LEMBAR BACAAN 1.3 Hak anak: Hukum internasional dan nasional mengenai pekerja anak dan anak-anak serta kaum
Boks 1: Apakah Konvensi ILO itu?
Konvensi ILO merupakan hukum atau perjanjian internasional yang diadopsi oleh delegasi pemerintah, organisasi pekerja dan pemberi kerja. Konvensi mengatur hak-hak dan prinsip dasar mengenai hal-hal yang berkaitan dengan dunia kerja, misalnya hak untuk berorganisasi dan berunding bersama, jaminan sosial, perlakuan yang sama dan kondisi kerja, kerja paksa, keselamatan dan kesehatan, perlindungan ibu hamil dan upah minimum. Ada juga konvensi yang mengatur kelompok pekerja tertentu: anak-anak, kaum migran, pekerja rumahan, pekerja kontrak, pekerja rumah tangga, pekerja di sektor perkebunan, dll. Ketika suatu negara meratifikasi Konvensi, pemerintahnya akan membuat komitmen secara formal untuk melaksanakan semua kewajiban yang diatur dalam konvensi, dan melapor secara periodik kepada ILO mengenai langkah-langkah yang mereka lakukan untuk memenuhi kewajiban mereka. Sejak berdiri pada tahun 1919, ILO telah mengadopsi 190 Konvensi.
Pada tahun 1998, ILO mengadopsi Deklarasi mengenai Prinsip dan Hak Dasar di Tempat kerja, meminta semua negara untuk menghargai dan mendorong penerapan 8 Konvensi utama ILO tanpa memandang status ratifikasi mereka. Deklarasi ini ditandatangani oleh semua negara anggota. Dengan melakukan ini, mereka mengakui bahwa hak-hak yang ada dalam Konvensi ini merupakan hak universal dan berlaku untuk semua orang di semua negara tanpa melihat tingkat pembangunan ekonominya. 8 Konvensi utama tersebut adalah:
1. K87 mengenai kebebasan berserikan dan perlindungan hak berorganisasi 2. K89 mengenai perundingan bersama
3. K29 mengenai kerja paksa
4. K105 mengenai penghapusan kerja paksa 5. K138 mengenai usia minimum bekerja
6. K182 mengenai bentuk-bentuk pekerjaan terburuk bagi anak 7. K100 mengenai pengupahan yang setara
8. K111 mengenai pelarangan diskriminasi pekerjaan dan jabatan
3. Konvensi PBB mengenai Hak Anak (CRC)
Menurut hukum HAM internasional, anak-anak memiliki dua jenis hak asasi manusia:
a. Pertama, semua anak memiliki hak dasar yang sama dengan orang dewasa meskipun beberapa hak, misalnya hak untuk menikah, tidak dapat diterapkan kecuali mereka sudah cukup umur.
b. Kedua, mereka memiliki HAM khusus yang penting untuk melindungi
mereka termasuk kemudaan usianya hingga mereka mencapai usia 18 tahun.
Beberapa hak asasi manusia khusus untuk anak diantaranya hak atas hidup, hak atas nama, hak atas perlindungan dari eksploitasi ekonomi dan seksual, hak atas pendidikan, hak mengungkapkan pandangan mereka mengenai hal-hal yang berkaitan dengan anak, hak kebebasan berpikir, hati nurani dan agama serta hak atas layanan kesehatan.
Hak anak sebetulnya merupakan konsep baru. Baru pada abad ke 19-20 lah hak anak mulai dipertimbangkan. Sebelum itu anak-anak dianggap sebagai properti orangtua atau tetua, dan dinaggap sebagai orang dewasa ‘kecil’ yang dikendalikan oleh orang dewasa ‘besar’. Awalnya diskusi mengenai hak anak lebih berfokus pada perlindungan hak, seperti menganggap pekerja anak sebagai praktik yang melanggar hukum (yang masih umum terjadi saat itu), dan bukan mengenai anak-anak yang memiliki hak sama sebagai warga dunia.
Pada tahun 1924, Liga Bangsa-Bangsa yang merupakan organisasi cikal bakal Perserikatan Bangsa-bangsa, mengadopsi Deklarasi Hak Anak yang pertama.
Deklarasi PBB yang kedua diadopsi 35 tahun kemudian pada tahun 1959. Butuh waktu 30 tahun lagi untuk berdiskusi dan perdebatan sebelum akhirnya PBB pada tahun 1989 mengadopsi Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child (CRC)). CRC telah diadopsi oleh sebagian besar negara, merupakan instrumen yang unik: ini adalah hukum internasional pertama yang menyatukan semua standard universal mengnai hak dasar sipil, politik, ekonomi, sosial dan kemanusiaan anak.
Konvensi ini menegaskan bahwa anak-anak tak hanya memiliki hak atas hak asasi manusia mereka, namun juga hak khusus dan perlindungan karena kebutuhan khusus mereka. Negara-negara berkewajiban untuk secara periodis melaporkan kepada Komite Hak Anak PBB. Berdasarkan laporan itu, Komite akan mengevaluasi bagaimana negara melaksanakan aturan dalam CRC dan memberikan panduan untuk meningkatkan kondisi yang ada.
DI dalam Konvensi Hak Anak terdapat 41 pasal (lihat ringkasan terlampir). Pasal 32 secara khusus membahas mengenai pekerja anak. Berdasarkan Konvensi ILO, CRC meminta semua negara untuk:
a) mengakui hak anak untuk mendapatkan perlindungan dari:
• eksploitasi ekonomi, dan
• melakukan pekerjaan yang akan:
• berbahaya, atau
• menghambat pendidikan anak, atau
• berbahaya untuk kesehatan atau perkembangan fisik, mental, spiritual, moral atau sosial anak
b) mengatur usia minimum bekerja,
c) memberikan aturan khusus mengenai jam dan kondisi kerja; dan
d) memberikan hukuman atau sanksi yang tepat untuk memastikan penegakan yang efektif dari peraturan-peraturan yang disebutkan di atas.
Pasal 28 CRC secara khusus mengatur mengenai pendidikan. Pasal ini meminta semua negara mengakui hak anak atas pendidikan, dan:
• mewajibkan pendidikan dasar dan tersedia secara cuma-cuma untuk semua;
• mengambil langkah-langkah untuk mendorong anak hadir di sekolah dan mengurangi angka putus sekolah.
4. Hukum, aturan dan peraturan nasional mengenai pekerjaan rumah tangga Sebagian besar undang-undang ketenagakerjaan di kawasan Asia/Pasifik mengatur usia minimum bekerja dan mengatur kondisi-kondisi dimana anak boleh bekerja. Namun hanya sedikit negara di kawasan ini yang sudah memiliki hukum yang melindungi pekerja rumah tangga dewasa maupun anak-anak. Hal ini disebabkan karena pekerjaan rumah tangga dianggap sebagai pekerjaan informal dan karenanya tidak dicakup dalam peraturan ketenagakerjaan.
Jumlah aturan dan peraturan regional maupun lokal yang dibuat untuk melindungi anak dan pekerja muda semakin bertambah. Beberapa aturan itu telah berhasil melindungi anak dan kaum muda pada pekerjaan rumah tangga (Lihat Lembar Bacaan 1.4)
5. Menerapkan undang-undang: tantangannya
Permasalahannya adalah hukum di banyak negara termasuk kawasan Asia/
Pasifik hanya bagus di atas kertas. Banyak yang harus dilakukan untuk
menerjemahkan hukum, aturan dan peraturan serta konvensi ke dalam kebijakan dan aksi nyata, termasuk penerapan penalti dan sangsi untuk pelanggarannya.
Ada banyak tantangan yang harus dihadapi, termasuk:
Perilaku yang masih berlaku di masyarakat
Di banyak masyarakat, ada pandangan yang meluas bahwa orangtua (atau wali) merupakan pihak yang membuat keputusan untuk anak-anak mereka, bahkan bila keputusan itu membahayakan kondisi fisik, mental dan moral anak dan bukan demi kepentingan terbaik mereka. Misalnya, keputusan untuk meminta anak-anak mereka bekerja daripada menyekolahkannya tentu bukan demi kepentingan terbaik anak. CRC dan Konvensi-konvensi ILO menyatakan bahwa melakukan hal demikian merupakan pelanggaran hak anak dan hukum di banyak negara melarang hal tersebut.
Posisi lemah dan status rendah anak
Posisi lemah dan status rendah anak merupakan suatu kekhawatiran tersendiri.
Situasi ini diperparah dengan keengganan mengakui pekerja rumah tangga anak sebagai pekerja dan latar belakang sosial dan ekonomi mereka yang kurang beruntung. Sebagai hasilnya, anak-anak tidak memiliki pendapat, pengaruh yang terbatas, dan kesulitan dalam mendapatkan hak mereka.