• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2. Konstruksi Tes Hasil Belajar

Menurut Jonathan (2011: 144), Validitas berkaitan dengan ketepatan dalam mengukur apa yang seharusnya diukur. Azwar (2009: 4) mengemukakan bahwa validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.Surapranata (2004: 50) mengemukakan bahwa validitas adalah suatu konsep yang berkaitan dengan sejauhmana tes telah mengukur apa yang harus diukur.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa validitas adalah ketepatan dalam mengukur pada suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.

Menurut Arikunto (2013: 80), secara garis besar validitas dibedakan menjadi dua macam yaitu validitas logis dan validitas empiris.

1. Validitas Logis

Validitas logis adalah kondisi sebuah instrumen yang memenuhi syarat valid berdasarkan hasil penalaran. Validitas logis yang dapat dicapai oleh sebuah instrumen ada dua macam yaitu validitas isi (content validity) dan validitas konstrak (construct validity). Validitas isi adalah kondisi sebuah instrumen yang ditunjukkan berdasarkan isi materi pelajaran yang dievaluasi. Validitas konstrak adalah kondisi sebuah instrumen ditunjukkan berdasarkan aspek-aspek kejiwaan yang seharusnya dievaluasi.

2. Validitas Empiris

Validitas empiris suatu instrumen diperoleh setelah instrumen tersebut diuji dari pengalaman. Validitas empiris tidak dapat diperoleh hanya dengan menyusun instrumen berdasarkan ketentuan seperti halnya validitas logis, tetapi harus dibuktikan melalui pengalaman.

Validitas empiris dibagi menjadi empat macam yaitu: (1) validitas isi, (2) validitas konstrak, (3) validitas “ada sekarang”, dan (4) validitas prediksi. Validitas isi dan validitas konstrak dicapai melalui penyusunan berdasarkan ketentuan atau teori. Validitas “ada sekarang dan validitas prediksi dicapai atau diketahui sesudah dibuktikan melalui pengalaman.

a. Validitas isi

Validitas isi adalah validitas yang mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. Materi yang diberikan tertera dalam kurikulum sehingga validitas isi sering disebut validitas kurikuler. Validitas isi diusahakan tercapai sejak penyusunan dengan cara merinci materi kurikulum.

b. Validitas konstrak

Validitas konstrak adalah kemampuan butir-butir soal yang membangun sebuah instrumen tes dalam mengukur setiap aspek berpikir yang tertuang dalam Tujuan Instruksional Khusus (TIK) atau yang lebih dikenal sebagai indikator.

Konstruksi yang dimaksudkan dalam validitas konstrak adalah rekaan psikologis dengan suatu cara tertentu “memerinci” isi jiwa atas beberapa aspekmisalnya seperti yang tertuang dalam taksonomi Bloom yaitu: mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.

c. Validitas “ada sekarang” atau concurrent validity

Validitas “ada sekarang” dikenal dengan validitas empiris. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas empiris ketika hasilnya sesuai dengan pengalaman. Kata “sesuai” mengkaitkan dua hal yang dipasangkan. Hasil tes dipasangkan dengan hasil pengalaman. Pengalaman selalu mengenai hal yang telah lampau sehingga data pengalaman tersebut sekarang sudah ada (ada sekarang). Membandingkan sebuah tes memerlukan suatu kriterium atau alat banding. Oleh karena itu, hasil tes merupakan sesuatu yang dibandingkan.

d. Validitas prediksi atau predictive validity

Validitas prediksi adalah kemampuan sebuah instrumen untuk meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa validitas dibagi menjadi dua macam yaitu validitas logis dan validitas empiris. Validitas logis dapat dibedakan lagi menjadi validitas isi dan validitas konstrak. Validitas empiris juga dapat

dibedakan menjadi validitas isi, validitas konstrak, validitas “ada sekarang”, dan validitas prediksi.

b. Reliabilitas

Azwar (2009:4) memaparkan bahwa reliabilitas merupakan sejauhmana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Menurut Sugiyono (2011:168), instrumen yang reliabel adalah instrumen yang apabila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama akan menghasilkan data yang sama. Masidjo (1995: 208) menjelaskan bahwa reliabilitas adalah taraf kemampuan tes dalam menunjukkan konsistensi hasil pengukurannya yang diperlihatkan dalam taraf ketepatan dan ketelitian hasil.

Berdasarkan pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa reliabilitas adalah ketetapan atau keajegan pada suatu alat ukur.

Arikunto (2013: 104) mengemukakan bahwa ada tiga cara untuk mencari besar reliabilitas:

1) Metode Bentuk Pararel (Equipvalent)

Metode bentuk pararel ini, dua buah tes yang pararel, misalnya tes matematika seri A yang akan dicari reliabilitasnya dan tes seri B diteskan kepada kelompok siswa yang sama, kemudian hasilnya dikorelasikan. Koefisien korelasi dari kedua hasil tes inilah yang menunjukkan koefisien reliabilitas tes seri A. Jika koefisiennya tinggi maka tes tersebut sudah reliabel dan dapat digunakan sebagai alat tes dapat diandalkan.

2) Metode Tes Ulang (Test-retest Method)

Metode tes ulang dilakukan orang untuk menghindari penyusunan dua seri tes. Metode ini tester hanya memiliki satu seri tes, tetapi dicobakan kedua kali. Oleh karena tesnya hanya satu dan dicobakan dua kali, maka metode ini dapat disebut single-test-double-trial-method. Kemudian hasil dari kedua kali tes tersebut dihitung korelasinya.

3) Metode Belah Dua (Split-half Method)

Metode ini tester hanya menggunakan sebuah tes dan dicobakan satu kali. Oleh karena itu disebut juga single-test-single-trial-method. Metode ini dilakukan dengan cara membelah item atau butir soal. Ada dua cara membelah butir soal, yaitu:

a) Membelah atas item-item genap dan item-item ganjil yang selanjutnya disebut belahan ganjil-genap.

b) Membelah atas item-item awal dan item-item akhir yaitu separo jumlah pada nomor-nomor awal dan separo pada nomor-nomor akhir yang selanjutnya disebut belahan awal-akhir.

c. Karakteristik Butir Soal 1. Daya Pembeda

Menurut Sudijono (2011: 385), daya pembeda adalah kemampuan suatu butir item tes hasil belajar untuk dapat membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Sulistyorini (2011: 177) menjelaskan bahwa Daya pembeda adalah kemampuan item soal dalam membedakan kemampuan siswa yang pandai dengan kemampuan siswa yang rendah.Masidjo (1995: 196) menyatakan bahwa daya pembeda adalah taraf jumlah jawaban benar siswa yang tergolong kelompok atas berbeda dari siswa yang tergolong kelompok bawah untuk suatu item.

Berdasarkan pendapat ketiga ahli di atas dapat disimpulkan bahwa daya pembeda merupakan kemampuan tes dalam membedakan siswa kelompok atas dengan siswa kelompok bawah

2. Tingkat Kesukaran

Menurut Arikunto (2009: 207), bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya sesuatu soal disebut indeks kesukaran. Indeks kesukaran adalah bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya soal. Semakin tinggi indeks kesukaran butir soal maka soal semakin mudah. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak

terlalu sukar. Sudjana (2009: 135) mengemukakan bahwa tingkat kesukaran soal dipandang dari kesanggupan atau kemampuan siswa dalam menjawabnya, bukan dilihat dari sudut guru sebagai pembuat soal. Surapranata (2004: 12), menyatakan bahwa proporsi jawaban benar (p) yaitu jumlah peserta tes yang menjawab benar pada butir soal yang dianalisis dibandingkan dengan jumlah peserta tes seluruhnya merupakan tingkat kesukaran yang paling umum digunakan. Sudijono (2011: 371) dan Arikunto (2009: 207) menjelaskan bahwa angka indeks kesukaran besarnya berkisar antara 0,00 – 1,00.

Berdasarkan pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa indeks kesukaran menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal .

3. Analisis pengecoh

Menurut Sudijono (2011: 411), pengecoh dapat menjalankan fungsinya dengan baik apabila pengecoh telah dipilih sekurang-kurangnya 5% dari seluruh peserta tes. Pengecoh yang telah menjalankan fungsinya dengan baik dapat digunakan kembali pada tes yang akan datang. Dengan demikian, efektivitas pengecoh adalah seberapa baik pilihan yang salah dapat mengecoh peserta tes yang memilih pengecoh tersebut, maka pengecoh dapat menjalankan fungsinya dengan baik.Surapranata (2004: 43) menyatakan

bahwa pengecoh berfungsi sebagai pengidentifikasi peserta tes yang berkemampuan tinggi. Pengecoh dikatakan berfungsi efektif apabila banyak dipilih oleh peserta tes yang berasal dari kelompok bawah.Arikunto (2012: 233) mengemukakan bahwa pengecoh dapat berfungsi dengan baik apabila pengecoh tersebut mempunyai daya tarik yang besar bagi peserta tes yang kurang memahami materi. Dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa analisis pengecoh adalah jawaban yang mudah dipilih peserta tes tingkat bawah.

Dokumen terkait