• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENILITIAN

DAFTAR PUSTAKA

A. Konteks Penelitian

Pendidikan agama Islam terutama pendidikan akhlak sangat diperlukan untuk pembinaan dan penyempurnaan pertumbuhan kepribadian siswa. Pendidikan agama Islam memiliki dua aspek penting, yakni aspek pendidikan agama yang ditujukan kepada pembentukan kepribadian. Siswa dalam hal ini dibimbing agar terbiasa berbuat baik sesuai dengan ajaran agama Islam. Aspek kedua ditujukan kepada pikiran, yaitu pengajaran agama Islam itu sendiri, yakni kepercayaan kepada Tuhan. Tujuan penting dari pendidikan Islam adalah membentuk suatu akhlak atau budi pekerti yang mulia dan sempurna karena ruh dari pendidikan Islam adalah pendidikan akhlak.1

Ibnu Miskawaih merumuskan tentang pendidikan akhlak sebagaimana dikutip oleh Abudin Nata, pendidikan akhlak merupakan upaya ke arah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan lahirnya perbuatan-perbuatan yang bernilai baik dari seseorang. Dalam pendidikan akhlak ini, kriteria benar dan salah untuk menilai perbuatan yang muncul merujuk kepada Alquran dan Assunnah sebagai sumber tertinggi ajaran Islam. Dengan demikian maka pendidikan akhlak bisa dikatakan sebagai pendidikan moral dalam diskursus pendidikan Islam. Akhlak dalam diri seseorang akan melahirkan sebuah sikap, perbuatan dan tingkah laku manusia. Dan ruang lingkup akhlak meliputi semua aktivitas manusia dalam segala bidang kehidupan.2 Begitupun dampaknya pada bangsa, suatu bangsa akan menjadi kokoh apabila ditopang dengan akhlak masyarakatnya yang kokoh, dan sebaliknya suatu bangsa akan runtuh ketika

1Muhammad Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Terj. dari Attarbiyah

al-Islamiyah oleh H. Bustami A. Gani dan Johar Bahri (Jakarta: Bulan Bintang, 1984) hal. 1

2

2 akhlak masyarakatnya rusak, karena akhlak merupakan salah satu pilar utama kehidupan masyarakat. Hal ini juga berlaku pada umat Islam yang pernah mengalami masa kejayaan dan salah satu faktor yang mendukung kejayaan Islam pada masa itu adalah akhlak mulia.3

Konsep akhlak yang telah dirumuskan oleh para tokoh pendidikan Islam masa lalu seperti Ibnu Miskawaih, Al-Qabisi, Ibn Sina, Al-Ghazali dan Al-Zarnuji, menunjukkan bahwa tujuan puncak pendidikan akhlak adalah terbentuknya karakter positif dalam perilaku siswa. Karakter positif ini tiada lain adalah penjelmaan sifat-sifat mulia Tuhan dalam kehidupan manusia. Namun demikian dalam implementasinya, pendidikan akhlak yang dimaksud masih tetap cenderung pada pengajaran right and

wrong seperti halnya pendidikan moral. Menjamurnya lembaga-lembaga pendidikan

Islam di Indonesia dengan pendidikan akhlak sebagai trade mark disatu sisi, dan menjamurnya tingkat kenakalan perilaku amoral remaja disisi lain menjadi bukti kuat bahwa pendidikan akhlak dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam belum optimal.4

Terminologi pendidikan karakter, sejak tahun 1990-an mulai ramai dibicarakan. Thomas Lickona dianggap sebagai pengusungnya melalui karyanya yang sangat memukau, The Retrun of Character Education.5 Sebuah buku yang menyadarkan dunia Barat secara khusus di mana tempat Lickona hidup, dan seluruh dunia pendidikan secara umum, bahwa pendidikan karakter adalah sebuah keharusan. Inilah awal kebangkitan pendidikan karakter. Karakter sebagaimana didefinisikan oleh Ryan dan Bohlin sebagaimana dikutip oleh Arif Rosadi, mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan

3

M. Imam Pamungkas, Akhlak Muslim Modern, Membangun Karakter Generasi Muda, (Bandung: penerbit Marja, 2012), hal.17

4 Kemenag, Pendidikan Akhlak ala Al-Ghazali, 2016, hal. 2-3, (www.simbi.kemenag.go.id).

5 Arif Rosadi, “Membangun Penyelenggaraan Pendidikan Berkarakter Berbasis Evaluasi Profesional”, Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Evaluasi Pendidikan, Universitas Negeri Semarang, Semarang , 5 November 2013, hal. 2.

3 kebaikan (doing the good). Dalam pendidikan karakter, kebaikan itu seringkali dirangkum dalam sederet sifat-sifat baik. Dengan demikian maka pendidikan karakter adalah sebuah upaya untuk membimbing perilaku manusia menuju standar-standar baku. Upaya ini juga memberi jalan untuk menghargai persepsi dan nilai-nilai pribadi yang ditampilkan di sekolah. Fokus pendidikan karakter adalah pada tujuan-tujuan etika, tetapi prakteknya meliputi penguatan kecakapan-kecakapan yang penting yang mencakup perkembangan sosial siswa.6

Seorang guru jika hendak mengarahkan pendidikan dan menumbuhkan karakter yang kuat pada siswa, haruslah mencontoh karakter yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw yang memiliki karakter sempurna. Firman Allah Swt. dalam Q.S al-Qalam: 4

نيِظَع ٍقُلُخ ٰىَلَعَل َكًَِإَو

ٖ

٤

Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.S.

Al-Qalam/68: 4) 7

Dalam pendidikan karakter yang berorientasi pada akhlak mulia kita wajib untuk berbuat baik dan saling membantu serta dilatih untuk selalu sabar, menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Dalam ayat lain dijelaskan:

َيٌَُّبَٰي

ِنِقَأ

َةٰوَلَصّلٱ

َو

ِب ۡرُهۡأ

ِفوُرۡعَوۡلٲ

َو

َهًۡٱ

ِيَع

ِرَكٌُوۡلٱ

َو

ۡرِبۡصٱ

َىِإ َۖكَباَصَأ ٓاَه ٰىَلَع

ِمۡزَع ۡيِه َكِلَٰذ

ِروُهُأۡلٱ

٧١

Artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang

diwajibkan (oleh Allah).” (Q.S.Luqman/31:17) 8

Suatu hal yang penting diketahui oleh seorang pendidik atau calon pendidik adalah sikap dan karakter siswa. Siswa di sekolah yang dihadapi guru sudah membawa karakter yang terbentuk dari lingkungan rumah tangga atau lingkungan masyarakat yang berbeda. Ada yang baik dan ada yang buruk, ada yang patuh dan ada juga yang

6

Ibid. 7

Kemenag. al-Hilali Qur’an, (Jakarta: Pustaka Alfatih, 2002), hal. 564. 8

4 tidak patuh, dan seterusnya. Mengetahui latar belakang dan karakter siswa menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan alat pembelajaran, pendekatan dan metodenya yang akan dilakukan oleh seorang guru sehingga tujuan pendidikan akan tercapai dengan mudah. Sikap dan karakter siswa ini dapat diubah dari dibentuk sesuai dengan keinginan dan tujuan pendidikan. Di sinilah strategi guru, orang tua dan masyarakat yang amat penting dalam membentuk lingkungan siswa yang baik dan saling mendukung.9

Dalam kaitannya dengan pendidikan akhlak, terlihat bahwa pendidikan karakter mempunyai orientasi yang sama yaitu pembentukan karakter. Perbedaan bahwa pendidikan akhlak terkesan timur dan Islam sedangkan pendidikan karakter terkesan barat dan sekuler, bukan alasan untuk dipertentangkan. Pada kenyataanya keduanya memiliki ruang untuk saling mengisi. Bahkan Lickona sebagai Bapak Pendidikan Karakter di Amerika justru mengisyaratkan keterkaitan erat antar karakter dengan spiritualitas. Dengan demikian, bila sejauh ini pendidikan karakter telah berhasil dirumuskan oleh para penggiatnya sampai pada tahapan yang sangat operasional meliputi metode, strategi, dan teknik, sedangkan pendidikan akhlak sarat dengan informasi kriteria ideal dan sumber karakter maka memadukan keduanya menjadi suatu tawaran yang sangat inspiratif. Hal ini sekaligus menjadi entry point bahwa pendidikan karakter memiliki ikatan yang kuat dengan nilai-nilai spiritualitas dan agama.10

Pendidikan karakter mulai dicanangkan dalam kurikulum terbaru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Tahun 2010 Kemendiknas telah mencanangkan 18 nilai-nilai karakter yang wajib dimiliki oleh siswa. Namun semua itu menjadi tumpul ketika melihat realitas yang terjadi di lapangan. Bahwa siswa yang telah diberi berjibun teori

9 Abdul Majid Khon, Hadis Tarbawi : Hadis-Hadis Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2014) , hal. 99-100

10 Arif Rosadi, “Membangun Penyelenggaraan Pendidikan Berkarakter Berbasis EvaluasiProfesional”, Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Evaluasi Pendidikan, Universitas Negeri Semarang, Semarang , 5 November 2013, hal. 3.

5 tentang nilai-nilai akhlak, moral dan budi pekerti rupanya tidak diaplikasikan dalam bentuk nyata. Karena perlu kita sadari bersama bahwa masa remaja awal, yang dalam hal ini adalah masa SMP/MTs merupakan masa dimana anak lebih senang untuk meniru, mengikuti, mengimitasi dan mengidentifikasi apa saja yang mereka lihat dan temukan. Jadi, sekedar teori tidaklah cukup untuk membentuk pribadi siswa. Ini tentu menjadi PR yang besar bagi pendidik, terutama bagi pendidik akhlak, atau guru akidah akhlak lebih khususnya. Karena merekalah yang akan membawa siswa kepada generasi yang berakhlak, bermoral dan berbudi pekerti luhur yang nantinya akan membentuk karakter siswa tersebut melalui strateginya sebagai pendidik, pembimbing, demonstrator dan evaluator. Secara moralistik, pembinaan karakter merupakan salah satu cara untuk membentuk mental manusia agar memiliki pribadi yang bermoral dan berbudi pekerti yang luhur, berarti pula cara tersebut sangat tepat untuk membina mental anak remaja.11

Namun, diakui atau tidak, saat ini terjadi krisis yang nyata dan mengkhawatirkan dalam masyarakat dengan melibatkan milik kita yang paling berharga, yaitu anak-anak. Krisis yang sangat mengkhawatirkan adalah krisis moral. Yang mana dalam hal ini, akhlak dan karakter generasi muda mulai terkikis. Hilangnya rasa saling menghormati, toleransi, sopan santun dan etika. Bahkan perilaku remaja kita juga diwarnai dengan gemar merokok dengan alat vapor, kebiasaan menyontek di sekolah dan pacaran, juga kadang terlibat tawuran. Sepanjang tahun 2015 saja, tercatat 769 kasus tawuran pelajar di Indonesia. Dengan demikian, bila dibuat rata-ratanya, setiap hari terjadi dua tawuran. Kenakalan lain adalah menyangkut masalah narkoba. Data menunjukkan, dari 4 jutaan

11

6 pecandu narkoba, sebanyak 70 persen atau ¾ di antaranya adalah anak usia sekolah yaitu yang berusia 14 sampai dengan 20 tahun.12

Pengaruh gaya hidup dari hasil penggunaan gadget yang sangat tinggi di kalangan remaja dan rendahnya perhatian orang tua terhadap kelakuan dan sopan santun anak, merupakan sederetan sebab mengapa siswa sekarang susah diatur. Dari kasus-kasus yang ada, terlihat sekali demoralisasi terjadi di negeri ini. Dua sisi yang ekstrem antara guru dan siswa jika bertemu tentu saja akan terjadi ketidak harmonisan.13

Untuk itu kecerdasan emosi sangat dibutuhkan untuk membangun akhlak yang baik dan karakter religius yang bagus dan perlu dijaga oleh guru untuk menciptakan siswa yang hebat. Itulah mengapa pendidikan karakter religius sangat penting untuk diterapkan. Madrasah sebagai institusi pendidikan yang merupakan wadah tempat proses pendidikan dilakukan, memiliki sistem yang kompleks dan dinamis dan sebagai salah satu tempat di mana siswa ditempa karakter terpujinya untuk menjadi generasi yang membanggakan. Begitupun dengan kondisi di Madrasah, yakni MTs Negeri 3 Malang, jl. Mandiri 9 Lawang dan MTs Noor Rochmat, jl. Dr. Cipto Bedali Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Madrasah di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia ini merupakan Madrasah Tsanawiyah yang dikelilingi banyak Gereja. Madrasah tersebut harus siap menghadapi tantangan yang sangat berat dalam mencetak generasi penerus bangsa. Peneliti menjumpai bahwa dalam upayanya membentuk karakter religius siswa yang disiplin dan bermoral, guru Pendidikan Agama Islam, dalam hal ini karena dalam Madrasah Tsanawiyah tersebut pada pelajaran Pendidikan Agama Islam dibagi menjadi empat mata pelajaran, maka penulis

12 Darurat Kenakalan Remaja”, Tajuk Rencana, Harian Sinar Indonesia Baru, Medan, 14 Desember 2014, hal. 2.

13

Mansur Muchlish, Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan KrisisMultidimensional, (Jakarta: Bumi Aksara), Cet. V, hal.58.

7 lebih fokus kepada guru akidah akhlak, yang mana guru tersebut terjun langsung dalam mendisiplinkan anak-anak dan dalam pembuatan peraturan.

Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Malang dan Madrasah Tsanawiyah Noor Rochmat Bedali Lawang Kabupaten Malang, dalam perjalannya hingga saat ini harus mampu menghadapi kendala dan tantangan, salah satu tantangannya adalah kenakalan remaja yang banyak terjadi pada masa kini yang menarik adalah bahwa orang tua siswa terkesan mempercayakan sepenuhnya pendidikan putra-putri mereka di madrasah tersebut tanpa melibatkan strategi serta mereka sebagai orang tua, seperti yang diungkapkan oleh Ibu Himyatul Amanah, S.Pd salah satu guru BK di MTs Negeri 3 Malang:

“Sebagian besar orang tua murid dilingkungan Lawang yang menyekolahkan putra-putri mereka di madrasah ini terkesan mempercayakan sepenuhnya kepada kami segala pendidikan putra-putri meraka termasuk perilaku siswa tanpa melibatkan mereka sebagai orang tua, penilaian tersebut kami dapatkan karena banyaknya keluhan dari orang tua siswa tentang perilaku anak mereka ketika berada dirumah, misalnya salah satu orang tua siswa menegur sekolah karena mendapati anak mereka pulang larut malam dan bermain game di warnet, merokok dan lain sebagainya.” Disatu sisi menjadi beban yang berat bagi kami disisi yang lain menjadi tantangan bagi kami selaku guru BK untuk lebih meningkatkan pembimbingan, konseling dan pembentukan karakter siswa kami ”14

Dengan demikian dari berbagai uraian di atas, peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “ Strategi Guru Akidah Akhlak dalam Membentuk Karakter Religius Siswa ( Studi Multisitus Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Malang dan Madrasah Tsanawiyah Noor Rochmat Bedali Lawang Kabupaten Malang).” Alasan peneliti memilih lokasi penilitian di Madrasah Tsanawiyah tersebut selain dari pendapat Ibu Himyatul Amanah, S.Pd tersebut diatas adalah karena:

14

Hasil wawancara terhadap informan Ibu Himyatul Amanah, S.Pd guru BK di MTs Negeri 3 Malang, pada hari senin 5 Februari 2018 pukul 09.30 WIB

8 MTs Negeri 3 Malang dan MTs Noor Rochmat Bedali Lawang Kabupaten Malang merupakan lembaga pendidikan yang mulai memperhatikan pentingnya pendidikan karakter. Terlihat dari adanya pembiasaan-pembiasaan baik yang dilakukan di madrasah. Seperti: pembiasaan lingkungan bersih di madrasah ( go green, bank sampah) shalat berjama’ah dhuha dilanjutkan membaca Al-Qur’an bersama , shalat dzuhur dan ashar, pembinaan membaca al-qur’an, bersalaman/berjabat tangan ketika baru datang ke madrasah dan ketika hendak pulang ke rumah, mengucapkan salam ketika berjumpa ibu/bapak guru dan teman dan lain sebagainya.

MTs Negeri 3 Malang dan MTs Noor Rochmat Bedali Lawang Kabupaten Malang memiliki prestasi yang mulai diakui oleh banyak stakeholders pendidikan dalam masalah kualitas output yang dilahirkan. Terlihat dari peningkatan pendaftaran penerimaan siswa baru dari tahun ke tahun.

MTs Negeri 3 Malang memberikan dampak positif terhadap masyarakat khususnya masyarakat lingkungan Kabupaten Malang. Terlihat ketika peneliti menjadi salah satu pembina lomba KSM ( Kompetisi Sains Madrasah) di MAN 1 Gondanglegi dilaksanakan pada tanggal 24 Februari 2018. Dari enam kategori lomba yang di lombakan, enam diantaranya juara 1 dan 3 bahasa Inggris, juara 3 bahasa Arab, juara harapan 1 biologi, juara harapan 1 dan 2 Fisika, di menangkan oleh siswa-siswi MTs Negeri 3 Malang. Dengan demikian KKM MTsN 3 Malang dapat juara umum tingkat Kabupaten Malang.