Dermatitis Seborrhoik
KRITERIA DIAGNOSIS Mycobacterium leprae
-Dermatitis atopik pada bayi
Dermatofitosis (tinea capitis, facialis, dan corporis) Kandidiasis intertrigo
Lesi di kulit kepala : pada orang dewasa dapat digunakan shampoo yang mengandung zinc pyrithione (Selsun), dikeramaskan dan didiamkan selama 10-15 menit kemudian baru dibilas. Bisa juga dipakai shampoo ketokonazol (Zoloral) dipakai semalaman sebelum tidur lalu dibilas keesokan paginya.
Lesi di wajah : krim hidrokortison 1% sampai lesi membaik kemudian ditaper menjadi 1 kali sehari selama 1 minggu lalu minggu berikutnya dioles selang seling hari selama 1 minggu lalu dihentikan bisa juga dipakai krim ketokonazol (Zoloral) 2 kali sehari serlama 2-4 minggu.
Lesi di daerah badan : gunakan kortikosteroid krim potensi sedang sampai kuat (Locoid atau Esperson) 2 kali sehari untuk seminggu kemudian diganti dengan hidrokortison krim 1% sampai lesi sembuh.
Lesi di intertrigo : gunakan kortikosteroid potensi ringan (hidrokortison krim 1%)bersamaan dengan antijamur topikal dalam sediaan krim (Nizoral) 2 kali sehari selama 2 minggu.
Lesi di bulu mata : cuci dengan air biasa atau dengan Johnson Baby Shampoo.
Lepra adalah penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh bakteri tahan asam(BTA) yang menyerang saraf tepi, kulit, dan jaringan tubuh lainnya kecuali susunan saraf pusat.
1. Lesi kulit (hipopigmentasi /eritematosa) yang mati rasa (anesthesia).
2. Penebalan saraf tepi disertai gangguan fungsi saraf (bisa berupa gangguan sensorik, motorik ataupun otonom)
TATALAKSANA
Lepra (Morbus Hansen)
DEFINISI
KRITERIA DIAGNOSIS Mycobacterium leprae
3. BTA positif di dalam kerokan jaringan kulit.
Diagnosis lepra positif bila terdapat 1 . Namun bila hanya
yang kedua saja yang ditemukan, pasien baru disuspek lepra dan memerlukan pemeriksaan lanjutan dari ahli.
Setelah pasien didiagnosis lepra, maka selanjutnya harus ditentukan tipe/klasifikasinya untuk menentukan:
Jenis dan lamanya pengobatan Waktu penderita dinyatakan lepas obat Perencanaan logistic
Berdasarkan pelaksanaan terapinya, lepra dibedakan menjadi 2, yaitu:
1. Lepra (PB) BTA negative
2. Lepra (MB) BTA positif
Pedoman utama untuk menentukan tipe lepra menurut WHO:
cardinal sign cardinal sign
Pauci Baciller Multi Baciller • • •
→
→
Klasifikasi Zona Spectru m Lepra
Ridley & Jopling TT BT BB BL LL
Madrid Tuberkuloid Borderline Lepromatosa
WHO PB MB
Puskesmas PB MB
Tanda Utama PB MB
Bercak kusta Jumlah 1 s/d 5 >5 Penebalann saraf tepi
dengan gangguan fungsi
Hanya I saraf >1 Apusan kulit BTA positif BTA negatif
Kelainan Kulit dan Hasil Pemeriksaan
PB MB
1. Bercak mati rasa
a. ukuran Kecil dan besar Kecil-kecil
b. distribusi Unilateral atau bilateral asimetris Bilateral simetris
c. konsistensi Kering dan kasar Halus dan berkilat
d. batas tegas Kurang tegas
e. anestesi Selalu ada dan jelas Biasanya tidak jelas, jika ada, terjadi pada yang sudah lanjut f. kehilangan kemampuan
berkeringat, rambut rontok pada bercak
Selalu ada dan jelas Biasanya tidak jelas, bila ada maka sudah lanjut
2.Infiltrat
a. kulit Tidak ada Ada, kadang tidak ada
b.membran mukosa(hidung tersumbat, epistaksis)
Tidak pernah ada Ada, kadang tidak ada 3. Ciri-Ciri Central healing (penyembuhan di
tengah)
• Punched out lesion( bentuk lesi
seperti tinju) • Madarosis • Ginekomasti • Saddle nose • Suara sengau
4.Nodulus Tidak ada Kadang ada
Diagnosis Banding
Pemeriksaan
• • •
Lesi kulit hipopigmentasi : leukoderma, vitiligo, PVC, pitiriasis alba, morfea, scar Lesi eritema : tinea korporis, lupus vulgaris, lupus eritematosus, granuloma
anulare, sifilis sekunder, sarkoidosis, mikosis fungoides
Anestesi : neuropati peerifer, neuropati diabetic, amiloidosis saraf, trauma, siringomielia
1. Anamnesis
Pada anamnesis ditanyakan secara lengkap mengenai riwayat penyakit: kapan timbul bercak atau keluhan? Apakah ada riwayat kontak? Riwayat pengobatan sebelumnya.
2. Pelaksanaan pemeriksaan
a. Pemeriksaan Pandang: dimulai dari kepala, ekstremitas superior anterior dekstra, trunkus anterior, ektremitas superior anterior sinistra, dilanjutkan ekstremitas inferior anterior dekstra dan sinistra. Kemudian pemeriksaan dilanjutkan dengan posisi pasien membelakangi pemeriksa dengan urutan pemeriksaan yang sama.
Perhatikan setiap bercak, nodul, jaringan perut, kulit yang keriput dan setiap penebalan kulit. Perhatikan pula kelainan dan cacat yang terdapat pada tangan dan kaki seperti atrofi, jari kiting, pemendekan jari dan ulkus. b. Pemeriksaan rasa raba pada kelainan kulit.
Kelainan-kelainan dikulit diperiksa secara bergantian dengan kulit yang normal disekitarnya untuk mengetahui ada/tidaknya anestesi. Anestesi pada telapak tangan dan kaki kurang tepat diperiksa dengan kapas, gunakan bolpoin untuk pemeriksaan.
c. Pemeriksaan saraf
Raba dengan teliti saraf tepi berikut: n. auricularis magnus, n. ulnaris, n. radialis, n. medianus, n. peroneus, dan n. tibialis posterior.
3. Pemeriksaan Bakteriologik, membuat sediaan apusan jaringan kulit dengan pewarnaan ZN. Ada 2 hal yang harus diperhatikan dalam penilaian:
a. Indeks Bakteri (IB)
Merupakan indeks yang menyatakan kepadatan BTA.
resistensi terapi obat atau kekambuhan b. Indeks Morfologi (IM)
IM menunjukkan prosentase BTA solid terhadap seluruh BTA. IM berguna untuk mengetahui daya penularan kuman juga untuk menilai hasil pengobatan ddan membantu menentukan resistensi terhadap obat. 4. Penunjang lainnya
PA:biopsy lesi kulit dan / saraf tidak dapat digunakan untuk diagnosis tetapi untuk penentuan tipe lepra.
Tes Lepromin untuk penentuan tipe lepra dan prognosis. Lepromin merupakan indicator tingkat resistensi jaringan terhadap M.leprae dan kemampuan imunitas seluler individu untuk bereaksi terhadap kuman. Molekuler: PCR
1. Penderita PB (dewasa)
Pengobatan bulanan : hari pertama (dosis yang diminum di depan petugas) 2 kaps Rifampicin @300mg, total 600mg
1 tab dapsone/DDS 100mg
Pengobatan hari ke 2-28: 1 tab dapsone/DDS 100mg 1 blister 1 bulan, total pengobatan 6 blister selama 6-9 bulan. 2. Penderita MB (dewasa)
Pengobatan bulanan : hari pertama (dosis yang diminum di depan petugas) 2 kaps Rifampicin @300mg(600mg)
3 tab Lamprene/Clofazimin @100mg(300mg) 1 tab dapsone/DDS 100mg
Pengobatan hari ke 2-28: 1 tab dapsone/DDS 100mg dan 1 tab Lamprene 50mg. 1 blister 1 bulan, total pengobatan 12 blister selama 12-18 bulan.
*Dosis anak disesuaikan dengan berat badan: Rifampicin 10mg/kgBB
DDS 2 mg/kgBB Clofazimin 1 mg/kgBB
Dapsone/DDS/ diamino diphenyl sulfone, tablet warna putih, bakteriostatik Lamprene/B663/Clofazimin, kapsul coklat, bakteriostatik, anti reaksi, • • • • • • • • • • •
→
→
Pengobatan Leprahepatotoksik, nefrotoksik, Rifampicin, kapsul/tablet, bakterisid, pigmentasi kulit
* Keadaan khusus:
Kehamilan: MDT aman untuk ibu dan janin
TBC: cukup ditambahkan DDS ataupun Lampren( sesuai tipe lepra), dosis rifampizin mengikuti dosis TBC
Bagi penderita yang alergi DDS dapat diganti dengan Lamprene.
Komplikasi Imunologis: reaksi lepra tipe 1 (reversal) dan reaksi tipe 2 (ENL) Komplikasi neurologist: ulkus, claw hand, drop hand, drop foot, kontraktur, mutilasi, resorbsi.
Reaksi kusta adalah suatu episode dalam perjalanan kronis penyakit kusta yang merupakan suatu reaksi kekebalan (respon seluler) atau reaksi antigen-antibodi (respon humoral) yang berakibat merugikan penderita, terutama bila mengenai saraf tepi karena dapat menimbulkan kecacatan.
Reaksi kusta terjadi terutama selama atau setelah pengobatan, namun dapat juga terjadi sebelum pengobatan. Penyebab pasti terjadinya reaksi masih belum jelas. Beberapa faktor pencetus terjadinya reaksi adalah:
Kondisi stress fisik : hamil, setelah melahirkan, sesudah imunisasi, penyakit infeksi, anemia, kurang gizi, kelelahan.
Kondisi stress mental : malu, takut.
Pemakaian obat yang meningkatkan kekebalan tubuh.
Ditinjau dari proses terjadinya, reaksi kusta dapat dibagi menjadi 2 yaitu reaksi tipe 1
(reaksi reversal) dan reaksi tipe 2 ( ).
• • • • • • • • Komplikasi Reaksi Kusta
Gejala/Tanda Reaksi Tipe 1 Reaksi Tipe 2
Keadaan umum Umumnya baik, demam ringan atau
tanpa demam
Ringan sampai berat disertai kelemahan umum dan demam tinggi
Peradangan di kulit Bercak kulit lama menjadi lebih
meradang, dapat timbul bercak baru
Nodul kemerahan, lunak dan nyeri
tekan,dapat pecah (ulserasi). Biasanya pada lengan dan tungkai.
Saraf Sering terjadi, berupa nyeri tekan
saraf &/ gangguan fungsi saraf
Dapat terjadi
Peradangan pada organ lain Hampir tidak ada Terjadi pada mata, kelenjar getah bening,
sendi, ginjal, testis, dll
Waktu timbul Biasanya segera setelah pengobatan Biasanya setelah pengobatan yang lama (> 6 bulan)
Tipe kusta Dapat terjadi pada tipe PB maupun
MB
Hanya pada kusta tipe MB
Reaksi Ringan dan Berat pada Tipe 2 Diagnosis Banding Reaksi Tipe 2
Eritema nodosum yang disebabkan oleh tuberkulosis kutis Infeksi kulit karena Streptococcus hemolyticus
Alergi obat sistemik Demam reumatik
Obat yang paling sering dipakai adalah kortikosteroid, antara lain prednison. Dosisnya bergantung pada berat ringannya reaksi, biasanya prednison 15-30 mg/hari, kadang lebih. Makin berat reaksinya makin tinggi dosisnya. Dengan perbaikan reaksi, dosisnya diturunkan secara bertahap sampai berhenti sama sekali. Dapat ditambahkan obat analgetik-antipiretik atau bila berat, penderita dapat menjalani rawat inap.
Klofazimin kecuali sebagai obat antikusta dapat juga dipakai sebagai anti reaksi ENL, tetapi dengan dosis yang lebih tinggi, biasanya antara 200-300 mg sehari. Khasiatnya lebih lambat daripada kortikosteroid. Juga dosisnya diturunkan secara bertahap disesuaikan dengan perbaikan ENL.
• • • • β Pengobatan ENL Pemberian Prednison
• • • • • •
2 mgg pertama 40mg/hr (1x8tab) pagi hari sesudah makan 2 mgg kedua 30mg/hr (1x6 tab) pagi hari sesudah makan 2 mgg ketiga 20mg/hr (1x4tab) pagi hari sesudah makan 2 mgg keempat 15 mg/hr(1x3 tab) pagi hari sesudah makan 2 mgg kelima 10mg/hr(1x2tab) pagi hari sesudah makan 2 mgg keenam 5 mg/hr(1x1tab) pagi hari sesudah makan
Sindroma kelainan kulit berupa eritema, vesikel/bula, dapat disertai purpura yang mengenai kulit, selaput lender orifisium, dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari baik sampai buruk
- Anamnesis: terdapat riwayat pemakaian obat tertentu yang dapat
menimbulkan erupsi kulit. Obat yang sering menimbulkan SJS adalah antibiotik seperti penisilin dan derivat semisintetiknya, golongan sulfa, streptomisin, tetrasiklin, NSAID, karbamazepin, klorpromazin dan kinin. Meskipun tidak selalu dikarenakan alergi terhadap obat.
- Trias diagnostik SJS :
1. Kelainan kulit berupa eritema, papul, vesikel, lesi iris, dan bula yang kemudian pecah hingga terjadi erosi luas. Dapat disertai purpura. Lesi timbul akut, tersebar simetris, dan generalisata
2. Kelainan mukosaterutama di mulut dan lubang genital, kadang di hidung dan anus. Berupa vesikel, bula, erosi, ekskoriasi, krusta hitam
3. Kelainan mata dengan bentuk yang paling sering adalah konjungtivitis kataralis
TEN