• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.3 Karakteristik Responden

4.4.1 Analisis Deskriptif

4.4.1.4 Konversi Biogas Dan Penggunaannya

Konversi adalah peralihan fungsi, artinya peralihan manfaat dari satu bentuk menjadi bentuk lainnya. Dalam hal ini, yang dikonversikan adalah limbah ternak menjadi energi biogas. Pada awalnya limbah ternak sapi digunakan hanya sebagai pupuk kompos tanaman namun sekarang limbah ternak sapi dapat dijadikan energi terbarukan yaitu biogas. Penggunaan biogas dapat kita lihat pada tabel 4.10.

Tabel 4.10 Penggunaan Biogas

No Kegunaan Biogas Jumlah Responden (orang) 1 Listrik 0 2 Penerangan 0

3 Pengganti bahan bakar bensin atau minyak

solar 0

4 Memasak 30

Total 30

Sumber: Data Primer (Diolah)

Dari tabel diatas, biogas hanya digunakan untuk keperluan memasak di dapur, baik itu masak nasi, masak air dan masak makanan. Biogas belum digunakan untuk keperluan listrik, penerangan ataupun pengganti bahan bakar bensin ataupun minyak solar. Ketidaktersedianya alat pendukung, seperti turbin sebagai pembangkit tenaga listrik ataupun tabung dan alat penampung gasbio sebagai pengganti bahan bakar lainnya menjadi alasan bahwa biogas belum mampu digunakan untuk keperluan listrik, penerangan ataupun pengganti bahan bakar bensin atau minyak solar.

Penggunaan biogas untuk memasak di dapur dapat diterangkan dari tabel berikut ini. Tabel 4.11 Konversi Biogas

Total Responden (orang) Total Kotoran Sapi Yang Dihasilkan (kg/hari) Total Kotoran Sapi Yang Dibutuhkan Untuk Biogas (kg/hari)

Total Penggunaaan Biogas (jumlah frekuensi x lama waktu)

(menit/hari) Total Jumlah Tanggunga n (orang) Masak Nasi Masak Air Masak Makanan 30 2400 1255 860 530 1070 99 Rata – rata 80 41,83 28,67 17,67 35,67 3,3

Sumber : Lampiran III hal 71

Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa rata – rata jumlah kotoran sapi yang dihasilkan setiap responden adalah 80 kg per harinya dan rata – rata jumlah kotoran sapi yang dibutuhkan setiap responden untuk menghasilkan biogas sekitar 41,83 kg per harinya. Artinya, jumlah kotoran sapi yang dihasilkan setiap harinya mampu memenuhi jumlah kotoran sapi yang dibutuhkan untuk pengolahan biogas setiap harinya oleh responde.

Untuk menghitung waktu penggunaan biogas untuk memasak di dapur, dapat dilakukan dengan cara mengalikan jumlah frekuensi memasak x lama waktu memasak. Setiap responden memiliki jumlah frekuensi dan lama waktu memasak yang berbeda – beda tergantung pada ukuran dandang/ceret masak yang dipakai (kecil atau sedang atau besar) dan tergantung pada banyaknya jumlah yang dimasak yang disesuaikan dengan jumlah tanggungan setiap responden. Dengan rumus diatas, maka masak nasi menghabiskan waktu 28,67 menit, masak air menghabiskan waktu 17,67 menit dan masak makanan (lauk – pauk dan sayur – mayur) menghabiskan waktu 35,67 menit setiap harinya. Bila ditotalkan biogas mampu digunakan untuk memasak selama (28,67 menit + 17,67 menit + 35,67 menit) × 601 jam = 1,37 jam/hari dengan jumlah tanggungan rata – rata per keluarga sebanyak 3,3 orang atau 3 – 4 orang.

Dengan cara diatas, maka dapat mewakili jumlah volume biogas yang dihasilkan setiap harinya. Apabila api yang dihasilkan pada kompor biogas redup menandakan biogas yang dihasilkan sudah hampir habis. Volume biogas yang dihasilkan tidak dapat diukur dengan satuan

m3 dengan rumus volume silinder dikarenakan jenis digester yang dimiliki responden berbeda – berbeda dan posisi digester sudah tertanam ditanah, jadi tidak dapat diukur dengan rumus volume silinder.

Jika 1 ekor sapi dewasa mampu memproduksi kotoran sebesar 15 kg/hari maka rata – rata kotoran sapi yang diproduksi : 41,83 kg/hari : 15 kg/hari = 2,79 ekor atau 2 – 3 ekor. Jika disimpulkan hasil konversi biogas dan penggunaannya dapat disajikan pada tabel berikut :

Tabel 4.12 Hasil Konversi Biogas Dan Penggunaannya

Penggunaan 2 – 3 Ekor Sapi Dewasa

Memasak Masak 3 jenis, yaitu : masak nasi, masak air dan masak makanan selama 1,37 jam/hari untuk 3 – 4 orang

Sumber: Data Primer (Diolah) 4.4.1.5 Analisis Rugi – Laba

Keuntungan adalah tujuan setiap usaha. Keuntungan dapat dicapai jika jumlah pendapatan yang diperoleh dari usaha tersebut lebih besar daripada jumlah pengeluarannya. Bila keuntungan dari suatu usaha semakin meningkat maka secara ekonomis usaha tersebut layak dipertahankan atau ditingkatkan (Murtidjo, 1995). Untuk mengetahui rugi atau labanya pengolahan biogas dapat kita lihat dari tabel berikut :

Tabel 4.13 Biaya Energi Yang Dikeluarkan Sebelumnya Dan Harga Kotoran Sapi

Total Responden

(orang)

Total Biaya Energi Yang Digunakan Sebelumnya

(Rp/bulan)

Total Harga Kotoran Sapi Sebelum Konversi

(Rp/kg)

Total Harga Kotoran Sapi Sesudah Konversi (Rp/kg) Total Pendapatan (Rp/bulan) 30 2350000 10550 19350 51216500 Rata – rata 78333,33 351,67 645 1707216,67

Sumber: Lampiran IV hal 72

Dari tabel diatas, diperoleh pengeluaran rata – rata responden dari pembelian gas LPG ataupun minyak tanah sebelumnya yaitu sebesar Rp.78.333,33/bulan. Selain itu, diperoleh rata – rata harga kotoran sapi sebelum konversi sebesar Rp.351,66/kg dan rata – rata harga kotoran sapi sesudah konversi (slurry) sebesar Rp.645/kg. Kotoran sapi memiliki harga jual yang berbeda – beda dikarenakan tidak adanya kepastian harga pasar tergantung proses tawar - menawar antara konsumen dan produsen kotoran sapi.

Pada kotoran sapi terdapat nilai tambah harga jual sebesar Rp.645/kg – Rp.351,66/kg = Rp.293,34/kg, ini menandakan terjadi kenaikan harga rata – rata hampir 2x lipat dikarenakan slurry yang dihasilkan memiliki kualitas lebih baik dari kotoran sapi biasa. Gas karbon yang terkandung pada kotoran sapi telah hilang melalui proses pengendapan (anaerob), menyisakan gas nitrogen yang dapat mempercepat pertumbuhan tanaman.

Jika produksi kotoran sapi yang dihasilkan per hari dijadikan biogas dan dijual dalam bentuk slurry, maka terdapat penyusutan 40 % kotoran sapi dari total kotoran sapi yang digunakan, artinya 60 % kotoran sapi dalam bentuk slurry siap dijual. Berikut ini perbandingan keuntungan dari harga jual kotoran sapi sebelum konversi dan sesudah konversi :

Tabel 4.14 Perbandingan Keuntungan Dari Harga Jual Kotoran Sapi

Sebelum Konversi Sesudah Konversi (slurry)

Rata – rata kotoran sapi yang dihasilkan per hari x harga kotoran sapi sebelum konversi

= 80 kg/hari x Rp. 351,67/kg = Rp.28.133,6/hari x 30 hari/bulan = Rp.844.008/bulan

Rata – rata kotoran sapi yang dihasilkan per hari x penyusutan x harga kotoran sapi sesudah konversi (slurry)

= 80 kg/hari x 60 % x Rp 645/kg = Rp.30.960/hari x 30 hari/bulan = Rp.928.800/bulan

Sumber : Data Primer (Diolah)

Dari perhitungan diatas, dapat dilihat bahwa menjual kotoran sapi sesudah konversi lebih menguntungkan daripada menjual kotoran sapi sebelum konversi walaupun produksi kotoran sapi yang dihasilkan per hari mengalami penyusutan akibat pengolahan biogas. Terdapat kenaikan keuntungan dari penjualan kotoran sapi, yaitu : Rp.928.800/bulan – Rp.844.008/bulan = Rp.84.792/bulan. Keuntungan dapat bertambah lagi bila biogas mampu dipasarkan namun kenyataannya belum dapat dijual karena alat dan tabung penampung gas bio belum ada.

Apabila dihitung dengan rata – rata pendapatan masyarakat, maka perbandingan keuntungan/Laba yang didapat sebagai berikut :

a. Sebelum Konversi

Pendapatan : Rp.1.707.216,67/bulan Biaya Pembelian Gas LPG

atau minyak tanah : Rp. 78.333,33/bulan - Rp.1.628.883,34/bulan Penjualan kotoran sapi : Rp. 844,008,00/bulan +

b. Sesudah Konversi

Pendapatan : Rp.1.707.216,67/bulan Penghematan biaya dari pembelian

Gas LPG atau minyak tanah : Rp. 78.333,33/bulan + Rp.1.785.550,00/bulan Penjualan kotoran sapi : Rp. 928.800,00/bulan +

Rp.2.714.350,00/bulan

Dari hasil perbandingan diatas, dapat dilihat bahwa pendapatan yang didapat lebih besar pada saat sesudah konversi dibandingkan sebelum konversi, artinya dengan adanya konversi dapat meningkatkan pendapatan. Kenaikan pendapatan tersebut yaitu sebesar : Rp.2.714.350,00/bulan – Rp.2.472.891,34/bulan = Rp.241.458,66/bulan.

Dokumen terkait