang. Dibutuhkan pengawasan terhadap suhu guna menjaga ruangan agar tetap berada pada keadaan suhu/kelembaban yang konstan. Kelembaban dan suhu udara yang ideal bagi ruang penyimpanan sebaiknya berkisar antara 45-65% RH dan 18o – 20o C.
2. Pemeliharaan kebersihan ruang penyimpanan
Pemeliharaan kebersihan lingkungan mencakup kegiatan menghindarkan bahan pustaka dari berbagai faktor perusak seperti debu, ancaman air, hingga polusi udara. Perlu dilakukan sebuah kegiatan membersihkan ruangan secara berkala dan mengupayakan jendela selalu tertutup apabila ruangan menggunakan pendingin udara.
3. Pengaturan cahaya
Sangat dibutuhkan upaya pengaturan cahaya yang masuk keruangan koleksi bahan pustaka dengan memastikan cahaya masuk keruangan koleksi seminimal mungkin, menggunakan tirai, plastic film atau bahan penyerap sinar UV yang dapat ditempelkan di jendela untuk menyaring cahaya yang berlebihan dan menyimpan bahan pustaka khusus ke dalam boks pelindung.
4. Pelaksanaan Fumigasi
Fumigasi bermanfaat untuk menyucihamakan serta mencegah dan menghalau jamur, hama dan serangga penyebab kerusakan bahan pustaka.
Fumigasi dapat dilakukan dengan metode pengasapan pada ruangan khusus (fumigation chamber) dan ruangan koleksi perpustakaan yang telah ditutup rapat, atau dengan memasukan keseluruhan koleksi pada kantung – kantung khusus dan diberikan zat fumigant. Zat fumigant yang lazim dipakai adalah zat metelbromide (Ch3Br) cair dan tablet Ph3 fosfin.
5. Pelaksanaan Survei terhadap kondisi fisik koleksi
Kegiatan survei atau pemeriksaan terhadap kondisi fisik koleksi diperlukan untuk mengetahui seberapa besar kerusakan yang terjadi pada koleksi.
Dengan mengetahui jumlah dan jenis kerusakan, maka dapat menentukan metode yang tepat untuk melakukan perbaikan. Pelaksanaan survei terhadap kondisi koleksi dapat dilakukan dengan menyiapkan sebuah boring penelitian. Pustakawan dapat mengambil sampel secara acak berdasarkan teknik tertetu.
Selain pemeliharaan lingkungan. untuk lebih memaksimalkan kondisi dari naskah kuno lontar agar selalu baik digunakan. Kegiatan konservasi atau pemeliharaan ini, juga perlu dilakukan kegiatan pemeliharaan terhadap fisik lontar.
Menurut Wirayati (2011) pemeliharaan bahan pustaka lontar dipaparkan kedalam 3 bagian yang terdiri dari:
1. Membersihkan noda kotoran.
Pembersihan lontar dilakukan dengan menggunakan air dengan bantuan kapas. Lontar juga dapat dibersihkan dengan menggunakan larutan ethyl alcohol. Sedangkan noda tanah pada lontar dapat dihilangkan dengan proses dry cleaning yaitu dengan menggunakan sikat halus dan penghapus. Minyak yang sudah mengering pada lontar sebaiknya dihilangkan dengan cara merendam dalam deterjen dan air hangat. Perbaikan kerusakan tidak dapat dilakukan sampai minyak dihapus karena pada saat perbaikan menggunakan perekat dan perekat tidak akan menempel pada permukaan lontar yang berminyak.
2. Membungkus lontar.
Untuk melindungi lontar terhadap debu dan pengaruh lingkungan lainnya setelah dibersihkan sebaiknya dibungkus dapat menggunakan kertas bebas asam atau kain. Biasanya kain yang digunakan berupa kain katun atau menggunakan bahan silk karena secara tradisional dapat berfungsi menghindari dari serangan serangga bookworm.
3. Penyimpanan lontar.
Lontar dapat disimpan didalam kotak – kotak kayu atau kotak yang dibuat dari karton bebas asam dan disimpan didalam kabinet khusus. Didalam
kabinet tersebut sebaiknya diletakkan naftalen untuk melindungi dari serangga serta silica gell untuk menjaga agar kelembapan tempat akan selalu kering. Naskah Kuno lontar yang sudah tua sebaiknya disimpan dalam kotak terpisah. Agar lontar tidak berubah bentuk dilakukan dengan cara mengikat dengan tali pada bagian tengah lalu dijepit menggunakan kayu dengan ukuran yang lebih tebal dari lontar.
Sebagai upaya untuk memelihara kandungan informasi yang terdapat didalam lontar. Dilakukan dengan sebuah kegiatan yang bernama alih media. Dimana pada kegiatan ini lebih terfokus pada kandungan informasi atau isi dari lontar yang berfungsi untuk melakukan duplikasi terhadap informasi yang ada didalam lontar.
Menurut Soraya yang dikutip oleh Rutami (2018) dalam melakukan kegiatan restorasi juga harus mencakup kegiatan pelestarian kandungan informasi bahan pustaka dengan melakukan kegiatan alih media yang terdiri dari:
1. Fotocopy
Kegiatan fotocopy ini hanya dilakukan apabila tidak tersedianya file dalam bentuk mikro, digital dan terbatasnya alat baca.
2. Fotografi
Kegiatan ini merupakan sebuah teknik pembuatan gambar tetap dengan menggunakan bantuan cahaya. Terdapat beberapa tahapan yang digunakan dalam pelaksanaan fotografi di perpustakaan yaitu fotografi dan retrografi.
3. Digital
Digital merupakan fotografi elektronik yang di scan dari bahan pustaka yang menampilkan informasi dan layout berbentuk digital dan merupakan presentase aslinya termasuk tipe permukaan, annotasi dan ilustrasi.
4. Bentuk Mikro
Microfilm merupakan sebuah teknik pengurangan sebuah gambar menjadi lebih kecil dimana mampu digunakan untuk menyimpan file dokumen hingga 500 tahun.
Berdasarkan pemaparan para ahli maka dapat disimpulkan bahwa konservasi merupakan sebuah implementasi dari kegiatan preservasi dimana pada kegiatan konservasi ini lebih terfokus kepada pemeliharaan lingkungan, fisik dan nilai informasi atau isi dari lontar. Mencakup kegiatan pemeliharaan lingkungan lontar yang terdiri dari membersihkan noda kotoran lontar dari partikel debu, melakukan pembungkusan terhadap lontar agar terhindar dari partikel perusak lontar dan mengupayakan tempat penyimpanan lontar agar kondusif untuk digunakan sebagai rumah bagi lontar. Melakukan pemeliharaan fisik, mengemas lontar agar terhindar dari faktor perusak dan menjaga kelestarian kandungan dari isi informasi lontar dengan dilakukannya sebuah kegiatan alih media agar informasi yang dikandung dapat digunakan hingga generasi selanjutnya.