Penelitian ini dilakukan di PT. Alam Indah Bunga Nusantara Jl. Raya Mariwati Km 5.5 Desa Kawung Luwuk Sukaresmi Cipanas, Jawa Barat.
Penelitian berlangsung selama bulan Mei 2007 B. BAHAN DAN ALAT PENELITIAN
1. Bahan
Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah bunga krisan Yellow Fiji tipe standar yang diperoleh dari PT. Alam Indah Bunga Nusantara (AIBN) Desa Kawung Luwuk Sukaresmi Cipanas. Cara pemilihan sampel dengan pemilihan sampel bunga krisan secara acak.
Selain itu, juga digunakan bahan kimia Kalium Permanganat (KMnO4) sebagai penyerap etilen. Bahan lain yang digunakan adalah beberapa jenis kemasan yaitu kertas HVS, kertas koran, kertas buram, dan kertas kraft
Gambar 4. Kalium permanganat 2. Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah cool storage untuk penyimpanan suhu rendah. RHS color chart tahun 2001 untuk penentuan warna, jangka sorong, sprayer, bak air, penggaris, gunting
C. METODE PENELITIAN
Untuk melakukan kegiatan penelitian ini, ada 2 macam perlakuan yang dilakukan terhadap spesimen. Perlakuan pertama yaitu pencelupan kemasan dengan konsentrasi KMnO4 yang berbeda dan perlakuan bahan kemasan yang berbeda.
1. Faktor pembungkus a. kertas HVS b. Kertas koran c. Kertas buram d. Kertas kraft
2. Faktor metode konsentrasi KMnO4 a. konsentrasi 5%
b. konsentrasi 10%
Pada tingkat kemekaran bunga 50% bunga dikemas (conthong) dengan masing-masing kemasan yang ditentukan. Bunga krisan dipanen pada derajat kemekaran komersial, lalu tangkai bunga dipotong sepanjang 70 cm. Bunga kemudian dikemas dengan jenis kertas yang berbeda-beda, yang sebelumnya telah dicelupkan dengan konsentrasi KMnO4 yang berbeda, yaitu 5 % dan 10 %. Bunga yang telah dikemas lalu diikat (bunching) dalam setiap ikatan terdapat 1 tangkai bunga, lalu dimasukkan kedalam cool storage dengan suhu 5-10 0C.
Gambar 5. Kemasan primer untuk mahkota bunga
Bunga yang telah diberi kemasan primer dan sekunder
Ember yang berisi air
Secara berturut-turut bunga dikeluarkan dari ruang pendingin. Bunga contoh pertama dikeluarkan pada hari ke empat setelah masa simpan dalam ruang pendingin. Setelah itu bunga contoh kedua dikeluarkan pada hari ke delapan setelah masa simpan. Lalu bunga contoh ketiga dikeluarkan pada hari ke dua belas setelah masa simpan. Semua bunga contoh yang dikeluarkan diletakkan di tempat yang memiliki suhu ruang, dengan tujuan mengetahui vase life untuk tiap-tiap contoh setelah masa simpan dalam cool storage. Sebagai kontrol digunakan bunga yang tanpa dikemas sama sekali. Selama masa penyimpanan dan vase life dilakukan pengamatan dan pengukuran terhadap :
1. Parameter fisik : panjang tangkai, diameter tangkai, diameter mahkota bunga, kelayuan dan warna fisik mahkota.
2. Parameter organoleptik : warna, penampakan dan kegemaran.
Data yang diperoleh diolah dengan faktorial RAL dan dilanjutkan dengan DMRT dengan dua kali ulangan.
Gambar 6. Bunga yang siap untuk disimpan di cool storage
Gambar 7. Diagram alir proses penelitian Bunga krisan
Grading pada lahan
Bunga tanpa
Pengamatan parameter fisik akhir dan analisis data
selesai Penconthongan mahkota
(kemasan primer)
Panen
Sortasi dan grading
Pengukuran parameter fisik awal (panjang tangkai,diameter mahkota,diameter
tangkai,warna)
D. PENGAMATAN NILAI PARAMETER FISIK
Pengamatan dan pengujian mutu bunga potong krisan setelah penyimpanan meliputi panjang tangkai, diameter tangkai, diameter mahkota bunga, kelayuan dan warna bunga. Pengamatan dan pengujian dilakukan pada keadaan awal sebelum dilakukan penyimpanan, kemudian setiap hari selama masa penyimpanan 15 hari.
1. Panjang Tangkai
Panjang tangkai bunga diukur dengan menggunakan mistar secara tegak lurus dari ujung mahkota bunga sampai ke ujung tangkai. Pengukuran dilakukan sebanyak 3 kali dan diambil rata-ratanya. Perhitungan penyusutan panjang tangkai adalah sebagai berikut:
%
2. Pengukuran diameter mahkota
Pengukuran diameter mahkota dilakukan terhadap bunga krisan potong selama masa penyimpanan. Pengukuran ini dimaksudkan untuk mengetahui perubahan atau penyusutan yang terjadi karena proses metabolisme bunga selama masa penyimpanan.
Pengukuran dilakukan menggunakan jangka sorong untuk diameter mahkota bunga dan penyusutan diameter tangkai bunga dan dilakukan pangukuran pada dua titik yang berbeda, yaitu bagian bawah dan atas tangkai, kemudian dirata-ratakan. Perhitungan penyusutan panjang dan diameter tangkai bunga adalah sebagai berikut :
x100%
3. Pengukuran diameter tangkai
Pengukuran dilakukan selama masa penyimpanan, yaitu setiap 4 hari sekali. Pengukuran ini untuk mengetahui perubahan diamter tangkai, karena proses metabolisme tanaman setelah panen.
x100%
Bobot bunga diukur selama masa penyimpanan untuk mengetahui pengaruh metabolisme terhadap sifat fisik bunga. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat timbangan digital. Bobot yang diukur yaitu seluruh batang dan mahkotanya.
Kelayuan diamati secara visual selama proses penyimpanan. Kelayuan ditandai dengan mulai menggulungnya mahkota kearah luar dan dikatakan layu apabila mahkota benar-benar jatuh kebawah karena sama sekali sudah tidak ada ketegaran mahkota.
6. Warna
Penampakan pada bunga krisan potong yang diamati adalah warna mahkota
bunga. Warna mahkota bunga diamati dengan menggunakan RHS Colour chart.
Pada alat tersebut terdapat berbagai macam warna dengan kodenya masing-masing. Mahkota bunga ditempelkan pada lubang yang terdapat pada kertas tersebut dan dicari kode warna yang tepat.
Gambar 8. RHS Colour chart
E. UJI ORGANOLEPTIK
Uji organoleptik dilakukan terhadap warna, penampakan dan kegemaran. Pengujian dilakukan sebelum penyimpanan dan setelah penyimpanan. Pengujian dilakukan dengan mengambil panelis sebanyak 4 orang untuk mengetahui tingkat kesukaan konsumen terhadap parameter yang akan dianalisa. Penilaian berdasarkan kriteria suka dan tidak suka. Skala nilai yang digunakan adalah :
1 = sangat tidak suka 2 = tidak suka 3 = biasa 4 = suka
5 = sangat suka
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. PENCELUPAN
Sebelum kemasan digunakan sebagai pelindung produk, kemasan dicelupkan terlebih dahulu pada larutan KMnO4. Larutan yang digunakan terdiri dari dua macam, yaitu dengan konsentrasi 5% dan 10%. Pada penelitian-penelitian terdahulu yang menggunakan KMnO4 sebagai penyerap etilen, konsentrasi yang lazim digunakan yaitu dalam satuan ppm. Pada awal konsep penelitian, akan digunakan dua macam konsentrasi larutan, yaitu konsentrasi 50%
dan 100%. Akan tetapi, setelah dicoba dilakukan percobaan pembuatan larutan dengan konsentrasi 50% dan 100%, butiran KMnO4 tidak bisa larut seluruhnya dalam air, sehingga menghasilkan endapan pada dasar bak air. Setelah dilakukan beberapa kali percobaan, akhirnya ditemukan bahwa butiran Kalium Permanganat mulai larut pada konsentrasi 10%.
Gambar 9. Proses pencelupan kertas kemasan
Zat yang digunakan sebagai pelarut KMnO4 adalah air. Berat air yang digunakan sesuai dengan jumlah konsentrasi yang diinginkan pada masing-masing perlakuan. Pada konsentrasi 10%, butiran KMnO4 dengan berat 550 gr dilarutkan pada air dengan berat 5000gr. Sedangkan pada konsentrasi 5%, digunakan butiran KMnO4 dengan berat 250 gr dengan berat air 5000 gr.
Kertas yang akan digunakan sebagai kemasan dicelupkan dalam larutan tersebut dengan waktu 5 menit. Setelah itu, kemasan tersebut dikeringkan dengan didiamkan selama beberapa saat. Selama proses pencelupan, digunakan sarung
0
tangan untuk melindungi kulit terkena langsung cairan tersebut. Pada konsentrasi tersebut, larutan kimia tersebut dapat mengakibatkan kulit tangan melepuh, perih, dan gatal.
B. DIAMETER MAHKOTA
Bunga merupakan komoditas hortikultura yang masih melakukan aktifitas metabolisme setelah pemanenan. Proses tersebut selalu mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan yang akhirnya akan menyebabkan benda-benda tersebut menjadi rusak (FG. Winarno dan Moehammad Aman, 1979). Pada proses metabolisme tanaman, akan terjadi beberapa perubahan fisik dan kimia yang pada umumnya terdiri dari perubahan tekanan turgor sel, dinding sel, zat pati, protein, warna, senyawa turunan fenol, dan asam-asam organik. Salah satu perubahan fisik yang diamati selama masa penyimpanan krisan yaitu kemekaran bunga.
Kemekaran bunga ditunjukkan dengan peningkatan diameter mahkota bunga sampai maksimum dan selanjutnya menurun sampai bunga menjadi layu.
Gambar 10. Perubahan diameter mahkota bunga krisan selama penyimpanan
Keterangan :
HVS + 10% : Kemasan HVS, konsentrasi KMnO4 10% (A1B1) HVS + 5% : Kemasan HVS, konsentrasi KMnO4 5% (A1B2)
Koran + 10% : Kemasan kertas koran, konsentrasi KMnO4 10% (A2B1) Koran + 5% : Kemasan kertas koran, konsentrasi KMnO4 5% (A2B2) Kraft + 10% : Kemasan kertas kraft, konsentrasi KMnO4 10% (A3B1) Kraft + 5% : Kemasan kertas kraft, konsentrasi KMnO4 5% (A3B2) Buram + 10% : Kemasan kertas buram, konsentrasi KMnO4 10% (A4B1) Buram + 5% : Kemasan kertas buram, konsentrasi KMnO4 5% (A4B2)
Kontrol Pada gambar di atas, menunjukkan bahwa diameter mahkota krisan mengalami penambahan pada semua jenis perlakuan. Bunga tersebut masih aktif melakukan proses metabolisme dengan direndamnya seluruh batang bunga pada masing-masing perlakuan ke dalam ember yang berisi air. Untuk mengganti kandungan air yang hilang melalui penguapan, sel-sel yang terdapat pada batang akan berusaha menyerap air sebagai pengganti air yang telah hilang. Proses kemekaran bunga selama penyimpanan menggunakan energi yang didapatkan dari proses respirasi bunga. Respirasi bunga menggunakan oksigen untuk pembakaran senyawa makromolekul seperti karbohidrat, protein, dan lemak yang akan menghasilkan CO2, air dan energi.
Gambar 11. Perubahan diameter mahkota bunga krisan tanpa perlakuan Hasil analisa sidik ragam (lampiran 8) menunjukkan tidak adanya pengaruh kemasan dan konsentrasi terhadap perubahan diameter mahkota pada hari ke 4, 8, 12, dan 15. Hal tersebut karena proses metabolisme bunga krisan masih aktif terjadi, karena tangkai bunga selalu terendam air selama penyimpanan. Air merupakan zat yang berperan pada proses metabolisme tanaman. Sedangkan dari uji Duncan didapatkan hasil bahwa perlakuan yang paling bagus untuk mencegah kerusakan bunga berupa pertambahan diameter yang terlalu besar yaitu perlakuan A1B2 (kemasan HVS, konsentrasi 5%), yang hanya meyebabkan penambahan diameter sebesar 32 %. Kertas HVS mempunyai kekuatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kertas buram dan kertas koran.
Pada jenis kertas kraft, sebenarnya merupakan jenis kertas yang paling kuat dan
tebal yang digunakan pada penelitian kali ini. Akan tetapi, karena pengaruh KMnO4 pada kertas tersebut, menyebabkan kertas tersebut labil dan mudah sobek.
Tabel 5. Analisa sidik ragam perubahan diameter pada hari ke-4 penyimpanan Sumber keragaman
Kemasan 45.840 3 15.280 .264 3.24
Konsentrasi 12.104 1 12.104 .209 4.49
kemasan *
konsentrasi 509.304 3 169.768 2.928 3.24
Error 927.730 16 57.983
Total 5418.966 24
Tabel 6. Uji Duncan perubahan diameter mahkota pada hari ke-15 penyimpanan perlakuan N
A1B2 3 32.2428a
A2B2 3 34.2611a
A3B1 3 36.1100a
A1B1 3 36.8251a
A4B2 3 37.9467a
A4B1 3 39.3276a
A3B2 3 44.0781a
A2B1 3 47.7310a
C. PANJANG TANGKAI
Panjang tangkai merupakan salah satu parameter fisik untuk menentukan kualitas bunga. Untuk kualitas atau grade AA, Badan Standardisasi Nasional menetapkan panjang tangkai bunga krisan yaitu 76 cm. Pada saat penyimpanan, bunga krisan masih melakukan proses metabolisme, yang salah satunya akan berakibat pada perubahan panjang tangkai. Dari gambar 12 di bawah, dapat diketahui bahwa panjang tangkai bunga krisan selalu mengalami peningkatan selama penyimpanan. Semua bunga yang mengalami perlakuan yang berbeda mengalami kenaikan nilai panjang tangkai, kecuali pada bunga krisan yang mengalami perlakuan A1B2 Hal tersebut terjadi kemungkinan karena kemasan bunga krisan yang mengalami perlakuan tersebut mengalami kerobekan. Hal tersebut terjadi karena perlakuan KMnO4 pada kertas kemasan tersebut, yang
71 72 73 74 75 76 77 78 79
H0 H4 H8 H12 H15
HVS + 10%
HVS + 5%
Koran + 10%
Koran + 5%
Kraft + 10%
Kraft + 5%
Buram + 10%
Buram + 5%
mengakibatkan kertas menjadi kaku, sehingga pada saat dilakukan pengamatan kertas menjadi mudah robek
Gambar 12. Perubahan panjang tangkai bunga krisan selama penyimpanan Keterangan :
HVS + 10% : Kemasan HVS, konsentrasi KMnO4 10% (A1B1) HVS + 5% : Kemasan HVS, konsentrasi KMnO4 5% (A1B2)
Koran + 10% : Kemasan kertas koran, konsentrasi KMnO4 10% (A2B1) Koran + 5% : Kemasan kertas koran, konsentrasi KMnO4 5% (A2B2) Kraft + 10% : Kemasan kertas kraft, konsentrasi KMnO4 10% (A3B1) Kraft + 5% : Kemasan kertas kraft, konsentrasi KMnO4 5% (A3B2) Buram + 10% : Kemasan kertas buram, konsentrasi KMnO4 10% (A4B1) Buram + 5% : Kemasan kertas buram, konsentrasi KMnO4 5% (A4B2) Besarnya kenaikan panjang tangkai bunga krisan sangat kecil. Kenaikan nilai panjang tangkai tersebut berkaitan dengan susunan dinding sel pada tangkai bunga krisan. Perubahan yang terjadi setelah pemanenan pada dinding sel tanaman hanya menyangkut susunannya saja (Pantastico, 1986).
Gambar 13. Kertas kemasan A1B2 yang sobek
kontrol
Hasil analisa sidik ragam yang dilakukan pada hari 4, 8, 12, dan 15, menunjukkan bahwa adanya pengaruh faktor yang dilakukan, yaitu interaksi antara kemasan dan konsentrasi terhadap perubahan panjang tangkai pada hari ke 8, 12, dan 15. Dari hasil uji lanjut Duncan, didapatkan hasil bahwa bunga yang mengalami perlakuan A4B1 (kemasan buram, konsentrasi 10%), menyebabkan perubahan panjang tangkai yang paling sedikit yaitu sebesar 0.18 %.
Gambar 14. Perubahan panjang tangkai bunga krisan tanpa perlakuan Tabel 7. Analisa sidik ragam perubahan panjang tangkai pada hari ke-8 penyimpanan
Konsentrasi .201 1 .201 .583 4.49
Kemasan *
Konsentrasi 5.618 3 1.873 5.418* 3.24
Error 5.530 16 .346
Total 17.738 24
Tabel 8. Duncan perubahan panjang tangkai pada hari ke-8 penyimpanan
Perlakuan N
0
Bobot bunga merupakan salah satu parameter fisik yang diamati pada penelitian kali ini. Bobot bunga selama penyimpanan sangat berkaitan dengan proses metabolisme yang terjadi selama penyimpanan. Pada gambar 15 di bawah semua bunga yang mendapat perlakuan yang berbeda mengalami penurunan bobot bunga, kecuali pada bunga krisan dengan perlakuan A1B2. Pada hari pengamatan yang ke 8, bobot bunga mengalami kenaikan dari 29.26 gr pada hari penyimpanan ke 4 menjadi 31.45 gr pada hari penyimpanan yang ke 8. Hal ini terjadi karena kondisi kemasan dengan perlakuan A1B2 mengalami kerusakan berupa robek karena pengaruh proses pencelupan pada larutan KMnO4, sehingga menyebabkan kertas menjadi mudah robek.
Gambar 15. Perubahan bobot bunga selama penyimpanan Keterangan :
HVS + 10% : Kemasan HVS, konsentrasi KMnO4 10% (A1B1) HVS + 5% : Kemasan HVS, konsentrasi KMnO4 5% (A1B2)
Koran + 10% : Kemasan kertas koran, konsentrasi KMnO4 10% (A2B1) Koran + 5% : Kemasan kertas koran, konsentrasi KMnO4 5% (A2B2) Kraft + 10% : Kemasan kertas kraft, konsentrasi KMnO4 10% (A3B1) Kraft + 5% : Kemasan kertas kraft, konsentrasi KMnO4 5% (A3B2) Buram + 10% : Kemasan kertas buram, konsentrasi KMnO4 10% (A4B1) Buram + 5% : Kemasan kertas buram, konsentrasi KMnO4 5% (A4B2) Hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa konsentrasi berpengaruh nyata pada penurunan bobot bunga pada hari pengamatan ke-12. Hal tersebut
kontrol
0 10 20 30 40 50
H0 H4 H8 H12 H15
kontrol
terjadi karena kondisi ruang penyimpanan yang sering dibuka lama pada hari ke-11 penyimpanan, karena pada waktu itu kegiatan pascapanen di PT Alam Indah Bunga Nusantara sangat tinggi, sehingga pintu ruang penyimpanan sering terbuka lama untuk memasukkan dan mengambil bunga potong. Pintu ruang penyimpanan yang terbuka akan menaikkan suhu sehingga bunga akan kehilangan bobotnya karena penguapan air. Evaporasi akan meningkat bila suhu lingkungan tinggi dan kelembapan udara di sekitar bunga relatif rendah (Soekartawi 1996)
Gambar 16. Perubahan bobot bunga tanpa perlakuan selama penyimpanan Dengan uji lanjut Duncan didapatkan hasil bahwa bunga yang mendapatkan perlakuan A3B1 (kemasan kertas kraft, konsentrasi KMnO4 10%) memberikan pengaruh susut yang paling kecil diantara bunga yang mendapatkan perlakuan yang lain yaitu sebesar 12.92%. Hal tersebut karena kemasan kraft yang digunakan mempunyai ketebalan yang paling besar dibandingkan jenis kertas yang lain yang digunakan pada penelitian ini. Ketebalan kertas mungkin menjadi penghalang O2 yang digunakan sebagai proses metabolisme yang akan menyebabkan kerontokan mahkota dan daun. Rontoknya daun dan mahkota bunga akan menyebabkan turunnya bobot bunga yang signifikan selama pentimpanan.
Bunga dengan perlakuan A4B1 (kertas buram, konsentrasi 10%) tidak berbeda nyata dengan bunga yang mendapatkan perlakuan A3B1. Sehingga untuk hasil yang paling baik untuk parameter susut bobot, penulis memilih bunga dengan perlakuan A4B1 yang memberikan hasil optimal.
Tabel 9. Analisa sidik ragam susut bobot pada hari ke-12 penyimpanan Sumber keragaman
Jumlah kuadrat
Derajat bebas
Kuadrat
tengah F hitung F table
Kemasan 246.199 3 82.066 1.396 3.24
Konsentrasi 340.019 1 340.019 5.782* 4.49
Kemasan *
Konsentrasi 163.539 3 54.513 .927 3.24
Error 940.892 16 58.806
Total 6734.107 24
Tabel 10. Uji lanjut Duncan susut bobot pada hari ke-12 penyimpanan
Perlakuan N
A3B1 3 8.8824a
A1B1 3 10.1850a
A4B1 3 11.6132a
A2B1 3 12.2489a
A1B2 3 14.5156ab
A3B2 3 14.6084ab
A2B2 3 15.8321ab
A4B2 3 28.0851b
0
E. DIAMETER TANGKAI
Diameter tangkai merupakan salah satu parameter fisik yang diamati dalam penelitian ini. Pengukuran dilakukan pada awal penyimpanan dan selanjutnya pada setiap 4 hari sekali sampai hari penyimpanan yang ke 15.
Tangkai bunga merupakan salah satu parameter untuk menentukan mutu bunga krisan. Tangkai dengan diamteer yang besar akan mampu untuk menopang seluruh berat bunga, sehingga peluang untuk terjadinya bent neck (melengkungnya tangkai) menjadi kecil. Diameter tangkai yang sesuai dengan grade AA yang telah ditentukan oleh Badan Standardisasi Nasional yaitu sebesar 4-5 mm. Tangkai mengalami perubahan diameter selama penyimpanan karena aktifitas metabolisme yang terjadi. Pada gambar 17 di bawah dapat dilihat bahwa, tangkai mengalami penyusutan diameter selama penyimpanan. Besarnya penyusutan diameter tangkai sangat kecil sekali pada semua bunga yang mendapatkan perlakuan yang berbeda. Penyusutan diameter terbesar yaitu sebesar 0.88 mm dan penyusutan diameter tangkai paling kecil yaitu 0.04 mm.
Gambar 17. Perubahan diameter tangkai bunga krisan selama penyimpanan
Keterangan :
HVS + 10% : Kemasan HVS, konsentrasi KMnO4 10% (A1B1) HVS + 5% : Kemasan HVS, konsentrasi KMnO4 5% (A1B2)
Koran + 10% : Kemasan kertas koran, konsentrasi KMnO4 10% (A2B1) Koran + 5% : Kemasan kertas koran, konsentrasi KMnO4 5% (A2B2) Kraft + 10% : Kemasan kertas kraft, konsentrasi KMnO4 10% (A3B1) Kraft + 5% : Kemasan kertas kraft, konsentrasi KMnO4 5% (A3B2) Buram + 10% : Kemasan kertas buram, konsentrasi KMnO4 10% (A4B1)
Kontrol
0 1 2 3 4 5 6 7
H0 H4 H8 H12 H15
Kontrol Hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang nyata terhadap perubahan diameter tangkai mulai pada hari penyimpanan ke 8 dan ke-12. Jika dibandingkan dengan data hasil pengukuran diameter tangkai pada bunga yang tidak mendapatkan perlakuan sama sekali (kontrol), terdapat perbedaan hasil pengukuran diameter tangkai. Pada kontrol, diameter tangkai mengalami kenaikan diameter selama penyimpanan. Hal tersebut berkaitan dengan aktifitas metabolisme yang mungkin dihambat oleh pengaruh perlakuan.
Gambar 18. Perubahan diameter tangkai bunga krisan tanpa perlakuan selama penyimpanan
Hasil uji lanjut Duncan pada hari penyimpanan yang terakhir (H ke-15) didapatkan hasil bahwa kemasan yang memberikan pengaruh terkecil pada perubahan diameter tangkai yaitu A4B1 (kemasan buram, konsentrasi 10%), dengan perubahan sebesar 1.33%
Tabel 11. Analisa sidik ragam perubahan diameter tangkai pada hari ke-8 penyimpanan
Tabel 12. Uji lanjut Duncan pada hari ke-15 penyimpanan
F. WARNA
Warna mahkota bunga merupakan salah satu parameter fisik yang digunakan sebagai pertimbangan konsumen untuk membeli bunga. Warna mahkota yang dapat bertahan lama akan lebih disukai oleh konsumen daripada warna mahkota yang lebih cepat pudar. Warna bunga krisan tipe Yellow Fiji tersusun atas warna putih (brightness), warna kuning dan sedikit warna merah (Alamanda, 2007). Pada pengamatan warna mahkota bunga pada penelitian ini digunakan alat RHS Colour Chart. Alat ini terdiri dari beberapa lembar kertas dengan gradasi warna yang sangat kecil. Pada bagian tengah kertas tersebut terdapat lubang yang akan digunakan untuk mencocokkan warna produk (bunga) dengan warna yang cocok dengan warna yang terdapat pada kertas. Masing-masing jenis warna mempunyai kode huruf dari A sampai D. Dari kode huruf A, warna dimulai dari yang agak gelap dan berturut-turut sampai ke D mengalami gradasi yang lebih terang. Pada kondisi awal penyimpanan (H0), semua mahkota bunga krisan yang diamati memiliki warna dengan kode Yellow group 7C.
Kemasan 219.066 3 73.022 3.540* 3.24
Konsentrasi 51.133 1 51.133 2.479 4.49
kemasan *
konsentrasi 70.001 3 23.334 1.131 3.24
Error 330.043 16 20.628
Total 3187.231 24
perlakuan N
A4B1 3 1.3258a
A4B2 3 1.6337a
A2B1 3 2.7002a
A3B2 3 2.7613a
A3B1 3 5.2341ab
A1B2 3 8.0269ab
A1B1 3 8.6304ab
A2B2 3 13.4510b
Gambar 19. Warna bunga krisan Tabel 13. Perubahan warna mahkota selama penyimpanan
perlakuan warna H 0 warna H 4 warna H 8 warna H 12 warna H 15
A1B1 YG7C YG 7D YG7D YG7D YG7D
YG7C YG 7C YG7C YG7C YG7C
YG7C YG 7C YG7C YG7C YG7C
A1B2 YG7C YG 7C YG7C YG7D YG7D
YG7C YG 7D YG7D YG7D YG7D
YG7C YG 7C YG7C YG7D YG7D
A2B1 YG7C YG7C YG7D YG7D YG7D
YG7C YG7C YG7C YG7D YG7D
YG7C YG7C YG7D YG7D YG7D
A2B2 YG7C YG7C YG7C YG7D YG7D
YG7C YG7C YG7C YG7D YG7D
YG7C YG7C YG7C YG7C YG7D
A3B1 YG7C YG7C YG7C YG7C YG7D
YG7C YG7C YG7C YG7C YG7D
YG7C YG7D YG7D YG7D YG7D
A3B2 YG7C YG7D YG7D YG7D YG7D
YG7C YG7C YG7C YG7C YG7C
YG7C YG7C YG7C YG7C YG7D
A4B1 YG7C YG7C YG7C YG7D YG7D
YG7C YG7C YG7C YG7C YG7C
YG7C YG7D YG7D YG7D YG7D
A4B2 YG7C YG7C YG7D YG7D YG7D
YG7C YG7D YG7D YG7D YG7D
YG7C YG7C YG7C YG7C YG7D
Kontrol YG7C YG7C YG7C YG7C YG7C
YG7C YG7C YG7C YG7C YG7D
YG7C YG7C YG7C YG7C YG7C
Pada pengamatan warna mahkota bunga krisan, semua mahkota bunga mengalami perubahan kode warna dari C ke D selama penyimpanan, atau mengalami peruabahan warna menjadi lebih terang, kecuali pada bunga yang mendapat perlakuan A1B1 ulangan 2 dan 3, A3B2 ulangan ke 2, A4B1 ulangan ke 2, dan kontrol ulangan 1 dan 3, yang tidak mengalami perubahan warna sama sekali. Perubahan warna mahkota bunga menjadi lebih terang diakibatkan karena aktifitas metaolisme bunga tersebut. Dari analisa sidk ragam terhadap perubahan mahkota bunga krisan, didapatkan hasil bahwa adanya perlakuan pada kemasan tidak memberikan hasil yang berbeda nyata dengan kemasan yang tidak diberikan perlakuan.
Tabel 14. Analisa sidik ragam perubahan warna mahkota pada hari ke-15 penyimpanan
konsentrasi .167 1 .167 1.333 4.49
kemasan *
konsentrasi .833 3 .278 2.222 3.24
Error 2.000 16 .125
Total 20.000 24
Warna yang terdapat pada produk hortikultura dipengaruhi oleh adanya pigmen. Dalam menetukan jenis pigmen yang terdapat dalam hasil pertanian, FG Winarno dan Moehammad Aman, 1979 menggunakan pedoman sebagai berikut, warna hijau biasanya disebabkan oleh pigmen khlorofil, warna biru atau purple biasanya disebabkan oleh anthosianin, warna merah disebabkan pigmen likopen atau anthosianin, warna jingga disebabkan pigmen karoten, dan warna kuning disebabkan pigmen xantofil. Adanya perubahan warna kemungkinan disebabkan karena adanya kandungan gula yang tedapat dalam pigmen lepas. Oleh karena itu kandungan gula yang hilang tadi menyebabkan pigmen menjadi tidak stabil.
Adanya kandungan zat kimia (KMnO4) pada kemasan mengakibatkan warna kecoklatan pada mahkota bunga dengan perlakuan A1B2, karena adanya kontak langsung antara kemasan dengan perlakuan kimia dengan mahkota bunga tersebut. hal tersebut mengakibatkan warna menjadi kurang menarik.
G. KELAYUAN
Kelayuan diamati secara visual selama proses penyimpanan. Kelayuan ditandai dengan mulai menggulungnya mahkota ke arah luar dan dikatakan layu apabila mahkota benar-benar jatuh kebawah karena sama sekali sudah tidak ada ketegaran mahkota. Selain pada mahkota, kelayuan juga diamati pada daun.
Selama masa penyimpanan pada cold storage, semua bunga yang mendapatkan perlakuan yang berbeda tidak ada yang mengalami kelayuan. Kelayuan bisa disebabkan oleh respirasi dan evaporasi yang masih terjadi pada bunga potong.
Proses respirasi adalah proses penggunaan cadangan makanan untuk diubah menjadi energi, CO2, dan air dengan bantuan oksigen (Soekartawi, 1996). Dengan
Proses respirasi adalah proses penggunaan cadangan makanan untuk diubah menjadi energi, CO2, dan air dengan bantuan oksigen (Soekartawi, 1996). Dengan