BAB IV TEMUAN KAJIAN
C. Hasil Analisis Mikro dan Jenjang
C.6. Kota Gorontalo
PT. Prismaita Cipta Kreasi
!
Kondisi jarak dengan kota lain serta sarana transportasi berdampak kepada perkembangan Kota Gorontalo. Dibawah ini disajikan table profil KSM dan BKM
Tabel Profil KSM di Kota Gorontalo berdasarkan FGD Usia Status Pendidikan Pekerjaan Jumlah
anggota KSM
Lama terlibat di P2KP
KSM Laki-Laki
63 Kawin S1 Petani 3 3 Tahun
42 Kawin SMA PNS 10 1 Tahun
56 Kawin SMA Kepala Lingkungan 7 4 Tahun
KSM Perempuan
34 Kawin SMA Wiraswasta 5 1 Tahun
38 Kawin SPG Ibu rumah tangga 30 1 Tahun
52 Kawin PGA Kepala lingkungan 5 2 Tahun
Tabel Profil BKM di Kota Gorontalo berdasarkan FGD Usia Status Pendidikan Pekerjaan Jumlah
Pengurus
Lama terlibat di P2KP
BKM Laki-Laki
50 Kawin SMA Swasta 13 3 Tahun
52 Kawin SMA Swasta 9 5 Tahun
51 Kawin SMA Swasta 13 2 Tahun
BKM Perempuan
47 Kawin S1 Ibu Rumah Tangga 13 1 Tahun
38 Kawin SMA Ibu Rumah Tangga 13 5 Tahun
Studi Pengembangan Kurikulum Pelatihan Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat dalam P2KP- PNPM D. Kesimpulan Umum
Berdasarkan uraian gambaran hasil kajian, maka terdapat tujuh kesimpulan berdasarkan pertanyaan penelitian, yaitu;
1. Keahlian fasilitator dalam bekerja tidak hanya diperoleh dari pelatihan, akan tetapi dari proses pendampingan serta penguatan pada Askot dan Korkot. Meskipun secara tidak langsung pelatihan telah membekali fasilitator dalam bekerja. Kenyataannya, berkaitan dengan tupoksi fasilitator, bahwa tupoksi lebih banyak dirasakan sebagai agen proyek dibanding sebagai agen pemberdaya. Sehingga pada saat fasilitator bekerja lebih diutamakan menyelesaikan “tuntutan” proyek dibanding dengan memberdayakan masyarakat. Disisi lain, system rekrutmen fasilitator yang ada telah memadai, akan tetapi berkaitan dengan terjadinya “rolling” fasilitator dan banyaknya fasilitator yang berhenti atau mengundurkan diri, maka system rekrutmen yang ada tidak memenuhi harapan fasilitator dalam bekerja. Ini berkaitan dengan tidak adanya panduan pelaksanaan rekrutmen faskel pengganti termasuk pola penguatan kapasitas yang perlu diberikan kepada faskel pengganti.
2. Tahapan pelatihan yang ada telah membekali pengetahuan dasar fasilitator bekerja, hal ini berkaitan dengan siklus pendampingan. Dalam artian bahwa, dengan adanya siklus pendampingan dapat memberikan pengalaman dan ketrampilan fasilitator dalam bekerja. Sehingga tidak hanya pelatihan yang dapat membakali fasilitator dalam bekerja akan tetapi juga pada saat pendampingan dimasyarakat. Kondisi ini dapat ditindaklanjuti dengan praktek pada saat pelatihan. Akan tetapi praktek lapangan belum memberikan keterampilan fasilitator dalam bekerja, terutama menyikapi permasalahan yang ada di masyarakat dan menghadapi masyarakat yang “kritis”. Secara umum muatan materi lebih bersifat motivasional dan mengarah pada perubahan pola pikir dan sikap (aspek affective). Sedangkan beberapa materi teknis dimasukkan dalam muatan coaching dan OJT (On
PT. Prismaita Cipta Kreasi
!
metode dan materi terkait masih belum memadai kebutuhan praktis di lapangan.
3. Proses kelulusan pelatihan tidak diikuti dengan pemberian sertifikat kepada fasilitator sebagai bukti kelulusan. Terhadap proses ini, belum dilakukan secara terbuka, terutama berkaitan dengan evaluasi praktek lapangan. Sertifikat pelatihan pra-tugas biasanya diberikan oleh penyelenggara di tingkat provinsi serta ditandatangani oleh Satker Provinsi. Namun hal tersebut tergantung peran aktif penyelenggara dan dukungan pihak Satker. Sertifikat tersebut biasanya hanya bersifat administratif yang membuktikan peserta telah mengikuti pelatihan secara baik tanpa menjelaskan peringkat nilai hasil pelatihan. Yang menjadi permasalahan krusial sebenarnya lebih pada belum termanfaatkannya hasil nilai Fokus Group Discusion (FGD) Kompetensi dan Psikotest dalam proses rekrutmen sebagai salah satu alat ukur evaluasi kinerja triwulan. Sehingga dalam proses sertifikat pelatihan, tidak hanya lulus dan tidak lulus, juga tindak lanjut penguatan terhadap penilaian kelulusan fasilitator tersebut.
4. Pelaksanaan pelatihan telah mengikuti prinsip-prinsip pendidikan orang dewasa, akan tetapi masih adanya kemampuan pemandu yang kurang mengembangkan pelatihan partisipatif, sehingga fasilitator masih merasa kurangnya pengembangan dan pemahaman materi yang diberikan, ini terutama berkaitan dengan kasus-kasus atau permasalahan yang ada di lapangan. Sebagai control kualitas pemandu nasional dalam pemahaman substansi maupun kemampuan fasilitasi, melalui konsolidasi dan ToT di tingkat regional secara berkala. Akan tetapi tidak ditindaklanjuti dengan penjabaran hasil ToT, terutama dalam bentuk tulisan/modul pengembangan oleh pemandu nasional terutama dalam hal ini adalah tenaga ahli pelatihan. Hal ini dikarenakan modul yang ada terkadang belum memberikan gambaran
Studi Pengembangan Kurikulum Pelatihan Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat dalam P2KP- PNPM
dari wilayah dampingan dan lebih bersifat pedoman umum, yang selanjutnya dapat diterjemahkan pada saat pelatihan fasilitator didaerah. Pengembangan pola ToT selanjutnya dapat dikembangkan melalui penguatan kapasitas di level Askot dan Senior Fasilitator. Hal ini sesuai dengan kondisi lapangan, bahwa fasilitator lebih banyak melakukan interaksi dengan Askot ataupun Senior Fasilitator.
5. Peran fasilitator sangat dirasakan oleh BKM, akan tetapi masih kurangnya peran fasilitator kepada KSM. Peran fasilitator lebih banyak terlihat pada penyelesaian proposal dan laporan pertanggungjawaban. Namun peran fasilitator sebagai agen pemberdaya, masih kurang dirasakan. Hal ini dikarenakan fasilitator terkadang hanya sebagai “kurir” dalam pembuatan proposal. Ditambah lagi, adanya rolling dan perubahan kebijakan yang berdampak kepada pendampingan yang dilakukan oleh fasilitator. Beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut terjadi adalah; kurangnya motivasi, padatnya tuntutan administrasi seperti timesheet, SIM dan QS, mendesaknya tuntutan penyelesaian target proyek, banyaknya koordinasi di tingkat Korkot, kurangnya personel tim, belum optimalnya fungsi BKM dan UP-UP, serta terbatasnya kapasitas faskel dalam fasilitasi dan strategi-strategi pendampingan. Sedangkan hal – hal yang berkaitan dengan sering terjadinya mutasi personel, diperlukan panduan secara jelas yang mengaturnya. Walaupun secara tugas fasilitator harus bersedia di manapun namun perlu dilihat aspek-aspek efektifitas mutasi yang dilakukan, serta harus dibarengi dengan manajemen pengendalian yang terpadu. Berkaitan dengan kurangnya peran fasilitator di tingkat KSM, dikarenakan pendampingan fasilitator lebih kepada BKM, dan selanjutnya pendampingan BKM kepada KSM. Pendekatan ini, berdampak kepada keberlangsungan KSM yang ada. Karena idealnya penguatan KSM dilakukan oleh fasilitator. Sesuai dengan tahapan perkembangan kelompok.
PT. Prismaita Cipta Kreasi
!
pengalaman yang nyata dalam bekerja, sehingga apa yang diterima pada saat pelatihan berbeda dengan kondisi di masyarakat. Hal tersebut menjadi tantangan fasilitator dalam bekerja, karena kurangnya contoh atau kasus selama pelatihan. Secara konseptual muatan modul – modul terbaru saat ini sudah mengarah pada bagaimana fasilitator dapat mudah menjalankan tugasnya, namun rupanya faktor kemampuan pemandu nasional dalam memfasilitasi proses pelatihan perlu dievaluasi kembali. Adapun kritik terhadap muatan modul saat ini lebih kepada bagaimana materi pelatihan madya dan utama dapat diaplikasikan ke dalam lingkup tugas fasilitator secara nyata, karena tidak secara jelas menghubungkan strategi implementasinya dengan capaian pelaksanaan siklus kegiatan di masyarakat sebagaimana pada muatan materi pelatihan dasar.
7. Tantangan yang terberat yang dialami oleh fasilitator adalah jika masyarakat telah siap, akan tetapi level pemerintah belum siap. Ini berkaitan dengan dana BLM. Sehingga berakibat kepada tingkat kepercayaan masyarakat kepada fasilitator menjadi berkurang dengan tanpa adanya sosialisasi dari pihak pemerintah. Hal ini sangat berkaitan dengan ketersediaan dana pendamping dari pemda (cost sharing maupun DDUPB). Namun biasanya faktor lobi, koordinasi dan pendekatan yang baik di tingkat pemda menjadi faktor penentu agar pemda bersedia menyediakan dana pendamping tersebut sebagai bukti dukungannya. Kalau dari sisi proses administrasi untuk pencairan dana biasanya pemda saat ini sudah mulai aktif dan cepat. Dengan adanya proses fasilitasi yang intensif kepada masyarakat akan menentukan terpahamkannya masyarakat melalui komunikasi yang jelas dan transparan.
Studi Pengembangan Kurikulum Pelatihan Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat dalam P2KP- PNPM
Berdasarkan gambaran hasil serta kondisi yang terjadi di enam lokasi kajian, maka ada beberapa hal yang dapat direkomendasikan oleh tim, sebagai berikut:
1. Penggunaan master schedule hendaknya sesuai dengan waktu yang telah direncanakan, sehingga tidak ada “pengurangan” waktu pendampingan yang dilakukan oleh fasilitator dan “pemaksaan” kegiatan yang harus dikerjakan oleh masyarakat.
2. Sistem rekrutmen yang ada telah tepat, akan tetapi tidak diikuti dengan mekanisme kegiatan serta evaluasi lapangan terhadap kinerja dan “kenaikkan pangkat” fasilitator, sehingga terjadinya turn off fasilitator, yang berdampak adanya “iklim” yang kondusif bagi fasilitator bekerja serta tidak diikuti dengan mekanisme yang jelas tentang pergantian fasilitator. Untuk itu perlu adanya mekansime yang jelas berkaitan dengan pergantian fasilitator dan evaluasi fasilitator yang dikaitkan dengan “kenaikan pangkat” fasilitator secara terbuka.
3. Penggunaan “wadah” fasilitator belajar, berkaitan dengan penguatan fasilitator. Sehingga adanya pedoman/gambaran materi pendampingan oleh fasilitator, pertemuan tidak hanya berorentasi pada “penyelesaian” proposal dan “pembuatan” laporan pertanggungjawaban. Berkaitan dengan penguatan kelompok yang sesuai dengan kenaikan sikulus di masyarakat dan “bukan kenaikan siklus oleh fasilitator”.
4. Pelatihan sebagai salah satu penguatan kepada fasilitator telah tepat, akan tetapi tidak diikuti dengan system terbuka, yaitu masih banyaknya fasilitator baru yang belum dilatih. Sehingga dirasakan perlu adanya “pembelajaran jarak jauh” atau “E Learning”. Hal ini berarti merubah kurikulum dengan system jarak jauh. Selain itu, minimnya jumlah pemanas di setiap lokasi, sehingga perlunya pemanas untuk penguatan fasilitator terutama di level Askot dan Senior Fasilitator. Hal ini dikarenakan fasilitator lebih banyak berhubungan dengan Askot serta Senior Fasilitator.
PT. Prismaita Cipta Kreasi
!
bersifat “top down”, sehingga tidak ada pilihan kegiatan lain serta adanya keseragaman kegiatan di setiap lokasi. Untuk itu perlu adanya pengetahuan dan keterampilan fasilitator dalam memberikan ide-ide kegiatan kepada masyarakat serta adanya “ruang terbuka” bagi masyarakat dalam mengusulkan kegiatan, serta muatan materi setiap melakukan pendampingan ke masyarakat.
6. BKM sebagai tangan panjang fasilitator, dirasa kurang berhasil. Hal ini dikarenakan jumlah KSM yang cukup banyak di setiap BKM berdampak terhadap keberhasilan pendampingan. Sehingga perlu adanya penekanan perimbangan terhadap jumlah kelompok dampingan serta “fungsi keberadaan BKM” sebagai suatu badan di suatu kelurahan.
Studi Pengembangan Kurikulum Pelatihan Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat dalam P2KP-PNPM