HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN 1. Analisis Deskriptif
6) Kota Mojokerto
Alat analisis Shift Share dalam penelitian ini menggambarkan kinerja sektor-sektor ekonomi di wilayah Kota Mojokerto dibandingkan dengan kinerja perekonomian Provinsi Jawa Timur. Sehingga dengan alat analisis Shift Share dapat diketahui adanya perubahan struktur ekonomi Kota Mojokerto terhadap struktur ekonomi wilayah administratif yang lebih tinggi yaitu Provinsi Jawa Timur sebagai referensi atau acuan.
Berdasarkan metode Analisis Shift Share tersebut, maka hasil penelitian terhadap struktur perekonomian Kota Mojokerto dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.29 Hasil Analisis Shift Share Kota Mojokerto Tahun 1996-2007(Jutaan Rupiah)
Pertumbuhan ( R ) Komponen (Juta Rupiah) Sektor Ekonomi
Sumber : Hasil analisis Shift Share
Pada tabel 4.29 merupakan hasil analisis Shift Share pada tahun 1996-2007 di Kota Mojokerto. Berdasarkan tabel 4.35 dapat diketahui besarnya PDRB Kota Mojokerto selama kurun
waktu1996-2007 meningkat sebesar Rp 17.410,9juta. Hal ini dapat dilihat dari (Dij) yang positif. Besarnya pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Timur mempengaruhi peningkatan PDRB Kota Mojokerto (Nij) sebesar Rp 9.388,2juta. Kegiatan ekonomi di Kota Mojokerto dalam kurun waktu tahun 1996-2007 proporsional sehingga meningkatkan bauran industri (Mij) sebesar Rp 7.381,311 juta. Pengaruh keunggulan kompetitif (Cij) mampu meningkatkan PDRB Kota Mojokerto sebesar Rp 641,41juta.
Berdasarkan pengaruh bauran industri (Mij) terdapat 5 sektor ekonomi yang pertumbuhannya lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan tingkat nasionalnya (rin > rn) dalam hal ini adalah Provinsi Jawa Timur yaitu sektor pertanian, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi dan sektor jasa-jasa. Dan terdapat 3 sektor yang pertumbuhannya lebih lambat daripada pertumbuhan pendapatan tingkat nasionalnya. Sektor ekonomi tersebut antara lain sektor industri pengolahan, sektor konstruksi dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan.
Berdasarkan pengaruh keunggulan kompetitif (Cij) terdapat 6 sektor ekonomi yang memiliki pertumbuhan pendapatan secara regional lebih cepat dari pertumbuhan pendapatan secara nasional dalam hal ini adalah Provinsi Jawa Timur (rij > rin).
Delapan sektor tersebut antara lain sektor pertanian, sektor industri pengolahan, sektor konstruksi, sektor pengangkutan dan
komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa. Sedangkan berdasarkan pengaruh keunggulan kompetitif terdapat 2 sektor ekonomi yang mempunyai keunggulan kompetitif rendah yaitu sektor listrik, gas dan air bersih dan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan pendapatan secara regional lebih lambat dari pertumbuhan pendapatan secara nasional.
7) Kota Madiun
Alat analisis Shift Share dalam penelitian ini menggambarkan kinerja sektor-sektor ekonomi di wilayah Kota Madiun dibandingkan dengan kinerja perekonomian Provinsi Jawa Timur. Sehingga dengan alat analisis Shift Share dapat diketahui adanya perubahan struktur ekonomi Kota Madiun terhadap struktur ekonomi wilayah administratif yang lebih tinggi yaitu Provinsi Jawa Timur sebagai referensi atau acuan.
Berdasarkan metode Analisis Shift Share tersebut, maka hasil penelitian terhadap struktur perekonomian Kota Madiun dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.30 Hasil Analisis Shift Share Kota Madiun Tahun 1996-2007(Jutaan Rupiah)
Pertumbuhan ( R ) Komponen (Juta Rupiah) Sektor
Sumber : Hasil analisis Shift Share
Pada tabel 4.30 merupakan hasil analisis Shift Share pada tahun 1996-2007 di Kota Madiun. Berdasarkan tabel 4.36 dapat diketahui besarnya PDRB Kota Madiun selama kurun waktu1996-2007 meningkat sebesar Rp 16.835,4juta. Hal ini dapat dilihat dari (Dij) yang positif. Besarnya pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Timur mempengaruhi peningkatan PDRB Kota Madiun (Nij) sebesar Rp 4.943,2juta. Kegiatan ekonomi di Kota Madiun dalam kurun waktu tahun 1996-2007 proporsional sehingga meningkatkan bauran industri (Mij) sebesar Rp 8288,78 juta. Pengaruh keunggulan kompetitif (Cij) mampu meningkatkan PDRB Kota Madiun sebesar Rp 3.603,3juta.
Berdasarkan pengaruh bauran industri (Mij) terdapat 6 sektor ekonomi yang pertumbuhannya lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan tingkat nasionalnya (rin > rn) dalam hal ini adalah Provinsi Jawa Timur yaitu sektor pertanian, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor konstruksi, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi dan sektor jasa-jasa. Dan terdapat 3 sektor yang pertumbuhannya lebih lambat daripada pertumbuhan pendapatan tingkat nasionalnya. Sektor ekonomi tersebut antara lain sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, sektor konstruksi dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan.
Berdasarkan pengaruh keunggulan kompetitif (Cij) terdapat 8 sektor ekonomi yang memiliki pertumbuhan pendapatan secara regional lebih cepat dari pertumbuhan pendapatan secara nasional dalam hal ini adalah Provinsi Jawa Timur (rij > rin).
Delapan sektor tersebut antara lain sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor konstruksi, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa. Sedangkan berdasarkan pengaruh keunggulan kompetitif terdapat sektor ekonomi yang mempunyai keunggulan kompetitif rendah yaitu sektor industri pengolahan. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan pendapatan
secara regional lebih lambat dari pertumbuhan pendapatan secara nasional.
8) Kota Surabaya
Alat analisis Shift Share dalam penelitian ini menggambarkan kinerja sektor-sektor ekonomi di wilayah Kota Surabaya dibandingkan dengan kinerja perekonomian Provinsi Jawa Timur. Sehingga dengan alat analisis Shift Share dapat diketahui adanya perubahan struktur ekonomi Kota Surabaya terhadap struktur ekonomi wilayah administratif yang lebih tinggi yaitu Provinsi Jawa Timur sebagai referensi atau acuan.
Berdasarkan metode Analisis Shift Share tersebut, maka hasil penelitian terhadap struktur perekonomian Kota Surabaya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.31 Hasil Analisis Shift Share Kota Surabaya Tahun 1996-2007 (Jutaan Rupiah)
Pertumbuhan ( R ) Komponen (Juta Rupiah) Sektor
Sumber : Hasil analisis Shift Share
Pada tabel 4.31 merupakan hasil analisis Shift Share pada tahun 1996-2007 di Kota Surabaya. Berdasarkan tabel 4.37 dapat diketahui besarnya PDRB Kota Surabaya selama kurun waktu1996-2007 meningkat sebesar Rp 2.406.143 juta. Hal ini dapat dilihat dari (Dij) yang positif. Besarnya pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Timur mempengaruhi peningkatan PDRB Kota Surabaya (Nij) sebesar Rp 659.227,7 juta. Kegiatan ekonomi di Kota Surabaya dalam kurun waktu tahun 1996-2007 proporsional sehingga meningkatkan bauran industri (Mij) sebesar Rp 745549,4 juta. Pengaruh keunggulan kompetitif (Cij) mampu meningkatkan PDRB Kota Surabaya sebesar Rp 1.001.365,9 juta.
Berdasarkan pengaruh bauran industri (Mij) terdapat 8 sektor ekonomi yang pertumbuhannya lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan tingkat nasionalnya (rin > rn) dalam hal ini adalah Provinsi Jawa Timur yaitu sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor konstruksi, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi dan sektor jasa-jasa. Dan terdapat sektor yang pertumbuhannya lebih lambat daripada pertumbuhan pendapatan tingkat nasionalnya. Sektor ekonomi tersebut antara lain sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan.
Berdasarkan pengaruh keunggulan kompetitif (Cij) semua sektor ekonomi memiliki pertumbuhan pendapatan secara regional lebih cepat dari pertumbuhan pendapatan secara nasional dalam hal ini adalah Provinsi Jawa Timur (rij > rin). Sektor tersebut antara lain sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor konstruksi, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa.
b. Analisis Pangsa Tenaga Kerja 1) Provinsi Jawa Timur
Tabel 4.32 Pangsa Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur Tahun 1998-2003 (%)
Sumber : Hasil analisis Pangsa Tenaga Kerja
Tabel 4.32 menunjukkan perkembangan penyerapan tenaga kerja sektoral Provinsi Jawa Timur. Sektor ekonomi yang memberikan kontribusi terbesar pada penyerapan tenaga kerja di Provinsi Jawa Timur yaitu sektor pertanian sebesar 47,11%. Sektor ekonomi terbesar penyerap tenaga kerja di Provinsi Jawa Timur dari tahun 1998-2007 adalah sektor primer yaitu sektor pertanian sebesar 47,09% pada tahun 1998 dan 49,06% pada tahun 2003. Sedangkan kontribusi dari sektor perdagangan yang merupakan sektor tersier hanya sebesar 18,55% dan sektor industri yang merupakan sektor sekunder hanya sebesar 12,58%. Sektor yang memiliki pangsa penyerapan relatif kecil yaitu sektor pertambangan dan penggalian serta sektor listrik, gas dan air bersih. Hal ini menunjukkan bahwa
penyerapan tenaga kerja di Provinsi Jawa Timur masih didominasi oleh sektor pertanian.
Tabel 4.33 Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral Tiap-tiap Kota di Jawa Timur Tahun 1996-2007 (%)
Kota Primer Sekunder Tersier
Kediri 5,92 30,66 63,35
Blitar 9,66 16,32 73,81
Malang 4,33 27,66 67,83
Probolinggo 14,59 19,08 65,89
Pasuruan 8,22 34,2 57,48
Mojokerto 3,46 30,26 66,17
Madiun 3,59 12,15 75,38
Surabaya 1,66 24,78 64,89
Sumber : Olah data
Sejalan dengan konstribusi PDRB pada tabel 4.33 dapat dilihat bahwa penyerapan tenaga kerja untuk kota-kota di Provinsi Jawa Timur, sektor primer merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja paling kecil sedangkan sektor tersier merupakan sektor yang paling besar penyerapan tenaga kerjanya. Kondisi ini sesuai dengan corak kehidupan di kota dimana lapangan pekerjaan yang ada lebih bersifat pelayanan mengingat di kota merupakan pusat pemerintahan maupun bisnis.
2) Kota Kediri
Tabel 4.34 Pangsa Tenaga Kerja Kota Kediri Tahun 1998-2004 (%)
Kontr
Sumber : Hasil analisis Pangsa Tenaga Kerja
Tabel 4.34 menunjukkan perkembangan penyerapan tenaga kerja sektoral Kota Kediri. Sektor ekonomi yang memberikan kontribusi terbesar pada penyerapan tenaga kerja di Kota Kediri yaitu sektor perdagangan sebesar 30,35%. Kontribusi dari sektor industri terhadap penyerapan tenaga kerja di Kota Kediri yang merupakan sektor sekunder hanya sebesar 23,46%, padahal jika dilihat dari PDRB nya sektor industri merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar bagi PDRB Kota Kediri.
Sedangkan kontribusi sektor pertanian pada penyerapan tenaga kerja Kota Kediri hanya sebesar 5,65%. Hal ini menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja di Kota Kediri sudah mengarah ke sektor sekunder yaitu sektor industri dan sektor tersier yaitu sektor perdagangan.
3) Kota Blitar
Tabel 4.35 Pangsa Tenaga Kerja Kota Blitar Tahun 1998-2004 (%)
Kont
Sumber : Hasil analisis Pangsa Tenaga Kerja
Tabel 4.35 menunjukkan perkembangan penyerapan tenaga kerja sektoral Kota Blitar. Sektor ekonomi yang memberikan kontribusi terbesar pada penyerapan tenaga kerja di Kota Blitar yaitu sektor perdagangan sebesar 35,15%. Di Kota Blitar sektor jasa juga memberikan kontribusi yang besar terhadap penyerapan tenaga kerja. Kontribusi dari sektor jasa sendiri yang merupakan sektor tersier adalah sebesar 27,37%. Sedangkan untuk sektor industri yang merupakan sektor sekunder, walaupun tidak memberikan kontribusi yang besar namun sektor industri ini mengalami kenaikan dari tahun tahun 1998-2004 sebesar 0,7%.
Sedangkan kontribusi sektor pertanian pada penyerapan tenaga kerja Kota Blitar hanya sebesar 9,40%. Hal ini menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja di Kota Blitar sudah mengarah ke sektor sekunder yaitu sektor industri dan sektor tersier yaitu sektor perdagangan.
4) Kota Malang
Tabel 4.36 Pangsa Tenaga Kerja Kota Malang Tahun 1998-200 (%)
Kontri
Sumber : Hasil analisis Pangsa Tenaga Kerja
Tabel 4.36 menunjukkan perkembangan penyerapan tenaga kerja sektoral Kota Malang. Sektor ekonomi yang memberikan kontribusi terbesar pada penyerapan tenaga kerja di Kota Malang yaitu sektor perdagangan sebesar 29,33%. Di Kota Malang sektor jasa juga memberikan kontribusi yang besar terhadap penyerapan tenaga kerja. Kontribusi dari sektor jasa sendiri yang merupakan sektor tersier walaupun cenderung mengalami penurunan dari tahun 1998-2004, akan tetapi kontribusinya masih cukup besar yaitu 26,95%. Untuk sektor industri yang merupakan sektor sekunder, kontribusi yang diberikan terhadap penyerapan tenaga kerja juga cukup besar yaitu 20,73%. Sedangkan kontribusi sektor pertanian hanya sebesar 14,5%. Hal ini menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja di Kota Malang sudah mengarah ke sektor
sekunder yaitu sektor industri dan sektor tersier yaitu sektor perdagangan dan jasa.
5) Kota Probolinggo
Tabel 4.37 Pangsa Tenaga Kerja Kota Probolinggo Tahun 1998-2004 (%)
Sumber : Hasil analisis Pangsa Tenaga Kerja
Tabel 4.37 menunjukkan perkembangan penyerapan tenaga kerja sektoral Kota Probolinggo. Sektor ekonomi yang memberikan kontribusi terbesar pada penyerapan tenaga kerja di Kota Probolinggo yaitu sektor perdagangan sebesar 27,88%.
Walaupun sektor perdagangan cenderung mengalami penurunan dari tahun 1998-2004 akan tetapi konribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja masih cukup besar. Di Kota Probolinggo sektor jasa juga memberikan kontribusi yang besar terhadap penyerapan tenaga kerja yaitu sebesar 22,62% . Untuk sektor industri yang merupakan sektor sekunder, kontribusi yang diberikan terhadap penyerapan
tenaga kerja yaitu 14,42%. Sedangkan kontribusi sektor pertanian sebesar 14,5%. Penyerapan tenaga kerja dari sektor industri dan sektor pertanian sama-sama mengalami peningkatan dari tahun 1998-2004. Walaupun sektor pertanian mengalami peningkatan akan tetapi kontribusinya masih kecil. Hal ini berarti penyerapan tenaga kerja di Kota Probolinggo juga sudah mengarah ke sektor sekunder yaitu sektor industri dan sektor tersier yaitu sektor perdagangan.
6) Kota Pasuruan
Tabel 4.38 Pangsa Tenaga Kerja Kota Pasuruan Tahun 1998-2004 (%)
Sumber : Hasil analisis Pangsa Tenaga Kerja
Tabel 4.38 menunjukkan perkembangan penyerapan tenaga kerja sektoral Kota Pasuruan. Sektor ekonomi yang memberikan kontribusi terbesar pada penyerapan tenaga kerja di Kota Pasuruan yaitu sektor industri yang merupakan sektor sekunder sebesar 31,30%. Penyerapan tenaga kerja dari sektor
industri mengalami peningkatan dari tahun 1998-2004 sebesar 3,9%. Di Kota Pasuruan sektor perdagangan juga memberikan kontribusi yang besar terhadap penyerapan tenaga kerja yaitu sebesar 28,08% . Sedangkan kontribusi sektor pertanian hanya sebesar 8,07%. Hal ini menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja di Kota Pasuruan sudah mengarah ke sektor sekunder yaitu sektor industri dan sektor tersier yaitu sektor perdagangan.
7) Kota Mojokerto
Tabel 4.39 Pangsa Tenaga Kerja Kota Mojokerto Tahun 1998-2004 (%)
Sumber : Hasil analisis Pangsa Tenaga Kerja
Tabel 4.39 menunjukkan perkembangan penyerapan tenaga kerja sektoral Kota Mojokerto. Sektor ekonomi yang memberikan kontribusi terbesar pada penyerapan tenaga kerja yaitu sektor perdagangan yang merupakan sektor tersier sebesar 31,33%.
Penyerapan tenaga kerja dari sektor industri mengalami peningkatan dari tahun 1998-2004 sebesar 3,96%. Sedangkan kontribusi sektor pertanian hanya sebesar 3,26%. Hal ini
menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja di Kota Mojokerto sudah mengarah ke sektor sekunder yaitu sektor industri dan sektor tersier yaitu sektor perdagangan.
8) Kota Madiun
Tabel 4.40 Pangsa Tenaga Kerja Kota Madiun Tahun 1998-2007 (%)
Sumber : Hasil analisis Pangsa Tenaga Kerja
Tabel 4.40 menunjukkan perkembangan penyerapan tenaga kerja sektoral Kota Madiun. Sektor ekonomi yang memberikan kontribusi terbesar pada penyerapan tenaga kerja yaitu sektor perdagangan yang merupakan sektor tersier sebesar 31,84%.
Penyerapan tenaga kerja dari sektor industri yang merupakan sektor sekunder hanya sebesar 7,98%. Padahal jika dilihat dari kontribusi terhadp PDRB nya, sektor sekunder menyumbang cukup besar.
Sedangkan kontribusi sektor pertanian hanya sebesar 3,23%. Hal ini menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja di Kota Madiun sudah mengarah ke sektor sektor tersier yaitu sektor perdagangan dan jasa.
9) Kota Surabaya
Tabel 4.41 Pangsa Tenaga Kerja Kota Surabaya Tahun 1998-2004 (%)
Sumber : Hasil analisis Pangsa Tenaga Kerja
Tabel 4.41 menunjukkan perkembangan penyerapan tenaga kerja sektoral Kota Surabaya. Sektor ekonomi yang memberikan kontribusi terbesar pada penyerapan tenaga kerja yaitu sektor perdagangan dan jasa yang merupakan sektor tersier masing-masing sebesar 31,20% dan 21,26%. Penyerapan tenaga kerja dari sektor industri sebesar 19,92%. Sedangkan kontribusi sektor pertanian hanya sebesar 1,48%. Hal ini menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja di Kota Surabaya sudah mengarah ke sektor sekunder yaitu sektor industri dan sektor tersier yaitu sektor perdagangan dan jasa.
c. Analisis Location Quotient (LQ)
Tabel 4.42 Hasil Analisis Rerata LQ Tiap-tiap kota di Provinsi Jawa Timur Tahun 1996-2007
Sumber : Hasil analisis Location Quotient
Dengan menggunakan metode LQ, diketahui bahwa selama periode pengamatan (1996-2007) terdapat beberapa sektor ekonomi yang bisa dijadikan sebagai sektor ekonomi basis atau potensial. Hal ini dapat dilihat dari angka rasio masing-masing sektor ekonomi yang menunjukkan nilai LQ lebih dari satu. Adapun sektor basing di masing-masing kota di Provinsi Jawa Timur adalah sebagai berikut :
1. Kota Kediri
Yang termasuk dalam sektor basis di Kota Kediri yaitu :
· Sektor Industri Pengolahan dengan indeks LQ rata-rata 2,59.
Hal ini dikarenakan di Kota Kediri terdapat industri rokok Gudang Garam.
2. Kota Blitar
Yang termasuk dalam sektor basis di Kota Blitar yaitu :
· Sektor Listrik, gas dan air bersih dengan indeks LQ rata-rata 1,83
· Sektor Konstruksi dengan indeks LQ rata-rata 1,40
· Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dengan indeks LQ rata-rata 2,69
· Sektor Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dengan indeks LQ rata-rata 2,73
· Sektor Jasa-jasa dengan indeks LQ rata-rata 2,23 3. Kota Malang
Yang termasuk dalam sektor basis di Kota Malang yaitu :
· Sektor industri pengolahan dengan indeks LQ rata-rata 1,24
· Sektor Perdagangan, hotel dan restoran dengan indeks LQ rata-rata 1,31
· Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dengan indeks LQ rata-rata 1,09
· Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan dengan indeks LQ rata-rata 1,69
· Sektor Jasa-jasa dengan indeks LQ rata-rata 1,34 4. Kota Probolinggo
Yang termasuk dalam sektor basis di Kota Probolinggo yaitu :
· Sektor Listrik, gas dan air bersih dengan indeks LQ rata-rata 1,24
· Sektor Perdagangan, hotel dan restoran dengan indeks LQ rata-rata 1,36
· Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dengan indeks LQ rata-rata 2,98
· Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan dengan indeks LQ rata-rata 1,47
5. Kota Pasuruan
Yang termasuk dalam sektor basisi di Kota Pasuruan yaitu :
· Sektor Listrik, gas dan air bersih dengan indeks LQ rata-rata 1,70
· Sektor Konstruksi dengan indeks LQ rata-rata 1,92
· Sektor Perdagangan, hotel dan restoran dengan indeks LQ rata-rata 1,39
· Sektor Pengangkutan dan Komunikasi dengan indeks LQ rata-rata2,25
· Sektor Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dengan indeks LQ rata-rata 1,59
· Sektor Jasa-jasa dengan indeks LQ rata-rata 1,26
6. Kota Kota Mojokerto
Yang termasuk dalam sektor basis di Kota Mojokerto yaitu :
· Sektor Listrik, gas dan air bersih dengan indeks LQ rata-rata 2,27
· Sektor Konstruksi dengan indeks LQ rata-rata 1,49
· Sektor Perdagangan, hotel dan restoran dengan indeks LQ rata-rata 1,55
· Sektor Pengangkutan dan komunikasi dengan indeks LQ rata-rata 3,08
· Sektor Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dengan indeks LQ rata-rata 1,51
· Sektor Jasa-jasa dengan indeks LQ rata-rata 1,43 7. Kota Madiun
Yang termasuk dalam sektor basis di Kota Madiun yaitu :
· Sektor Litrik, gas dan air bersih dengan indeks LQ rata-rata 1,15
· Sektor Konstruksi dengan indeks LQ rata-rata 3,58
· Sektor Pengangkutan dan komunikasi dengan indeks LQ rata-rata 2,19
· Sektor Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dengan indeks LQ rata-rata 2,26
· Sektor Jasa-jasa dengan indeks LQ rata-rata 1,65 8. Kota Surabaya
Yang termasuk dalam sektor basis di Kota Surabaya yaitu :
· Sektor Industri pengolahan dengan indeks LQ rata-rata 1,15
· Sektor Listrik, gas dan air bersih dengan indeks LQ rata-rata 1,52
· Sektor Konstruksi dengan indeks LQ rata-rata 2,11
· Sektor Perdagangan, hotel dan restoran dengan indeks LQ rata-rata 1,25
· Sektor Pengangkutan dan komunikasi dengan indeks LQ rata-rata 1,76
· Sektor Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dengan indeks LQ rata-rata 1,35
Walaupun sektor basis merupakan sektor yang paling potensial untuk dikembangkan dan untuk memacu pertumbuhan ekonomi di Kota Kediri, Kota Blitar, Kota Malang, Kota Probolinggo, Kota Pasuruan, Kota Mojokerto, Kota Madiun dan Kota Surabaya, sektor non basis juga harus dikembangkan menjadi sektor basis baru ditunjang dengan adanya sektor basis yang telah ada.
d. Analisis Tipologi Klassen 1) Kota Kediri
Tabel 4.43 Hasil Analisis Tipologi Klassen Kota Kediri Tahun 1996-2007
BERKEMBANG : TERBELAKANG :
1. Pertanian
Selama periode pengamatan, pengelompokkan sektor ekonomi yang didasarkan pada pola pertumbuhan relatif dan besarnya kontribusi relatif masing-masing sektor ekonomi di Kota Kediri tidak ditemukan adalnya sektor ekonomi yang dalam kualifikasi sektor yang potensial. Yaitu sektor ekonomi yang pertumbuhannya lambat dan sektor tersebut memiliki kontribusi yang besar dibandingkan dengan sektor ekonomi yang ada di tingkat/level Provinsi Jawa Timur. Namun demikian, sebagian besar sektor ekonomi di Kota Kediri dikelompokkan dalam sektor ekonomi berkembang, sektor ekonomi tersebut diantaranya yaitu sektor pertanian, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan
dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta sektor jasa-jasa. Kemudian yang termasuk dalam sektor ekonomi prima yaitu sektor industri pengolahan. Sedangkan dua sektor ekonomi yaitu masing-masing sektor pertambangan dan penggalian serta sektor konstruksi berdasarkan analisis Tipologi Klassen dikategorikan sebagai sektor ekonomi yang terbelakang dibandingkan dengan sektor ekonomi yang sama di level provinsi.
2) Kota Blitar
Tabel 4.44 Hasil Analisis Tipologi Klassen Kota Blitar Tahun 1996-2007
BERKEMBANG : TERBELAKANG :
1. Pertanian
Selama periode pengamatan, pengelompokkan sektor ekonomi yang didasarkan pada pola pertumbuhan relatif dan besarnya kontribusi relatif masing-masing sektor ekonomi di Kota Blitar tidak ditemukan adalnya sektor ekonomi yang dalam kualifikasi sektor yang
potensial. Yaitu sektor ekonomi yang pertumbuhannya lambat dan sektor tersebut memiliki kontribusi yang besar dibandingkan dengan sektor ekonomi yang ada di tingkat/level Provinsi Jawa Timur. Namun demikian, sebagian besar sektor ekonomi di Kota Blitar dikelompokkan dalam sektor ekonomi prima, sektor ekonomi tersebut diantaranya yaitu sektor listrik, gas dan air bersih, sektor kontruksi, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta sektor jasa-jasa. Kemudian yang termasuk dalam sektor ekonomi berkembang yaitu sektor pertanian, sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel dan restoran.
Sedangkan sektor pertambangan dan penggalian berdasarkan analisis Tipologi Klassen dikategorikan sebagai sektor ekonomi yang terbelakang dibandingkan dengan sektor ekonomi yang sama di level provinsi.
3) Kota Malang
Tabel 4.45 Hasil Analisis Tipologi Klassen Kota Malang Tahun
2. Konstruksi TERBELAKANG :
1. Pertambangan &
Selama periode pengamatan, pengelompokkan sektor ekonomi
Selama periode pengamatan, pengelompokkan sektor ekonomi