K
etua KPK, Agus Rahardjo, suatu ketika mengungkapkan sebuah pernyataan yang cukup memancing polemik.Pernyataan ini terkait dengan penanganan kasus korupsi yang melibatkan calon kepala daerah peserta pemilihan kepala daerah (pilkada) pada tahun 2018. Agus secara terbuka menyampaikan ke publik bahwa beberapa kontestan peserta pilkada ini, berpotensi ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara tindak pidana korupsi. Dari beberapa kasus tersebut, 90% diyakini valid atau hampir pasti ditetapkan sebagai tersangka, KPK tinggal mengumumkan saja peningkatan status tersangka ini kepada publik. Lantas mengapa kemudian KPK memilih mengungkapkan informasi ini secara terbuka? Di sisi lain, pemerintah melalui Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Wiranto, justru membuat kegaduhan baru. Wiranto meminta KPK menunda proses hukum
37Tulisan ini sebelumnya sudah dimuat di Koran Harian Kaltim Post, edisi Selasa 27 Maret 2018
para calon kepala daerah hingga proses pilkada selesai. Apakah memang KPK mesti menunda proses hukum atau jalan terus demi menjaga semangat dan komitmen pemberantasan korupsi?
Early Warning
Tidak sedikit yang beranggapan jika KPK sedang memainkan peran berbeda dari kebiasaannya selama ini. Jika biasanya KPK bekerja dalam senyap, kali ini KPK justru terkesan sedang melancarkan perang psikologis (psywar) secara terbuka terhadap calon tersangka, khusunya calon kepala daerah yang diindikasikan melakukan tindak pidana korupsi. Apakah KPK sedang menebar teror dan ancaman kepada para calon? Tentu saja tidak. Pernyataan KPK ini seharusnya dianggap sebagai
“alarm” atau semacam “early warning” terhadap calon-calon yang akan bertarung di pilkada serentak 2018. Ini merupakan peringatan keras terhadap para calon yang merasa masuk ke dalam radar KPK dengan kemungkinan penetapan tersangka baru, yang berarti status pencalonannya dalam pilkada harus dipertimbangkan kembali. Di sisi lain, pernyataan KPK ini juga bermakna sebagai referensi bagi publik perihal adanya calon yang integritasnya meragukan.
Dapat dikatakan bahwa sasaran tembak KPK yang sebenarnya bukanlah calon kepala daerah. Tetapi para penyelenggara negara yang juga ikut bertarung dalam pilkada 2018. Hal tersebut merupakan dua hal yang berbeda. Dengan demikian, hal ini juga sekaligus membantah tudingan jika KPK dijadikan sebagai alat untuk menjatuhkan lawan politik tertentu dalam pilkada. Meski demikian, pernyataan KPK tersebut tentu saja berimplikasi terhadap nama baik KPK.
Sebagai sebuah lembaga, KPK sepatutnya bekerja pada koridor hukum sebagaimana mestinya. Hukum bekerja dan bergerak berdasarkan fakta, tidak pada praduga atau kalkulasi potensi.
Sederhananya, jika bukti-bukti memadai, KPK hanya perlu mengikuti langkah hukum yang konkrit dan terukur. Jika tidak demikian, maka KPK hanya akan dituding sebagai pengumbar sensasi. Ini tentu saja menjadi bagian dari kritik terhadap KPK.
Jika pernyataan tersebut tidak terbukti, maka akan menjadi pertaruhan kredibilitas bagi KPK secara kelambagaan.
Namun di luar polemik soal pernyataan KPK ini, proses hukum bagi peserta pilkada tentu harus diberikan sokongan, setidaknya dengan beberapa alasan: Pertama, proses politik dengan penegakan hukum merupakan dua hal yang terpisah.
Bagaimana mungkin proses penegakan hukum justru ditentukan oleh aspek non-hukum? Bahkan pernyataan menkopolhukam
pun bisa dianggap sebagai intervensi politik terhadap proses hukum yang sedang ditangani oleh KPK. Jadi, biarkan saja proses hukum tetap berjalan di jalurnya sendiri. Kedua, proses hukum terhadap peserta pilkada akan menjadi saringan bagi lahirnya pemimpin yang bersih dan bebas korupsi. Pemilih akan disuguhkan referensi tentang siapa calon yang bersih dan tidak . Ketiga, akan lebih sulit melakukan proses hukum terhadap seseorang yang memilki kekuasaan. Ini belum termasuk kemungkinan hilangnya barang bukti jika harus menunggu pilkada selesai terlebih dahulu.
Siapa Berikutnya?
Tanpa mendahului proses hukum, sebenarnya pertanyaan mengenai siapa saja yang masuk radar KPK untuk ditetapkan sebagai tersangka baru dalam perkara korupsi dapat dijawab dengan nalar. Sederhananya, banyak sinyalemen yang bisa dijadikan sebagai dasar untuk menduga-duga kepada siapa bedil senapan KPK hendak diarahkan. Prinsipnya, mustahil KPK menembak tikus tanpa peluru. Siapa yang menabur benih, akan menuai hasil. Tetapi jika kejahatan yang Anda tabur, maka penjara yang akan Anda tuai. Tidak mungkin menanam kacang tumbuhnya jagung. Setidaknya terdapat 5 dugaan sementara
pintu masuk yang akan digunakan KPK, yakni:
Pertama, transaksi mencurigakan. Basisnya tentu saja laporan PPATK. KPK dan PPATK memang sedang bekerjasama untuk melacak aliran dana seputar pilkada serentak 2018.
Terdapat sekitar 368 transaksi yang mencurigakan, yang 34 di antaranya sudah memiliki hasil analisa laporan.38 Apakah para calon ada yang merasa transaksi keuangannya masuk radar PPATK? Transaksi cash tentu tidak masuk radar. Oleh karena itu, mahar atau suap politik yang berlabel biaya pemenangan lazimnya dilakukan secara cash. Bisa jadi ini adalah salah satu modus atau cara untuk mengelebui PPATK.
Kedua, mereka yang semasa atau yang masih menjabat hingga saat ini (petahana), diduga melakukan tindak pidana suap atau gratifikasi. Sebagai contoh, Bupati Kutai Kertanegara non-aktif, Rita Widyasari, diduga meminta jatah sebesar 60 juta kepada setiap pengusaha yang mengurus izin amdal39 Transaksi ini juga diduga terjadi di semua jenis perizinan lainnya (izin usaha pertambangan, perkebunan, sektor jasa, konstruksi, dll).
Ketiga, yang paling mudah tentu saja korupsi anggaran daerah
38Sumber : https://nasional.kompas.com/read/2018/03/06/16461511/kpk-terdapat-386-transaksi-mencurigakan-dari-beberapa-peserta-pilkada. Diakses pada tanggal 15 Maret 2018 Pukul 9.59 WIB.
39Sumber : https://nasional.kompas.com/read/2018/03/07/12590711/pengusaha-diminta-rp-60-juta-tiap-mengurus-izin-amdal-di-kutai-kartanegara. Diakses tanggal 15 Maret 2018 Pukul 10.00 WIB.
melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).
Grafik penyalahgunaan (pemanfaatan) APBD cenderung meningkat setiap kali menjelang pilkada. Kuat dugaan, APBD menjadi bancakan para elit politik untuk mengumpulkan modal pertarungan di pilkada serentak 2018. Dan ini terkonfirmasi dengan penangkapan beberapa kepala daerah terkait penyalahgunaan APBD.40
Keempat, identifikasi perkembangan nilai harta kekayaan berdasarkan laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN). Oknum yang grafik kekayaannya meningkat secara tidak wajar dipastikan masuk ke dalam daftar radar KPK.
Penyelenggara negara bisa saja menyajikan data fiktif atau memalsukan data, tetapi KPK seharusnya punya metode yang jauh lebih efektif untuk menguak kebenarannya. Kelima, penetapan tersangka kemungkinan besar berasal dari pengembangan penyelidikan. Oleh karena hal tersebut, maka informasi awal mengenai nama-nama calon kepala daerah yang masuk dalam daftar tunggu KPK dapat diprediksi. Masyarakat bisa melacak daerah-daerah yang pernah dikunjungi oleh tim KPK untuk pencarian informasi tertentu. Jadi, berdasarkan uraian tersebut di atas, apakah Anda termasuk yang diincar KPK?
40Sumber : https://pilkada.tempo.co/read/1062649/maraknya-kasus-korupsi-kepala-daerah-diduga-terkait-pilkada-2018. Diakses tanggal 15 Maret 2018 Pukul 10.01 WIB.