• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konstruksi Sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckman

BAB I: PENDAHULUAN

H. Kerangka Teoretik

2. Konstruksi Sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckman

33

lalunya. Dengan kata lain, pemahaman tentang bagaimana detail perubahan yang diharapkan dalam hijrahnya, yang dianggapnya sesuai dengan ajaran Islam tersebut, akan menjadi because of motive dari aktor. Oleh karena itu teori fenomenologi Schutz dalam penelitian ini nantinya digunakan untuk menggali pemaknaan terhadap “tindakan” hijrah yang dilakukan oleh para anggota ITP, terutama berkenaan dengan because of motive dan in-order-to

motive yang dimiliki oleh mereka dalam berhijrah serta landasan

pengetahuan apa yang kemudian mempengaruhi pembentukan motif tersebut.

2. Konstruksi Sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckman

Istilah konstruksi sosial pertama kali digunakan oleh Peter Berger dan Thomas Luckmann (1966), melalui karyanya The Social Construction

of Reality, yang sangat dipengaruhi oleh Schutz. Mereka merupakan tokoh

penting yang menjadikan fenomenologi sebagai pendekatan yang mudah digunakan dalam ilmu sosial melalui buku The Social Construction of

Reality dan Phenomenology and Sociology (1978).88 Pemikiran Schutz menjadi inspirasi Berger untuk dapat mengembangkan model teoretis lain mengenai bagaimana dunia sosial terbentuk.89

Berger dan Luckmann berpendapat bahwa realitas sosial yang “dikonstruksikan” merupakan sebuah domain yang dapat dilacak secara empirik, sebuah dunia objektif yang berbeda dari tatanan objektivitas dalam

88 Sindung Haryanto, Spektrum Teori Sosial: Dari Klasik Hingga Postmodern (Sleman: Ar-Ruzz Media, 2012), hal. 152.

34

ilmu alam.90 Dalam memahami realitas sosial maka menurut mereka perlu untuk memisahkan pemahaman tentang “kenyataan” dan “pengetahuan”. Kenyataan merupakan suatu kualitas yang terdapat di dalam realitas-realitas yang diakui sebagai memiliki keberadaan (being) yang tidak tergantung pada kehendak sendiri. Sedangkan pengetahuan merupakan kepastian bahwa realitas-realitas itu nyata (real) dan memiliki karakteristik yang spesifik.91 Salah satu poin penting dalam pemikiran Berger adalah bahwa realitas sosial secara objektif memang ada tetapi maknanya berasal dari dan oleh hubungan subjektif (individu) dengan dunia objektif.92

Menurut Berger dan Luckman, masyarakat adalah kenyataan objektif sekaligus kenyataan subjektif. Sebagai kenyataan objektif, masyarakat sepertinya berada di luar diri manusia dan berhadap-hadapan dengannya. Sedangkan sebagai kenyataan subjektif, individu berada di dalam masyarakat sebagai bagian yang tak terpisahkan. Dengan kata lain, individu adalah pembentuk masyarakat dan masyarakat adalah pembentuk individu. Kenyataan sosial bersifat ganda, tidak tunggal, yakni kenyataan objektif dan subjektif. Kenyataan objektif artinya kenyataan yang di luar diri manusia sedangkan kenyataan subjektif adalah kenyataan yang di dalam diri manusia.93

90 Sindung Haryanto, Spektrum Teori Sosial..., hal. 153.

91 Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Media Massa: Kekuatan Pengaruh Media Massa, Iklan Televisi

dan Keputusan Konsumen serta Kritik Terhadap Peter L. Berger & Thomas Luckmann (Jakarta:

Kencana, 2008), hal. 14-15

92 Margaret M. Poloma, Sosiologi Kontemporer, hal. 299.

35

Berger dan Luckman menyebutkan bahwa institusi masyarakat tercipta dan dipertahankan atau diubah melalui tindakan dan interaksi manusia. Meskipun masyarakat dan institusi sosial nampak terlihat nyata secara objektif, namun faktanya itu semua dibangun (dikonstruk) dalam definisi subjektif melalui proses interaksi.94 Mereka mengandaikan bahwa proses konstruk itu dilakukan melalui pembiasaan tindakan yang memungkinkan aktor dan aktor lainnya mengetahui bahwa tindakan itu berulang-ulang dan memperlihatkan keteraturan. Dalam istilah fenomenologi, aktor akan dapat melakukan tipifikasi terhadap tindakan dan motif yang ada di dalamnya.95 Pada tingkat generalitas yang paling tinggi, manusia menciptakan dunia dalam makna simbolis yang universal, yaitu pandangan hidupnya yang menyeluruh, yang memberi legitimasi dan mengatur bentuk-bentuk sosial serta memberi makna pada berbagai bidang kehidupannya.96

Berger dan Luckman berpendapat bahwa terjadi hubungan yang dialektik atau interaktif antara dunia makro (realitas objektif) dan dunia mikro (pengetahuan subjektif). Dalam rumusan dialektika makro dan mikro tersebut kemudian terjadi tiga momen yang berlangsung secara simultan, eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi.97 Berikut ini akan dijelaskan secara lebih detail mengenai konsep dari masing-masing momen tersebut:

94 Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Media Massa..., hal. 15.

95 Zainuddin Maliki, Rekonstruksi Teori Sosial Modern (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2012), hal. 294.

96 Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Media Massa..., hal. 15. 97 Zainuddin Maliki, Rekonstruksi Teori Sosial Modern, hal. 294.

36

a. Eksternalisasi

Eksternalisasi adalah penyesuaian diri individu terhadap dunia sosio-kultural sebagai produk manusia.98 Eksternalisasi terjadi pada tahap yang sangat mendasar, dalam satu pola perilaku interaksi antara individu dengan produk-produk sosial masyarakatnya. Proses ini terjadi ketika sebuah produk sosial telah menjadi bagian penting dalam masyarakat yang setiap saat akan dibutuhkan oleh individu, sehingga produk sosial tersebut menjadi bagian penting bagi kehidupan individu untuk melihat dunia luar. Berger dan Luckman menyatakan bahwa mengeksternalisasikan diri dalam aktivitas adalah kebutuhan naluriah manusia secara biologis karena keberadaan manusia tidak mungkin berlangsung dalam keadaan interioritas tertutup dan tanpa gerak.99

Terdapat aturan-aturan dalam kehidupan yang menjadi pedoman bagi berbagai institusi sosial, yang merupakan produk manusia untuk melestarikan keteraturan sosial. Dalam merespon aturan tersebut, bukan tidak mungkin individu melanggarnya. Proses pelanggaran ini disebabkan oleh proses eksternalisasi yang berubah-ubah atau dengan kata lain individu tersebut tidak mampu untuk menyesuaikan diri dengan aturan.100

98 Nur Syam, Islam Pesisir, hal. 38.

99 Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Media Massa..., hal. 16. 100 Nur Syam, Islam Pesisir, hal. 38.

37

Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa tahap eksternalisasi ini berlangsung ketika produk sosial tercipta di masyarakat (berupa aturan, hukum, atau lainnya), kemudian individu berusaha menyesuaikan dirinya (mengeksternalisasikan) ke dalam dunia sosio-kulturalnya sebagai bagian dari produk manusia.101

b. Objektivasi

Objektivasi adalah hasil yang dicapai dari kegiatan eksternalisasi manusia. Proses objektivasi terjadi sebagai proses interaksi diri dengan dunia sosio-kultural, sehingga objektivasi merupakan proses penyadaran akan posisi diri di tengah interaksinya dengan dunia sosialnya.102

Tahap objektivasi produk sosial terjadi dalam dunia intersubjektif masyarakat yang dilembagakan. Pada tahap ini sebuah produk sosial berada pada proses institusionalisasi, sedangkan individu memanifestasikan diri dalam produk-produk kegiatan manusia yang tersedia, baik bagi produsen-produsennya maupun bagi orang lain sebagai unsur dari dunia bersama. Dengan demikian, individu melakukan objektivasi terhadap produk sosial, baik penciptanaya maupu individu lain. Kondisi ini berlangsung tanpa mereka harus saling bertemu. Artinya objektivasi dapat terjadi lewat

101 Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Media Massa..., hal. 16. 102 Ali Nurdin, Komunikasi Magis..., hal. 225.

38

penyebaran opini masyarakat tentang produk sosial, dan tanpa harus terjadi tatap muka antar indvidu dan pencipta produk sosial tersebut.103 Dalam masyarakat terdapat proses “pelembagaan” yang dibangun atas dasar pembiasaan (habitualization) dimana terdapat tindakan yang selalu diulang-ulang sehingga kelihatan pola-polanya dan terus direproduksi sebagai tindakan yang dipahaminya. Jika habitualisasi ini telah berlangsung, maka terjadilah penngendapan dan tradisi. Dalam mengobjektivasikan pengalaman-pengalaman individu, instrumen paling pentingnya adalah bahasa. Hal lain yang termasuk masyarakat sebagai kenyataan objektif adalah legitimasi. Fungsi legitimasi untuk membuat objektivasi yang sudah dilembagakan menjadi masuk akal secara subjektif.104

c. Internalisasi

Internalisasi adalah tahapan pemahaman atau penafsiran langsung terhadap peristiwa objektif sebagai pengungkapan atas suatu makna, artinya suatu manifestasi dari proses-proses subjektif orang lain yang dengan demikian menjadi bermakna secara subjektif bagi individu sendiri. Ini bukan berarti individu akan dapat memahami orang lain dengan cukup baik, pemahamannya mungkin bisa salah. Ketika melihat orang tertawa, individu mungkin akan memahaminya sebagai ekspresi kebahagiaan. Tapi subjektivitas dari

103 Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Media Massa..., hal. 16. 104 Nur Syam, Islam Pesisir, hal. 39.

39

orang yang tertawa tersebut tidak akan diterima secara objektif dan menjadi bermakna bagi individu, terlepas ada atau tidaknya kesesuaian antara proses subjektif kedua orang/individu tersebut.105

Internalisasi juga dapat dikatakan sebagai proses dimana dunia sosial direpresentasikan di dalam kesadaran individu pada saat sosialisasi berlangsung.106 Sosialisasi merupakan proses perkenalan yang komprehensif dan konsisten dari individu ke dalam dunia objektif masyarakat atau sektor di dalamnya. Sosialisasi yang utama adalah sosialisasi pertama yang dialami seseorang di masa kanak-kanak, di mana ia menjadi anggota masyarakat. Sosialisasi sekunder adalah setiap proses berikutnya yang mengenalkan individu yang telah disosialisasikan ke dalam sektor-sektor baru dari dunia objektif masyarakatnya.107

Teori konstruksi sosial disini digunakan sebagai pijakan dalam memahami bagaimana anggota ITP mengkonstruksi realitas sosial hijrah dalam dunia sosialnya. Teori konstruksi sosial, lewat tiga momen eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi yang terjadi secara simultan, akan memberikan gambaran mengenai bagaimana proses pelembagaan terhadap perilaku hijrah pada tiap-tiap individu anggota ITP. Konsep hijrah yang dimiliki oleh anggota ITP sangat dimungkinkan dipengaruhi oleh hasil

105 Peter L. Berger dan Thomas Luckman, The Social Construction of Reality: a Treatise in the

Sociology of Knowledge (London: Penguin Books, 1991), hal. 149.

106 Michaela Pfadenhauer, The New Sociology of Knowledge: the Life and Work of Peter L. Berger (New Brunswick: Transaction Publishers, 2013), hal. 103.

40

dari konstruksi yang dilakukan oleh gerakan dakwah yang saat ini banyak bermunculan dan beragam. Tiap anggota ITP berpotensi memiliki perbedaan dalam menjalani proses konstruksi sosial hijrahnya, yang kemudian dapat mengakibatkan terjadinya variasi dalam pemahaman atau konsep hijrah yang dimiliki beserta penerapannya.