• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksanaan Tugas Pokok dan Wewenang Bank Indonesia

3.1. Stabilitas Moneter

3.1.3. Koordinasi dengan Pemerintah

Dalam rangka pengendalian inflasi, Bank Indonesia senantiasa memperkuat koordinasi dengan pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah. Koordinasi tersebut dilakukan melalui Tim Pengendalian Inflasi (TPI) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Selama triwulan II-2014, koordinasi pengendalian inflasi ditandai oleh penetapan sasaran inflasi 2016-2018, pelaksanaan rapat koordinasi TPID tingkat nasional, dan antisipasi terhadap lonjakan harga menjelang dan selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri 2014.

Terkait penetapan sasaran inflasi 2016-2018, Pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) menetapkan sasaran inflasi untuk Tahun 2016, 2017 dan 2018. Untuk masing-masing tahun, sasaran inflasi adalah sebesar 4,0%; 4,0%; dan 3,5% dengan deviasi ±1%. Sesuai dengan Undang-undang, sasaran inflasi ditetapkan oleh pemerintah setelah berkoordinasi dengan Bank Indonesia. Proses awal pembahasan yang melibatkan Pemerintah dan Bank Indonesia telah dimulai pada akhir tahun 2013, dan usulan secara resmi disampaikan oleh Bank Indonesia10 kepada Pemerintah. Untuk mencapai sasaran inflasi tersebut, Bank Indonesia akan menempuh berbagai langkah yang diperlukan termasuk langkah-langkah penguatan koordinasi kebijakan pengendalian inflasi melalui TPI dan Kelompok Kerja Nasional (Pokjanas) TPID di tingkat pusat dan TPID di tingkat daerah.

Sejalan dengan hal tersebut, dalam rangka penguatan koordinasi pengendalian inflasi, Gubernur Bank Indonesia, Menko Perekonomian, dan Mendagri, memperbaharui nota kesepahaman pembentukan Kelompok Kerja Nasional Tim Pengendalian Inflasi Daerah (Pokjanas TPID) pada tanggal 21 April 2014. Melalui nota kesepahaman tersebut, peran dan fungsi Pokjanas TPID semakin diperkuat, yang mencakup: (i) sinkronisasi program kerja TPID dengan Nasional; (ii) penguatan kerja sama antar daerah untuk mendukung ketahanan pangan; (iii) peningkatan kompetensi aparatur pusat dan daerah tentang analisis dan koordinasi pengendalian inflasi; dan (iv) percepatan pengembangan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS). Hal ini menjadi sangat strategis dengan mempertimbangkan perkembangan TPID yang sangat pesat dimana sampai dengan akhir Juni 2014, telah terdapat 33 TPID provinsi dan 261 TPID kab/kota yang melaporkan pembentukannya secara resmi kepada Kantor Perwakilan di daerah.

Dalam upaya menjaga kestabilan makroekonomi dan sistem keuangan, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait.

Sementara itu, dalam rangka memperkuat koordinasi pengendalian inflasi di seluruh daerah, telah dilaksanakan Rapat Koordinasi Nasional (RAKORNAS) TPID V pada 21 Mei 2014 di Jakarta. Rakornas V TPID tersebut diikuti oleh Gubernur dan Walikota/Bupati yang mewakili 233 TPID (33 provinsi dan 200 kabupaten/kota), jauh lebih banyak dibanding Rakornas tahun sebelumnya yang diikuti oleh 95 TPID. Hal itu sejalan dengan pesatnya pertambahan TPID dalam setahun terakhir, yang menunjukkan besarnya komitmen Kepala Daerah dalam menjaga stabilitas harga dan meningkatkan perekonomian di daerah. Pada Rakornas V TPID yang dibuka secara resmi oleh Presiden RI tersebut, dihasilkan tiga kesepakatan penting. Tiga kesepakatan tersebut yaitu, (i) meningkatkan kerja sama antardaerah di bidang ketahanan pangan melalui dukungan perencanaan program kerja dan penyediaan anggaran di daerah; (ii) meningkatkan ketersediaan dan kualitas data dan informasi surplus defisit pangan di setiap daerah oleh TPID untuk menjadi acuan dalam melakukan kerja sama antardaerah; dan (iii) meningkatkan kapasitas pengelolaan kerja sama antardaerah, antara lain melalui bimbingan dan konsultasi bagi TPID yang difasilitasi oleh Kelompok Kerja Nasional (Pokjanas) TPID. Pada kegiatan tersebut, Gubernur Bank Indonesia menyatakan bahwa untuk mengatasi masalah tersebut, diperlukan komitmen yang kuat dari Kepala Daerah serta tersedianya data dan informasi yang akurat sebagai dasar untuk menjajaki kerja sama antara satu daerah dengan daerah lainnya. Untuk itu, diperlukan 4 langkah strategi dalam pengendalian inflasi daerah yang diarahkan untuk tercapainya “4K” yaitu Ketersediaan pasokan, Keterjangkauan harga, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi ekspektasi.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Rakornas V TPID, sebelumnya juga diselenggarakan Sarasehan Nasional yang diikuti oleh seluruh peserta Rakornas. Kegiatan dimaksudkan untuk menggali pemikiran dari peserta Rakornas, khususnya dari Kepala Daerah, mengenai upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk membangkitkan ekonomi daerah. Upaya yang akan dilakukan yaitu (i) mempercepat laju pertumbuhan ekonomi yang kuat dan inklusif, (ii) menjaga inflasi yang rendah dan stabil, dan (iii) mempercepat reformasi struktural yang konkrit di daerah. Dalam kegiatan tersebut berkembang pemikiran mengenai pentingnya kepemimpinan dengan komitmen yang tinggi, perencanaan yang berperspektif jangka panjang, dan dukungan infrastruktur serta kelembagaan yang kuat.

Selain itu, dalam rangka antisipasi tekanan inflasi pada bulan Ramadhan dan risiko inflasi pada semester II-2014, telah dilaksanakan rapat koordinasi TPI dan Pokjanas TPID tanggal 19 Juni 2014 di Jakarta. Rapat dilanjutkan dengan rakor bersama TPID di kota-kota yang dalam 3 tahun terakhir mencatat inflasi cukup tinggi saat Lebaran. Kota-kota tersebut yakni Pangkal Pinang dan Bengkulu untuk wilayah Sumatra; Tangerang, Bekasi dan Depok untuk wilayah Jawa dan Ternate dan Samarinda untuk wilayah Kawasan Timur Indonesia (KTI). Rekomendasi yang dihasilkan antara lain terkait kecukupan pasokan beras, daging sapi, dan bawang merah. Hasil rekomendasi tersebut telah disampaikan dalam Rakortas Pangan di Kantor Menko Ekonomi pada tanggal 24 Juni 2014. Rapat juga membahas mengenai kepastian menjaga kelancaran transportasi dan distribusi barang selama bulan Ramadhan.

Di tingkat daerah, berbagai program dan upaya pengendalian inflasi dalam mengantisipasi lonjakan harga selama Ramadhan dan Idul Fitri telah dilakukan oleh berbagai TPID, antara lain:

a) Penguatan pasokan pangan melalui kegiatan pasar murah yang dilakukan secara merata di berbagai wilayah, terutama untuk bahan pokok seperti beras, minyak goreng, tepung terigu, gula dan telur. Selain itu, terdapat beberapa komoditas spesifik yang disesuaikan dengan kebutuhan daerahnya, antara lain ikan segar untuk Maluku. Dalam pelaksanaannya, kegiatan bekerja sama dengan BUMD dan BULOG (Bulogmart). b) Mendukung kelancaran distribusi pangan dengan memprioritaskan transportasi untuk

keperluan angkutan kebutuhan pokok, mempercepat rehabilitasi jalan dan jembatan serta beberapa program spesifik seperti percepatan bongkar muat kapal di pelabuhan, dan penambahan jam operasional pelabuhan.

c) Monitoring dan pengawasan langsung di lapangan melalui sidak ke perusahaan/

distributor dan pasar di berbagai daerah, untuk melihat kesiapan pasokan khususnya bahan pangan pokok.

d) Pengelolaan ekspektasi masyarakat dengan melakukan komunikasi publik secara intens melalui berbagai media, antara lain jumpa pers serta talkshow di radio dan TV. Selain memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam rangka mencapai target inflasi, Bank Indonesia juga terus menjalin koordinasi dengan pemerintah untuk memperkuat Protokol Manajemen Krisis (PMK). Pertemuan koordinasi dilakukan secara rutin dengan pemerintah dan lembaga terkait lainnya dalam rangka PMK Nasional. Sepanjang triwulan II-2014, telah dilakukan rapat koordinasi rutin bulanan di tingkat Deputi Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) dan rapat koordinasi rutin tiga bulanan di tingkat anggota FKSSK.

Bank Indonesia juga terus berupaya memperkuat PMK internal. Dalam rangka mendukung implementasi PMK Nasional, Bank Indonesia melakukan asesmen secara reguler terhadap perkembangan dan risiko nilai tukar, termasuk di dalamnya memperkuat metode dan indikator surveillance. Selain itu, Bank Indonesia juga melakukan serangkaian bahasan guna memantapkan relevansi, governance, dan pijakan prosedur PMK Internal; khususnya terkait peran Bank Indonesia dalam stabilitas sistem keuangan pasca beralihnya pengaturan dan pengawasan perbankan ke Otoritas Jasa Keuangan sejak 31 Desember 2013.

BAB III Pelaksanaan Tugas Pokok dan Wewenang Bank Indonesia

BOKS

BOKS

Strategi 4K dalam Pengendalian Harga

Dalam rangka pengendalian harga secara umumdan antisipasi meningkatnya tekanan inflasi karena faktor musiman pada khususnya, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Kelompok Kerja Nasional (Pokjanas) TPID telah merumuskan empat langkah strategis atau disebut sebagai strategi “4K”. Strategi 4K merupakan strategi pengendalian harga yang berfokus pada: (i) Ketersediaan pasokan, (ii) Keterjangkauan harga, (iii) Kelancaran distribusi, dan (iv) Komunikasi untuk mengarahkan ekspektasi inflasi masyarakat. Strategi tersebut sejalan dengan amanat Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) No. 027 Tahun 2013 tentang Menjaga Keterjangkauan Barang dan Jasa di Daerah yang ditujukan kepada seluruh Kepala Daerah (Gubernur/Bupati/Walikota). Inmendagri tersebut merupakan dasar hukum pembentukan TPID.

Pertama, strategi menjaga ketersediaan pasokan barang khususnya untuk memenuhi kebutuhan pokok. TPID memperkuat komitmen dan meningkatkan realisasi kerjasama perdagangan dengan daerah pemasok barang kebutuhan pokok serta membangun sistem cadangan pangan untuk komoditas strategis. Dalam hal ini, Bank Indonesia mendukung strategi tersebut dengan melaksanakan program pengembangan sentra bahan pangan melalui pembinaan klaster yang dilakukan oleh Kantor-Kantor Perwakilan Bank Indonesia di daerah, seperti pengembangan klaster komoditas cabai di Kediri.

Kedua, strategi menjaga keterjangkauan harga. TPID mendorong adanya transparansi dalam proses pembentukan harga, misalnya melalui penerapan proses lelang di sentra distribusi/pasar induk. Selain itu, TPID juga melaksanakan program stabilisasi harga antara lain melalui pasar penyeimbang dan pasar murah khususnya ketika permintaan meningkat.

Ketiga, strategi menjamin kelancaran distribusi barang. TPID mendorong peningkatan dan perbaikan infrastruktur, antara lain jalan akses ke pelabuhan dan sentra industri/logistik. Kerjasama dengan aparat terus diperkuat guna menjamin kelancaran dan keamanan distribusi barang, termasuk memberantas penimbunan stok.

Keempat, strategi komunikasi untuk mengarahkan ekspektasi inflasi masyarakat. TPID melaksanakan berbagai program komunikasi yang mengusung tema terkait upaya-upaya pengendalian harga melalui beragam channelkomunikasi, antara lain jumpa pers dan talkshow di radio dan TV. Selain itu, TPID juga mengembangkan program prioritas Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) sejak 2013. Dengan meningkatkan akses data dan informasi kepada pelaku ekonomi, PIHPS merupakanr eferensi harga komoditas pangan yang terpadu dan dapat diperoleh melalui papan informasi harga, sms gateway, dan website informasi harga.

Selama triwulan II 2014, strategi 4K diimplementasikan melalui pelaksaan program kerja TPID untuk mendukung ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi menjelang hari raya Idul Fitri di sejumlah wilayah. Program-program kerja tersebut

BAB III Pelaksanaan Tugas Pokok dan Wewenang Bank Indonesia

11 PBI No. 16/7/PBI/2014 tanggal 7 April 2014 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Bank Indonesia No. 7/1/PBI/2005 tentang Pinjaman Luar Negeri Bank.