Pemerintah melalui Kebijak an Ekonomi Jilid 2 mengeluarkan sebuah fasilitas yang diharapkan dapat mendekatkan logistik dari kegiatan impor serta memangkas waktu logistik yang dibutuhkan dalam kegiatan impor barang, sehingga daya saing industri dalam negeri dapat meningkat dan tidak terganggu karena biaya logistik yang tinggi.
GMF dalam hal ini diusulkan Pemerintah menjadi salah satu calon penerima Fasilitas Pusat Logistik Berikat (PLB) batch 2. Fasilitas PLB ini diharapkan menjadi solusi dalam mendukung kecepatan aliran distribusi alat dan suku cadang perawatan pesawat udara, di mana industri manufaktur dan distributor resmi dapat menempatkan materialnya di area PLB sehingga jarak antara pelaku industri aviasi di Indonesia dengan manufaktur lebih dekat jaraknya.
Fasilitas ini menjadi momentum dalam meningkatkan daya saing industri perawatan pesawat terbang yang akan smakin bertumbuh di area Asia, sehingga Indonesia mempunyai peran besar dalam industri perawatan pesawat terbang di dunia (baik dari sisi man power dan teknologi).
GMF mempunyai kewajiban Fiskal terutama pembayaran Bea Masuk dalam Kegiatan Impor suku cadang pesawat dan material yang dibutuhkan dalam perawatan pesawat udara. Saat ini belum peraturan perundang-undangan yang mengatur pembebasan bea masuk untuk industri aviasi dan perawatan pesawat udara dikarenakan tidak sesuai dengan kriteria Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan pasal 25 dan pasal 26.
Oleh sebab itu, GMF melalui asosiasi IAMSA melakukan komunikasi dengan pihak pemerintah dalam mengajukan penurunan tarif bea masuk menjadi 0% untuk pos tarif yang berelasi dengan uraian suku cadang pesawat udara dan material pendukung perawatan pesawat udara.
Passing through Economics Policy Volume 2, Government established facility purposed to bring logistics close to imports and cut logistics time which needed in goods imports. This was purposed to increase domestic competiveness and avoid the inluence of high logistics cost.
GMF was adressed by government to receive Bounded Logistic Center Facility batch 2. This PLB facility was supposed to give solution in supporting continuity of equipment distribution and aircraft maintenance spare parts, where manufacture industry and legal distributor put the materials in PLB area so that distance between aviation industrialists in Indonesia and manufacture was closer.
This facility became momentum in increasing aircraft industry competitiveness that would grow continually in Asia, so that Indonesia played an important role in aircraft industry in the world (whether from manpower and technology side).
GMF had Fiscal responsibility especially in Customs and Excise charge in aircraft spare part and material imports which needed in aircraft maintenance. At this time, there is no regulation controler to free the charge for aviation industry and aircraft maintenance. It occurs because it is not appropriate with Regulation Number 17 2006 about Customs section 25 and section 26.
Therefore, GMF through IAMSA association made a communication with government in proposing the decreasment of import duty rates to become 0% for rate post that is related to aircraft spare parts description and supporting material for aircraft maintenance.
135 Laporan Tahunan 2015 | Annual Report
diturunkan menjadi 0%, sudah 25 pos tarif yang sudah disetujui untuk diturunkan menjadi 0% dan telah diatur dalam perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 213 tahun 2011.
Adapun 27 pos tarif yang diajukan merupakan pos tarif yang memiliki kata “pesawat udara” uraian barang. Sedangkan jumlah populasi pos tarif, menurut Ketentuan Umum dalam mengintrepetasikan HS Code (KUM-HS), yang berhubungan dengan suku cadang pesawat udara dan material perawatan pesawat udara mencapai lebih dari 300 pos tarif (HS Code).
Perlu dilakukan komunikasi yang intens dengan pihak pemerintah agar dapat diberikan kemudahan iskal untuk kegiatan perawatan pesawat udara, hal ini dikarenakan suku cadang atau material yang digunakan masih 100% impor dan belum ada industri dalam negeri yang mampu memenuhi kebutuhan industri MRO sesuai dengan standar kualitas yang telah ditetapkan.
Selama ini GMF terbantu dengan fasilitas Tempat Penimbunan Berik at yang mempunyai konsep penangguhan Bea-bea Masuk selama material masih berada di area Penimbunan Berikat dan belum dipakai ke pesawat beregistrasi PK.
Berikut data realisasi dan proyeksi Bea Masuk PT GMF AeroAsia dikarenakan keluar dari Area Penimbunan Berikat dan dipakai ke pesawat beregistrasi PK.
decreased into 0%, it has been 25 posts that is approved and it has been organized in the change of Minister of Finance Regulation No. 213, 2011.
As for 27 proposed rate posts is rate posts that has the word “aircraft” on description of the goods. While the total population of rate posts, according to the General Requirements in interpreting HS Code (KUM-HS), which is associated with aircraft parts and maintenance material reached more than 300 rates post (HS Code).
It is necessary to make an intense communication with government so that fiscal simplicity could be given for aircrafts maintenance activities. It is caused by currently used parts or materials are still 100% import products and there are not any local industries which can fulill the MRO industrial needs in accordance with quality standards that have been set.
All this time, GMF has been helped by Bonded Hoarding Place facilities which has import duties’ delay as long as the materials are still in Bonded Hoarding Place and it has not been used by PK-registered airplane.
The following is Import Duty projection and realization data of PT GMF AeroAsia because of out from Bonded Hoarding Place and it is used to PK-registered airplanes.
136 Laporan Tahunan 2015 | Annual Report
Analisis IndustriIndustrial Analysis
136 Laporan Tahunan 2015 | Annual Report