• Tidak ada hasil yang ditemukan

Koordinasi Pasca Penetapan  Penataan Batas

EVALUAS I Fungsi suaka perikana Potensi

Ekologi, Sosial Budaya

dan Ekonomi SUAKA ALAM PERAIRAN

• Minim Data dan Pengelolaan

• MULTI TAFSIR terhadap lokasi kawasan

Suaka Alam Perairan di Kawasan Perairan Sebelah Barat Kepulauan Waigeo dalam hal ini Kepulauan Panjang dan Laut Sekitarnya seluas lebih kurang 271.630 (dua ratus tujuh puluh satu ribu enam ratus tiga puluh) hektar, yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri

Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP. 65/MEN/2009 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan Waigeo Sebelah Barat dan Laut di Sekitarnya di Provinsi Papua Barat

Perlu adanya pembuatan zonasi konservasi kawasan. Selama ini kawasan tersebut hanya menyebutkan luasannya saja tanpa ada pembagian zonasinya (zona inti, zona penyangga, dan zona pemanfaaatan) secara jelas;

Perlu adanya sosialisasi tata batas luar kawasan kepada masyarakat;

Perlu adanya penyiapan SDM yang mempunyai kapabilitas dalam pengelolaan kawasan tersebut;

Perlu adanya konsistensi kebijakan tentang pengelolaan kawasan tersebut;

Perlu adanya sistem perencanaan dan pengembangan yang sinergis dan multi sector;

Agar pengelolaan berjalan efektif dan efisien, pengelolaan harus

mengacu pada prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat. Menjamin hak-hak dasar kehidupan masyarakat, partisipatif, dan transparansif, sinergisitas antar sector, dan mempunyai orientasi jangka panjang (visioner). EVALUAS I Fungsi Taman Wisata Potensi

Ekologi, Sosial Budaya dan Ekonomi

TAMAN WISATA PERAIRAN

• Fungsi Ekologis Kawasan Masih baik • Sarana dan Prasarana telah

memadai, namun belum

dimanfaatkan secara optimal • Perlu pengelolaan lebih baik dan

Taman Wisata Perairan Kepulauan Kapoposang dan Laut di Sekitarnya seluas lebih kurang 50.000 (lima puluh ribu) hektar, yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP. 66/MEN/2009 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan

Nasional Kepulauan Kapoposang dan Laut di Sekitarnya di Provinsi Sulawesi Selatan

Kegiatan Pariwisata Bahari telah berjalan baik

Perlu pengelolaan lebih terpadu, melibatkan peran daerah

Fungsi Pengawasan Kawasan Perlu ditingkatkan Potensi Ekologis:

pantai pasir putih yang indah,

berbagai jenis terumbu karang diantaranya: Karang Lunak (Heliophora sp.), Anthiphates sp, Montiphora dan Acropbora dan berbagai jenis ikan hias yang menawan.

Potensi Ekonomi:

Kegiatan Pariwisata Bahari telah berjalan baik (diving, snorkling, sun bathing, kanoing, swimming, foto hunting dan Fishing, dll)

Berdampak bagi kesejahteraan masyarakat sekitar Potensi Sosial Budaya:

Ada sistem yang berdampak baik terhadap fungsi kawasan  AWIG-AWIG

EVALUAS I Fungsi Taman Wisata Potensi

Ekologi, Sosial Budaya dan Ekonomi

TAMAN WISATA PERAIRAN

Taman Wisata Perairan Pulau Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili

Trawangan dan Sekitarnya seluas lebih kurang 2.954 (dua ribu sembilan ratus lima puluh empat) hektar, yang ditetapkan

berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP. 67/MEN/2009 tentang Penetapan Kawasan Konservasi

Perairan Nasional Pulau Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili Trawangan di Provinsi Nusa Tenggara Barat

TINDAKLANJUT

Melakukan penataan batas kawasan

Penyediaan SDM pengelola kawasan yang memadai

Sarana dan prasarana pengawasan untuk patroli

Pemberian mata pencaharian alternative kepada masyarakat

Pelatihan-pelatihan ketrampilan bagi masyarakat.

Rehabilitasi kawasan yang sudah rusak.

Melihat kondisi sumberdaya yang ada di Kepulauan

Padaido, maka kawasan ini dapat dikembangkan sebagai Taman Wisata Perairan

EVALUAS I Fungsi Taman Wisata Potensi

Ekologi, Sosial Budaya dan Ekonomi

TAMAN WISATA PERAIRAN

• Belum ada Penataan Batas

• Sering Terjadi Pelanggaran didalam Kawasan  pemanfaatan penyu,

destructive fishing,

• Pengawasan Kurang optimal • Potensi Wisata  PERLU

Taman Wisata Perairan Kepulauan Padaido Beserta Laut di Sekitarnya seluas lebih kurang 183.000 (seratus delapan puluh tiga ribu) hektar, yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan

Perikanan Nomor: KEP. 68/MEN/2009 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan Padaido dan Laut di

POTENSI EKOLOGIS

Keanekaragaman Hayati. Habitat bagi hewan bawah laut, dengan formasi terumbu karang

Kealamiahan. Masih alamiah dan belum di jamah terutama kehidupan bawah laut

Keterwakilan. Menurut penelitian, seluruh jenis karang dan ikan yang berada di perairan maluku, dapat dilihat di taman laut banda. Tahun 2007 TL Banda pernah diusulkan menjadi salah satu keajaiban dunia, oleh PEMDA Maluku

Keunikan. Mempunyai terumbu karang yang dapat dengan cepat memperbaharui diri sendiri. (dari hasil penelitian)

POTENSI SOSIAL BUDAYA

Dukungan Masyarakat. Sebagian masyarakat mendukung keberadaan CAL Banda, biasanya bersama petugas menjaga kelestarian serta keamanan kawasan

Potensi Konflik Kawasan. Otonomisasi membuat terkadang kawaskonservasi tidak dapat diterima oleh PEMDA, tetapi hal ini diusahakan dapat diatasi dengan kerja sama dan koordinasi oleh BKSDA Maluku (kawasan di jadikan tempat berlabuhnya kapal, kawasan dijadikan tempat pembudidayaan mutiara secara legal sesuai SK PEMDA). Untuk konflik dengan masyarakat biasanya terjadi saat masyarakat sendiri mempunyau kebutuhan hidup yang harus dipenuhi contohnya kebutuhan pasir, batu yang sampai saat ini kadang di ambil dari kawasan

Potensi Ancaman. Bertambahnya penduduk sesuai dengan berjalannya zaman, kebutuhan akan tempat pemukiman membuat pinggiran kawasan semakin dilirik. (ancaman yg akan terjadi limbah rumah tangga)

Kearifan Lokal. Budaya ”SASI”, saat ini sudah mulai menghilang dari masyarakat sekitar POTENSI EKONOMI

Nilai Penting Perikanan dan Kealamiaan terjaga

AKSES Pesawat udara 1-2 Kali seminggu, dan Kapal PELNI 2 minggu 1 kali. Speed boat dari ambon 3 Kali seminggu EVALUAS I Fungsi Taman Wisata Potensi

Ekologi, Sosial Budaya dan Ekonomi

TAMAN WISATA PERAIRAN

Taman Wisata Perairan Laut Banda seluas lebih kurang 2.500 (dua ribu lima ratus) hektar, yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP. 69/MEN/2009

tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Laut Banda di Provinsi Maluku

Sudah ada rencana pengelolaan, namun belum ada pengelolaan kawasan Masalah:

Kerusakan terumbu karang secara sistimatis

Terancam tenggelam karena pengikisan pantai atau abrasi pantai

Status kepemilikan pulau yang masih belum jelas karena adanya klaim sebagai milik perseorangan maupun tanah ulayat (adat) dan saat ini dikelola dengan cara dikontrakkan kepada orang yang mau memanfaatkan tanaman kelapanya.

Saran:

Melakukan imventarisasi dan identifikasi status hak kepemilikan daratan/tanah pada pulau-pulau dalam kawasan TWA P.Pieh dan Perairan sekitarnya.

Melakukan Konfirmasi lapangan atas Peta TWA P.Pieh dan Perairan sekitarnya sebagaimana Lampiran Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No.070/Kpts-II/2000.

Melakukan Reviev kondisi Ekologi dan Biofisik TWA P.Pieh dan Periaran sekitarnya

EVALUAS I Fungsi Taman Wisata Potensi

Ekologi, Sosial Budaya dan Ekonomi

TAMAN WISATA PERAIRAN

Taman Wisata Perairan Pulau Pieh dan Laut Sekitarnya seluas lebih kurang 39.900 (tiga puluh Sembilan ribu Sembilan ratus) hektar, yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan

Perikanan Nomor: KEP. 70/MEN/2009 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Pulau Pieh dan Laut di Sekitarnya di Provinsi Sumatera Barat

◦ mengumumkan dan mensosialisasikan KKPN

kepada masyarakat; dan

◦ menunjuk Panitia Penataan Batas Kawasan yang

terdiri dari unsur-unsur pejabat pemerintah dan

Dokumen terkait