• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kosa kata (nama alat) berkait dengan padi ke beras yang mulai menghilang

TINJAUAN ETIMOLOGI “BADA MUDIAK”: Motif Ukiran Rumah Gadang Minangkabau

3. Kosa kata (nama alat) berkait dengan padi ke beras yang mulai menghilang

Dalam tulisan ini saya akan melakukan pendekatan budaya. Kosa kata yang mulai tidak dikenal tersebut akan dibahas secara berurutan. Dii dalam Bausastra Jawa (1939: 666) waluku/wluku

kn: piranti dianggo malik lemah awujud singkal mawa kejen nganggo cacadan. Singkal kn: kayu ancebing kejen (dianggo ngglebagake lemah) (1939: 565) Kejen kn waja (wesi) wangun conthongan lancip dadi peprincening wluku (1939:201). Artinya waluku/wluku adalah alat yang

digunakan untuk membalik tanah berbentuk kayu besar/berat dengan ujung-ujungnya runcing terbuat dari besi baja. Singkal artinya kayu besar/berat tempat untuk menancapkan kejen atau besi runcing. Kejen adalah besi baja yang berbentuk runcing yang menjadi bagian dari wluku untuk membalikan tanah. Bentuknya seperti gambar 4 di bawah ini dan cara memakainya seperti gambar 5 di bawah ini,

gambar (4) gambar (5)

Selain waluku juga terdapat garu. Di dalam Bausastra Jawa (1939: 133), garu kn: piranti tetanen

awujud kayu palangan mawa unton-unton dianggo nglembutake lukon. Artinya alat pertanian

berbentuk kayu berpalang dan bergerigi digunakan untuk melembutkan tanah yang telah dibalik dengan luku sebelumnya. Bentuknya seperti gambar 6 di bawah ini, dan cara menggunakannya seperti gambar 7 di bawah ini,

gambar (6) gambar (7)

Selain waluku, garu, juga ada pacul, arit dan koret. Masyarakat petani sudah mengenal alat-alat seperti pacul, arit dan koret Alat-alat ini masih digunakan terus menerus hingga saat ini

meskipun masyarakat sekarang sudah mengenal alat pertanian moderen. Alat seperti pacul masih banyak digunakan untuk mengolah sawah apabila petani tidak memiliki waluku atau traktor. Contohnya seperti gambar 8 alat yang disebut pacul, dan gambar 9 cara menggunakannya di sawah seperti di bawah ini,

gambar 8 gambar 9

Alat lain yang tidak kalah pentingnya adalah arit dan koret. Arit atau sabit biasanya digunakan untuk mencari rumput. Namun sekarang arit/sabit digunakan juga untuk memanen padi. Ini terjadi karena jenis padi yang ditanam petani jaman sekarang tidak lagi jenis padi yang memiliki batang yang tinggi tetapi jenis padi yang batangnya pendek. Masa tanamnya juga cepat dan masa panennya juga cepat sehingga setahun dapat 3 kali menanam yang artinya 3 kali panen. Itu berarti petani mendapat hasil yang banyak. Arit atau sabit bentuknya seperti gambar 10 di bawah ini dan cara menggunakannya juga seperti gambar 11 di bawah ini,

gambar 10 gambar 11

arit/sabit yang digunakan untuk memanen ini menggeser fungsi dari alat pertanian padi lainnya yaitu ani-ani. Dengan kondisi tanaman padi yang pendek tidak dimungkinkan lagi memanen padi dengan menggunakan ani-ani. Ani-ani bentuknya seperti gambar 12 di bawah ini, dan perhatikan juga gambar 13, ketinggian tanaman padi yang mengakibatkan wanita yang memotong padi dengan menggunakan ani-ani tidak harus membungkuku karena tanaman padi tersebut cukup tinggi. Jika tanaman padi bentuknya pendek memanen padi dengan ani-ani tentu sangat sulit karena harus membungkuk.

gambar 12 gambar 13

Alat pertanian lainnya adlah koret. Koret sebenarnya adalah kegiatan di sawah membersihkan sawah dari tanaman pengganggu, misalnya rumput liar. Alat yang digunakan kemudian disebut koret. Untuk nama alat ini sebenarnya pada setiap daerah tidak selalu sama. Saya hanya mengenal nama alat tersebut seperti yang ada di daerah saya. Bentuknya ada yang seperti arit/sabit ada pula yang seperti garpu, Perhatikan gambar 14 di bawah ini, serta gambar 15 perempuan yang bekerja di sawah atau sedang melakukan koret di sawah.

gambar 14 gambar 15 Dari seluruh alat pertanian ini yang sudah tidak digunakan lagi adalah waluku berikut alat penariknya yaitu sapi dan kerbau. Ini terjadi karena sudah digantikan oleh traktor. Perhatikan gambar 16 dan gambar 17 di bawah ini. Berbagai macam mesin traktor banyak ditemukan di lahan pertanian di Indonesia. Masyarakat berbondong-bondong mengganti peralatan tradisionalnya menjadi peralatan moderen yang belum tentu membawa dampak yang baik. Masyarakat menggunakan teknologi moderen yang bernama traktor, tetapi sayangnya masyarakat tidak menyebutkan nama alat tersebut yang disebut adalah merk dagang dari alat tersebut misalnya Quick dan masyarakat menyebutkan lafalnya kuik.

gambar16 gambar 17

Selain alat pembajak sawah tradisional yang tidak lagi digunakan, ada alat lain yang juga sekarang sudah tidak lagi digunakan yaitu garu. Perhatikan 2 gambar di bawah ini. Gambar 18 menunjukkan garu tradisional yang ditarik oleh manusia sedangkan gambar 19 adalah garu moderen yang ditarik oleh mesin moderen.

gambar 18 gambar 19

Hal lain yang juga mulai tidak dikenal lagi adalah kosa kata lumbung. Kata lumbung memang masih dikenal tapi pemahamannya adalah gudang tempat penyimpanan beras. Padahal lumbung adalah tempat penyimpanan padi setelah dipanen yang kemudian disimpan di dalam lumbung. Perhatikan gambar 20 di bawah ini. Ini adalah lumbung tempat menyimpan padi bukan untuk menyimpan beras. Saat ini orang sering menyamakan antara lumbung tempat menyimpan padi dengan gudang tempat menyimpan gabah.

gambar 20 gambar 21

Alat lain yang juga sedikit demi sedikit mulai menghilang adalah lesung. Lesung digunakan setelah padi dipanen dan menjadi gabah. Gabah ingin diubah menjadi beras. Lesung merupakan alat untuk mengubah gabah menjadi beras. Tetapi sekarang peran lesung sudah digantikan oleh mesin giling yang sering disebut sebagai sepleit atau huller. Sebenar seplet maupun huller adalah merek dagang dari kedua alat tersebut, tapi masyarakat menyebutnya dengan mengambil dari nama merek tersebut. Untuk kegiatan yang berkaitan dengan alat tersebut masyarakat tradisional menyebutnya nyeplet atau huller. Perhatikan 2 gambar di bawah ini,

gambar 22: lesung dan alu gambar 23:

mesin pengupas gabah menjadi beras

Nama peralatan lain yang juga sudah mulai tidak dikenal adalah padaringan. Di dalam Bausastra Jawa (1939: 455) padaringan kn: wadhah (simpenan) beras, artinya tempat untuk menyimpan beras. Bentuknya dapat bermacam-macam. Ada yang terbuat dari kayu, ada yang terbuat dari bambu dan ada pula yang terbuat dari tanah liat. Penyimpanan beras tersebut tentunya tidak dalam jumlah besar. Tempat penyimpanan beras tersebut biasanya diletakkan di dapur, terutama di sudut ruangan.

gambar 24: gambar 25: tempat beras dari tanah liat berbentuk bulat tempat beras dari

campuran kayu Tempat beras berbahan tanah liat pada umumnya berbentuk bulat karena dapat dibantuk sejak

awal pembuatannya. Tempat beras dari kayu, bambu dan tikar yang dianyam semuanya berbentuk segi empat.

Gambar 12: Gambar 13:

tempat beras dengan bahan bambu tempat tempat beras dari jalinan rotan dan kayui-beras-nasi

Mengenai nama tempat beras ini setiap daerah memiliki penyebutan yang berbeda-beda. Bergantung pada bahasa daerahnya masing-masing.