Pada awal abad keduapuluh keberadaan restoran Cina di Batavia memberikan alternatif bagi kebudayaan Eropa yang mendominasi keseharian warga Batavia. Dalam pandangannya Onghokham (2009) menyebutkan bahwa ada kecenderungan di dalam etnis Tionghoa untuk naik ke jenjang masyarakat yang lebih tinggi. Sejak akhir abad kedelapanbelas tidak lagi masuk ke dalam masyarakat Jawa, karena elitenya sudah tidak ada lagi dan bukan lagi merupakan golongan yang memerintah.
Maka kemudian mereka ingin masuk ke dalam masyarakat atau golongan Belanda, karena golongan inilah yang merupakan golongan yang memerintah. Untuk masuk ke dalam masyarakat Belanda tidaklah mungkin; yang mungkin hanyalah mengambil tindakan-tindakan yang menuju arah itu. Keinginan untuk mirip dengan golongan yang memerintah juga terdapat
Universitas Indonesia
di bidang lain, misalnya dalam perabotan rumahtangga, dalam jamuan-jamuan perayaan dan dalam seluruh proses westernisasi orang-orang Tionghoa. (Onghokham, 2009)
Dengan hadirnya restoran-restoran Cina berkonsep modern dan mengadopsi tata cara Eropa, selain keinginan mengikuti golongan yang memerintah, dapat juga dimaknai sebagai budaya alternatif bagi gaya hidup warga kota Batavia. Hal ini tampak pada antusiasme warga Belanda yang menjadi pelanggan dari restoran-restoran Cina tersebut.
Hal ini dapat diketahui dari cerita-cerita keluarga pengelola restoran Cina yang ditemui selama penelitian ini. Yuni, generasi ketiga dari pendiri restoran “Abad Baru” selalu mendengar cerita dari ayahnya tentang warga Belanda yang sering makan di restoran keluarganya. Van Mook, yang sempat menjabat sebagai Gubernur Jendral Batavia, menjadi salah satu pelanggan tetap restoran yang dulunya bernama “Sin Kie Joen” ini. Penuturan ini dibenarkan oleh Tjoeng Tji Wai,56 keponakan dari Tjoeng Tjin,57 pendiri restoran “Abad Baru”. Restoran ini terletak di Jalan Pintu Besar Selatan nomor 15, Glodok. Selain restoran “Abad Baru”, kenangan yang sama juga dimiliki oleh pengelola restoran “Fajar”. Ketika Uteng masih kanak-kanak, ia menyaksikan restoran keluarganya dipenuhi tidak hanya oleh warga Tionghoa, namun juga warga Belanda dan Jepang.
Rumah makan “Jit Lok Jun” muncul sebagai salah satu alternatif dalam keseharian warga Batavia di tahun 1925. Nama “Jit Lok Jun” apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia memiliki arti “sebuah taman gembira”. Konsep rumah makan yang ditawarkan oleh Tjoeng Tan dapat dimaknai sebagai tempat hiburan alternatif dalam gaya hidup modern di kota Jakarta. Dalam kurun waktu 1920-1950 ada beberapa restoran Cina lain di Jakarta yang menawarkan hal yang serupa. Restoran “Toeng Kong”58 yang berdiri sejak 1942 di Tugu Tani juga menawarkan menu makanan Cina. Nama “Toeng Kong” kemudian diganti menjadi “Tjahaja Kota” dan kemudian sekarang memakai nama “Cahaya Kota” yang memang merupakan terjemahan dari “Toeng Kong”. Nama yang dipilih oleh
56
Baca: cung ci wai. Wawancara dengan Yuni dan Tjoeng Tji Wai pada tanggal 17 Desember 2009
57
Baca: cung cin
58
restoran-restoran ini merepresentasikan gaya hidup modern kota Jakarta pada abad keduapuluh.
Meluangkan waktu untuk makan di luar rumah menjadi salah satu gaya hidup di Batavia sejak awal abad keduapuluh. Keseharian warga Batavia sebagai kota urban yang modern. Gaya hidup semacam ini dibawa oleh warga Eropa yang datang ke Batavia. Kebiasaan untuk meluangkan waktu di luar rumah untuk mencari hiburan merupakan kegiatan yang umum dilakukan di Eropa sejak revolusi industri melahirkan kelas pekerja. Kebiasaan ini dibawa oleh pedagang dan warga Eropa yang datang ke Batavia. Gaya hidup ini tumbuh tidak hanya di kalangan warga Eropa, namun juga ke warga Tionghoa yang ada di Batavia saat itu. Silver (2008) dalam penelitiannya mengenai Jakarta sebagai kota megapolitan di abad keduapuluh menyebutkan bahwa dalam sektor komersil dan ritel, kota-kota besar di Asia Tenggara saat ini bergerak menuju pembentukan sentra bisnis. Kecenderungan ini merupakan ekstensi dari pola kota urban pemerintah kolonial. Area konsentrasi perkantoran, hotel, institusi keuangan, restoran, pusat perbelanjaan pada masa pemerintah kolonial seringkali didampingi oleh pertumbuhan yang serupa di area pemukiman pedagang Tionghoa dan India. Konsep ini menurut McGee (1967) merupakan bentuk pusat komersil liyan.59 Glodok dapat dikatakan merupakan salah satu area di sekitar pusat institusi pemerintah kolonial yang berkembang sesuai konsep McGee (1967). Di luar Weltevreden yang menjadi hegemoni kebudayaan Eropa, ada restoran Cina di kawasan Glodok yang menawarkan gaya hidup yang diadopsi dari kebudayaan Eropa.
Dalam keseharian warga kota Jakarta kini, kegiatan pergi ke luar rumah untuk makan menjadi salah satu hiburan urban. Bell dan Valentine (1997) menyebutkan bahwa kegiatan makan di restoran sebagai “paket konsumsi menyeluruh”60 yang tidak hanya menjual makanan dan minuman namun juga menawarkan pengalaman dalam ruang restoran tersebut. Kenikmatan yang dihasilkan dari pengalaman tersebut terjadi akibat pemahaman akan perbedaan antara pergi ke luar rumah untuk makan dan makan di rumah. Pergi ke luar rumah untuk makan memberikan selingan dari pola kebiasaan sehari-hari yang
59
Alien commercial center.
60
Universitas Indonesia
cenderung membosankan dan sama. Pergi ke luar rumah untuk makan menjadi “exotic other” dari kegiatan makan bersama di rumah (Warde dan Martens, 2000). Hal ini menjadi paradoks pada restoran yang menawarkan nostalgia di Jakarta. Nostalgia yang ditawarkan oleh restoran seperti “Radja Ketjil”, “Dapoer”, “Meradelima”, dan “Kembang Goela” merupakan keseharian yang dikemas secara khusus.
Gambar 3.24 Interior restoran “Radja Ketjil” Sumber: akun “Wordpress” restoran “Radja Ketjil”