BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.5 Kontur Konsentrasi Sebaran Debu
Berdasarkan hasil perhitungan konsentrasi debu dari masing-masing sumber emisi, dari dua periode waktu yakni musim hujan dan musim kemarau menghaslkan nilai konsentrasi sebaran debu di udara ambien yang berbeda pada setiap titik penerima. Hal ini disebabkan oleh faktor meteorologi dan relief area penerima emisi yang berbeda.
Pada musim hujan diketahui bahwa konsentrasi debu di udara ambien pada titik penerima dengan ketinggian 1,5 meter dari muka tanah rata-rata memiliki nilai lebih tinggi dengan arah angin bergerak menuju ke timur dengan kondisi kelas stabilitas atmosfer C. Sebaran debu yang bersumber dari Cerobong A menghasilkan konsentrasi debu tertinggi pada titik koordinat (597877,4 m; 9246548 m) dengan konsentrasi 132,17 µg/m3 . Kontur sebaran debu tertinggi dari sumber Cerobong A dapat dilihat pada Gambar 4.6. Sedangkan konsentrasi debu tertinggi di udara ambien pada titik penerima dari sumber Cerobong B, adalah 0,0000135 µg/m3 (mendekati 0 µg/m3 pada titik koordinat (597977,4 m; 9246448 m), Cerobong C dengan konsentrasi 79,94 µg/m3 pada titik koordinat (598277,4 m; 9246548 m),
Cerobong D dengan konsentrasi 542,18 µg/m3 pada titik
koordinat (597877,4 m; 9246348 m), Cerobong E dengan konsentrasi 5,74 µg/m3 pada titik koordinat (597877,4 m;
9246148 m), Cerobong F dengan konsentrasi 26,44 µg/m3 pada
titik koordinat (598277,4 m; 9246348 m). Hasil akumulasi perhitungan konsentrasi debu dari seluruh sumber titik Cerobong
pada msim hujan menghasilkan konsentrasi debu tertinggi pada titik koordinat (598277,4 m; 9246348 m) dengan konsentrasi 547,24 µg/m3. Konsentrasi emisi tertinggi jatuh pada area yang masih berada dalam wilayah industri. Gambar kontur dispersi debu musim hujan dari Cerobong B dapat dilihat pada Gambar 4.7, Cerobong C pada Gambar 4.8, Cerobong D pada Gambar 4.9, Cerobong E pada Gambar 4.10, Cerobong F pada Gambar 4.11, serta gambar kontur akumulsi debu di ambien musim hujan apat dilihat pada Gambar 4.12.
Sebaran konsentrasi debu di ambien pada musim kemarau memiliki nilai konsentrasi lebih kecil dibandingkan dengan musim hujan. Hal ini dikarenakan pengaruh stabilitas atmosfer, pada musim kemarau kondisi meteorologi tergolong kelas stabilitas B. Pada kelas stabilitas B debu sebaran cenderung meluas secara vertikal dan horizontal, sehingga konsentrasi debu pada titik penerima lebih kecil dibandingkan pada saat musim hujan dengan stabilitas C dimana sebaran debu cenderung kurang tersebar secara luas sehingga debu lebih banyak di dekat sumber emisi. Pada musim kemarau angin bergerak ke arah barat, relief muka tanah pada sisi sebelah barat sumber emisi berbeda dengan sisi sebelah timur yang merupakan area penerima sebaran debu pada musim hujan. Sehingga perbedaan konsentrasi sebaran debu di ambien selain dipengaruhi faktor meteorologi juga ketinggian titik penerima di area masing-masing.
Sebaran debu pada musim kemarau yang bersumber dari Cerobong A menghasilkan konsentrasi debu tertinggi pada titik koordinat (597477,4 m; 9246548 m) dengan konsentrasi 155,32 µg/m3. Sebaran debu yang berasal dari Cerobong B menghasilkan konsentrasi debu tertinggi pada titik koordinat (597477,4 m; 9246448 m) dengan konsentrasi 13,81 µg/m3, sebaran debu dari Cerobong C menghasilkan konsentrasi debu tertinggi pada titik koordinat (597777,4 m; 9246548 m) dengan
konsentrasi 82,46 µg/m3, Cerobong D menghasilkan konsentrasi
debu tertinggi pada titik koordinat (597477,4 m; 9246348 m) dengan konsentrasi 432,35 µg/m3, Cerobong E menghasilkan konsentrasi debu tertinggi pada titik koordinat (597477,4 m; 9246348 m) dengan konsentrasi 5,86 µg/m3 dan Cerobong F
Cerobong menghasilkan menghasilkan konsentrasi debu tertinggi
pada titik koordinat (597777,4 m; 9246348 m) dengan konsentrasi 27,27 µg/m3. Serta hasil akumulasi sebaran debu di ambien pada
musim kemarau menghasilkan konsentrasi tertinggi pada titik koordinat (597477,4 m; 9246348 m) dengan konsentrasi 444,26 µg/m3. Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4. Gambar kontur dispersi debu musim kemarau dari Cerobong A dapat dilihat pada Gambar 4.13, Cerobong B pada Gambar 4.14, Cerobong C pada Gambar 4.15, Cerobong D pada Gambar 4.16, Cerobong E pada Gambar 4.17, Cerobong F pada Gambar 4.18 serta gambar kontur akumulsi debu di ambien musim kemarau dapat dilihat pada Gambar 4.19.
Berdasarkan Peraturan Gubernur Jatim No. 10 tahun 2009 baku mutu udara ambien untuk emisi debu adalah 260
μg/m3
. Sedangakan hasil perhitungan model menunjukkan total debu pada musim hujan dan kemarau masih diatas baku mutu udara ambien. Menurut ISPU konsentrasi debu pada musim kemarau dan musim hujan masuk dalam kategori berbahaya, dengan indeks >300.
Gambar kontur dispersi hasil overlay dengan peta dari
Google Earth dapat dilihat bahwa sebagian besar debu jatuh di wilyah sekitar industri. Penggambaran kontur konsentrasi debu di
udara ambien menggunakan software Surfer 10. Skala
konsentrasi pada gambar kontur digambarkan melalui gradas warna. Konsentrasi rendah hingga tinggi digambarkan dengan warna biru muda hingga warna ungu. Skala warna digunakan untuk mempermudah pembacaan gambar. Titik berbentuk persegi dengan warna biru merupakan titik sumber emisi. Pada Gambar 4.7, Gambar 4.10, Gambar 4.14 dan Gambar 4.17 tidak terlihat gambar kontur konsentrasi debu dikarenakan konsentrasi yang dihasilkan oleh setiap cerobong tidak melampaui skala
warna minimum yakni 10 µg/m3. Setiap cerobong menghasilkan
gambar kontur konsentrasi yang berbeda dalam luasanya. Hal ini dikarenakan sebaran debu yang dipengaruhi oleh faktor meteorologi dan ketinggian dari masing-masing titik penerima.
Gambar 4.12 merupakan gambar kontur akumulasi konsentrasi debu yang dihasilkan dari seluruh cerobong industri semen pada rata-rata musim hujan, sedangkan Gambar 4.19 merupakan gambar kontur akumulasi konsentrasi debu yang dihasilkan dari seluruh cerobong industri semen pada rata-rata musim kemarau. Gambar 4.12 dan 4.19 mewakili kondisi kualitas udara di sekitar wilayah industri semen dari adanya aktivitas
Gambar 4. 17 Kontur Konsentrasi Emisi Periode Musim Kemarau dari Sumber Cerobong E