• Tidak ada hasil yang ditemukan

Koperasi ini berperan dalam menghimpun dan mengembangkan potensi UMKM AK Ciomas untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi para pengrajin. Koperasi turut memperkenalkan hasil karya UMKM AK Ciomas dan juga membina pengrajin agar lebih mandiri.

3. Perbankan (A3)

Perbankan merupakan suatu lembaga perantara yang dapat mendorong kemajuan pengembangan usaha melalui fasilitas kredit dan kemudahan pembayaran/penarikan uang. Perbankan dipercaya untuk melayani segala kebutuhan dana, termasuk kebutuhan UMKM.

4. Pengrajin (A4)

Pengrajin memiliki hak untuk menentukan arah dan tujuan dari usaha yang dijalankan. Kemampuan pengrajin dalam mengelola aktivitas bisnisnya akan mempengaruhi kemampuan usaha tersebut untuk berkembang.

Tujuan yang ingin dicapai dalam pengembangan usaha 1. Menciptakan kontinuitas produksi (T1)

Keberhasilan strategi pengembangan usaha diharapkan dapat membuat UMKM AK Ciomas memproduksi alas kaki secara kontinu, tidak hanya berdasarkan pesanan atau pada musim-musim tertentu saja. Adanya kontinuitas produksi akan berdampak pada kestabilan pendapatan pengrajin. 2. Memperbesar skala usaha (T2)

Pengembangan usaha memungkinkan UMKM AK Ciomas dapat memperbesar skala usahanya, dari segi tenaga kerja, kelayakan bengkel usaha, kuantitas produk yang dihasilkan, dan aspek hukum dalam usaha. 3. Mendorong kemandirian usaha (T3)

Kemandirian usaha membuat UMKM AK Ciomas dapat mengontrol seluruh aktivitas bisnis dan harga jualnya sendiri. Hal itu berdampak pada menguatnya posisi tawar UMKM AK Ciomas dalam penjualan produk dan mempengaruhi tingkat keuntungan yang diperoleh.

Alternatif strategi pengembangan usaha

1. Aktif mencari daerah pemasaran baru dengan turut meningkatkan kualitas dan inovasi produk (S1).

2. Menjalin kemitraan dengan pemerintah dan instansi terkait (S2).

3. Membangun kerjasama dengan sesama pengrajin untuk menciptakan ciri khas produk dan menawarkan harga bersaing dengan layanan penjualan yang baik (S3).

4. Fokus pada peningkatan penjualan produk di pasar yang sudah ada dan mempertahankan pelanggan (S4).

19 Pengolahan data AHP terdiri dari dua tahap, yaitu pengolahan horizontal dan pengolahan vertikal. Pengolahan horizontal digunakan untuk menyusun prioritas unsur pada satu level hierarki terhadap unsur yang berada satu level di atasnya. Sedangkan pengolahan vertikal digunakan untuk menyusun prioritas pengaruh setiap unsur terhadap fokus utama.

Pengolahan Horizontal a. Aktor

Tingkat kepentingan/pengaruh masing-masing aktor terhadap setiap faktor yang berpengaruh dalam pengembangan usaha dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Hasil pengolahan horizontal tingkat aktor

Aktor / Faktor F1 F2 F3 F4 F5 F6

A1 0,294 0,508 0,450 0,340 0,477 0,510 A2 0,198 0,195 0,154 0,149 0,219 0,184

A3 0,097 0,111 0,094 0,095 0,153 0,117

A4 0,411 0,186 0,302 0,416 0,151 0,189

Sumber: Data diolah, 2013

Dari Tabel 8. diketahui bahwa pengrajin (A4) memiliki tingkat kepentingan tertinggi terhadap jaringan dengan pemasok bahan baku (F1). Hal ini dikarenakan pengrajin berhubungan secara langsung dengan pemasok dalam pengadaan bahan baku produksi. Pengrajin juga memiliki peran paling penting dalam mendorong keahlian dan keterampilan tenaga kerja (F4).

Sementara itu, pemerintah daerah (A1) memiliki tingkat kepentingan tertinggi dalam pengadaan teknologi peralatan produksi (F2) serta peningkatan pengalaman dan kemampuan manajerial pemilik usaha (F3). Selain itu, pemerintah daerah (A1) sangat berperan untuk membantu UMKM AK Ciomas dalam menjalin kemitraan dengan perbankan/koperasi (F5) serta memberikan bantuan dan bimbingan teknis/operasional kepada para pengrajin (F6).

b. Tujuan

Bobot setiap tujuan terhadap aktor yang berperan dalam pengembangan UMKM AK Ciomas dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Hasil pengolahan horizontal tingkat tujuan

Tujuan / Aktor A1 A2 A3 A4

T1 0,205 0,169 0,168 0,279

T2 0,190 0,293 0,308 0,351

T3 0,605 0,538 0,523 0,370

Sumber: Data diolah, 2013

Tabel 9. menunjukkan tujuan yang paling diutamakan dan ingin dicapai dalam pengembangan UMKM AK Ciomas bagi setiap aktor, yaitu mendorong kemandirian usaha (T3). Adanya kemandirian usaha akan berpengaruh pada menguatnya posisi UMKM AK Ciomas dalam seluruh aktivitas bisnisnya.

c. Alternatif Strategi

20

Tabel 10. Hasil pengolahan horizontal tingkat strategi

Strategi / Tujuan T1 T2 T3

S1 0,093 0,143 0,114

S2 0,473 0,429 0,499

S3 0,209 0,268 0,234

S4 0,225 0,160 0,153

Sumber: Data diolah, 2013

Berdasarkan Tabel 10. alternatif strategi yang paling diminati para pakar untuk mencapai setiap tujuan adalah menjalin kemitraan dengan pemerintah dan instansi terkait (S2).

Pengolahan Vertikal a. Faktor

Tingkat kepentingan setiap faktor terhadap pengembangan usaha dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Hasil pengolahan vertikal tingkat faktor

Faktor Bobot Prioritas

F1 0,064 6 F2 0,246 2 F3 0,129 3 F4 0,067 5 F5 0,128 4 F6 0,366 1

Sumber: Data diolah, 2013

Faktor bantuan dan bimbingan teknis/operasional dari pemerintah (F6) memperoleh bobot tertinggi diantara semua faktor. Bantuan dan bimbingan yang diberikan secara intensif oleh pemerintah akan dapat meminimalisir hambatan-hambatan yang dihadapi UMKM AK Ciomas dalam mengembangkan usahanya. Faktor yang menjadi prioritas kedua bagi pengembangan usaha adalah teknologi peralatan produksi (F2). Faktor pengalaman dan kemampuan manajerial pemilik usaha (F3) menjadi prioritas ketiga yang dipertimbangkan dalam penentuan strategi pengembangan usaha. Faktor yang menjadi pertimbangan berikutnya adalah kemitraan dengan perbankan/koperasi (F5). Dua faktor yang memiliki tingkat kepentingan paling rendah adalah keahlian dan keterampilan tenaga kerja (F4) dan jaringan dengan pemasok bahan baku (F1).

b. Aktor

Bobot aktor terhadap fokus utama ditunjukkan pada Tabel 12. Tabel 12. Hasil pengolahan vertikal tingkat aktor

Aktor Bobot Prioritas

A1 0,472 1

A2 0,186 3

A3 0,114 4

A4 0,227 2

21 Aktor yang dianggap memiliki peran paling penting dalam pengembangan UMKM AK Ciomas adalah Pemerintah Daerah (A1). Hal ini dikarenakan pemerintah daerah berfungsi sebagai fasilitator, regulator, dan katalisator bagi pemberdayaan UMKM. Pengrajin (A4) merupakan aktor yang memiliki prioritas kedua dalam pengembangan usaha. Sementara itu, aktor yang menjadi prioritas ketiga dan keempat adalah Koperasi Sepatu Sandal Kabupaten Bogor (A2) dan Perbankan (A3).

c. Tujuan

Tabel 13. menunjukkan hasil pengolahan vertikal pada tingkat tujuan. Tabel 13. Hasil pengolahan vertikal tingkat tujuan

Tujuan Bobot Prioritas

T1 0,211 3

T2 0,259 2

T3 0,529 1

Sumber: Data diolah, 2013

Tujuan utama yang ingin dicapai oleh UMKM AK Ciomas adalah mendorong kemandirian usaha (T3). Kemandirian usaha akan membuat UMKM AK Ciomas dapat menjalankan usahanya dibawah kendali mereka sendiri. Sedangkan memperbesar skala usaha (T2) menjadi prioritas kedua dari tujuan pengembangan usaha UMKM AK Ciomas. Prioritas terakhir untuk tingkat tujuan adalah menciptakan kontinuitas produksi (T1).

d. Alternatif Strategi

Tabel 14. memperlihatkan bobot untuk setiap alternatif strategi.

Tabel 14. Hasil pengolahan vertikal tingkat strategi

Strategi Bobot Prioritas

S1 0,118 4

S2 0,474 1

S3 0,238 2

S4 0,170 3

Sumber: Data diolah, 2013

Berdasarkan Tabel 14. diketahui bahwa alternatif strategi yang paling diminati dan menjadi prioritas utama para pakar adalah menjalin kemitraan dengan pemerintah dan instansi terkait (S2). Strategi S2 dinilai paling implementatif karena sesuai dengan kebutuhan dan kondisi faktual UMKM AK Ciomas saat ini. Dengan adanya penerapan strategi ini, terbuka kemungkinan untuk mewujudkan pengembangan usaha pada UMKM AK Ciomas, baik untuk UMKM pengrajin maupun UMKM mandiri.

Strategi yang menjadi prioritas kedua untuk diterapkan adalah membangun kerjasama dengan sesama pengrajin untuk menciptakan ciri khas produk dan menawarkan harga bersaing dengan layanan penjualan yang baik (S3). Strategi ini membuat usaha pengrajin dapat berkembang menjadi lebih efektif, efisien, dan kompetitif di tengah maraknya persaingan produk lokal maupun impor. Namun strategi S3 lebih direkomendasikan untuk UMKM mandiri. Alternatif strategi

22

berikutnya yang menjadi prioritas ketiga adalah fokus pada peningkatan penjualan produk di pasar yang sudah ada dan mempertahankan pelanggan (S4). Strategi ini

merupakan strategi „bertahan‟ yang dapat diterapkan UMKM AK Ciomas untuk

meminimalisir kelemahan usaha dan dampak ancaman yang dihadapi. Strategi S4 sangat implementatif untuk diterapkan pada UMKM pengrajin. Strategi yang menjadi prioritas keempat adalah aktif mencari daerah pemasaran baru dengan turut meningkatkan kualitas dan inovasi produk (S1). Strategi ini menjadi prioritas terakhir yang dipilih para pakar karena dirasa masih cukup sulit untuk diimplementasikan pada UMKM AK Ciomas saat ini, terutama untuk UMKM pengrajin, dibanding alternatif strategi yang lain.

Struktur hierarki AHP untuk pengembangan UMKM AK Ciomas dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Struktur Hierarki AHP UMKM AK Ciomas Strategi Pengembangan Usaha pada UMKM

AK Ciomas Teknologi peralatan produksi (0,246) Keahlian/ keteram-pilan tenaga kerja (0,067) Pengalaman dan kemampuan manajerial pemilik usaha (0,129) Jaringan dengan pemasok bahan baku (0,064) Kemitraan dengan perbankan atau koperasi (0,128) Bantuan dan bimbingan teknis/operasi onal dari pemerintah (0,366) Pemerintah Daerah (0,472) Koperasi Sepatu Sandal (0,186) Perbankan (0,114) Pengrajin (0,227) Menciptakan kontinuitas produksi (0,211) Memperbesar skala usaha (0,259) Mendorong kemandirian usaha (0,529) F O K U S F A K T O R A K T O R T U J U A N S T R A T E G I

Aktif mencari daerah pemasaran baru

dengan turut meningkatkan kualitas dan inovasi

produk (0,118)

Menjalin kemitraan dengan pemerintah dan instansi terkait

(0,474)

Membangun kerjasama dengan

sesama pengrajin untuk menciptakan ciri khas produk dan

menawarkan harga bersaing dengan layanan penjualan yang baik (0,238) Fokus pada peningkatan penjualan produk di pasar yang sudah ada dan mempertahankan

pelanggan (0,170)

23 Implikasi Manajerial

Implikasi manajerial dalam pengembangan UMKM AK Ciomas dapat dirumuskan dalam beberapa langkah strategis berikut:

1. Dalam kegiatan produksi/operasi, UMKM AK Ciomas perlu menggunakan peralatan modern untuk meningkatkan produktivitas, efektivitas, dan efisiensi proses produksi. Adanya keterbatasan modal dan keterbelakangan teknologi membuat pihak UMKM AK Ciomas perlu mengajukan bantuan kepada pemerintah untuk pengadaan mesin-mesin modern. Untuk saat ini, Pemda baru dapat memfasilitasi mesin-mesin modern di Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pengembangan Industri Kulit yang dapat digunakan secara gratis oleh pengrajin. UMKM AK Ciomas perlu memanfaatkan fasilitas yang disediakan UPT guna meningkatkan kapasitas dan kualitas output yang dihasilkan.

2. Dari segi pemasaran, besarnya tekanan persaingan membuat UMKM AK Ciomas perlu melakukan kegiatan promosi untuk menjangkau pasar yang lebih luas namun dengan biaya yang rendah, misalnya melalui internet. Selain itu, UMKM AK Ciomas perlu meminta pemerintah/koperasi untuk turut membantu kegiatan promosi dan pemasaran produk, seperti mengadakan pameran, menyediakan display/toko khusus, dan membantu pemasaran ke luar daerah. UMKM AK Ciomas perlu menciptakan merek dagang dan ciri khas produk

agar produknya „berbeda‟ dari produk pesaing.

3. Dari segi keuangan, adanya keterbatasan finansial membuat UMKM AK Ciomas mengalami kesulitan dalam memperoleh modal awal dan modal kerja. UMKM AK Ciomas membutuhkan kredit dari perbankan untuk mengatasi masalah tersebut, sehingga UMKM AK Ciomas perlu menyusun sistem pembukuan yang sesuai dengan kaidah administrasi pembukuan standar, agar terlihat jelas arus keluar-masuknya uang dalam usaha. Selain itu, UMKM AK Ciomas perlu mengajukan pendanaan selektif dari pihak pemerintah/koperasi untuk menghilangkan ketergantungan modal pada pemberi pesanan.

4. Dalam konteks SDM, UMKM AK Ciomas memiliki keterbatasan dalam aspek kewirausahaan, manajemen, pengembangan produk, akuntansi, quality control, teknik pemasaran, dan organisasi bisnis. Hal itu membuat pemilik usaha perlu mengikuti kegiatan pelatihan, seminar, atau penyuluhan yang diadakan oleh pemerintah ataupun lembaga lain untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan usahanya. Pemilik usaha dan pekerja perlu meningkatkan motivasi dan terus menjaga hubungan kekeluargaan dalam usaha.

Dokumen terkait