• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Koping

Koping dapat dideskripsikan sebagai keberhasilan menghadapi atau menangani masalah dan situasi (Kozier et al, 2010). Menurut Stuart & Sundeen (1998), koping merupakan upaya perilaku dan kognitif seseorang dalam menghadapi ancaman fisik dan psikososial. Koping adalah pemecahan masalah

yang dipergunakan untuk mengelola stres atau kejadian dimana manusia itu berada.

Lazarus dan Folkman - seperti yang dikutip oleh Michael Kellmann dalam bukunya- mendefenisikan koping sebagai usaha-usaha kognitif maupun perilaku untuk mengelola tuntutan spesifik internal dan atau eksternal yang dinilai melebihi sumber daya/resources yang dimiliki individu . Koping merupakan suatu bentuk perlawanan terhadap ancaman dengan cara mengubah persepsi terhadap stress dalam situasi tertentu (Kellmann, 2002).

Koping dianggap sebagai strategi psikologis yang dikerahkan untuk menurunkan, mengubah pengaruh kejadian hidup yang memicu stress. Koping adalah konsep teoritis terkait dengan fenomena yang beraneka segi tentang bagaimana manusia berfikir, merasakan dan bertindak dalam situasi spesifik yang memicu stress, dan terutama dilihat sebagai proses yang bertujuan untuk mengurangi level stress yang diterima (Kellman, 2002).

2.3.2 Strategi koping

Para ahli menggolongkan strategi koping dalam berbagai penggolongan. Yang pertama, koping digolongkan menjadi koping berfokus pada masalah (problem-solving focused coping) dan koping yang berfokus pada emosi (emotion-focused coping) (Lazarus & Folkman, 1984). Yang kedua, koping digolongkan menjadi reaksi yang berfokus pada tugas (task oriented reaction) dan reaksi yang berfokus pada ego (ego oriented reaction) (Freud, dalam Kozier, 2010). Dan yang terakhir, koping digolongkan menjadi koping adaptif dan maladaptif (Carver dkk., 1989).

Problem-solving focused coping adalah strategi koping yang berfokus pada masalah dimana individu secara aktif mencari penyelesaian dari masalah untuk menghilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan stress, sedangkan emotion-focused coping adalah strategi koping yang berfokus pada emosi dimana individu melibatkan usaha-usaha untuk mengatur emosinya dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan dan seringkali membuat individu merasa lebih nyaman. Hasil penelitian membuktikan bahwa individu menggunakan kedua cara tersebut untuk mengatasi berbagai masalah yang menekan dalam berbagai ruang lingkup kehidupan sehari-hari (Lazarus & Folkman, 1984). Dalam 57 penelitian keperawatan yang ditelaah, ditemukan lima cara penting yang digunakan dalam menghadapi masalah yaitu (1) mencoba merasa optimis mengenai masa depan, (2) menggunakan dukungan sosial, (3) menggunakan sumber spiritual, (4) mencoba tetap mengontrol situasi maupun perasaan, dan (5) mencoba menerima kenyataan yang ada ( Jalowiec dalam Brunner & Suddarth, 2002). Baik pasien maupun keluarga menggunakan kombinasi antara koping yang berfokus pada masalah maupun koping yang berfokus pada emosi untuk menghadapi stresor yang berhubungan dengan penyakit.

Reaksi yang berfokus pada tugas (task oriented reaction) adalah reaksi yang digunakan untuk menyelesaikan masalah, konflik dan memenuhi kebutuhan dasar. Terdapat tiga macam reaksi yang berorientasi pada tugas yaitu perilaku menyerang (fight), perilaku menarik diri, dan kompromi.

Perilaku menyerang (fight) adalah perilaku dimana individu menggunakan energinya dalam member perlawanan untuk mempertahankan integritas pribadinya. Perilaku dapat konstruktif maupun destruktif. Tindakan yang konstruktif berupa upaya individu untuk menyelesaikan masalahnya secara asertif yaitu dengan mengungkapkan dengan kata-kata terhadap rasa ketidaksenangannya. Sedangkan tindakan yang destruktif berupa tindakan agresif ( menyerang ) terhadap sasaran / objek dapat berupa benda atau orang atau bahkan terhadap dirinya sendiri. Sikap bermusuhan yang ditampilkan berupa rasa benci, dendam dan rasa marah yang memanjang.

Perilaku menarik diri adalah perilaku yang menunjukkan pengasingan diri dari lingkungan dan orang lain yang secara sadar dilakukan individu untuk menghindari sunber stresor. Misalnya individu menampilkan diri seperti apatis, pendiam munculnya perasaan tidak berminat yang menetap pada individu.

Kompromi merupakan tindakan konstruktif yang dilakukan oleh individu dengan cara bermusyawarah atau negosiasi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dan secara umum dapat mengurangi ketegangan (Rasmun, 2004).

Reaksi yang selanjutnya yaitu reaksi yang berorientasi pada ego. Reaksi ini jika digunakan dalam waktu sesaat akan dapat mengurangi kecemasan, tetapi penggunaannya dalam waktu yang lama mengakibatkan gangguan orientasi realita, memburuknya hubungan interpersonal dan menurunnya produktivitas kerja. Sigmund Freud menyebutnya sebagai mekanisme pertahanan ego. Mekanisme pertahanan ego yang tak disadari dapat merupakan mekasisme adaptif

psikologik yang artinya bahwa mekanisme tersebut berkembang saat seseorang berusaha mempertahankan diri, menciptakan gangguan terhadap impuls yang betentangan, dan meredakan ketegangan di dalam diri. Mekanisme ini kemudian dapat dipertimbangkan sebagai prekusor mekanisme koping kognitif yang disadari yang pada akhirnya dapat memecahkan masalah. Mekanisme pertahanan diri yang berorientasi pada ego antara lain kompensasi, penyangkalan, pemindahan / mengalihkan, identifikasi, intelektualisasi, introyeksi, minimisasi, proyeksi, rasionalisasi, formasi reaksi, regresi, represi, sublimasi, substitusi dan undoing.

Kompensasi artinya menutupi kelemahan dengan meningkatkan kemampuan di bidang lain. Mekanisme ini bertujuan untuk memfasilitasi mengatasi kelemahan dan mencapai keberhasilan. Sebagai contoh mahasiswa yang memiliki prestasi belajar rendah akan memperkuat kemampuan di bidang lain misalnya olahraga.

Penyangkalan adalah usaha untuk melindungi atau mengabaikan realitas yang terjadi pada dirinya dengan menolak mengakuinya.Hal ini bertujuan memberi waktu untuk mengisolasi individu dari dampak penuh situasi traumatis. Misalnya seorang pasien yang divonis menderita kanker mengatakan bahwa di dalam tubuhnya tidak terjadi apa-apa.

Pemindahan / mengalihkan artinya memindahkan atau menghentikan reaksi emosi dari satu objek atau seseorang ke objek atau orang lain yang dianggap kurang menimbulkan bahaya. Mekanisme ini bertujuan memfasilitasi pengaungkapan perasaan melalui atau kepada objek yang tidak terlalu berbahaya.

Contohnya seorang suami yang sangat marah terhadap isterinya memukul pintu dan bukan isterinya.

Identifikasi adalah usaha untuk mengelola ansietas dengan meniru perilaku seseorang yang ditahuti atau dihormati. Hal ini memfasilitasi individu menghindari devaluasi diri.

Intelektualisasi : alasan atau logika berlebihan untuk menekan perasaan yang tidak menyenangkan terhadap suatu kejadian. Tujuannya adalah melindungi individu dari peristiwa traumatis.

Introyeksi merupakan satu bentuk identifikasi yang memungkinkan penerimaan norma dan nilai orang lain ke dalam dirinya sendiri, meskipun bertentangan dengan asumsinya sebelumnya. Tujuannya membantu individu menghindari batasan atau hukuman sosial.

Minimisasi artinya seseorang tidak mengakui makna perilakunya. Tujuannya adalah memungkinkan individu menurunkan tanggung jawab atas perilakunya sendiri.

Proyeksi artinya menempatkan kesalahan pada orang lain atau pada lingkungan untuk keinginan, pikiran, kelemahan, dan kesalahan yang tidak dapat diterima. Tujuannya untuk melindungi citra diri.

Rasionalisasi berarti memberikan alasan tertentu dengan logika yang salah tetapi dapat diterima secara sosial untuk membenarkan perilakunya. Tujuannya

membantu individu menghadapi ketidakmampuan mencapai tujuan atau standar tertentu.

Formasi reaksi adalah mekanisme yang menyebabkan individu melakukan tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan apa yang mereka rasakan. Tujuannya membantu menguatkan represi dengan mengizinkan pengungkapan perasaan melalui perilaku yang lebih dapat diterima.

Regresi artinya menghindari stress dengan menunjukkan perilaku yang kembali ke tingkat perkembangan sebelumnya yang lebih nyaman dan menuntut lebih sedikit tanggung jawab. Contoh seorang pasien yang sakit kritis mengijinkan perawat menyuapi dan memandikannya.

Represi artinya menekan perasaan atau pengalaman yang tidak diinginkan atau menyakitkan dan membuarkannya agar tidak sisadari atau tidak masuk ke alam sadar. Tujuannya melindungi individu dari pengalaman traumatis sampai ia memiliki sumber untuk menghadapinya.

Sublimasi adalah pemindahan energi terkait dorongan seksual agresif atau primitif ke dalam aktivitas yang lebih dapat diterima. Tujuanya melindungi individu agar tidak berperilaku dengan cara yang impulsif dan tidak rasional.

Substitusi yaitu penggantian objek yang sangat bernilai, tidak dapat diterima, dan tidak tersedia dengan objek yang kurang bernilai, dapat diterima dan tersedia. Tujuannya membantu individu mencapai tujuan dan meminimalkan frustasi dan kekecewaan.

Undoing adalah tindakan atau kata-kata yang digunakan untuk membatalkan beberapa pikiran , impuls atau tindakan yang tidak disetujui yang membuat rasa bersalah seseorang berkurang dengan melakukan perbaikan.Tujuannya memfasilitasi individu mengurangi rasa bersalah dan menebus kesalahan (Fontaine & Fletcher dalam Kozier dkk., 2010).

Mekanisme koping juga dapat di golongkan menjadi 2 (dua) yaitu : mekanisme koping adaptif dan mekanisme koping maladaptif. Tan dkk (2011) menyatakan koping adaptif berarti menangani atau mengatasi stresor secara efektif atau positif, sedangkan koping maladaptif berarti mengatasi stresor secara negative atau tidak efektif. Mekanisme koping adaptif merupakan mekanisme yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar dan mencapai tujuan. Kategorinya adalah berbicara dengan orang lain, memecahkan masalah secara efektif, teknik relaksasi, latihan seimbang dan aktivitas konstruktif (kecemasan yang dianggap sebagai sinyal peringatan dan individu menerima peringatan dan individu menerima kecemasan itu sebagai tantangan untuk di selesaikan). Sedangkan mekanisme koping maladaptif adalah mekanisme yang menghambat fungsi integrasi, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai lingkungan. Kategorinya adalah makan berlebihan / tidak makan, bekerja berlebihan, menghindar dan aktivitas destruktif (mencegah suatu konflik dengan melakukan pengelakan terhadap solusi) (Carver,dalam Rubbyana 2012).

2.3.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi koping

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi koping seseorang meliputi karakter internal (sumber-sumber pribadi) dan sumber-sumber eksternal. Karakter internal diantaranya kesehatan dan energi, sistem kepercayaan seseorang termasuk kepercayaan eksistensial ( iman, kepercayaan agama), komitmen atau tujuan hidup ( property motivasional), dan perasaan senang seperti harga diri, kontrol dan kemahiran ( pengetahuan, keterampilan pemecahan masalah, dan keterampilan sosial yaitu kemampuan berinteraksi dengan orang lain), gaya hidup yang mendukung kesehatan, dan ketangguhan indvidu ( Ruiz Bueno dalam Brunner & Suddarth, 2002 ).

Faktor/sumber –sumber eksternal terdiri dari dukungan sosial sebagai sumber utama dan sumber material. Dukungan sosial didefenisikan sebagai rasa memiliki informasi terhadap seseorang atau lebih. Pengaruh dukungan sosial terhadap penyelesaian masalah telah diteliti secara ekstensif dan terbukti efektif. Dukungan sosial terbagi atas tiga kategori informasi. Kategori informasi pertama disebut juga dukungan emosional merupakan dukungan yang sering muncul dalam hubungan antara dua orang dan membuat seseorang percaya bahwa dirinya diperhatikan atau dicintai. Kategori informasi kedua disebut dukungan harga diri merupakan dukungan yang dapat membuat seseorang merasa bahwa dirinya dianggap atau dihargai. Kategori informasi ketiga membuat seseorang merasa dirinya merupakan bagian dari jaringan komunikasi dan saling ketergantungan, artinya bahwa individu sebagai anggota dalam jaringan telah mendapatkan informasi dan menyadari bahwa pelayanan selalu tersedia baginya sesuai

permintaan, contohnya seseorang dapat memanggil teman dekat dalam keadaan darurat. Dukungan sosial berawal dari in utero dan berkembang dalam keluarga, teman dan komunitas. Berbagai teori sosiologis dan keluarga yang menguatkan adanya peningkatan stress dan penyakit apabila terjadi guncangan struktur penyakit. Dukungan sosial yang dapat memfasilitasi koping benar-benar bisa dirasakan bila ada keterlibatan dan perhatian yang mendalam (Brunner & Suddarth, 2002 ).

Sumber eksternal yang berikutnya yaitu sumber material. Sumber material adalah sumber dukungan eksternal lain dan meliputi barang dan jasa yang dapat dibeli. Individu yang memiliki sumber finansial yang memadai akan lebih mudah mengatasi keterbatasan karena perasaan ketidakberdayaan terhadap ancaman menjadi berkurang (Cobb dalam Brunner & Suddarth, 2002)

2.3.4 Koping pasien kanker payudara

Wanita yang didiagnosa kanker payudara mengalami perubahan yang drastis dalam kehidupan mereka dan dapat menimbulkan berbagai gejala psikologis seperti gangguan kecemasan umum, depresi, kesulitan berkonsentrasi, keletihan, pemikiran negatif, ide bunuh diri, ketidakpastian terhadap pengobatan dan ketakutan terhadap kekambuhan dan kematian (Al-Azri dkk, 2009).

Wanita yang menghadapi penyakitnya menggunakan strategi koping yang berbeda-beda. Hal ini berhubungan dengan beberapa faktor seperti karakteristik demografi (pekerjaan, status pernikahan), tingkat pendidikan, pemikiran positif, dan dukungan sosial.

Pada wanita pekerja, kemampuan menggunakan metode koping yang positif meningkat dan kesejahteraanya meningkat. Juga ditemukan bahwa wanita berpendidikan lebih baik dalam menggunakan strategi koping yang adaptif dan wanita dengan tingkat pendidikan yang rendah, melajang, bercerai ataupun janda lebih banyak menggunakan koping denial (pengingkaran). Pada wanita berpendidikan, penggunaan koping yang berfokus pada emosi meningkat dan tingkat stress berkurang.

Wanita yang menggunakan koping berfokus pada pemecahan masalah secara aktif atau yang tampak optimis dapat lebih baik dalam menghadapi penyakit. Penggunaan jenis koping menyalahkan diri sendiri berhubungan dengan distress psikologis dan strategi koping yang tidak efektif yang berakibat pada kesejahteraan/kesehatan yang rendah. Wanita yang secara aktif menerima penyakit pada waktu didiagnosis cenderung memiliki penyesuaian yang lebih positif, sementara koping yang sifatnya menghindari kenyataan penyakit cenderung dihubungkan dengan ketakutan yang lebih besar akan kekambuhan penyakit.

Ungkapan emosional setelah diagnosa kanker payudara berhubungan dengan angka kelangsungan hidup pasien. Pasien yang menyatakan tingkat ungkapan emosional dan dukungan sosialnya rendah memiliki kelangsungan hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan pasien yang lebih tinggi ungkapan dan dukungan emosionalnya.

Menggunakan keyakinan dan praktek keagamaan dilaporkan merupakan respon koping yang paling sering digunakan oleh wanita yang menderita kanker payudara. Telah terbukti bahwa pasien yang percaya kepada Tuhan mengenai penyakitnya menjadi orang percaya yang lebih tangguh dan ketakutan akan kematian berkurang. Wanita yang menganggap kanker sebagai hukuman dari Tuhan dan ia berdoa meminta pengampunan merasakan stress yang lebih besar dibandingkan dengan wanita yang berdoa meminta kekuatan, dukungan dan tuntunan. Acklin dkk. menemukan bahwa kehadiran yang lebih sering ke gereja berhubungan dengan penurunan perasaan marah, permusuhan, dan isolasi sosial. Sebuah studi menunjukkan bahwa wanita Muslim di Iran yang baru didiagnosa kanker payudara menggunakan strategi yang hampir sama dalam menghadapi kanker yaitu menerima penyakit sebagai kehendak Tuhan. Di Chile, wanita menggunakan agama dan spiritualitas sebagai sumber utama dalam menghadapi kanker payudara yang dinyatakan dengan berdoa dan merasakan kebergantungan kepada Tuhan yang memandu mereka melewati penyakitnya (Al-Azri dkk, 2009).

2.3.5 Hubungan citra tubuh dan koping pasien kanker payudara

Model adaptasi Roy menunjukkan bahwa konsep diri memiliki hubungan dengan respon koping individu dimana terjadi pertukaran antara sistem adaptif (individu) dengan berbagai stimulus dari lingkungan maupun dari individu tersebut. Stimulus diproses melalui dua mekanisme kontrol yaitu subsistem regulator dan kognator serta empat model adaptasi yaitu fungsi fisiologis, konsep diri, fungsi peran, dan interdependen. Mekanisme kontrol subsistem regulator

stimulus dari dalam maupun luar tubuh (melalui indera) menjadi input bagi sistem di tubuh. Kognator menerima input dari stimulus internal maupun eksternal yang melibatkan respon psikologis terkait proses persepsi, belajar, pertimbangan, dan emosi ( Kozier dkk, 2010 ). Menurut Roy, adaptif maupun maladaptif merupakan respon individu terhadap berbagai stresor yang ada dan ditentukan oleh keempat model yang dipaparkan oleh Roy yaitu konsep diri, fungsi fisiologis, fungsi peran, dan interdependen. Citra tubuh merupakan komponen dari konsep diri yang merupakan model dalam mempertahankan adaptasi. Dari model adaptasi ini dapat dilihat kaitan antara citra tubuh dengan koping. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Tasripiyah dkk. (2010) juga ditemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara koping dengan citra tubuh pada pasien post mastektomi di Rumah Sakit RSHS Bandung.

Dokumen terkait