• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontraktor Norwood

Dalam dokumen 4. Kembalinya Sherlock Holmes PDF (Halaman 145-172)

"SEBAGAI seorang ahli masalah-masalah kriminal, kata Holmes, "menurutku London kini tak menarik lagi sejak meninggalnya Profesor Moriarty yang sangat terkenal itu."

"Kurasa tak banyak warga masyarakat yang menyetujui pendapatmu," jawabku.

"Yah, yah, tentunya aku tak boleh mementingkan diriku sendiri saja," katanya sambil tersenyum, dan dia lalu berdiri untuk meninggalkan meja makan. "Masyarakat memang beruntung, cuma aku saja yang rugi karena sering menganggur. Waktu Profesor Moriarty masih merajalela, surat kabar penuh dengan kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas. Kadang-kadang memang tak begitu jelas, Watson, cuma berupa petunjuk-petunjuk yang masih kabur, tapi itu menandakan bahwa penjahat berotak cerdas itu sedang beraksi, bagaikan getaran sarang laba-laba yang mengingatkan orang pada laba-laba itu sendiri. Pencurian kecil-kecilan, penganiayaan keji, tindakan-tindakan biadab yang di lakukan tanpa tujuan yang jelas—bagi orang yang jeli, semua itu dapat dilihat sebagai suatu keseluruhan yang saling berkaitan. Bagi mahasiswa yang sedang mempelajari dunia kriminal London memiliki keunggulan keunggulan yang tidak dimiliki kota-kota lain di Eropa. Tapi kini..." Dia mengangkat bahunya dengan lucu, memprotes situasi yang dia sendiri punya andil dalam menciptakannya.

Waktu pembicaraan ini terjadi, Holmes telah beberapa bulan kembali dari pengungsian, dan atas permintaannya aku telah berhenti praktek sebagai dokter dan kembali bergabung dengannya di Baker Street. Seorang dokter muda bernama Verner telah membeli tempat praktekku yang sempit di Kensington dengan harga amat tinggi. Ini amat mengherankanku. Beberapa tahun kemudian barulah aku mendapatkan penjelasannya. Ternyata Verner itu masih bersaudara dengan Holmes, dan temankulah yang telah mengusahakan uang pembelian tempat praktekku itu.

Selama beberapa bulan itu sebetulnya ada juga kasus kasus yang kami tangani. Di antaranya ialah kasus surat-surat mantan Presiden Murillo, dan kasus kapal uap Belanda bernama Friesland yang menggemparkan itu, yang nyaris menewaskan kami berdua. Namun pembawaan Holmes yang dingin dan angkuh, menyebabkan dia selalu menolak bila perannya hendak ditonjolkan, dan dia berpesan kepadaku dengan sangat agar dirinya, cara kerjanya, atau keberbasilannya jangan pernah disebut-sebut

di depan umum. Baru akhir-akhir ini sajalah larangan itu dicabutnya.

Setelah mengemukakan protesnya yang aneh ini, Mr. Sherlock Holmes duduk santai sambil menyandarkan punggungnya pada bagian belakang kursi. Dibukanya surat kabar pagi dengan santai. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh dering bel pintu yang nyaring dan bunyi gedoran pintu depan, seolah- olah seseorang sedang mengetuk-ngetuk pintu depan dari luar dengan tinjunya Ketika pintu dibukakan, dengan segera seseorang berlari masuk dan langkah-langkah kakinya lalu terdengar menaiki tangga. Dalam sekejap seorang pria muda yang bermata nyalang, kebingungan, pucat, rambutnya awut-awutan, dan terengah-engah, menerobos masuk ke ruangan kami. Dia memandang kami secara bergantian, dan ketika melihat pandangan kami yang penuh tanda tanya dia menyadari bahwa dia perlu minta maaf karena masuk ke kamar orang dengan cara yang tak sopan itu.

"Maaf, Mr. Holmes," teriaknya. "Anda jangan salahkan saya. Saya hampir menjadi gila, Mr. Holmes. Nama saya John Hector McFarlane. Saya sedang ditimpa kemalangan."

Dia memperkenalkan dirinya seolah-olah dengan menyebutkan namanya itu kami jadi tahu apa maksud kedatangannya dan tingkah lakunya itu. Wajah temanku yang tetap kalem menunjukkan bahwa dia tak lebih tahu mengenai pria muda ini dibanding dengan diriku sendiri.

"Mau rokok, Mr. McFarlane?" katanya sambil menyodorkan kotak rokoknya. "Saya yakin melihat gejala-gejala diri Anda, teman saya Dr. Watson perlu memberikan obat penenang kepada Anda. Cuaca memang sangat panas akhir-akhir ini. Nah, kalau sudah agak tenang, silakan duduk di kursi itu, dan ceritakanlah dengan perlahan-lahan dan tenang siapa Anda sebenarnya dan apa yang Anda inginkan dari kami. Tadi Anda menyebutkan nama Anda seolah-olah saya akan mengenali Anda, tapi saya benar-benar tak tahu siapa Anda kecuali berdasarkan fakta-fakta yang bisa saya lihat, yaitu bahwa Anda belum menikah, seorang pengacara, anggota perkumpulan persahabatan, dan menderita asma."

Aku sudah biasa dengan cara kerja temanku, sehingga aku bisa memahami kesimpulannya melihat pakaian pemuda yang tak rapi itu, berkas surat-surat resmi yang ditentengnya, lencana keanggotaan perkumpulannya, dan napasnya yang berbunyi. Tapi, klien kami termangu-mangu keheranan.

"Ya, semua itu benar, Mr. Holmes, dengan tambahan bahwa saat ini saya adalah orang yang paling malang di London. Demi Tuhan, jangan menolak permintaan saya, Mr. Holmes! Kalau mereka sampai menangkap saya sebelum saya menceritakan semuanya pada Anda, tolong suruhlah mereka menunggu sebentar sampai saya selesai menceritakan seluruh kisah yang sebenarnya. Saya rela dipenjara asalkan sementara itu Anda menjernihkan kasus ini."

"Menangkap Anda!" teriak Holmes. "Menyenangkan... maksud saya menarik sekali. Atas tuduhan apa Anda hendak ditahan?"

"Atas tuduhan membunuh Mr. Jonas Oldacre, dari Lower Norwood." Air muka temanku menunjukkan simpati, sekaligus rasa puasnya.

"Wah!" katanya. "Baru saja saya katakan kepada Dr. Watson pagi tadi bahwa London sudah kehabisan kasus-kasus yang menarik."

Tamu kami mengulurkan tangannya yang gemetaran dan mengambil koran Daily Telegraph yang tergeletak di lutut Holmes.

"Kalau Anda tadi melihatnya, sir, dalam sekejap Anda akan tahu untuk apa saya kemari pagi ini. Saya rasa nama dan nasib buruk saya telah menjadi buah bibir semua orang." Dia membalik koran itu ke halaman tengah. "Ini dia, dan kalau Anda tak keberatan akan saya bacakan untuk Anda. Dengarkanlah, Mr. Holmes. Judulnya: 'Peristiwa Misterius di Lower Norwood. Hilangnya Seorang Kontraktor yang Terkenal. Dicurigai Telah Terjadi Pembunuhan dan Kebakaran yang Disengaja. Sudah Ada Petunjuk tentang Pelaku Kejahatan Itu.' Petunjuk itulah yang sedang mereka ikuti, Mr. Holmes, dan tak diragukan lagi mereka pasti mencurigai saya. Saya sudah diikuti orang sejak dari Stasiun London Bridge, dan saya yakin mereka hanya tinggal menunggu surat resmi untuk menangkap saya. Itu akan menghancurkan hati ibu saya... itu akan menghancurkan hatinya!" Dia meremas-remas tangannya dengan gelisah, dan tubuhnya bergoyang-goyang ke depan dan belakang.

minat. Rambutnya pirang dan wajahnya tampan walaupun tidak tnulus. Matanya yang bum dipenuhi ketakut-an yang amat sangat Janggutnya tercukur rapi, dan bibirnya tipis. Umurnya mungkin sekitar dua puluh tujuh tahun; pakaian dan pembawaannya menunjukkan bahwa dia lelaki terhormat Dari kantong jas musim panasnya yang berwarna terang terlihat berkas surat-surat resmi yang menunjukkan profesinya.

"Kita tak boleh menyia-nyiakan waktu yang ada," kata Holmes. "Watson, tolong ambil koran itu dan bacakan berita yang bersangkutan. Di bawah judul yang telah dibaca klien kami tadi aku membaca kisah berikut:

"Tadi malam, atau tadi pagi-pagi sekali, telah terjadi peristiwa di Lower Norwood yang diduga merupakan tindak kejahatan yang serius. Peristiwa ini menimpa Mr. Jonas Oldacre yang selama bertahun-tahun terkenal sebagai kontraktor di daerah itu. Dia tidak menikah, berusia lima puluh dua, dan tinggal di Deep Dene House di ujung Jalan Sydenham. Dia terkenal akan kebiasaan- kebiasaannya yang aneh, penuh rahasia, dan suka menyendiri. Selama beberapa tahun terakhir dia praktis sudah nonaktif dari pekerjaannya yang telah membuatnya sangat kaya. Namun sebuah lapangan yang penuh kayu masih ada di belakang rumahnya, dan tadi malam kira-kira pukul dua belas, ada berita kebakaran pada salah satu tumpukan kayunya. Mobil pemadam kebakaran segera menuju rumahnya, tapi api yang melalap tumpukan kayu kering itu demikian dahsyatnya sehingga kebakaran itu tak bisa dikendalikan. Tumpukan kayu itu terbakar habis. Sejauh ini nampaknya kebakaran itu disebabkan oleh kecelakaan, tapi ada indikasi baru yang nampaknya menjurus ke tindak kejahatan yang serius. Anehnya, pemilik rumah tak ditemukan pada saat kebakaran terjadi, dan setelah diselidiki ternyata dia menghilang dari rumahnya. Ketika kamarnya diteliti, terlihat bahwa ranjangnya masih rapi tanpa ada tanda-tanda bahwa seseorang tidur di situ malam itu. Lemari besi di kamar itu dalam keadaan terbuka dan dokumen-dokumen penting berserakan di seluruh kamar. Akhirnya terlihat juga tanda-tanda bekas perkelahitan, sedikit bercak-bercak darah di lantai, dan tongkat penyangga dari kayu ek yang berlumuran darah di pegangannya. Lalu didapat informasi bahwa malam itu Mr. Jonas Oldacre kedatangan tamu di kamar tidurnya, dan tongkat penyangga yang ditemukan ternyata milik tamu itu. Dia seorang pengacara yang masih muda dari London bernama John Hector McFarlane, berkantor di Gedung Gresham Nomor 426. Polisi yakin bahwa mereka punya bukti

kuat sehubungan dengan motif tindak kejahatan ini. Maka perkembangan yang menggemparkan akan segera terjadi.

"LALU—dikabarkan oleh pers bahwa Mr. John Hector McFarlane telah ditangkap dengan tuduhan membunuh Mr. Jonas Oldacre. Atau setidaknya, surat penahanannya telah dikeluarkan. Penyelidikan lanjutan di Norwood telah membawa perkembangan yang mengerikan. Di samping tanda-tanda perkelahian di kamar kontraktor yang malang itu, sekarang ditemukan bahwa jendela-jendela kamar yang terletak di lantai bawah itu ternyata dalam keadaan terbuka. Ada tanda-tanda bahwa sesuatu yang berat telah diseret ke tumpukan kayu itu, dan sisa-sisa tubuh manusia yang hangus ditemukan di antara sisa abu kebakaran. Polisi mengemukakan teori bahwa pembunuhan yang sangat menggemparkan telah terjadi, bahwa korban dibunuh di kamar tidurnya sendiri, lalu dokumen-dokumennya diobrak-abrik, dan mayatnya dilemparkan ke tumpukan kayu yang kemudian dibakar untuk menghilangkan jejak. Penyelidikan dipercayakan kepada Inspektur Lestrade dari Scotland Yard yang sudah berpengalaman yang saat ini sedang membuntuti petunjuk yang ada dengan penuh semangat dan cerdik."

Sherlock Holmes mendengarkan kisah yang luar biasa ini dengan mata tertutup dan kuku jemari yang saling dikatupkan.

"Kasus ini mengandung beberapa hal yang menarik," katanya dengan lesu. "Pertama-tama, bolehkah saya bertanya, Mr. McFarlane, bagaimana mungkin Anda masih bebas berkeliaran, padahal nampaknya ada cukup bukti untuk melaksanakan penangkapan Anda?"

"Saya tinggal bersama kedua orangtua saya di Torrington Lodge, Blackheath, Mr. Holmes, tapi karena urusan dengan Mr. Jonas Oldacre berakhir sangat larut tadi malam, saya lalu menginap di hotel di Norwood, lalu berangkat kerja dari sana. Saya baru tahu tentang kejadian itu ketika saya membaca berita yang baru Anda dengar tadi di kereta api. Saya langsung menyadari bahwa keadaan saya sangat berbahaya, jadi saya lalu menuju kemari untuk minta kesediaan Anda menangani kasus ini. Saya pasti sudah ditangkap kalau saja saya berada di kantor atau di rumah. Seseorang mengikuti saya sejak dari Stasiun London Bridge, dan saya yakin... Ya Tuhan, apa itu?"

Bel berbunyi, lalu terdengar langkah-langkah berat di tangga. Sesaat kemudian teman lama kami Inspektur Lestrade muncul di pintu. Dari atas pundaknya aku melihat bayangan polisi-polisi yang

menunggu di luar.

"Mr. John Hector McFarlane," kata Lestrade.

Klien kami yang malang berdiri dengan wajah ketakutan.

"Saya menahan Anda dengan tuduhan membunuh Mr. Jonas Oldacre dari Lower Norwood." McFarlane menoleh ke arah kami dengan putus asa, dan terjatuh kembali di kursinya seolah- olah telah didorong oleh seseorang.

"Sebentar, Lestrade," kata Holmes. "Kurasa kau tak keberatan menunggu selama kira-kira setengah jam, agar pemuda ini dapat membeberkan kisahnya yang menarik, yang mungkin bisa membantu kita dalam membereskannya."

"Saya rasa kami tak akan menemui kesulitan apa pun untuk memereskan kasus ini," kata Lestrade dengan geram.

"Bagaimanapun kalau kau mengizinkan, aku sangat ingin mendengar dari pihaknya."

"Yah, Mr. Holmes, susah bagi saya untuk menolak keinginan Anda karena Anda telah berjasa bagi kepolisian sekali atau dua kali, dan Scotland Yard ingin membalas budi kata Lestrade. "Tapi saya harus tetap dekat dengan tawanan saya itu, dan saya harus memperingatkannya bahwa semua yang dikatakannya akan dipakai sebagai bukti di pengadilan."

"Itu pun sudah cukup baik," kata klien kami "Yang saya inginkan hanyalah agar kalian semua mendengar dan mengetahui kisah sebenarnya."

Lestrade melihat jam tangannya. "Saya beri Anda kesempatan selama setengah jam," katanya. "Pertama-tama perlu saya jelaskan," kata McFarlane, "bahwa saya tidak tahu apa-apa mengenai Mr. Jonas Oldacre. Namanya memang tak asing bagi saya, karena puluhan tahun yang lalu orang tua saya bersahabat dengannya, tapi mereka lalu tak berhubungan lagi. Itulah sebabnya saya sangat terkejut ketika kemarin, kira-kira jam tiga siang, dia menemui saya di kantor. Saya lebih terkejut lagi ketika mengetahui maksud kedatangannya Dia membawa serta beberapa sobekan kertas yang berisikan tulisan cakar ayam—ini kertas-kertasnya— dan menaruhnya di meja saya.

menjadi bentuk yang resmi. Saya akan tunggu sementara Anda melakukan hal itu.'

"Saya pun melakukan apa yang dimintanya, dan kalian bisa bayangkan betapa terkejutnya saya ketika saya membaca bahwa semua kekayaannya diwariskan kepada saya dengan beberapa syarat. Mr. Jonas Oldacre itu orangnya aneh, kecil, dan mukanya seperti musang. Bulu matanya putih, dan ketika saya memandangnya, matanya yang tajam dan berwarna abu-abu sedang menatap saya dengan pandangan geli. Saya hampir-hampir tak bisa mempercayai indera saya sendiri ketika saya membaca isi surat wasiatnya, tapi dia menjelaskan bahwa dia seorang perjaka yang tak punya keluarga, dia pernah mengenal orangtua saya ketika dia masih muda, dia telah banyak mendengar bahwa saya pemuda yang baik, dan dia yakin uangnya akan jatuh ke orang yang layak menerima itu. Tentu saja saya hanya bisa menggumamkan terima kasih berkali-kali. Surat wasiat itu akhirnya selesai saya salin, dan ditandatanganinya dengan pegawai saya sebagai saksi. Inilah surat wasiat itu yang tertulis pada secarik kertas resmi berwarna biru, dan kertas-kertas lainnya itu adalah konsep kasarnya. Lalu Mr. Jonas Oldacre memberitahukan bahwa masih ada beberapa dokumen—kontrak sewa gedung-gedung, sertifikat tanah, surat-surat hipotek, saham, dan lain-lain—yang perlu saya lihat dan mengerti. Dia mengatakan bahwa pikirannya tak bisa tenang sebelum semua ini beres, dan dia meminta saya datang ke rumahnya di Norwood malam itu dengan membawa surat wasiat itu untuk membereskan semuanya. 'Ingat, Nak, jangan katakan sepatah kata pun kepada orangtuamu sampai semuanya beres. Kita akan memberikan kejutan pada mereka.' Dia sangat menekankan hal ini, dan meminta saya berjanji tak akan mengecewakannya.

"Bayangkan, Mr. Holmes, tentunya saya tak mungkin menolak permintaannya itu. Dia sangat dermawan kepada saya, dan saya tentu saja ingin melakukan apa saja yang dikehendakinya. Saya lalu mengirim telegram ke rumah, mengabarkan bahwa saya masih ada urusan dan tak bisa memastikan akan pulang jam berapa. Mr. Oldacre mengatakan akan makan malam bersama saya pada jam sembilan karena dia harus pergi ke tempat lain lagi. Saya mengalami kesulitan untuk menemukan alamatnya, dan ketika akhirnya saya sampai di sana sudah hampir jam setengah sepuluh. Saya menemuinya. "

"Sebentar!" kata Holmes. "Siapa yang membukakan pintu?"

"Seorang wanita setengah baya, mungkin pengurus rumah tangganya." "Dan dialah yang menyebutkan nama Anda kepada polisi, bukan?"

"Benar," kata McFarlane. "Silakan dilanjutkan."

Mr. McFarlane mengusap alisnya yang basah, lalu melanjutkan kisahnya. "Saya diantar wanita itu ke sebuah ruang duduk di mana sudah disiapkan makan malam sederhana. Kemudian Mr. Jonas Oldacre mempersilakan saya memasuki kamar tidurnya. Di situ ada sebuah lemari besi. Dibukanya lemari itu dan dikeluarkannya setumpuk dokumen yang lalu kami teliti bersama sampai antara pukul sebelas dan dua belas. Dia berkata bahwa kami tak perlu membangunkan pembantu wanitanya. Dia menyuruh saya keluar dari jendela kamarnya yang selama itu memang terbuka."

"Apakah kerai jendela itu tertutup?" tanya Holmes.

"Saya tak tahu pasti, tapi saya kira kerai itu tertutup sebagian. Ya, saya ingat dia menaikkan kerai itu sehingga jendelanya terbuka lebar. Saya mencari-cari tongkat saya tapi tidak ketemu, dan dia berkata, 'Tak apalah, Nak, aku toh akan sering berjumpa denganmu. Tongkat itu akan aku simpan sampai kau mengambilnya nanti.' Saya meninggalkannya. Ketika itu lemari besinya masih dalam keadaan terbuka, dan dokumen-dokumennya sudah dirapikan dan ditaruh di atas meja. Hari sudah terlalu malam sehingga tak ada lagi kendaraan yang bisa membawa saya ke Blackheath. Saya lalu menginap di Anerley Arms. Saya tak tahu apa-apa lagi sampai saya membaca berita mengerikan itu keesokan paginya."

"Ada yang mau ditanyakan lagi, Mr. Holmes?" tanya Lestrade. Alisnya naik beberapa kali ketika mendengarkan penjelasan yang luar biasa ini.

"Tak ada lagi, sampai aku mengunjungi Blackheath."

"Maksud Anda Norwood," sela Lestrade.

"Oh, ya, betul itulah yang kumaksud," kata Holmes sambil tersenyum penuh teka-teki. Dari pengalaman, Lestrade telah maklum

bahwa otak temanku yang tajamnya seperti pisau silet ini bisa memotong suatu masalah secara lebih dalam dari apa yang mampu ditembusnya. Dia memandang temanku dengan penasaran.

"Saya rasa saya ingin berbicara dengan Anda sebentar, Mr. Sherlock Holmes," katanya. "Mr. McFarlane, Anda sudah ditunggu oleh dua orang polisi di luar, dan kereta yang akan membawa Anda sudah siap pula." Pemuda yang putus asa itu bangkit, dan dengan tatapan terakhir yang amat memohon kepada kami, dia berjalan meninggalkan ruangan. Kedua petugas di luar langsung membawanya ke kereta, tapi Lestrade tinggal di tempat kami.

Holmes mengambil kertas-kertas yang berisi konsep surat wasiat itu, dan memandangnya dengan penuh perhatian.

"Ada hal-hal yang aneh dengan dokumen ini, Lestrade, ya, kan?" katanya sambil menyodorkan kertas kertas itu.

Inspektur itu memandang kertas kertas itu dengan ekspresi penuh tanda tanya.

"Saya bisa membaca baris-baris awalnya, dan juga baris-baris di tengah halaman dua, dan satu dua kalimat di bagian akhir. Bagian-bagian itu memang jelas sekali," katanya, "tapi tulisan lainnya sangat jelek, dan ada tiga tempat yang tak terbaca sama sekali oleh saya."

"Apa kesimpulanmu?" tanya Holmes. "Lho, bagaimana dengan Anda sendiri?"

"Surat itu ditulis di kereta api; tulisan yang baik ditulis di stasiun, tulisan yang jelek ditulis ketika berada dalam kereta yang sedang berjalan, dan tulisan yang tak terbaca itu ditulis ketika kereta api melewati tikungan-tikungan. Seseorang yang ahli akan segera tahu bahwa dokumen itu ditulis di sebuah kereta api pinggiran kota sebab harus melewati banyak tikungan. Karena penulisnya sibuk menulis dokumen ini sepanjang perjalanan, kereta api yang dilumpanginya pastilah kereta api ekspres, yang hanya berhenti sekali antara Norwood dan London Bridge."

Lestrade tertawa.

"Anda luar biasa kalau sudah mulai mengemukakan teori-teori Anda, Mr. Holmes," katanya "Apa hubungannya dengan kasus ini?"

dalam perjalanannya kemarin? Aneh, ya? Bagaimana mungkin seseorang menuliskan dokumen yang sedemikian pentingnya secara sembarangan begitu. Artinya dia tak serius dengan hal itu. Dia tidak sungguh-sungguh ingin wasiat itu diberlakukan."

"Yah, dia sekaligus menuliskan surat kematiannya sendiri," kata Lestrade. "Oh, begitukah menurutmu?"

"Tidakkah Anda berpikir demikian juga?"

"Yah, bisa saja, tapi kasus ini masih kabur bagiku."

"Kabur? Astaga, kalau itu masih kabur, apa lagi yang bisa membuat Anda jelas? Ada seorang pemuda yang tiba-tiba menyadari bahwa kalau orang tua itu mati, dia akan mewarisi kekayaan yang besar jumlahnya. Apa yang dilakukannya? Dia tutup mulut kepada siapa pun juga, lalu mengatur seolah-olah dia menemui kliennya malam itu. Dia menunggu sampai satu satunya penghuni lain di rumah itu pergi tidur, lalu di kamar orang tua yang sepi itu dia membunuhnya, membakar mayatnya di tumpukan kayu, dan segera menuju ke hotel di dekat situ. Darah yang tercecer di kamar dan di tongkat itu sangat tak kentara. Mungkin saja dia mengira pembunuhan itu tak akan menumpahkan darah, dan mengharap bahwa kalau mayat itu terbakar, semua jejaknya bisa disembunyikan—jejak yang ternyata justru mengarah pada dirinya. Apakah semua ini tak cukup jelas?"

"Aku heran, Lestrade yang baik, justru karena terlalu jelasnya itu," kata Holmes. "Memang biasanya berkhayal itu tidak baik, tapi kalau kau bisa sejenak menempatkan diri sebagai pemuda itu,

Dalam dokumen 4. Kembalinya Sherlock Holmes PDF (Halaman 145-172)

Dokumen terkait