HASIL DAN PEMBAHASAN
2 Koperasi Unit Desa (KUD)
(Rp/Kg) ( Rp/Kg)
1 Harga Jual Petani Kelapa sawit 450 64,28
2 Koperasi Unit Desa (KUD)
Harga Beli KUD 450
Biaya Pemasaran a. Sortasi 15 2,14 b. Transportasi 25 4,20 c. Bongkar Muat 5 0,71 d. Pajak 5 0,71 e. Penyimpanan 5 0,71 f. Penyusutan 5 0,71
Total Biaya Pemasaran 60 8,57
Margin Pemasaran 250
Profit Pemasaran 190 27,14
Harga Jual KUD 700
4 PKS
Harga Beli PKS (Pabrik Kelapa
/Kg. Margin pemasaran yang diterima dari sampel Koperasi Unit Desa (KUD) adalah Rp.250 /Kg. Sedangkan profit pemasaran yang diterima oleh Koperasi Unit Desa (KUD) sebesar Rp.190 /Kg, adapun besar nilai share profit Koperasi Unit Desa (KUD) adalah 27%.
Tabel 14. Price Spread dan Share Margin Saluran Pemasaran I Kelapa sawit di Desa Mananti No Uraian Price Spread Share Margin (%) Biaya (Rp/Kg) Harga ( Rp/Kg)
1 Harga Jual Petani Kelapa sawit 450 64,28
2 Biaya Pemasaran a. Sortasi 45 6,42 b. Transportasi 90 12,85 c. Bongkar Muat 15 2,14 d. Pajak 15 2,14 e. Penyimpanan 15 2,14 f. Penyusutan 15 2,14
Total Biaya Pemasaran 195 27,86
3 Profit Pemasaran Pedagang 55 7,85
4
Harga Beli PKS (Pabrik Kelapa
Sawit) 700
Sumber : Analisis Data Primer (Lampiran 3,4,5,6)
Dari Tabel 14 dapat diketahui bahwa jumlah keseluruhan biaya pedagang pengumpul / agen adalah Rp.195 /Kg dengan share margin 27,86%. Harga beli PKS (Pabrik Kelapa Sawit) Rp.700 /Kg sehingga profit pedagang keseluruhan sebesar Rp.55 /Kg dengan share margin 7,85 %.
Tabel 15. Price Spread dan Share Margin Saluran Pemasaran II Kelapa sawit di Desa Mananti No Uraian Price Spread Share Margin (%) Biaya (Rp/Kg) Harga ( Rp/Kg)
1 Harga Jual Petani Kelapa sawit 450 64,28
2 Biaya Pemasaran a. Sortasi 30 4,28 b. Transportasi 60 8,57 c. Bongkar Muat 10 1,42 d. Pajak 10 1,42 e. Penyimpanan 10 1,42 f. Penyusutan 10 1,42
Total Biaya Pemasaran 130 18,57
3 Profit Pemasaran KUD 120 17,14
4
Harga Beli PKS (Pabrik Kelapa
Sawit) 700
Sumber : Analisis Data Primer (Lampiran 3,4,5,6)
Dari Tabel 15 dapat diketahui bahwa jumlah keseluruhan biaya Koperasi Unit Desa (KUD) adalah Rp.130 dengan share margin 18,57%. Harga beli PKS (Pabrik Kelapa Sawit) Rp.700 sehingga profit pedagang keseluruhan sebesar Rp.120 /Kg dengan share margin 17,14 %.
Efisiensi Pemasaran
Untuk menghitung efisiensi pemasaran pada saluran pemasaran kelapa sawit, maka digunakan rumus sebagai berikut :
Ep = Biaya Pemasaran x 100%
Nilai Produk yang Dipasarkan Keterangan :
Ep : Efisiensi Pemasaran
Adapun nilai efisiensi dari saluran pemasaran I di daerah penelitian dapat dilihat pada perhitungan berikut :
Ep =
700 195
Ep = 27,86 %; dan
Nilai efisiensi dari saluran pemasaran II di daerah penelitian dapat dilihat pada perhitungan berikut :
Ep =
700 130
x 100%
Ep = 18,57 %
Dari hasil analisis diperoleh nilai efisiensi pemasaran I dan II adalah 27,86 % dan 18,57 % maka dapat dikatakan saluran pemasaran kelapa sawit di daerah penelitian dikatakan efisien, karena nilai efisiensi pemasaran lebih kecil daripada 50 %.
Untuk menentukan efisiensi pemasaran bukan hanya dilihat dari besarnya angka efisensi pemasaran, namun ada faktor lain seperti mata rantai saluran pemasaran. Semakin sedikit lembaga pemasaran yang terlibat dalam saluran pemasaran, maka saluran pemasaran tersebut akan semakin efisien.
Hal lain yang dapat menentukan adalah biaya pemasaran. Biaya pemasaran yang tinggi disebabkan oleh panjangnya saluran pemasaran dan banyaknya fungsi pemasaran yang diembannya. Biaya pemasaran saluran I lebih tinggi dibandingkan biaya pemasaran II, nilai biaya pemasaran saluran I adalah Rp. 195 dengan share margin 27,86 %, sedangkan biaya pemasaran II adalah Rp. 130 dengan share margin 18,57 %. Selisih biaya pemasaran saluran I dan II adalah Rp. 65 dengan share margin 7,31 %.
Profit margin saluran I adalah Rp. 55/kg dengan share margin 7,85 %, profit margin saluran II adalah Rp. 120/kg dengan share margin 17,14 %. Selisih
profit margin saluran pemasaran I dan saluran II adalah Rp 75/kg, selisih share margin saluran I dan saluran II 10,69 %.
Jumlah volume penjualan juga mempengaruhi efisiensi tidaknya sistem pemasaran tersebut, dimana volume yang banyak, harga murah, dan jaraknya yang tidak jauh maka dapat dikatakan efisien. Dan sebaliknya, jika volume yang dijual sedikit, harga yang tinggi dan jarak yang ditempuh cukup jauh, maka hal ini cenderung akan membuat sistem pemasaran tidak efisien.
Elastisitas Transmisi Harga
Elastisitas transmisi harga yang dihitung adalah elastisitas transmisi harga antara CPO Internasional terhadap TBS (Tandan Buah Segar).
Hasil elastisitas transmisi harga dijelaskan pada tabel 16:
Tabel 16. Hasil Regresi dengan Variabel Terikat TBS (Tandan Buah Segar) Variabel B Std Error T-Hitung Signifikan
Constant -3,54 0,22 1,005 0.000
X1=Harga CPO Internasional 0,983 0,03 92,991 0.000(*)
R-Square=93,4% F-Hitung= 825,53 0.000(*) F-Tabel=19,5 T-hitung = 28,75 T-Tabel=2,75 D = 0,898 dl=1,62 du=1,55 0.01
Keterangan: * = nyata pada taraf kepercayaan 95%
Sumber : Diolah dari data sekunder (lampiran 16)
Tabel 16 menjelaskan bahwa elastisitas transmisi harga yang diperoleh dari analisis regresi linear berganda memenuhi persamaan sebagai berikut :
Y = -3,54 + 0,983X1
Dimana : d = 0,898 ; du = 1,55 ; dl = 1,62
Persamaan di atas diinterpetasikan sebagai berikut : - bo = -3,54, artinya nilai konstanta adalah sebesar -3,54.
- b1 = 0,983, artinya kenaikan harga CPO internasional sebesar 1 %, maka akan meningkatkan harga TBS (Tandan Buah Segar) sebesar 0,983 %. Menurut Sudiyono (2004) apabila elastisitas transmisi harga lebih kecil dari satu (Et < 1) dapat diartikan bahwa perubahan harga sebesar 1% ditingkat pemasar akan mengakibatkan perubahan harga kurang dari 1% ditingkat produsen. Hal ini disebabkan kenaikan input, seperti harga bahan baku (TBS), harga solar pabrik dan upah tenaga kerja dalam pembuatan CPO (Crude Palm Oil). Jadi, b1 = 0,983 lebih kecil dari 1, artinya perubahan harga sebesar 1 % pada harga CPO Internasional akan mengakibatkan harga kurang dari 1 % (0,983) pada harga Tandan Buah Segar (TBS).
- Elastisitas transmisi harga CPO Internasional terhadap harga TBS (Tandan Buah Segar) bersifat inelastis. Dengan demikian perubahan harga di tingkat konsumen tidak dapat ditransmisikan secara sempurna hingga ke tingkat produsen, dengan kata lain perdagangan CPO dalam pasar lokal tidak efisien. Selanjutnya analisa model Kawagoe menunjukkan bahwa, kecenderungan perilaku pedagang meningkatkan keuntungaannya pada saat terjadi kenaikan harga di pasar konsumen. Artinya besar persentase perubahan harga ditingkat pasar (konsumen) dalam hal ini harga CPO Internasional tidak sebanding dengan besarnya persentase yang diterima oleh produsen dalam hal ini harga Tandan Buah Segar. Faktor-faktor yang mempengaruhi elastisitas transmisi harga bersifat inelastis adalah banyaknya saluran tataniaga dan kebijakan Pemerintah misalnya kebijakan Pemerintah pada Harga Patokan Ekspor (HPE).
- d = 0,898 < dl = 1,62, artinya terjadi autokorelasi positif.
- F-hit = 825,53 > F-tabel = 19,5 (α = 0,05) dengan nilai signifikansi 0,000. Secara serempak variabel independen (harga CPO internasional) berpengaruh nyata terhadap harga TBS (Tandan Buah Segar).
- T-hit = 28, 75 > T-tabel = 2,75 (α = 0,05) dengan nilai signifikansi 0,000. Secara parsial harga CPO Internasional berpengaruh nyata terhadap€ harga TBS (Tandan Buah Segar).
Masalah-Masalah yang Dihadapi Dalam Pemasaran Kelapa sawit
Dalam pemasaran kelapa sawit di daerah penelitian terdapat berbagai masalah yang dihadapi oleh lembaga pemasaran. Dibawah ini akan diuraikan beberapa masalah yang dihadapi dalam pemasaran kelapa sawit di daerah penelitian, antara lain :