Perangkai perelatif selain pronominal juga ada beberapa yang berupa pronominal. Verhaar (2004:334) juga menjelaskan bahwa perelatif itu dapat berupa pronomina atau frasa adposisional yang objeknya berupa perelatif pronominal. Misalnya dalam bahasa Jerman
(15) Ich liebe Jemanden, dem du geholfen hast.
S P1 O Pron.Rel S P2 Aux. Saya suka seseorang yang untuknya kamu memberikan bantuan telah. „Saya menyukai seseorang yang kamu tolong‟
atau dalam bahasa Inggris juga terdapat dalam kalimat
(16) The girl to whom Charles gave the ring „Gadis yang saya beri
cincin‟.
Adapun pronomina yang menjadi perelatif perangkai juga tetap mengikuti bentuk deklinatif sesuai masing-masing distribusi hirarki kasus antesedennya. Berbicara masalah hirarki kasus, khususnya dalam sebuah sistem gramatikal bahasa fleksi semisal bahasa Jerman, hal itu sangat ditentukan oleh sifat semantis verba yang mengisi fungsi predikatnya, selain dari valensi yang dimiliki oleh verba yang bersangkutan. Sehubungan dengan sifat semantis verba, secara teoritis dapat mengacu pada makalah Tambupolon dalam sebuah seminar Linguistik, Parera
(2002:152) menjelaskan bahwa terdapat dua belas jenis klasifikasi verba berdasarkan sifat semantisnya sebagai berikut:
1. Verba Keadaan
Verba ini mempunyai ciri semantis keadaan (menyatakan keadaan); mengharuskan hadirnya objek.
2. Verba Keadaan-Pengalaman
Verba jenis ini mempunyai ciri semantis keadaan-pengalaman, yaitu menyatakan keadaan yang berkenaan dengan pengalaman; mengharuskan hadirnya pengalam dan Objek.
3. Verba Keadaan-Pemilikan
Verba ini mempunyai ciri semantis keadaan-pemilikan, yang mengharuskan hadirnya pemilik dan objek.
4. Verba Keadaan-Lokasi
Mempunyai ciri keadaan-lokasi yang mengharuskan hadirnya pemilik dan lokasi.
5. Verba Proses
Mempunyai ciri semantis proses yang menyatakan suatu proses atau perubahan dan yang mengharuskan hadirnya objek.
6. Verba Proses-Pengalaman
Verba ini mempunyai ciri semantis proses-pengalaman;
menyatakan proses yang berkenaan dengan pengalaman dan mengharuskan hadirnya pengalam dan objek.
7. Verba Proses-Pemilikan
Mempunyai ciri semantis Proses-Pemilikan yang menyatakan
sebuah proses yang berkaitan dengan pemilikan atau
ketidakpemilikan dengan mengharuskan hadirnya pemilik dan objek.
8. Verba Proses-Lokasi
Verba ini mempunyai ciri semantis Proses-Lokasi; menyatakan
sebuah proses yang berkenaan dengan lokasi dengan
mengharuskan hadirnya objek dan lokasi. 9. Verba Aksi
Verba ini mempunyai ciri semantis aksi yang menyatakan aksi atau perbuatan dengan mengharuskan hadirnya pelaku dan objek. 10. Verba Aksi-Pengalaman
Mempunyai ciri semantis Aksi-Pengalaman; menyatakan aksi yang berkenaan dengan pengalaman dan mengharuskan hadirnya pelaku, pengalam, dan objek.
11. Verba Aksi-Pemilikan
Verba ini mempunyai ciri semantis Aksi-Pemilikan; menyatakan aksi yang berkenaan dengan pemilikan atau ketidakpemilikan dengan mengharuskan hadirnya pelaku, pemilik, dan objek.
12. Verba Aksi-Lokasi
Mempunyai ciri semantis Aksi-Lokasi; menyatakan aksi yang berkenaan dengan lokasi mengharuskan hadirnya pelaku.
Verhaar (2004:335) menambahkan terkait perelatif perangkai yang berupa pronominal bahwa perelatif pronominal bersifat argumen bila berupa argumen dalam klausa relatif itu sendiri, misalnya pronominal who sebagai subjek dalam kalimat bahasa Inggris
(17) The guest who came yesterday „Tamu yang datang kemarin‟
atau whom sebagai objek langsung dan objek tidak langsung dalam kalimat
(18) The carpenter whom I saw last week „Tukang kayu yang saya lihat
minggu lalu‟ dan
(19) The teacher whom I gave the flowers „Guru yang saya beri bunga‟.
Perelatif pronominal yang tidak berstatus sebagai argumen bila berstatus konstituen nominal dalam predikat kopulatif, misalnya that dalam kalimat Fool that I was! „Bodoh saya ini!; which dalam kalimat (14); serta whom dalam kalimat (18).
1.6. 5 Klausa Relatif Bahasa Jerman
Bahasa Jerman merupakan salah satu anggota keluarga bahasa Indo-Eropa yang memiliki karakteristik ketatabahasaan sebagai bahasa fleksi. Soeparno (2002:33) menyatakan bahwa bahasa fleksi adalah bahasa yang struktur katanya terbentuk oleh perubahan bentuk kata. Terdapat dua hal yang melandasi perubahan bentuk kata tersebut, yaitu deklinasi dan konjugasi. Deklinasi adalah perubahan bentuk kata yang disebabkan oleh perbedaan jenis, jumlah, dan kasus; sedangkan konjugasi adalah
perubahan bentuk kata yang disebabkan oleh perubahan persona, jumlah dan kala.
Terkait karakteristik tata bahasa Jerman sebagaiman sepintas dipaparkan di atas, berbicara kalimat relatif pun dalam bahasa Jerman tidak lepas dari proses-proses yang mengacu pada karakteristik tata bahasanya tersebut. Schmitt (2008:181) menyatakan “Relatifsätze sind
Nebensätze, die von einem Substantiv abhängen. Sie geben erklärungen zu diesem Substantiv. Ohne diese Erklärungen ist ein Satz unverständlich.”
Artinya, kalimat relatif merupakan anak kalimat yang bergantung pada sebuah substantif, tanpa keterangan tersebut sebuah kalimat tidak bisa dipahami. Schmitt (2008:181) juga menambahkan bahwa kalimat relatif dalam bahasa Jerman bisa terwujud ke dalam beberapa bentuk, antara lain sebagai berikut:
a. Sebagai atribut yang menjelaskan sebuah induk kalimat, misalnya dalam sebuah kalimat
(20) Der Polizist fragt den Passanten, der den Unfall gesehen hat,
det S P1 det O det.rel det O P2 Aux Polisi menanyakan pejalan kaki, yang kecelakaan itu melihat telah nach seiner Meinung.
Prep pos. O
Kepada miliknya pemikiran
„Polisi itu menanyakan kesaksian pejalan kaki, yang menyaksikan tragedi kecelakaan itu‟.
b. Sebagai atribut yang menjelaskan sebuah anak kalimat, misalnya dalam kalimat di bawah ini.
(21) Der Polizist vermutet, dass der Passant, der den Unfall gesehen
Det S P1 Konj det S det.Rel det O P3 Polisi itu menduga, bahwa pejalan kaki itu, yang kecelakaan itu melihat hat, vor Gericht nicht aussagen will.
Aux. Prep. Adv Neg. P2 Aux Telah, di depan pengadilan tidak menyatakan berkenan
„Polisi itu menduga bahwa pejalan kaki itu, yang telah menyaksikan kecelakaan itu, tidak berkenan memberikan kesaksian di depan pengadilan‟.
c. Terwujud ke dalam bentuk lain sebagai kalimat relatif, misalnya dalam kalimat
(22) Der Polizist verfolgt den Mann, der den Unfall gesehen hat, bei
Det S P1 det O det.Rel det. O P2 Aux prep Polisi itu membuntuti laki-laki, yang kecelakaan itu melihat telah, oleh dem ein Kind verletzt worden ist.
Det.Rel det. S P3 Aux Aux Dia seorang anak terluka telah
„Polisi itu membuntuti pria, yang mengalami kecelakaan, yang melukai seorang anak kecil‟.
Beberapa contoh kalimat relatif di atas tentunya memiliki konjungsi relatif yang menjadi penunjuk atribut yang diterangkannya. Adapun pemakaian konjungsi relatif, yang dalam bahasa Jerman dikenal dengan sebutan Relativpronomen „pronomina relatif‟, merujuk pada jenis, jumlah, dan kasus yang dialami oleh atribut yang dijelaskan dalam kalimat relatif yang bersangkutan. Hal itu berlaku karena sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa bahasa Jerman merupakan bahasa fleksi, yang di dalamnya terdapat proses deklinatif dan konjugatif.
Sehubungan dengan penentuan jenis-jenis konjungsi relatif dalam sebuah klausa relatif bahasa Jerman, Schoch (1998:187) menerangkan
Das Relativpronomen passt sich dabei in Numerus und Genus an das Nomen an, auf das es sich bezieht; und der Kasus des Relativpronomens hӓngt von der Rolle ab, die es im Relativsatz spielt.
„Pronomina relatif menyesuaikan diri pada jumlah dan jenis nomina yang dihubungkan; dan kasus yang berlaku pada pronomina relatif bergantung pada peran diduduki nomina dalam klausa relatifnya„.
Artinya, sebuah konjungsi atau pronomina relatif dalam sebuah klausa relatif harus disesuaikan dengan jenis dan jumlah nomina yang direlatifkan. Selain itu, kasus yang turut menentukan bentuk deklinatif dari pronomina atau konjungsi relatif tersebut tergantung atas peran sintaksis atau fungsi semantis nomina yang bersangkutan. Selain itu, berdasarkan jenis anteseden apa saja yang bisa direlatifkan dalam bahasa Jerman dijelaskan oleh Keenan dan Comrie (1977:77), yaitu German allows
relativization on subjects, direct object, indirect object, oblique, and genetive. Artinya, dalam bahasa Jerman konjungsi relatif bisa merelatifkan
nomina yang menduduki semua fungsi sintaksis
Sehubungan dengan berlakunya proses deklinatif dalam sebuah sistem tata bahasa kasus, dalam hal ini misalnya bahasa Jerman, Van Valin (2004:22) dengan rinci menjelaskan masing-masing peran sintaksis atau fungsi semantis dari sebuah nomina sebagai berikut The semantic
roles (also called „thematic relations or theta roles) that the arguments bear to the predicate. Artinya, semantic role adalah uraian atau penjelasan
(2004:22-31) memaparkan beberapa variasi semantic role berdasarkan kemungkinan yang dibentuk oleh faktor semantis verbanya. Adapun jenis-jenis semantic role adalah sebagai berikut:
1. Agent
Merupakan peran sintaksis atau semantic role yang berupa bentuk-bentuk yang bernyawa dan biasanya memerankan dengan sengaja tindakan yang dicerminkan oleh verba (Van Valin, 2004:24). Biasanya seringkali berupa fungsi subjek dalam sebuah kalimat aktif dan bisa berupa pelengkap dalam sebuah kalimat pasif.
2. Patient
Merupakan peran sintaksis atau semantic role berupa unsur yang berada dalam sebuah keadaan atau mengalami perubahan atas sebuah keadaan tertentu (Van Valin, 2004:24). Biasanya berupa direct object dalam sebuah kalimat aktif dan berupa subjek dalam sebuah kalimat pasif.
3. Instrument
Merupakan peran sintaksis atau semantic role yang mencerminkan alat untuk melakukan sebuah tindakan tertentu yang dicerminkan oleh verba seperti dalam kalimat The soap is used by woman to wash the
clothes (Van Valin, 2004:23).
4. Theme
Merupakan peran sintaksis atau semantic role berupa unsur yang berada pada lokasi tertentu atau mengalami perubahan lokasi. Selain
itu, mereka juga dapat berupa unsur yang menunjukkan sebuah kepemilikan atau mengalami perubahan status kepemilikan (Van Valin, 2004:24).
5. Location
Merupakan peran sintaksis atau semantic role yang mencerminkan sebuah posisi atau letak dari makna yang dicerminkan verba. Misalnya dalam kalimat The books are lying on the table (Van Valin, 2004:24). 6. Recipient
Merupakan peran sintaksis atau semantic role berupa unsur yang bisa muncul secara sintaktis sebagai objek tidak langsung seperti dalam kalimat Chris gave the notebook to Dana. Selain itu, peran ini juga bisa muncul sebagai subjek seperti dalam kalimat Sandy received the
message from the Kim (Van Valin, 2004:24).
7. Goal
Merupakan peran sintaksis atau semantic role yang mencerminkan tujuan akhir atau endpoint dari sebuah perubahan keadaan atau lokasi (Van Valin, 2004:24), seperti dalam kalimat Pat put the books on the
table.
8. Source
Merupakan peran sintaksis atau semantic role yang mencerminkan sumber, bisa berupa sumber tempat atau yang lain, seperti dalam kalimat the runner starts from a specific place (Van Valin, 2004:24).
9. Path
Merupakan peran sintaksis atau semantic role yang menyatakan sebuah jalur, lintasan, atau jalan yang dicerminkan oleh makna verba, seperti dalam kalimat The dog run through the garden (Van Valin, 2004:24).
10. Benefactive
Merupakan peran sintaksis atau semantic role yang menggambarkan peruntukan atas makna tindakan yang dicerminkan oleh verba, atau dengan kata lain tindakan yang digambarkan oleh verba diperuntukkan kepada orang lain, seperti dalam kalimat Dana bought some flowers
for Pat (Van Valin, 2004:24).
11. Content
Merupakan peran sintaksis atau semantic role yang mencerminkan isi, kandungan, dan atau bagian dari isi atau kandungan atas suatu unsure tertentu yang tercermin dari tampilan makna verba, misalnya dalam kalimat jesse knows that Chris lied (Van Valin, 2004:24).
12. Experiencer
This semantic role subsumes perceivers, emoters, cognizers, and other roles of this type (Van Valin, 2004:27). Artinya, peran ini salah
satunya mencerminkan makna orang yang berpersepsi, merasakan, memikirkan, menganalisa, dan lain-lain. Misalnya The bird is hungry.
Terkait semantic Roles tersebut di atas, dengan merujuk pada teori Fillmore, Parera (2002:139) menjelaskan beberapa kasus yang
memungkinkan dialami oleh sebuah nomina sebagai akibat dari sifat semantis verba dalam sebuah klausa atau kalimat. Adapun beberapa kasus tersebut sebagai berikut:
1. Agentif
Jenis ini merupakan relasi kasus persona yang melakukan prakarsa/inisiatif atau pelaku perbuatan seperti yang dicirikan oleh makna verbum; agentif biasanya berciri nomen hidup atau bernyawa.
2. Instrumen
Kasus jenis ini merupakan relasi kasus yang menyatakan hubungan dorongan, kekuatan, dan penyebab perbuatan seperti yang dinyatakan olek makna verbum.
3. Datif
Datif merupakan relasi kasus yang menyatakan sebuah nomen dikenai perbuatan atau keadaan seperti yang dicirikan oleh makan
verbum.
4. Faktitif
Faktitif merupakan relasi kasus yang menyatakan hasil perbuatan atau keadaan seperti yang dicirikan oleh makan verbum.
5. Lokatif
Jenis ini merupakan relasi kasus yang menyatakan tempat atau dimensi ruang untuk perbuatan atau keadaan yang dinyatakan dalam makna vernum.
6. Objektif
Objektif merupakan relasi kasus yang secara semantis netral. Kasus jenis ini merupakan relasi semua kasus nomen dengan
verbum yang dapat diinterpretasikan secara semantik berdasarkan
makna verbum. Perlu diingatkan bahwa kasus ini tidak boleh dikacaukan dengan objek penderita atau akusatif.
Sebagaimana diketahui bersama dari paparan di atas, bahwa semua kasus yang dialami oleh sebuah nomen „nomina‟ bertumpu pada sifat semantis verbum „verba‟ yang menduduki fungsi predikat dalam sebuah klausa atau kalimat sebagaimana telah dipaparkan pada bagian sebelumnya di atas. Berbicara masalah hiraki kasus dalam bahasa Jerman, terdapat empat jenis kasus yang berlaku dalam tata bahasa kasus bahasa Jerman, antara lain:
a. Nominatif
Nominatif merupakan hirarki kasus yang paling dasar dalam bahasa Jerman. Banyak ahli menyebutkan bahwa kasus ini merupakan kasus yang tidak mengalami proses gramatikal apa pun dan tidak berpemarkah, serta dialami oleh subjek. Morley (2000:94) menjelaskan In languages which have a developed case system, e.g.
German, Russian and Latin, the subject of a main clause is associated with the nominative case. „Dalam beberapa bahasa yang
memberlakukan sistem tata bahasa kasus, misalnya bahasa Jerman, Rusia, dan Latin, subjek dalam sebuah klausa diasosiasikan dengan
kasus nominatif‟. Falk (2006:7) menambahkan dengan penjelaskan lebih rinci sebagai berikut:
Subjects in many languages are realized with either no overt Case marking or with the same Case marking that is used with citation forms, two situations we can unify under the heading “unmarked Case.” This unmarked Case, often called nominative, is sometimes taken to be a defining property of subjects in Case-marking languages.
„Fungsi subjek dalam banyak bahasa muncul bersama entah dengan pemarkah kasus yang tidak jelas atau dengan pemarkah kasus yang sama dengan bentuk asalnya. Dua situasi ini kita bisa menyatukannya ke dalam sebutan “kasus tak berpemarkah”. Kasus tak berpemarkah ini sering disebut dengan nominatif, yang kadang-kadang digunakan untuk mendefinisikan sebuah subjek dalam bahasa-bahasa yang memberlakukan pemarkah kasus‟.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa kasus nominatif merupakan kasus yang paling dasar yang tidak menyebabkan perubahan apa pun pada nomina yang bersangkutan, misalnya pada pemarkah jenisnya atau artikel penanda jenis nomina dalam bahasa Jerman.
b. Akusatif
Banyak ahli linguistik barat yang menerjemahkan kasus akusatif ini sebagai kasus yang dialami oleh sebuah nomina yang memiliki fungsi objek langsung dari sebuah verba transitif. Bader dan Bayer (2006:59) menyatakan bahwa The structural Case for objects being the
accusative in German „Tata bahasa kasus untuk fungsi objek dalam
bahasa Jerman adalah akusatif‟. Selain itu, Bader dan Bayer (2006:59-79) juga menambahkan distribusi kasus akusatif salah satunya bisa mengisi peran semantik (semantic roles) goal, theme, dan experiencer.
c. Datif
Datif merupakan sistem kasus yang berlaku dalam tata bahasa Jerman yang oleh banyak ahli dinyatakan berlaku pada konstituen yang menduduki fungsi objek tidak langsung atau indirect object. Namun demikian, Bader dan Bayer (2006:61) menambahkan The dative-DP
bearing a beneficiary role „Frasa determinan-datif menghubungkan
sebuah peran penerima‟. Artinya, konstituen yang menduduki peran penerima, yang menurut Fillmore disebut dengan recipient akan mengalami kasus datif meskipun dia menduduki objek langsung, misalnya dari predikat helfen „membantu‟.
d. Genitif
Genitiv merupakan salah satu jenis kasus dalam bahasa Jerman yang dikenakan kepada sebuah konstituen yang memiliki relasi semantis kepemilikan atau bagian dari konstituen yang lain. Hal itu juga ditegaskan oleh Corbert (2008:149) Genitive objects also occur with
verbs in the semantic domains of possession „Objek genitif juga terjadi
pada verba yang memiliki medan semantis kepemilikan‟.
Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya bahwa semantic roles menjadi salah satu kriteria berlakunya jenis kasus tertentu, khususnya keempat kasus yang berlaku dalam bahasa Jerman di atas. Namun demikian, terdapat pula berlakunya sebuah kasus tertentu yang dipengaruhi oleh reaksi sebuah preposisi yang mengendalikan kasus, perhatikan beberapa penggolongan preposisi di bawah ini:
No. Jenis Preposisi Akusatif Datif 1 Aus „dari‟ √ 2 Bei „dengan/bersama dengan‟ √ 3 Mit „dengan‟ √ 4 Nach „dengan‟ √ 5 Seit „sejak‟ √ 6 Von „dari‟ √ 7 Zu „ke‟ √ 8 An „ke/ di dekat‟ √ √
9 Hinter „di belakang‟ √ √
10 Auf „di atas‟ √ √
11 Bis „sampai‟ √
12 Für „untuk‟ √
13 In „di dalam‟ √ √
14 Neben „di samping‟ √ √
15 Über „di atas‟ √ √
16 Unter „di bawah‟ √ √
17 Vor „di depan‟ √ √
18 Zwischen „di antara‟ √ √
Tabel 1: Preposisi dalam bahasa Jerman
Berdasarkan klasifikasi reaksi preposisi tersebut di atas, terdapat preposisi yang penentuan kasusnya tetap merunut pada sifat semantis
verba, tetapi juga ada preposisi yang menentukan kasusnya secara arbitrer tanpa merunut pada sifat semantis verba. Misalnya preposisi aus „dari‟, bei „dengan/bersama dengan‟, mit „dengan‟, nach „dengan‟, seit „sejak‟, von „dari‟ dan zu „ke‟. Kelima preposisi ini mutlak akan diikuti oleh nomina yang mengalami kasus datif; sedangkan preposisi yang bisa merespon pada kasus akusatif dan atau datif, misalnya preposisi an „ke/ di dekat‟,
hinter „di belakang‟, auf „di atas‟, in „di dalam‟, neben „di samping‟, über
„di atas‟, unter „di bawah‟, vor „di depan‟, dan zwischen „di antara‟, adalah merujuk pada sifat seamntis verba atau predikatnya. Jika predikatnya menyatakan sebuah aktifitas yang menimbulkan sebuah perpindahan tempat (movement) dan atau memungkinkan menimbulkan keterangan tujuan, maka preposisi tersebut merespon pada kasus akusatif; tetapi bila sifat semantis verba menyatakan sebuah keadaan dan atau memunculkan keterangan tempat, maka preposisi yang bersangkutan akan merespon pada kasus datif.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Schmitt (2008:182) menyusun sebuah konsepsi sederhana tentang konjungsi relatif dalam bahasa Jerman yang berupa artikel atau determinan penanda jenis sebuah nomina yang akan mengalami proses deklinasi sesuai dengan jumlah, dan hirarki kasus yang dialami oleh nomina yang direlatifkan sebagaimana dalam tabel di bawah ini:
KASUS
Nominatif Akusatif Datif Genitif Preposisi + Akusatif Preposisi + Datif M F N J M F N J M F N J M F N J M F N J M F N J de r die D as Die Den Die Das die dem der D em Den Dessen dere n de ssen de re n …+ de n …+ die …+ da s …+ die …+ de m …+ de r …+ de m …+ de r
Tebel 2: Konjungsi Relatif Bahasa Jerman
Keterangan: M Maskulin N Netral
F Feminim J Jamak
Jenis-jenis konjungsi relatif di atas bisa di contohkan berturut-turut sebagai berikut:
(23) Das ist eine Party, die gleich nach der Arbeit um 18 Uhr beginnt.
Dem. P1 det. Pel. Det.Rel Adv Adv P2
Itu adalah sebuah pesta, yang tepat setelah pekerjaan pada pukul 18 mulai
„Itu adalah sebuah pesta yang biasanya dimulai seketika setelah jam kerja pukul 18.00.‟
(Sumber: Funk. 2013. Studio D A2 DaF. Jakarta: Katalis) (24) Ich hatte damals einen BMW im Auge,den ich kaufen wollte.
S P1 Adv det O Adv det.Rel S P2 Aux Saya melihat waktu itu sebuah BMW di depan mata, yang saya beli ingin
„Waktu itu saya melihat sebuah mobil BMW yang ingin saya beli‟.
(Sumber: Fagan. 2009. German: a Linguistic Introduction) (25) Den Computer, dessen Elektronik Fehler aufwies, hat
Det O det. Rel O P2 Aux Komputer , yang bagiannya elektrik kesalahan memiliki, telah
die Firma abgeholt.
Det S P1 Perusahaan itu menjemput
„Komputer, yang di dalamnya memiliki kesalahan elektrik, telah ditarik oleh perusahaan itu‟
(Sumber: Schoh.1998. Duden Grammatik. Zürich: Dudenverlag)
(26) Der Kӓfer, auf den eine Meise lauerte, krabbelte auf das Blatt.
Det S Prep det.Rel det. S P2 , P1 Adv. Kumbang, yang di atasnya seekor burung kecil mengintai, merayap di atas kertas.
„Kumbang yang diintai oleh seekor burung kecil di atasnya merayap di atas daun itu‟
(Sumber: Schoh.1998. Duden Grammatik. Zürich: Dudenverlag)
Kalimat (23) mengandung klausa utama Das ist eine Party dan klausa bawahan Die Party beginnt gleich nach der Arbeit um 18. Nomina
Die Party pada klausa bawahan memiliki jenis feminim, jumlah tunggal,
dan mengalami kasus nominatif sebagai fungsi subjek, sehingga harus diganti dengan konjungsi die sebagai penghubung dengan klausa utama pada nomina eine Party sebagai antesedennya.
Adapun kalimat (24) terdiri atas klausa atasan Ich hatte damals
einen BMW im Auge dan klausa bawahan Ich wollte den BMW kaufen.
Adapun konstituen yang direlatifkan pada klausa bawahannya adalah nomina den BMW yang memiliki hubungan dengan anteseden einen BMW pada klausa atasan, sehingga harus digunakan konjungsi relatif den karena jenis dan jumlah nomina den BMW berturut-turut adalah maskulin dan
tunggal, dan kasus yang didudukinya merupakan kasus akusatif sebagai fungsi objek.
Kalimat (25) merupakan kalimat majemuk yang memiliki klausa relatif dessen Elektronik Fehler aufwies. Konjungsi relatif yang harus dipakai adalah dessen karena nomina Elektronik Fehler memiliki hubungan posesif dengan anteseden der Computer dalam klausa atasan, sehingga kasus yang berlaku adalah genitif dengan jumlah dan jenis secara berturut-turut merupakan tunggal dan maskulin.
Adapun kalimat (26) terdiri dari klausa atasan Der Kӓfer krabbelte