• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kontribusi KRPL KEMPLING terhadap Pendapatan Keluarga Pendapatan luar usaha KRPL berasal dari pendapatan anggota keluarga

KRPL KEMPLING Manfaat

6.3 Biaya dan Manfaat KRPL KEMPLING

6.3.5 Kontribusi KRPL KEMPLING terhadap Pendapatan Keluarga Pendapatan luar usaha KRPL berasal dari pendapatan anggota keluarga

seperti suami atau istri dan anak. Jenis pekerjaan dari luar usaha KRPL yang menjadi sumber pendapatan diperoleh dari beraneka ragam pekerjaan. Distribusi pekerjaan luar usaha KRPL dari keluarga strata 1, strata 2, dan strata 3 dapat dilihat pada Tabel 39-42.

Tabel 39. Distrbusi Pekerjaan Luar Usaha KRPL dari Keluarga Strata 1

No Jenis Pekerjaan Jumlah Respondn (orang) Rata-rata Pendapatan (Rp/Bulan) 1 Petani 1 400.000 2 PNS 5 2.070.000 3 Buruh 2 575.000 4 Wiraswasta 9 1.416.667 5 Pensiun+buruh 2 1.500.000 6 Petani+buruh 2 1.101.667 7 Wiraswasta+buruh 9 1.550.000

Rata-rata pendapatan (Rp/Bulan)

30 1.230.476

Rata-rata pendapatan (Rp/Tahun) 14.765.714

Sumber : Data Primer, diolah (2012)

Berdasarkan Tabel 39 menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan yang paling besar pada sektor PNS yaitu rata-rata Rp 2.070.000 dan pendapatan yang paling kecil pada sektor petani yaitu rata-rata Rp 400.000. Sebagian rumah tangga strata 1 bekerja di sektor wiraswasta, kombinasi wiraswasta dan buruh dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp 1.416.667 dan Rp 1.550.000.

87 Sebagian rumah tangga strata 2 bekerja di sektor wiraswasta dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp 1.821.429. Distribusi pekerjaan luar usaha KRPL strata 2 dapat dilihat pada Tabel 40.

Tabel 40. Distrbusi Pekerjaan Luar Usaha KRPL dari Keluarga Strata 2

No Jenis Pekerjaan Jumlah Responden

(orang) Rata-rata Pendapatan (Rp/Bulan) 1 Swasta 4 2.150.000 2 Wiraswata 7 1.821.429 3 PNS 3 3.275.000 4 Petani+buruh 4 939.208 5 Wirawswata+buruh 2 1.825.000 6 Petani+wirawasata 3 1.917.444 7 Petani+PNS 2 1.497.833 Rata-rata pendapatan (Rp/Bulan) 25 1.917.988 Rata-rata pendapatan (Rp/Tahun) 23.015.854

Sumber : Data Primer, diolah (2012)

Berdasarkan Tabel 40 menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan yang paling besar berada pada sektor PNS sebesar Rp 3.275.000. Rata-rata pendapatan yang paling kecil berada pada sektor kombinasi petani dan buruh sebesar Rp 939.208.

Tabel 41. Distrbusi Pekerjaan Luar Usaha KRPL dari Keluarga Strata 3

No Jenis Pekerjaan Jumlah Responden

(orang) Rata-rata Pendapatan (Rp/Bulan) 1 PNS 6 3.666.667 2 Wiraswasta 3 3.437.500 3 Wiraswasta+Buruh 5 2.314.000 4 Petani+Buruh 1 1.600.000 5 Petani+Wiraswasta 6 2.316.667 6 PNS+Wiraswasta 2 3.025.000 7 Pensiunan+Wiraswasta 1 2.000.000 8 PNS+Swasta 1 2.300.000

Rata-rata pendapatan (Rp/Bulan)

25 2.582.479

Rata-rata pendapatan (Rp/Tahun) 30.989.750

Sumber : Data Primer, diolah (2012)

Berdasarkan Tabel 41 menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan yang paling besar pada sektor PNS yaitu rata-rata Rp 3.666.667. Pendapatan yang

88 paling kecil pada sektor kombinasi petani dan buruh yaitu rata-rata Rp 1.600.000. Sebagian rumah tangga strata 3 bekerja di sektor PNS dan kombinasi petani+wiraswasta dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp 3.666.667 dan Rp 2.316.667. Rata-rata kontribusi KRPL terhadap pendapatan rumah tangga disajikan pada Tabel 42.

Tabel 42. Rata-Rata Kontribusi KRPL KEMPLING terhadap Pendapatan Rumah Tangga Setiap Strata per Tahun

Strata Rata-rata Pendapatan (Rp/Tahun) Rata-rata Kontribusi

KRPL (%)

Pendapatan KRPL Pendapatan Luar

1 889.100 14.765.714 5,70

2 2.387.944 23.015.854 9,90

3 7.927.236 30.989.750 20,37

Sumber : Data Primer, diolah (2012)

Berdasarkan Tabel 42 menunjukkan bahwa rata-rata kontribusi KRPL terhadap pendapatan rumah tangga pada strata 1, strata 2, dan strata 3 masing-masing sebesar 5,70%, 9,90%, dan 20,37%. Pengembangan KRPL di Desa Banjarsari yang dijalankan oleh rumah tangga merupakan usaha sampingan. Kontribusi KRPL KEMPLING yang paling besar berada di strata 3 dengan ditunjukkan dari pendapatan KRPL dan pendapatan diluar KRPL yang meningkat. Hal ini disebabkan oleh (1) luasan lahan pada strata 3 lebih besar dengan rata-rata luas pekarangan 305 m2 ; (2) Komoditas strata 3 lebih beragam; (3) Pendapatan luar KRPL lebih tinggi yaitu dominan di PNS dan wiraswasta; (4) Penggabungan pekerjaan strata 3 lebih banyak yaitu 6 pengelompokan dibandingakan strata 1 dan strata 2; (5) Penggabungan pekerjaan yang pendapatannya paling kecil yaitu petani+buruh disebabkan luas lahan kepemilikan sawah di strata 3 lebih luas. Oleh karena itu, KRPL KEMPLING merupakan usaha sampingan bagi rumah tangga di Desa Banjarsari.

89 6.4 Keberlanjutan KRPL KEMPLING

Pengembangan KRPL dirancang melalui optimalisasi pekarangan sebagai suatu unit usaha secara terpadu untuk mendukung penyediaan pangan secara keberlanjutan. Peran serta masyarakat merupakan kunci utama yang diharapkan dapat mewujudkan penyediaan secara keberlanjutan. Evaluasi terhadap KRPL dapat dilakukan dengan mengetahui sejauhmana pencapaian tujuan utama ini selama implementasinya di lapangan. Tujuan utama berupa pemanfaatan pekarangan dan masyarakat sejahtera dapat dilihat dari tiga aspek yang lebih spesifik yaitu aspek lingkungan, aspek ekonomi dan aspek sosial.

Aspek lingkungan berarti menilai keberhasilan KRPL melalui kemampuannya dalam menjaga kelestarian sumberdaya alam khususnya pekarangan. Salah satu variabel penilaian kualitas kelestarian pekarangan adalah dengan melihat bagaimana KRPL mampu meningkatkan kegiatan tanam menanam sehingga dapat memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Sejak diimplementasikan di Desa Banjarsari, KRPL telah mampu meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya yang tergabung dalam KRPL untuk turut menjaga sumberdaya alam di wilayahnya.

Pada pelaksanaan KRPL KEMPLING dengan melihat dari aspek lingkungan telah berhasil melaksanakan kegiatan lingkungan secara dini yang diberikan kepada siswa siswi SD dengan nama Fun School Garden (FSG). Kegiatan tersebut dilaksanakan selama satu bulan dan yang bekerja sebagai pengajar dari Tim PPL Banjarsari. Tim PPL Desa Banjarsari mengajarkan mengenai budidaya tanaman sayuran dari penyiapan lahan hingga panen.

90 Pengembangan KRPL KEMPLING secara ekologis telah membantu meningkatkan kualitas tanaman di pekarangan. Selama melakukan kegiatan tanam menanam, sebagian besar rumah tangga memberikan pemupukan dengan pupuk kandang maupun sampah sisa-sisa rumah tangga. Pelaksanaan kegiatan KRPL KEMPLING dapat membuat kondisi Desa Banjarsari menjadi ramah lingkungan. Pelaksanaan KRPL KEMPLING mampu menambah keindahan setiap rumah sehingga membuat rumah menjadi lebih ASRI. Desa Banjarsari juga memberikan stimulun bagi desa sebelah agar mengembangkan KRPL.

Dilihat dari aspek sosial, pengembangan KRPL di Desa Banjarsari akan terus didukung masyarakat karena mampu menambah ilmu pengetahuan dan meningkatkan gotong royong antar rumah tangga. Masyarakat dapat menjadikan KRPL sebagai sarana aktualisasi dan pengembangan diri bagi Desa Banjarsari. Pelaksanaaan KRPL ini mampu menambah komunikasi dengan Dinas-Dinas terkait di Kabupaten Pacitan seperti Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Badan Ketahanan Pangan, Dinas Perikanan, Dinas Perkebunan dan Kehutanan. Pihak-pihak yang terkait tersebut memberikan sosialisasi dalam bentuk penyuluhan sehingga masyarakat dapat meningkatkan skill untuk mengoptimalisasi pekarangan.

Implementasi KRPL di lapangan dari aspek ekonomi hingga tahun 2012 memang belum menunjukkan sumbangan yang berarti. Hal ini karena pelaksanaan KRPL di Desa Banjarsari sendiri yang hampir berjalan dua tahun. Keberlanjutan KRPL ditinjau dari mampu menekan pengeluaran rumah tangga dan keberadaan KBD sebagai penyedia atau menjual hasil dari komoditas KRPL di Desa Banjar-sari. Pelaksanaan KRPL mampu menekan pengeluaran rumah tangga yang

91 ditunjukkan dengan pada strata 1, strata 2, dan strata 3 berorientasi untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Penghematan pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi pangan disajikan pada Tabel 43.

Tabel 43. Penghematan Pengeluaran Rumah Tangga KRPL KEMPLING

Klasifikasi Persentase (%) Persentase (%) Penghematan

Pengeluaran rumah tangga (Rp/bulan) Strata 1 Sayuran 62,70 49.508 Strata 2 Sayuran 58,26 55.089

Telur ayam buras 57,00

Strata 3

Sayuran 71,46

130.751

Telur ayam buras 65,00

Perikanan 24,50

Sumber : Data Primer, diolah (2012)

Berdasarkan Tabel 42 menunjukkan bahwa strata yang paling besar menekan pengeluaran rumah tangga dalam konsumsi pangan yaitu strata 3 sebesar Rp 130.751/bulan. Penghematan pengeluaran pada strata 1 dan 2 hanya terpaut sedikit yaitu sebesar Rp 5.581. Hal ini ditunjukkan dengan penggunaan sayuran strata 2 memiliki nilai penghematan pengeluaran paling kecil dibandingkan dengan strata 1 dan strata 3 karena penggunaan sayuran strata 2 lebih berorientasi untuk sosial.

Tahun proyek menggunakan bangunan dari KBD dengan umur teknis 5 tahun. Umur teknis ini didasarkan oleh Fitriyani (2006) yang menyatakan bahwa umur kandang ayam memiliki masa pakai 2-5 tahun yang terbuat dari bambu dan kayu. Bahan pembuatan KBD terdiri dari bambu dan kayu. Atap KBD terbuat dari plastik yang berlantaikan tanah.

Analisis ini menggunakan tingkat discount factor sebesar 12% yang didis-kontokan dengan nilai manfaat bersih (net benefit) yang diperoleh dari perhi-tungan arus kas (cash flow). Tingkat suku bunga (discount factor) sebesar 12%

92 yang digunakan dalam pengembangan KBD merupakan tingkat suku bunga pinjaman di salah satu bank di Indonesia, dimana bank tersebut yang mudah diakses oleh masyarakat Desa Banjarsari. Pelaksanaan KBD di Desa Banjarsari dilakukan secara komunal.

Penerimaan yang diperoleh KBD sebesar Rp 14.000.000 setiap tahun dengan menggalikan harga, jumlah voker, dan jumlah bibit setiap voker. KBD dalam satu tahun melakukan tanam-menanam sebanyak empat kali. Penerimaan tersebut terdiri dari: (1) Penerimaan tunai sebesar Rp 275.000 dari penjualan voker setiap tanam; (2) Penerimaan non tunai sebesar Rp 3.225.000 dalam sekali tanam. Penerimaan non tunai di KBD merupakan penerimaan dimana ketersediaan benih/bibit dikonsumsi oleh rumah tangga Desa Banjarsari untuk mencukupi kebutuhan di pekarangan. Jumlah penerimaan yang diterima KBD selama umur proyek yaitu 5 tahun diasumsikan tetap. Penerimaan yang diperoleh KBD, nantinya dipergunakan dari dan untuk masyarakat Desa Banjarsari.

Biaya di KBD dibagi menjadi dua yaitu: (1) Biaya tunai; dan (2) Biaya non tunai. Biaya tunai terdiri dari pembelian benih selama sekali tanam dan biaya non tunai terdiri dari daun pisang, pupuk kandang, tenaga kerja, dan lain-lain. Biaya tunai yang dikeluarkan KBD sebesar Rp 271.250 sekali tanam. Biaya non tunai yang dikeluarkan KBD sebesar Rp 2.492.500 sekali tanam.

Pada pengembangan KBD terdapat dua kondisi yaitu (1) kondisi adanya bantuan dari Kecamatan Pacitan yang digunakan merenovasi KBD dan membeli bibit/benih untuk KBD; (2) kondisi tanpa ada bantuan dari pemerintah. Kondisi tanpa adanya bantuan diperoleh dari pemutaran uang yang didapat dari KBD. Biaya investasi pembangunan KBD untuk kondisi tanpa ada banatuan

93 diasumsikan dengan sebesar Rp 2.500.000 sama dengan bantuan dari Kecamatan Pacitan. Hal ini dikarenakan keterbatasan responden untuk mengingat harga dan jumlah alat serta bahan yang digunakan dalam pembangunan KBD. Gambaran dua kondisi pendapatan KBD dapat dilihat pada Tabel 44 dan Tabel 45.

Tabel 44. Gambaran Pendapatan KBD di Desa Banjarsari dengan adanya Bantuan

Tahun Benefit (Rp) Cost (Rp) Pendapatan (Rp)

1 16.500.000 11.055.000 5.445.000 2 14.000.000 11.252.500 2.747.500 3 14.000.000 11.055.000 2.945.000 4 14.000.000 11.252.500 2.747.500 5 14.000.000 11.055.000 2.945.000 NPV 12.565.248 Gross B/C 1,29

Sumber : Data Primer, diolah (2012) Asumsi :

i. Harga bibit per voker di KBD Rp. 500 ii. KBD memiliki wadah 35 papan voker iii. Satu voker berisi 200 bibit

iv. Bibit tidak ada yang rusak/mati v. Ukuran voker 45 cm x 60 cm

Berdasarkan Tabel 44 menunjukkan hasil perhitungan bahwa gambaran pendapatan KBD di Desa Banjarsari dan tingkat suku bunga 12% memenuhi semua kriteria kelayakan. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, diperoleh hasil bahwa:

1) Nilai NPV yang diperoleh lebih dari nol (NPV>0) yaitu sebesar Rp 12.565.248. Artinya, jumlah manfaat bersih dari usaha KBD ini selama

umur proyek yaitu 5 tahun dengan tingkat suku bunga 12% sebesar Rp 12.565.248 sehingga usaha tersebut layak untuk dijalankan.

2) Pada kriteria investasi yang kedua yaitu nilai gross B/C yang diperoleh lebih dari satu (gross B/C>1) yaitu sebesar 1,29. Artinya, setiap Rp 1,00 biaya dikeluarkan oleh KBD selama umur usaha yaitu 5 tahun mampu menghasilkan

94 manfaat kotor sebesar Rp 1,29 sehingga usaha tersebut dikatakan layak untuk dijalankan.

Tabel 45. Gambaran Pendapatan KBD di Desa Banjarsari Tanpa Bantuan

Tahun Benefit (Rp) Cost (Rp) Pendapatan (Rp)

1 14.000.000 13.555.000 445.000 2 14.000.000 11.252.500 2.747.500 3 14.000.000 11.055.000 2.945.000 4 14.000.000 11.252.500 2.747.500 5 14.000.000 11.055.000 2.945.000 NPV 8.100.962 Gross B/C 1,21

Sumber : Data Primer, diolah (2012) Asumsi :

i. Harga bibit per voker di KBD Rp. 500 ii. KBD memiliki wadah 35 papan voker iii.Satu voker berisi 200 bibit

iv. Bibit tidak ada yang rusak/mati v. Ukuran voker 45 cm x 60 cm

Berdasarkan Tabel 45 menunjukkan hasil perhitungan bahwa gambaran pendapatan KBD di Desa Banjarsari dan tingkat suku bunga 12% memenuhi semua kriteria kelayakan. Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, diperoleh hasil bahwa:

1) Nilai NPV yang diperoleh lebih dari nol (NPV>0) yaitu sebesar Rp 8.100.962. Artinya, jumlah manfaat bersih dari usaha KBD ini selama umur proyek yaitu 5 tahun dengan tingkat suku bunga 12% sebesar Rp 8.100.962 sehingga usaha tersebut layak untuk dijalankan.

2) Pada kriteria investasi yang kedua yaitu nilai gross B/C yang diperoleh lebih dari satu (gross B/C>1) yaitu sebesar 1,21. Artinya, setiap Rp 1,00 biaya dikeluarkan oleh KBD selama umur usaha yaitu 5 tahun mampu menghasilkan manfaat kotor sebesar Rp 1,21 sehingga usaha tersebut dikatakan layak untuk dijalankan.

Berbagai perspektif dari ketiga sudut pandang yaitu aspek lingkungan, aspek sosial, dan aspek ekonomi tersebut mengindikasikan bahwa KRPL memang

95 layak untuk terus dikembangkan dan didukung oleh semua pihak yang terlibat. Dinas-dinas yang terkait sebagai stakeholder mendapatkan keuntungan dari terjaganya pekarangan dan penyediaan pangan secara berkelanjutan. Masyarakat yang terlibat langsung dapat merasakan manfaat ekonomi dan sosial dari berjalannya KRPL KEMPLING. Walaupun masih terdapat berbagai masalah dalam pelaksanaan KRPL di Desa Banjarsari, masalah tersebut masih dapat diatasi mengingat ini baru berjalan efektif hampir berjalan dua tahun. Kuncinya adalah tekad dari setiap pihak yang terlibat untuk saling bekerjasama mengatasi berbagai masalah yang masih terjadi, demi tercapainya tujuan utama KRPL yaitu optimalisasi pekarangan untuk mendukung penyediaan pangan secara keberlanjutan.

96 VII. SIMPULAN DAN SARAN

7.1 Simpulan

Beberapa hal yang dapat disimpulkan berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya adalah sebagai berikut:

1) Persepsi rumah tangga Desa Banjarsari menyatakan bahwa sebelum adanya KRPL KEMPLING lahan pemanfaatan pekarangan sudah termanfaatkan namun belum optimal. Desa Banjarsari mulai melakukan optimalisasi pekarangan untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dengan menambah sayuran. Manfaat yang dirasakan rumah tangga KRPL KEMPLING adalah menghemat pengeluaran rumah tangga dan menambah penghasilan. Kendala yang dirasakan rumah tangga dalam pelaksanaan KRPL KEMPLING adalah iklim dan hama.

2) Manfaat fisik dari KRPL KEMPLING mampu memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga. Penggunaan hasil KRPL KEMPLING dari setiap strata menunjukkan bahwa KRPL KEMPLING berorientasi untuk memenuhi kebutuhan pangan, apabila kebutuhan pangan keluarga di Desa Banjarsari sudah terpenuhi, maka sisa penggunaannya diberikan untuk sosial dan dijual. Penggunaan perikanan strata 3 berorientasi untuk dijual.

3) Nilai R/C KRPL KEMPLING di setiap strata menunjukan hasil yang menguntungkan. Nilai R/C KRPL KEMPLING yang menunjukan hasil menguntungkan terdapat di strata 3. Rata-rata pendapatan per luasan lahan yang paling besar pada strata 1 yaitu sebesar Rp 30.659 dan pendapatan per luas lahan yang paling kecil pada strata 2 sebesar Rp 15.920. Kontribusi KRPL KEMPLING terhadap pendapatan keluarga diperoleh untuk strata 1,

97 strata 2, dan strata 3 yaitu masing-masing sebesar 5,70%, 9,90%, dan 20,37%. Pengembangan KRPL KEMPLING merupakan usaha sampingan bagi keluarga di Desa Banjarsari.

4) Keberlanjutan KRPL KEMPLING ditinjau dari aspek lingkungan dan aspek sosial mampu memberikan manfaat untuk individu, rumah tangga, dan desa. Aspek ekonomi dengan melihat dari KRPL KEMPLING mampu menekan pengeluaran keluarga strata 1, strata 2, dan strata 3 sebesar Rp 49.508, Rp 55.089, Rp 130.751. Aspek ekonomi juga melihat keberadaan KBD di Desa Banjarsari yang mampu memberikan keuntungan bagi masyarakat. 7.2 Saran

Berdasarkan uraian dan pembahasan yang telah dijelaskan, dapat disarankan beberapa hal terkait dengan pelaksanaan KRPL sebagai berikut : 1) Keterbatasan strata 1 dalam pemenuhan kebutuhan pupuk bagi lahannya

sebaiknya melakukan pembuatan pupuk bokashi secara rutin oleh semua strata. Hal ini terkait dengan bahan baku kotoran ternak yang dapat diperoleh dari strata 2 dan strata 3 yang merupakan limbah kegiatan KRPL pada strata tersebut.

2) Bagi masyarakat di Desa Banjarsari strata 3 untuk mengurangi biaya pakan ikan, maka perlu mengembangkan pakan buatan sendiri dengan menggunakan cacing, bekicot, atau keong yang dapat diperoleh di tanaman rumah, hutan, maupun sungai sekitar Desa Banjarsari.

3) Bagi masyarakat Desa Banjarsari untuk meningkatkan produktivitas sayuran, maka perlu mengembangkan teknik penanaman dengan cara pagar hidup dan memanfaatkan barang bekas untuk media menanam sayuran di pekarangan.

98 DAFTAR PUSTAKA

Afrinis, Nur. 2009. Pengaruh Program Home Gardening dan Penyuluhan Gizi terhadap Pemanfaatan Pekarangan dan Konsumsi Pangan Balita. [Tesis]. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Pertanian. Bogor.

Anonim. 2011. Jaga Ketahanan Pangan, BKP bikin Rumah Hi-jau.http://www.kabarbisnis.com/life-style/agribisnis/2817884 diakses pada tanggal 12 Maret 2012.

Anonim. 2011. Program Gerakan Perempuan untuk Optimalisasi Pekarangan (GPOP). http://depok.go.id diakses tanggal 23 Maret 2012

Azmi, Zainul. 2008. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan PetaniMengikuti Program Pengelolaan Hutan Bersama MasyarakatSerta Pengaruhnya terhadap Pendapatan dan Curahan Kerja(Studi Kasus Desa Babakan, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor). [Skripsi]. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Badan Ketahanan Pangan.2012. . Badan

Ketahanan Pangan. Surabaya.

Badan Pusat Statistik. 2011. Penduduk Indonesia Menurut Propinsi 1971, 1980, 1990, 1995, 2000 dan 2010. http://bps.go.id diakses tanggal 23 maret 2012 Badan Pusat Statistik. 2011. Rata-Rata Konsumsi Protein (gram) per Kapita

Menurut Kelompok Makanan 1999, 2002 – 2011. http://bps.go.id diakses tanggal 23 Maret 2012

Badan Pusat Statistik. 2011.Rata-Rata Konsumsi Kalori (KKal) per Kapita Sehari Menurut Kelompok Makanan 2007-2011. http://bps.go.id diakses tanggal 23 Maret 2012

Departemen Pertanian. 2001. Rencana Strategis dan Program Kerja Pemantapan Ketahanan Pangan Tahun 2001-2004. Badan Bimas Ketahanan Pangan. Departemen Pertanian. Jakarta.

Fitriyani, Ria. 2006. Kontribusi Usaha Ternak Ayam Buras terhadap Pendapatan Keluarga di Desa Tamansari Keamatan Tamansari Bogor. [Skripsi]. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Gittinger, J. Price. 1986. Analisa Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Hasan, Iqbal. 2001. Pokok-Pokok Materi Statistik 1 (Statistik Deskriptif). PT Bumi Aksara. Jakarta.

99 Hernanto, F. 1980. Ilmu Usahatani dalam Rangka Penataran Rural Credit Project- Bank Rakyat Indonesia. Unit Penataraan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Kementerian Pertanian. 2012. Laporan Kinerja Kementerian Pertanian Tahun

2011. Kementerian Pertanian. Jakarta.

Kementerian Pertanian. 2011. Pedoman Umum Model Kawasan Rumah Pangan Lestari. Kementerian Pertanian. Jakarta.

Kementerian Pertanian. 2012. Pedoman Umum Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP). Kementerian Pertanian. Jakarta.http://www.deptan.go.id/pedum2012/BKP/3.%20pedum-P2KP-bkp2012.pdf diakses pada tanggal 20 Maret 2012.

Marwanti, 1986. Keberhasilan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga dan Kesehatan Balita di Kabupaten Sleman Yogyakarta. Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. IKIP Yogyakarta. Yogyakarta.

Pari, Rohmah. 2004. Pengembangan Pekarangan untuk Mendukung Gerakan Budaya Mandiri Kesehatan Alami (BUMIKITA) di Kelurahan Situ Gede, Kecamatan Bogor barat, Kotamadya Bogor. [Skripsi]. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Prasetyo, Jannah, Lina Miftahul. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Rihastuti, Deny Dwi. 1993. Studi Perbandingan Dampak Pemanfaatan Lahan Pekarangan Antara Keluarga Perserta dan Bukan Peserta Kursus Pemanfaa-tan Lahan Pekarangan (Studi Kasus di Desa Cimanggu I dan Desa Sukama-ju, Kecamatan Cibungbulan, Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor, Provinsi Jawa Barat).[Skripsi]. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Rukmana, Rahmat. 2008. Bertanam Buah-buahan di Pekarangan. Kanisius.

Yogyakarta.

Saptana, Purwanti Tri B, Supriyanti Yana, dkk. 2011. Dampak Pengembangan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari terhadap Kesejahteraan Rumah Tangga dan Ekonomi Di Pedesaan. Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor.

Sastrapradja S, Naiola BP, Rasmadi ER, Roemantyo, Soepardijono EK, Waluyo EB. 1979. Tanaman Pekarangan. LIPI. Bogor.

Soekartawi, Soeharjo A, Dillon John L, Hardaker J Brian. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

100 Soekartawi. 2002. Analisis Usahatani. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Suratiyah, Ken. 2006. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta.

Widayati, Weka. 1993. Kreativitas Wanitatani dalam Pengelolaan Usahatani Pekarangan (Studi Kasus di Sulawesi Tenggara). [Tesis]. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

101

102 Lampiran 1. Rata-Rata Pendapatan KRPL KEMPLING per Rumah Tangga