• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONTROL INFEKSI

Dalam dokumen Pedoman Pendidikan Dokter Gigi Fkgui (Halaman 92-102)

IV. RUMAH SAKIT GIGI MULUT PENDIDIKAN FKGUI (RSGM-P FKGUI) 71

IV.9. KONTROL INFEKSI

IV.9.1. TATA CARA MENCUCI TANGAN

Mahasiswa profesi harus mengikuti langkah-langkah dasar cuci tangan sebelum dan sesudah pemakaian sarung tangan.

1. Dekati tempat cuci tangan, hati-hati jangan sampai ada bagian dari

PERSONAL PROTECTIVE EQUIPMENT (PPE) seperti baju kerja,

sikat pembersih tangan, atau lainnya, menyentuh tempat cuci tangan selama prosedur mencuci tangan.

2. Tanggalkan semua perhiasan dari jari-jari tangan dan pergelangan tangan. Hal ini penting karena cincin, jam tangan, dan gelang merupakan pusat mikroorganisme patogenik, dan menyebabkan sarung tangan sobek atau rusak.

3. Gunakan handuk atau tisu bersih, yang kering untuk mengatur kran air agar air mengalir dengan temperatur yang nyaman. Air hangat akan meningkatkan produktivitas sabun daripada air dingin, dan cenderung untuk mengeringkan celah di kulit. (mikroorganisme patogenik kemungkinan tertinggal di area kulit yang kasar dan pecah-pecah). Idealnya, keran sebaiknya jangan disentuh dengan tangan, tetapi dengan menggunakan sensor sinar, listrik, ultrasonik atau menggunakan perangkat kontrol siku atau kaki, spigot rods.

4. Basahi tangan, aplikasikan sebanyak satu sendok teh sabun cair antimikroba yang mempunyai efek residu untuk mencuci tangan. Sabun tangan cair pilihan adalah preparat substitusi fenol, seperti khlorheksidin glukonat bentuk sabun cair atau pembersih. Sabun tersebut sebaiknya ’tanpa sentuhan’, artinya disuplai dengan dispenser yang diaktifkan dengan kaki atau melalui sensor sinar elektrik. Hindari pemakaian sabun batangan dan suatu sabun rumahtangga, karena ini pusat mikroorganisme patogenik, terutama bila tetap ada di lingkungan yang hangat dan lembab. Berilah perhatian khusus ketika menyabuni ibu jari dan ujung-ujung jari.

5. Arahkan ujung-ujung jari ke bawah dan gunakan telapak tangan yang satu untuk membersihkan punggung tangan yang lainnya.

6. Saling silangkan jari-jemari untuk membersihkan bagian di antara jari-jemari.

7. Secara hati-hati bersihkan area bawah kuku jari menggunakan suatu stik plastik bulat, atau tusuk gigi datar. Sikat tangan dapat pula digunakan untuk membersihkan bawah kuku jari (lakukan hal ini di awal dan penghujung hari). Bilas jari-jari di bawah air mengalir. 8. Setelah pembusaan pertama, hentikan, dan bilas. Ulang pembusaan

berikutnya dengan mengunakan gerak firm rubbing, yakni memutar. Cuci tangan di telapak dan punggung tangan, setiap jari serta area di antara jari, dan persendiannya.

9. Kemudian menggunakan gerak firm rubbing, cuci lengan dan pergelangan tangan sedikitnya setinggi kemungkinan terjadi kontaminasi.

10. Setelah mencuci kedua tangan, dengan mengarahkan ujung jari ke bawah, bilas tangan dengan seksama menggunakan air dingin (air dingin akan menutup pori-pori kulit, mereduksi suseptibilitas mikroorganisme untuk disebarkan dan berreproduksi di kulit, dan meminimalkan kemungkinan sensitif terhadap lateks).

11. Keringkan tangan menggunakan suatu handuk kertas disposable. Keringkan tangan terlebih dahulu, kemudian lengan. Jangan menggunakan handuk kain karena, handuk seperti ini juga menjadi pusat benih-benih kalau digunakan terus menerus dan mungkin menjadi suatu sumber infeksi silang.

12. Setelah mengeringkan tangan, gunakan handuk atau tisu untuk mematikan keran air (bila klinik tidak mempunyai sistem pencucian tangan tanpa sentuhan). Sekali tangan telah dicuci secara seksama, jangan menyentuh keran, tempat sampah berpenutup untuk membuang handuk atau tisu, countertops, atau apapun sebelum pemakaian sarung tangan.

IV.9.2 MENGENAKAN PERSONAL PROTECTIVE EQUIPMENT (PPE)

Setelah mendudukan pasien dan menyelesaikan teknik mencuci tangan, mahasiswa profesi harus melakukan hal-hal berikut ini:

1. Menyatukan semua kebutuhan PPE untuk prosedur. 2. Pakailah pakaian proteksi luar (dari plastik, dsb). 3. Pakailah sepatu proteksi klinik, bila diperlukan. 4. Pakailah masker wajah.

5. Pakailah kacamata proteksi. 6. Pakailah sarung tangan.

7. Bukalah lak pembungkus kaset, nampan, atau kantung instrumen steril didepan pasien.

IV.9.3 MENANGGALKAN PERSONAL PROTECTIVE EQUIPMENT (PPE) Setelah menyelesaikan perawatan pasien dan memandu pasien ke bagian administrasi, mahasiswa program profesi dokter gigi harus melakukan hal-hal berikut ini:

1. Bawalah instrumen yang terkontaminasi ke area resirkulasi (area sterilisasi).

2. Tanggalkan dan buang sarung tangan yang terkontaminasi.

3. Tanggalkan dan buang atau cuci, keringkan, dan desinfeksi kacamata atau perisai muka yang terkontaminasi.

4. Tanggalkan pakaian klinik luar yang terkontaminasi. 5. Tanggalkan sepatu klinik.

6. Cuci dan keringkan tangan dan pakailah perhiasan kembali dan pakaian untuk pulang.

7. Lekatkan petanda kantung laundri yang terkontaminasi (untuk pakaian klinik yang dapat dipakai ulang) di area pengambilan laundri.

IV.9.4 MEMINIMALKAN PERLUKAAN/TRAUMA PERORANGAN AKIBAT BENDA TAJAM YANG TERKONTAMINASI

Mahasiswa program profesi dokter gigi harus melakukan/menerapkan petunjuk berikut ini untuk membantu meminimalkan risiko lanjutan akibat perlukaan/trauma yang sifatnya perorangan:

1. Selalu arahkan ujung tajam instrumen menjauhi tubuh

2. Selalu memberikan skalpel dan siring dengan ujung tajam selalu menjauhi tubuh dan penerima yang dituju.

3. Hindari pemakaian suatu teknik dua tangan untuk membersihkan instrumen di sisi kursi dental dengan kasa atau handuk kertas. Sebagai satu alternatif, ambil dua atau tiga gulungan kapas dan basahi satu atau dua dengan air bersih. Kemudian rekatkan dengan

tape gulungan kapas ke nampan. Untuk menghilangkan debri dan bioburden yang terlihat dari instrumen tajam, masukkan ujung tajam

ke dalam kapas basah dan hilangkan debri yang mudah terlepas. 4. Hindari mengambil instrumen tajam dengan cara menggenggamnya. 5. Jagalah jari-jemari tetap jauh dari instrumen putar.

6. Buanglah jarum-jarum bekas pakai dan benda tajam lain segera setelah prosedur dan taruh di suatu wadah/kontainer berlabel

biohazard, tahan bocor tahan tusukan, yang disimpan di tempat

sedekat tempat pemakaian. Bilamana memungkinkan, hindari transportasi benda tajam terkontaminasi yang bisa dipakai ulang ke area resirkulasi pada sebuah penutup nampan yang dilipat.

7. Jangan mengisi suatu kontainer benda tajam secara berlebihan, bila penuh isilah ke satu kontainer yang baru.

IV.9.5 TINDAKAN YANG HARUS DILAKUKAN MAHASISWA PROGRAM PROFESI DOKTER GIGI BILA ADA KEJADIAN PAPARAN

KECELAKAAN.

Pada kejadian suatu paparan kecelakaan, berhentilah segera dan laporkan insiden ke koordinator dan atau instruktur klinik. Bila yang terpapar adalah

tangan, buang sarung tangan dan perlakukan perlukaan tersebut dengan menerapkan tindakan pertolongan pertama secara seksama berikut ini: 1. Bila daerah yang terkena tersebut berdarah, tekanlah secara perlahan

sambil didorong sampai setitik/sejumlah kecil darah keluar.

2. Cuci tangan secara seksama dengan sabun antimikroba dan air hangat. Jangan pajankan area injuri ke bahan kimia yang keras atau direndam di dalam pemutih.

3. Setelah mengeringkan tangan, aplikasikan sejumlah antispetik ke area tersebut dan balut dengan bandage/perban.

IV.9.6 PEMROSESAN INSTRUMEN YANG TELAH TERKONTAMINASI. Mahasiswa program profesi dokter gigi harus mengikuti langkah-langkah berikut dalam pemrosesan instrumen dental yang terkontaminasi: 1. Setelah menyelesaikan perawatan dan memandu pasien ke bagian

administrasi (front desk), kembali ke ruang perawatan dan buang semua item sekali pakai (disposable items).

2. Teruskan menggunakan PPE, secara hati-hati buang/hilangkan debri dari item yang terkontaminasi, gunakan suatu teknik satu tangan (seperti menyekakannya ke kasa 2 X 2 atau gulungan kapas direkatkan dengan isolasi/tape di ujung nampan). Untuk mencegah injuri atau kontaminasi, jangan gunakan suatu teknik dua tangan. 3. Bawa nampan atau kaset ke area resirkulasi instrumen. Bila kita

menggunakan sistem kaset untuk tempat penyimpanan, membawa, membersihkan, dan sterilisasi instrumen ”kritik”, akan memberikan derajat keselamatan yang tinggi dalam memprosesnya.

4. Bila instrumen tidak dapat segera dibersihkan, rendam / tenggelamkan di larutan prapembersihan untuk mencegah mengeringnya saliva dan darah. Instrumen selanjutnya diletakkan di pembersih ultrasonik setelah sebelumnya dibilas secara seksama untuk mengurangi cipratan.

5. Bila siap, tenggelamkan instrumen secara menyeluruh di larutan pembersih ultrasonik. Pastikan larutan ada dalam ketinggian optimum.

6. Letakkan penutup pembersih ultrasonik dan operasikan pada waktu yang direkomendasikan. Instrumen-instrumen yang dikelola secara terpisah-pisah membutuhkan waktu lebih sedikit daripada yang disimpan dalam kaset. Selalu rujuklah ke instruksi pabrik pembuat untuk lama waktu yang dibutuhkan. Secara periodik cek efektivitas pembersih ultrasonik menggunakan metoda yang direkomendasikan.

7. Angkat instrumen dari pembersih ultrasonik dan bilaslah dengan cipratan sekecil mungkin. Periksalah instrumen untuk debris yang tersisa. Bila diperlukan pembersihan tambahan, instrumen dapat disikat menggunakan sebuah sikat bertangkai panjang untuk menjaga tangan yang menyikat aman dari instrumen tajam yang terkontaminasi. Periksalah instrumen, apakah ada ujung-ujung yang patah.

8. Tentukan metoda pemrosesan yang tepat, yaitu, instrumen mana yang akan didesinfeksi (dengan bahan sterilisasi) dan yang mana akan disterilisasi dengan pemanasan atau kimiawi.

9. Biarkan instrumen mengering sebelum semuanya disterilisasi (hal ini mereduksi perkaratan). Hal ini penting terutama bila digunakan metoda uap kimia atau panas kering.

10. Item tertentu yang terbuat dari plastik atau gelas kemungkinan tidak tahan terhadap tekanan atau sterilisasi panas. Pada kasus ini, pemrosesan kimia dingin (desinfeksi atau bahan sterilisasi dingin) adalah indikasinya, letakkan instrumen di kontainer khusus didisain peruntukannya, pastikan semua instrumen tenggelam di dalam larutan dengan penutup terpasang.

11. Bungkus dan persiapkan instrumen secera benar menurut tipe proses sterilisasi yang akan digunakan. Masukkan ke sterilisator, dan susun sedemikian rupa agar tetap didapat sirkulasi di ruang sterilisator tersebut. Secara periodik cek efektifitas sterilisator menggunakan monitor/pemantau biologik.

12. Buang semua larutan perendam dan larutan di alat pembersih ultrasonik di penghujung kerja setiap harinya. Setelah mengering, kedua kontainer tersebut sebaiknya dibersihkan dengan suatu larutan desinfeksi tingkat tinggi dan biarkan mengering, dan siap dipakai untuk hari kerja berikutnya.

IV.9.7 PENYIKATAN INSTRUMEN SECARA MANUAL/DENGAN TANGAN Mahasiswa profesi harus/sebaiknya mengikuti langkah-langkah berikut ketika menyikat instrumen yang terkontaminasi secara manual:

1. Pakailah PPE yang diperlukan, termasuk sarung tangan nitrile. 2. Ambil instrumen dari dalam larutan perendam dengan menggunakan

sarung tangan steril.

3. Pegang instrumen dengan kuat dan bilas dibawah aliran air hangat selama 1 menit.

4. Rendam/tenggelamkan kembali instrumen; sambil tetap memegang instrumen di satu sisi, gunakan sebuah sikat bertangkai panjang di

tangan satunya, untuk menyikat instrumen bebas dari bioburden yang terlihat dan material dental. Berilah perhatian khusus untuk menyikat ujung kerja instrumen: sikat satu sisi pertama, selanjutnya satu sisi yang lain.

5. Bilas instrumen sekali lagi.

6. Instrumen, sekarang siap untuk diletakkan ke dalam pembungkus, kantung, atau kaset sterilisator.

7. Sikat penyikat yang telah terkontaminasi, agar disterilisasi di penghujung hari kerja (bila bahannya tahan dengan sterilisasi panas).

IV.9.8 PEMBERSIHAN INSTRUMEN SECARA ULTRASONIK

Mahasiswa harus/sebaiknya mengikuti langkah-langkah berikut ketika membersihkan instrumen yang terkontaminasi secara ultrasonik:

1. Pakailah PPE yang diperlukan, termasuk sarung tangan nitrile. 2. Ambil instrumen dari dalam larutan perendam dengan menggunakan

sarung tangan steril.

3. Pegang instrumen dengan kuat dan bilas dibawah aliran air hangat selama 1 menit.

4. Jagalah instrumen tetap terkelompokan menurut prosedur, antara lain mengikat dengan tali, dan meletakkannya ke dalam kaset berkode warna, atau tetap meletakkannya di sebuah kaset yang didisain khusus/sistem kaset. (bila suatu sistem kaset instrumen digunakan di operatori, instrumen akan tetap di kaset yang sama di seluruh prosedur di sisi kursi, maupun di perendaman, penyikatan ultrasonik, dan prosedur sterilisasi.

5. Dengan hati-hati dan perlahan rendam instrumen ke dalam basket ultrasonik, perhatikan jangan sampai menyentuh pinggiran ruang ultrasonik atau tercipratnya larutan pembersih.

6. Letakkan penutup pada pembersih ultrasonik. 7. Putar switch waktu ke angka menit yang dituju.

IV.9.9 DESINFEKSI KIMIAWI INSTRUMEN YANG TIDAK DAPAT DISTERILISASI

DENGAN PEMANASAN

Desinfektan kimiawi dipakai untuk mendapatkan asepsis instrumen dan item-item yang tidak tahan/tidak dapat disterilisasi dengan pemanasan. 1. Setelah prapembersihan/perendaman instrumen, bilas dengan air

mengalir selama 60 detik untuk menghilangkan bioburden.

dengan menulis tanggal pembukaan atau penyiapan larutan dan beri tanda inisial anda pada kontainer larutan. Catat tanggal kadaluarsa pada label di wadah larutan.

3. Tuangkan larutan yang telah disiapkan ke dalam Bard-Parker atau wadah sterilisasi dingin sejenis; berhati-hatilah untuk menghindari terjadinya cipratan larutan karena bahan desinfeksi/desinfektan kimia sebaiknya tidak dibiarkan terbuka di udara terbuka. Alasan untuk hal tersebut adalah untuk mencegah inhalasi tidak sengaja, keracunan, atau tumpahnya laruan. Cipratan larutan dapat menyebabkan inhalasi, kontak dengan kulit atau membrana mukosa dengan kemungkinan terjadi perlukaan.

4. Tenggelamkan instrumen ke dalam larutan kimia, pastikan instrumen keseluruhan terendam dan wadah tidak tumpah ruah/banjir/tidak terisi berlebihan.

5. Tutup kontainer; beri label kontainer dengan nama larutan, waktu pajanan dan inisial anda.

6. Hindari membuka penutup atau menambah instrumen selama waktu siklus desinfeksi. Penambahan instrumen selama waktu siklus membatasi efektivitas keseluruhan dari larutan desinfeksi dan meningkatkan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan desinfeksi atau sterilisasi dingin.

7. Ikutilah lama waktu pajanan yang diperlukan, dan tetap menggunakan PPE, angkat item-item menggunakan forsep/tang pemindah dan bilas instrumen baik-baik dibawah air mengalir selama 60 detik.

8. Letakkan instrumen pada sebuah handuk kertas disposable dan keringkan secara seksama. Simpanlah/singkirkanlah di lemari tertutup atau simpanlah di area penyimpanan hingga diperlukan untuk digunakan.

IV.9.10 INSTRUKSI PENGOPERASIAN AUTOKLAF

1. Gunakan air destilata untuk mengisi reservoir hingga 21/2 inchi dibawah pembuka atau ke tingkat pengisian yang diindikasikan di autoklaf.

2. Cek meter(an) tekanan untuk memastikan tekanan ada di titik nol/ zero. Ingat: jangan membuka pintu autoklaf terkecuali bila tekanan menunjukan nol/zero.

3. Buka pintu; beberapa autoklaf memerlukan tekanan keatas dan kebawah; yang lainnya memerlukan teknik tekanan samping. 4. Muat/isikan pak, kantung atau kaset instrumen, perhatikan jangan

mengisi ruang /kamar secara berlebihan dan untuk menjamin sisrkulasi adekuat didalam ruang/kamar. Selalu pastikan adanya/

tersedianya cukup ruang di antara pak-pak untuk membiarkan uap bersirkulasi. Letakkan kantung atau pak yang lebih besar di dasar kamar.

5. Tutuplah pintu secara dengan kuat/benar-benar dan kuncilah; putarlah katup pengontrol dari ”pengisian” ke ”sterilisasi” . ingat bahwa siklus tidak mulai hingga temperatur mencapai tingkat yang ditetapkan. 6. Bila siklus telah semuanya selesai dan uap di meter(an) tekanan

telah kembali ke nol, autoklaf telah secara adekuat dilepas. Secara perlahan buka pintu ruang/ kamar 11/2 inchi untuk membiarkan sisa uap untuk keluar. Jangan menyentuh bagian metal autoklaf atau pak instrumen di saat ini-tunggu hingga cukup waktu untuk mendingin. 7. Ketika mengambil pak atau bungkus/kantung, gunakan forsep/tang

pemindah atau menggunakan sarung tangan tebal.

8. Catatan: satu yang harus dicek adalah kecukupan air destilata di ruang/ kamar air sebelum pemuatan dimulai. Diperhatikan untuk memuat secara berlebihan kamar dan jangan menambah air tambahan selama siklus sterilisasi karena hal tersebut akan menyebabkan kebanjiran setelah uap yang tersisa telah kembali ke bentuk air. 9. Bila dari sterilisator ada tetesan atau bocor, hal tersebut memerlukan

suatu penggantian gasket sekitar pintu ke kamar.

10 Ikuti petunjuk pabrik pembuat untuk pembersihan periodik dari sterilisator.

IV.9.11 LANGKAH-LANGKAH STERILISASI HANDPIECE

Berikut adalah langkah-langkah umum untuk menyelesaikan sterilisasi

handpiece dental. Pertama selalu cek instruksi pabrik pembuat.

1. Bilas saluran air-udara handpiece sebelum melepasnya dari hose. (catatan: biarkan bur tetap di handpiece)

2. Bersihkan dan keringkan sepenuhnya handpiece.

3. Aplikasikan pembersih handpiece dan/atau lubrikan (bila diharuskan oleh pabrik pembuat).

4. Keluarkan kelebihan lubrikan dengan bur tetap di handpiece. 5. Bersihkan fiberoptik (bila handpiece mempunyainya)

6. Kantungkan dan proses sterilisasi panas handpiece tersebut. 7. Bilas saluran air-udara selama 20-30 detik sebelum memasang

handpiece.

8. Buka kantung dan bila diperlukan lubrikasi handpiece dengan lubrikan terpisah yang tidak terkontaminasi, pasang handpiece ke ”hose”, dan operasikan untuk mengeluarkan kelebihan lubrikan dengan bur tetap ada di handpiece.

IV.9.12 PENGEPAKAN INSTRUMEN DAN PENGISIAN KE STERILISATOR 1. Bungkus dan letakkan semua instrumen di dalam sterilisator, tidak

berdempetan/jarang-jarang, cukup ruang sehingga memungkinkan penetrasi uap, panas, atau kimia selama waktu siklus sterilisasi 2. Pra-pengepakan semua instrumen sebelum sterilisasi. Tetap susun

masing-masing alat dalam nampan dalam satu kantung, kaset, untuk contoh susunan dasar, susunan untuk penambalan resin komposit, susunan profilaksis. Tang bedah seringkali dipacking secara terpisah untuk pemakaian dan pemilihan oleh dokter gigi atau seorang spesialis bedah mulut.

3. Secara seksama kantung instrumen diseal, kaset dibungkus dan dibuat daftar isi beserta tanggal sterilisasinya yang ditulis di luar dengan menggunakan pensil biasa .

4. Masukkan instrumen ke dalam kantung tembus pandang; (lipatan ganda di ujung kantung untuk membuka kantung) untuk memastikan instrumen tidak akan jatuh.

5. Pakailah tape autoklaf untuk menseal kantung sebelum meletakkannya di dalam sterilisator.

6. Secara hati-hati muatlah kantung atau kaset instrumen ke dalam ruang sterilisator.

IV.9.13 PETUNJUK MENCAMPUR, MENANGANI DAN MEMBUANG BAHAN

DESINFEKSI

Mahasiswa profesi harus selalu hati-hati ketika menangani bahan sterilisasi dan desinfeksi kimia, karena bahan tersebut adalah toksik.

1. Selalu gunakan PPE yang benar.

2. Selalu mengikuti instruksi pabrik pembuat untuk penyimpanan, pengenceran, penanganan, dan pembuangan.

3. Jangan biarkan larutan menyentuk kulit, kontak dengan mata, atau terhirup/inhalasi.

4. Ikuti instruksi-instruksi untuk shelf life dan use life (waktu pemakaian) dan buanglah semua larutan sesuai dengan undang-undang/aturan lokal dan persaratan pemerintah.

5. Siapkanlah material pembersih dan spill-kit ringkas di kejadian suatu kejatuhan atau terciprat larutan.

IV.9.14 PETUNJUK DARI TEKNIK SPRAY-WIPE-SPRAY

Ikuti prosedur spray-wipe-spray, bila mendesinfeksi permukaan lingkungan kerja sekitar dan peralatan yang tidak dapat disterilisasi.

1. Semprotkan bahan desinfeksi ke permukaan lingkungan kerja untuk membersihkan debris yang dapat dilihat dengan mata. Desinfeksi

yang tepat tidak dapat diperoleh tanpa pembersihan yang benar. Semprotkan larutan hingga terlihat bahan desinfeksi adekuat untuk membersihkan permukaan lingkungan kerja.

2. Basuh permukaan sekitarnya untuk menghilangkan noda/kotoran, debri atau sisa-sisa yang tersisa di permukaan yang terciprat. Gunakan kasa ukuran 4 x 4 atau handuk kertas dengan gerakan berulang kali untuk menyeka semua permukaan.

3. Semprot permukaan kembali dan biarkan bahan desinfeksi mengering selama 10 menit.

IV.9.15 PETUNJUK UNTUK MELETAKKAN DAN MENGANGKAT PENUTUP

PROTEKSI PERMUKAAN.

Mahasiswa profesi harus mengikuti langkah-langkah berikut ini ketika meletakkan dan penutup proteksi permukaan.

1. Letakkan penutup permukaan yang tepat sebelum permukaan lingkungan kerja menjadi terkontaminasi oleh bioburden pasien. Bila permukaan perawatan yang telah ditutupi telah terkontaminasi, prapembersihan dan desinfeksi permukaan, tanggalkan sarung tangan, dan cuci tangan sebelum menutup permukaan.

2. Letakkan masing-masing penutup proteksi permukaan sedemikain rupa sehingga dapat melapisi seluruh permukaan dan tidak tercabut bila disentuh.

3. Gunakan sarung tangan pada saat menanggalkan penutup proteksi permukaan yang terkontaminasi setelah perawatan pasien.

4. Lepaskan penutup proteksi permukaan yang terkontaminasi dari permukaan lingkungan kerja dan peralatan dengan hati-hati untuk menghindari menyentuh permukaan di bawahnya. Bila suatu permukaan tersebut terkontaminasi tanpa disengaja pada waktu mengangkat suatu penutup proteksi permukaan, pra-pembersihan dan desinfeksi permukaan tersebut.

5. Buanglah penutup yang telah dipakai di sampah klinik regular bila aturan lokal mengklasifikasikan item-item tersebut sebagai sampah regular.

6. Tanggalkan/lepaskan dan buang sarung tangan yang telah terkontaminasi, cuci tangan, dan aplikasikan penutup proteksi permukaan baru sebelum mendudukan pasien berikutnya.

IV.10. KEGAWATDARURATAN KEDOKTERAN GIGI

Dalam dokumen Pedoman Pendidikan Dokter Gigi Fkgui (Halaman 92-102)

Dokumen terkait