• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN TEORITIK WORK-BASED LEARNING

3. Konstruktivisme

Konstruktivisme merupakan pendekatan pengajaran dan pembelajaran yang didasarkan pada premis bahwa kognisi (belajar) adalah hasil dari “konstruksi mental.” Dapat dikatakan juga bahwa siswa belajar dengan menyesuaikan informasi baru dengan apa yang mereka ketahui. Para ahli konstruktivis meyakini bahwa belajar dipengaruhi oleh konteks dimana ide diajarkan serta oleh keyakinan dan juga sikap pembelajar. Konstruktivisme adalah teori belajar yang ditemukan dalam psikologi yang menjelaskan bagaimana seseorang dapat memperoleh pengetahuan dan belajar. Pada dasarnya konstruktivisme adalah teori yang

~ 39 ~

didasarkan pada pengamatan dan studi ilmiah, tentang bagaimana orang belajar.

Dikatakan bahwa orang membangun pemahaman dan pengetahuan mereka sendiri tentang dunia, melalui mengalami hal-hal dan merenungkan pengalaman tersebut (Bereiter, 1994).

Di dalam kelas konstruktivisme, pandangan belajar ahli konstruktivisme mengarah pada sejumlah praktik pengajaran yang berbeda. Secara umum berarti mendorong pembelajar untuk menggunakan teknik aktif (eksperimen, pemecahan masalah dunia nyata) untuk dapat menciptakan lebih banyak lagi pengetahuan dan kemudian merenungkan dan mendiskusikan tentang apa yang mereka lakukan dan bagaimana pemahaman mereka berubah. Konstruktivisme berakar pada filsafat, psikologi, sosiologi dan pendidikan. Ide sentralnya adalah bahwa pembelajaran manusia dibangun dan bahwa pembelajar membangun pengetahuan baru di atas pembelajaran sebelumnya. Pandangan ini tentunya sangat kontras dengan pemikiran bahwa belajar adalah transmisi informasi pasif dari satu individu ke individu lainnya, pandangan dimana penerimaan bukan konstruksi adalah kuncinya. Ada dua gagasan penting yang mengitari gagasan sederhana mengenai pengetahuan yang dibangun, yaitu pertama bahwa peserta didik membangun pemahaman baru menggunakan apa yang sudah mereka ketahui; dan kedua adalah bahwa pembelajaran itu adalah aktif bukan pasif.

Pembelajar tetap aktif selama proses ini; mereka menerapkan pemahaman saat ini mencatat elemen yang relevan dalam pengalaman belajar baru, menilai konsistensi pengetahuan sebelumnya dan yang muncul dan berdasarkan penilaian itu, mereka dapat memodifikasi pengetahuan (Philips, 1995). Senada dengan Vygotsky (1978) yang memandang bahwa pembelajaran konstruktivisme lebih mengarah kepada aktivitas pengaturan lingkungan agar terjadi proses belajar, yaitu interaksi antara pembelajar dengan lingkungan belajarnya.

~ 40 ~

Menurut Vygotsky, bahwa berpikir secara berkelanjutan akan menyebabkan perkembangan kognitif dalam diri seseorang dan ini berguna untuk membantu memecahkan masalah dari kerangka berpikir yang terbentuk hingga mampu mengambil keputusan dalam menghadapi masalah; memudahkan dalam melakukan tindakan yang efektif dan efisien untuk mencapai tujuan; memperluas kemampuan berpikir; melakukan tindakan sesuai dengan kapasitas dengan latihan stimulus yang semakin intens (Vygotsky, 1978; Verrawati, 2017). Lingkungan konstruktivis dalam kelas dapat diciptakan dengan melakukan hal-hal seperti berikut,

a. Memberi pengalaman dengan proses konstruksi: pengajar menyajikan topik kepada pembelajar dan membimbing mereka untuk mengeksplorasi topik tersebut melalui eksperimen.

b. Pengalaman dan apresiasi untuk berbagai perspektif: setiap pembelajar memiliki cara berpikir masing-masing sehingga perlu untuk melihat masalah dari berbagai perspektif dan memberi kesempatan pada pembelajar untuk bereksperimen dan mendiskusikan pemikirannya masing-masing. Pembelajar didorong untuk bekerja dalam kelompok, agar dapat berbagi pendapat satu sama lain.

c. Memberikan pembelajaran sosial dan emosional: ada lima aspek pembelajaran sosial dan emosional yang dapat diajarkan, yaitu: kesadaran diri, mengelola perasaan, motivasi, empati dan keahlian sosial.

d. Menggunakan beberapa jenis representasi: penggunaan beberapa jenis media dapat memperkaya lingkungan belajar dan memberi pembelajar kesempatan untuk melihat topik yang sedang dibahas dari berbagai dimensi. Pengajar juga harus mempersiapkan media yang tersedia dan mendukung topik yang diberikan.

~ 41 ~

Konstruktivisme adalah sebuah pandangan epistemologis dari akuisisi pengetahuan yang menekankan pada empat aspek: 1) konstruksi pengetahuan daripada transmisi pengetahuan dan merekam informasi yang disampaikan oleh orang lain, 2) pembelajaran baru dibangun di atas pengetahuan sebelumnya, 3) pembelajaran ditingkatkan dengan interaksi sosial, 4) pembelajaran yang bermakna dikembangkan melalui tugas-tugas otentik. Peran dari pembelajar dipahami salah satunya sebagai membangun dan merubah pengetahuan (James M. Appefield R, Mahnaz M, 2001).

Keuntungan/manfaat dari penerapan teori konstruktivisme:

Pembelajar dapat belajar lebih banyak dan lebih menikmati belajar ketika mereka terlibat secara aktif, bukan hanya sebagai pendengar yang pasif.

Pendidikan bekerja lebih baik saat berkonsentrasi pada pemikiran dan pemahaman daripada hanya sekedar hapalan. Konstruktivisme fokus pada belajar bagaimana caranya berpikir dan memahami.

Pembelajaran konstruktivis dapat ditransfer. Dalam kelas konstruktivisme, pembelajar membuat prinsip-prinsip pengorganisasian yang dapat mereka terapkan ke dalam pengaturan pembelajaran lainnya.

Konstruktivisme memberikan hak pada pembelajar tentang apa yang ingin mereka pelajari, dan seringkali juga pembelajar memiliki kontribusi dalam mendesain penilaian. Melibatkan naluri kreatif dapat mengembangkan kemampuan pembelajar dalam mengekspresikan pengetahuan dalam mendesain penilaian. Melibatkan naluri kreatif dapat mengembangkan kemampuan pembelajar dalam mengekspresikan pengetahuan dalam berbagai cara.

Konstruktivisme menstimulasi dan melibatkan pembelajar dalam konteks pembelajaran di dunia nyata, dan juga belajar untuk mempertanyakan hal-hal dan membangun rasa ingin tahu.

~ 42 ~

Konstruktivisme mengembangkan keahlian sosial dan komunikasi dengan menciptakan lingkungan kelas yang menekankan pada kolaborasi dan pertukaran ide-ide.

Untuk itu, dari pandangan konstruktivis, tanggung jawab utama adalah untuk menciptakan dan menjaga lingkungan pemecahan masalah yang kolaboratif, dimana pembelajar diizinkan untuk mengonstruksi pengetahuannya sendiri, dan pengajar berperan sebagai pembimbing dan juga fasilitator.

WBL banyak digunakan baik dalam pendidikan kejuruan, pelatihan dan atau juga di pendidikan tinggi. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan kebiasaan kerja, identitas pekerjaan dan juga kompetensi kerja tertentu, WBL dapat digunakan dalam pendidikan umum untuk mengembangkan keterampilan dalam memecahkan masalah dan juga keterampilan dasar: contohnya dengan membebaskan pembelajaran diorganisasikan di sekitar penyelesaian tugas bersama, sehingga elemen keterampilan memiliki makna dalam konteks keseluruhan, dan dengan membiarkan kompetensi berkembang selangkah demi selangkah (Ainley, 1996; Renick, 1987).

Pembelajaran berbasis kerja ini tidak terbatas pada pendidikan kejuruan saja, tapi juga sudah banyak digunakan di pendidikan tinggi untuk pengajaran pengetahuan dan keterampilan yang kompleks: misalnya digunakan secara luas dalam pendidikan kedokteran (Swanwick, 2010). Dan ketika program, kurikulum dan pengalaman berbasis kerja dirancang dan diaplikasikan disertai dukungan staf yang memadai dan dievaluasi dengan benar, maka program itu akan berdampak positif (Lynch & Harnish, 1998; Fallow & Weller, 2000; Mallika Modrakee, 2005;

Braham & Pickering, 2007; Garret, 2008).

~ 43 ~

BAB 3

Dokumen terkait