BAB IV: ANALISIS MELODI INGGOU PARLAJANG
4.2 Analisis Melodi Dalam Inggou Parlajang
4.2.8 Kontur (contour)
Kontur adalah garis melodi dalam sebuah nyanyian. Malm membedakan kontur ke dalam beberapa jenis, sebagai berikut:
1. Ascending yaitu garis melodi yang bergerak dengan bentuk naik dari nada yang lebih rendah ke nada yang lebih tinggi.
2. Descending yaitu garis melodi yang bergerak dengan bentuk turun dari nada yang lebih tinggi ke nada yang lebih rendah.
3. Pendulous yaitu garis melodi yang bentuk gerakannya melengkung dari nada yang lebih tinggi ke nada yang lebih rendah, kemudian kembali lagi ke nada yang lebih tinggi atau sebaliknya.
4. Conjuct yaitu garis melodi yang sifatnya bergerak melangkah dari satu nada ke nada yang lain baik naik maupun turun.
5. Terraced yaitu garis melodi yang bergerak berjenjang baik dari nada yang lebih tinggi ke nada yang lebih rendah atau dimulai dari nada yang lebih rendah ke nada yang lebih tinggi.
6. Disjuct yaitu garis melodi yang bergerak melompat dari satu nada ke nada yang lainnya, dan biasanya intervalnya di atas sekonde baik mayor maupun minor.
7. Static yaitu garis melodi yang bentuknya tetap yang jaraknya mempunyai batas-batasan.
Garis kontur yang terdapat pada melodi Inggou Parlajang pada umumnya adalah
statis, pendulous dan conjuct. Untuk lebih jelasnya lihat gambar di bawah ini:
Kontur statis:
a.
c. d. e. Kontur pendulous: Kontur conjuct: a.
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan
Etnik Simalungun memiliki banyak kebudayaan, yaitu terdiri dari seni vokal, tari-tarian, adat dan kebiasaan yang lainnya yang berbentuk budaya. Secara administratif Simalungun disebut dalam satu kabupaten Simalungun provinsi Sumatera Utara. Kesenian Simalungun berpengaruh kepada anak Raja Tuan Gomok yaitu Tuan Taralamsyah Saragih. Taralamsyah lahir dari keluarga Kerajaan Raya. Karena kecintaannya terhadap seni Simalungun begitu besar, banyak lagu Simalungun yang Ia buat sebut saja seperti Eta Mangalop Boru
Lawey, Inggou Parlajang.
Inggou Parlajang teksnya bercerita tentang isak tangis dan keluh kesah
seorang perantau yang melukiskan kesukacitaan dan kedukaannya serta kerinduannya akan kampung halaman. Inggou Parlajang juga merupakan salah satu karya komposer handal Simalungun yang terkenal di kalangan masyarakat Simalungun. Namun Inggou Parlajang sudah tidak begitu dikenal oleh para pemuda/pemudi sekarang. Disebabkan banyaknya musik modern sekarang yang berkembang cepat. Namun, menurut informan lagu ini masih dikenali oleh kalangan yang sudah tua.
Struktur melodi Inggou Parlajang terdiri dari 8 unsur, yaitu:
1. Tangga Nada : Diatonis Mayor 2. Nada dasar : Bb = Do
3. Wilayah nada : Bb-Bb’
4. Jumlah Nada : Bb=6, C=35, D=43, Eb=2, F=10, G=19, A=25, B=1 5. Interval nada :
1P= 51, 2M= 18 (naik) 13 (turun), 2m= 4 (naik) 3 (turun), 3m= 10 (naik) 11 (turun) 3dim= 3 (naik) 3 (turun), 4P= 5 (naik) 3 (turun), 5P= - (naik) 2 (turun).
6. Pola kadensa: terdapat satu jenis pola kadensa yang terdapat pada melodi Inggou Parlajang yaitu kadensa tidak sempurna.
7. Formula melodi: strophic atau bentuk nyanyian yang diulang tetapi menggunakan teks nyanyian yang baru atau berbeda, Inggou Parlajang memiliki bentuk A-B-A-B.
8. Kontur: static, pendulous dan conjuct.
Beberapa makna teks Inggou Parlajang adalah:
1. Menceritakan kerinduan seorang perantau terhadap Simalungun.
2. Si perantau merindukan keadaan Simalungun yang indah dan kebiasaan/kebudayaan Simalungun yaitu kebiasaan muda-mudi yang suka bersyair dan berpantun
3. Si perantau menggambarkan Simalungun sebagai tempat yang mashyur karena pemandangannya yang indah dan memiliki hasil kebun yang baik. Sehingga apapun kebutuhan selalu terpenuhi.
4. Di dalam reff lagu, disampaikan perasaan dan angan-angan si perantau yang ingin pulang untuk merasakan kesejahteraan dan menerima rejeki yang besar.
5. Dalam teks Inggou Parlajang, tersirat makna dari isi hati si perantau yang ingin sekali pulang ke Simalungun walau hanya dalam angan saja.
6. Dalam teks juga dijelaskan kebiasaan/kebudayaan Simalungun yang tidak tergoyahkan dan menjadi perilaku yang mengharumkan.
Dapat dikatakan bahwa Inggou Parlajang merupakan nyanyian yang mementingkan teks daripada melodi yang disebut dengan logogenic. Merupakan jenis nyayian liris pada jenis-jenis nyanyian rakyat dan terdapat dua majas didalamnya yaitu majas personifikasi dan majas metafora.
Dalam isi teks Inggou Parlajang terdapat makna teks yang memiliki makna tersirat, yaitu:
Contoh: Simada tunggung memiliki keagungan
Artinya: Simalungun digambarkan sebagai tempat yang mashyur karena pemandangannya yang indah dan memiliki hasil kebun yang baik. Sehingga apapun kebutuhan selalu terpenuhi.
Teks Inggou Parlajang digolongkan sebagai teks yang bersifat silabik, karena penyajian vokalnya satu suku kata dalam satu nada. Inggou Parlajang memiliki dua fungsi pengungkapan emosional dan fungsi hiburan.
5.2 Saran
Adapun saran penulis adalah sebagai berikut:
1. Dengan membaca skripsi ini, kita dapat menyadari pentingnya untuk menghargai seniman-seniman yang ada, baik seniman tradisi maupun
kepada seniman lainnya yang tidak dihargai oleh masyarakat Simalungun sendiri.
2. Dengan membaca skripsi ini, kita mengetahui kebudayaan sendiri. Dimulai dari diri sendiri, mencintai budaya dan tanah kelahiran darimana kita berasal.
3. Melestarikan kebudayaan yang ada, supaya jangan sampai hilang dan pudar. Karena kebudayaan adalah identitas dalam suatu masyarakat.
Daftar Pustaka
Alan P. Merriam (1964-223) Pluralitas (2004:143-144)
Bakar, Abdul Latiff Abu. 2006. Aplikasi Teori Semiotika dalam Seni Pertunjukan. Etnomusikologi (Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Seni),(53), 45-51.
Depdikbud, 2005.Kamusbesarbahasaindonesia.Jakarta balaipustaka.
Girsang, Berlianta G. “Ilah Pada Kebudayaan Etnis Simalungun di Desa Dolog
Haluan Kecamatan Raya, Suatu Kajian Tekstual dan Musikologis”
Jansen, Arlin Dietrich. 2003 Gonrang Simalungun: Struktur dan Fungsinya dalam
masyarakat Simalungun. Medan: Bina Media.
Koentjaraningrat. 1983. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia.
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta
Malm. William P. 1993. Music Culture of the Pasific, the Near East, and Asia (terjemahan). Medan. Departemen Etnomusikologi Fakultas Sastra Universitas
Sumatera Utara (terjemahan Takari).
Mardalis. 2006. Metode Penelitian (Suatu Pendekatan Proposal). Jakarta: Bumi Aksara.
Nettl, Bruno.1964.Theory and Method of Ethnomusicology. New York: The Free Press.
Saragih, Simon. 2014. Taralamsyah, Jejak Sepi Seorang Komponis Legendaris. Medan: Bina Media Perintis.
Purba, Kezia. “Analisis musikal dan tekstual Marsialop Ari karya Taralamsyah
Sugiono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta
DAFTAR INFORMAN 1. Nama : Harris Hemdy Purba
Umur : 65 Tahun
Alamat : Jl. Ngumban surbakti gang. Kamboja 20, No. 2 Pekerjaan : Pengajar Tari
2. Nama : Normasiah Saragih Umur : 54 Tahun
Alamat : Jl. Marindal I gang. Amarta No. 23 Pekerjaan : Guru
3. Nama : Drs. Setia Dermawan Purba, M.Si Umur :
Alamat : Lubuk Pakam Pekerjaan : Dosen