• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tabel III.IV. Kriteria Evaluasi

No. Tujuan Kegiatan Indikator

1.

Menyampaikan kondisi Indonesia Darurat Narkoba kepada segenap khalayaknya melalui kegiatan-kegiatan pemberantasan narkoba yang terpublikasi ke saluran publik Humas BNN secara internal maupun media massa lewat pemberitaan. Tujuan ini terkait dengan penanaman masalah pada benak publik. Dalam rangka mengingatkan paham Indonesia Darurat Narkoba (sejak 1971 - sampai sekarang).

Publik telah menyadari, bahwasannya bangsa (masyarakat) dan negara (institusi resmi) masih mengalami kondisi dimana Indonesia berperang melawan narkoba. Diharapkan tergerak kesadaran diri untuk peduli dalam ikut menanggulangi bersama masalah tersebut, melalui peran serta masing-masing dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

2.

Dalam upaya akuntabilitas lembaga negara. BNN ingin menunjukkan kepada publik, bahwa BNN merupakan lembaga yang konsisten melaksanakan fungsinya sebagai instrumen pemberantasan narkoba. Sehingga publik dapat mengetahui dan memahami BNN berkinerja positif yang berkorelasi dengan citra diri.

Dalam rangka membentuk Citra

BNN.

Terbentuknya citra diri pada benak publik melalui serangkaian publikasi dalam lini massa. Dimana publik melihat, mengetahui, dan memahami eksistensi BNN yang efektif menjaga

kepercayaan (harapan publik) dan melaksanakan wewenang (tugas pokok dan fungsi) untuk membenahi bidang pemberantasan dan peredaran gelap narkoba.

3. 2. 2 Pelaksanaan

Rencana pemublikasiaan terbagi atas dua hal; pertama terkait penangkapan atau pengungkapan atas penyelendupan narkoba oleh pengedar, kurir atau bandar narkoba, dan kedua terkait pemusnahan barang bukti narkoba milik tersangka kejahatan narkoba.

1. Berikut tahapan pelaksanaan publisitas melalui konferensi pers penangkapan atau pengungkapan atas penyelendupan narkoba oleh pengedar, kurir atau bandar narkoba, menurut KSB Humas Jeffry. R. Tuapattimain (Informan): a. Terdapat instruksi kepada Humas BNN untuk segera mempersiapkan

konferensi pers yang berasal dari Deputi Pemberantasan BNN/Direktorat Polri Bagian Pemberantasan. Pemberitahuan dikirimkan H-3 terhitung sejak hari pelaksanaan.

b. Saat pemberitahuan konferensi pers dikirimkan, maka telah terjadi penangkapan tersangka narkoba yang berhasil dilakukan baru-baru itu di lapangan.

c. Humas BNN diharapkan mempersiapkan segala kebutuhan dan keperluan konferensi pers, dalam hal ini menjalin hubungan dengan media, mengirim surat permohonan peliputan kepada media-media kemitraan BNN.

d. Dilain saluran, telah terjadi juga komunikasi informal di tingkat pucuk pimpinan, antara Kepala Deputi Pemberantasan BNN/Kepala Direktorat Polri Bagian Pemberantasan dengan Kabag Humas BNN. Guna memastikan kejelasan instruksi yang dikirimkan terkait persiapan penyelenggaraan konferensi pers.

e. Kemudian Humas BNN berhubungan langsung dengan Tim Penyidik dari Deputi Pemberantasan BNN/Direktorat Polri Bagian Pemberantasan untuk memperoleh informasi dan data yang dituangkan dalam konten publisitas (press release).

f. Kabag Humas BNN mendelegasikan KSB Humas BNN untuk membentuk Tim Jurnalis yang bertugas berhubungan langsung dengan Satuan Operasi dari Deputi Pemberantasan BNN/Direktorat Polri Bagian Pemberantasan untuk kelengkapan teknis jelang konferensi pers (kronologi peristiwa, jumlah barang bukti narkoba yang disita, pasal-pasal yang dijerat, atau segala sesuatu yang memiliki korelasi dengan pembuatan konten publisitas).

g. Setelah Tim Jurnalis selesai membuat konten publisitas, Tim Jurnalis menyerahterimakan kepada KSB Humas BNN selaku penanggung jawab, untuk dihadapan kepada Kabag Humas BNN guna mendapat persetujuan. h. Kabag Humas BNN meneliti dengan cermat bakal konten publisitas yang

telah jadi, apakah perlu penambahan, pengoreksian, atau telah dianggap laik untuk dijadikan konten publisitas.

i. Ketika persetujuan dikantongi dari Kabag Humas BNN, dan diserahkan kembali kepada KSB Humas BNN untuk mempersiapkan rapat lintas bagian tingkat akhir jelang konferensi pers.

j. Terakhir Humas BNN duduk bersama dengan Kepala Satuan Operasi serta Kepala Deputi Pemberantasan BNN/Kepala Direktorat Polri Bagian Pemberantasan, untuk memberikan pemaparan akhir jelang konferensi

pers. Keputusan rapat menjadi penanda konferensi pers akan diselenggarakan dalam waktu dekat.

2. Berikut tahapan pelaksanaan publisitas melalui konferensi pers pemusnahan barang bukti narkoba milik tersangka kejahatan narkoba, bersama dengan stakeholder terkait (kejaksaan RI). Menurut KSB Humas Jeffry. R. Tuapattimain (Informan), tahapan yang berlaku tetap sama selayaknya pelaksanaan publisitas melalui konferensi pers penangkapan tersangka narkoba, hanya letak perbedaannya ada pada:

a. Pasca konferensi pers penangkapan tersangka narkoba usai dilakukan, dan dilaksanakan pengembangan kasus dari tahap penyidikan sampai penuntutan.

b. Penyidik (orang yang melakukan penyidikan) mempersiapkan pemberkasan perkara, seperti pemeriksaan saksi dan barang bukti.

c. Saat status pemberkasan perkara telah P-21 (pemberkasan perkara telah selesai dan dinaikan ke tahap penuntutan di persidangan), baru pemusnahan barang bukti legal dilaksanakan, yang sebelumnya terjadi penyerahterimaan dari Penyidik ke Kejaksaan RI selaku pihak yang berwenang dalam tahap penuntutan.

d. Humas BNN menjalankan tata urutan yang sama dalam rencana memublikasikan perihal yang dimaksud, hanya saja hubungan Humas BNN berurusan dengan Kejaksaan RI.

3. 2. 3 Evaluasi

Pengevaluasian kegiatan publisitas mutlak dilakukan, karena dengan mengevaluasi kegiatan terkait, Humas BNN mengetahui sejauh mana publisitas termuat, juga sebagai upaya mengikuti perkembangaan isu organisasi.

Menurut KSB Humas, Jeffry. R. Tuapattimain (Informan), karena dengan menjalankan kliping berita, praktisi Humas BNN tidak ketinggalan dengan pemberitaan yang terkait narkoba yang sedang menjadi buah bibir di ranah publik. Menyandang status sebagai Humas BNN, sudah sepatutnya pemahaman terhadap pemberitaan narkoba di media, melampaui orang pada umumnya.

Evaluasi dalam kliping berita, berisi dokumentasi berbagai macam publisitas yang ditulis oleh media massa, atau dalam istilah awamnya praktik tersebut dikenal dengan Media Monitoring. Diawal pelaksanaan, kliping berita hanya memantau publisitas yang berasal dari pemberitaan koran. Seiring waktu, khususnya pada era ledakan digitalisasi, membuat pengelipingan berita menambahkan sumber publisitasnya. Pemberitaan media anti mainstream (media online) ditambahkan, tergabung bersama pemberitaan media mainstream (media cetak). Hingga kini kliping berita terdiri dari tiga jenis media pemuat publisitas, yaitu:

a. Media Cetak (mainstream) b. Media Online (anti mainstream) c. TV Berita

Kliping berita atau media monitoring berperan vital dalam membentuk opini publik lantaran opini publik sendiri dipengaruhi oleh media. Efeknya bermula dari publik diberikan gambaran peristiwa oleh publisitas, yang

menarasikan gambaran peristiwa tersebut. Interpretasi gagasan publik tercermin atas informasi yang diterima, yang disebut sebagai refleksi opini publik terhadap pandangan suatu organisasi (citra). Hasil monitoring tersebut, menjadi dasar formulasi strategi organisasi dalam pembentukan citra yang ingin dilekatkan. Disamping itu, monitoring bermanfaat untuk mencegah isu negatif menerpa. Dikarenakan, organisasi setiap saat melakukan pengawasan yang ketat terhadap apa yang menjadi perbincangan publik. Manakala adanya indikasi isu negatif, organisasi dapat mengidentifikasi lebih dini melalui sistem monitoring media.

Monitoring dilakukan selama 24 jam terakhir dan tidak ada sasaran media khusus dalam monitoring kliping berita. Rujukan media pemuat publisitas diimplementasikan secara umum, dengan kata lain sepanjang publisitas masih menyangkut organisasi, hal tersebut termasuk data kliping berita. Adapun kategori publisitas disertai parameternya, yaitu:

1) Monitoring Media Cetak; seperti majalah dan koran yang memublikasikan materi kenarkotikaan (pencegahan, pemberantasan, kerja sama antar lembaga, dan pemberdayaan masyarakat).

2) Monitoring Media Online; seperti portal berita online yang memublikasikan materi kenarkotikaan (pencegahan, pemberantasan, kerja sama antar lembaga, dan pemberdayaan masyarakat).

3) Monitoring TV Berita; seperti running text (berita berjalan), program berita/bincang khusus yang memumblikasikan materi kenarkotikaan (pencegahan, pemberantasan, kerja sama antar lembaga, dan pemberdayaan masyarakat).

Menurut KSB Humas, Jeffry. R. Tuapattimain (Informan) menuturkan cara mencuplik data dalam kliping berita:

1) Langkah ke-1: Sepanjang pemberitaan menyangkut narkoba, tidak mengenal subjek yang diberitakan. Hal tersebut termasuk dalam input data kliping berita.

2) Langkah ke-2: Setelah di input, bila terdapat kesamaan sumber media pada konten pemberitaan yang sama pula. Maka, cukup diambil satu pemberitaan sebagai sampel data kliping berita yang paling komprehensif diantara konten pemberitaan yang ada.

Menurut KSB Humas, Jeffry. R. Tuapattimain (Informan) fungsi dari media monitoring pasca publisitas (melalui pemberitaan yang tersebar di lini massa) terdapat dua fungsi, yaitu:

1) Apabila terjadi disinformasi antara konten publisitas dengan pemberitaan tidak memiliki keselarasan satu sama lain (seperti salah ketik/salah kutip), maka Humas BNN dapat mengonfrontasi media pemuat publisitas yang dimaksud. Humas BNN mengedepankan upaya persuasif untuk menemukan alasan dibalik ketidaksesuaian pemberitaan yang telah dipublikasi. Karena jauh-jauh hari, telah disepakati bersama tentang kesepakatan yang mengatur publikasi dibuat antara Humas BNN dengan media/pers.

2) Monitoring Media juga difungsikan sebagai bahan pengambilan keputusan pejabat teras BNN (Kepala BNN dan Kabag Humas BNN) sebelum memberikan pernyataan dalam diskursus yang berkembang. Pejabat teras BNN akan meminta salinan resume (jika berbentuk pemberitaan tulisan) atau akan meminta salinan video (jika berbentuk pemberitaan visual) kepada

Humas BNN. Sehingga Pejabat teras BNN sebelumnya telah mencermati dan dapat mengambil sikap yang tepat dilandasi oleh penguasaan terhadap masalah yang ada melalui dokumentasi dalam media monitoring.

Menurut KSB Humas, Jeffry. R. Tuapattimain (Informan) menjelaskan rekapitulasi hasil monitoring dimasukan ke dalam laman Media Monitoring BNN. Cara tersebut merupakan transparansi kerja Humas BNN kepada publik dalam memberikan akses informasi guna mengetahui secara real time (perkembangan dari waktu ke waktu) terkait pemberitaan narkotika. Adapun terdapat tahapan dari awal hingga akhir, bagaimana alih wujud dari dokumen fisik menjadi platform digital yang dimuat dalam laman khusus Media Monitoring BNN dengan domain beritanarkoba.com.

1) Petugas humas BNN setiap hari akan menyisir berbagai pemberitaan yang tersebar dalam koran harian. Ketika petugas humas menemukan pemberitaan yang sesuai dengan parameter media monitoring. Maka petugas humas akan dengan sigap memotong, menempel, dibuatkan resumenya, hingga dipindai sehingga wujudnya menjadi softcopy (bentuk digital).

2) Pemberitaan yang berhasil dikumpulkan dari hari ke hari, minggu ke minggu, dan bulan ke bulan akan dipublikasi dalam laman khusus Media Monitoring BNN yang dilengkapi dengan keterangan tanggal terbit, media pemuat publisitas, judul berita, dan kliping berita dalam format file digital yang memudahkan pengunjung situs mencari dan menemukan pemberitaan yang dituju.

3. 3. Kendala dan Pemecahan 1. Kendala

Berdasarkan penuturan KSB Humas, Jeffry. R. Tuapattimain (Informan), kendala yang kerap kali dijumpai bukan soal strategi publitas, melainkan keterbatasan yang menyangkut sumber daya organisasi, khususnya Humas BNN. Secara umum dari hulu hingga hilir publikasi BNN tidak menemukan kendala berarti. Sistem yang terbangun sudah cukup kontributif dalam mengemban tanggung jawab yang ditumpukan pada Humas BNN. Kedepan dan kendala yang masih menjadi titik lemah dalam manajemen kehumasan dalam konteks strategi publisitas, yakni upaya merumuskan suatu publisitas dapat digolongkan sebagai publisitas yang berkonotasi netral, positif atau negatif. Penanganan tersebut berdampak luas terhadap objektifitas simpulan akhir dari suatu publisitas. Humas BNN mencita-citakan revitalisasi dalam manajemen publisitas melalui sumber daya manusia yang kompeten dibidangnya, yang mampu melaksanakan tugas perumusan konotasi dalam publisitas.

2. Pemecahan

Humas BNN menyadari tidak ingin berpangku tangan ditengah keterbatasan. Karena transformasi dalam tubuh Humas BNN, tentu memakan waktu yang cukup lama dan kajian lintas kementerian/lembaga negara dalam hal persetujuan perubahan yang dimaksud. Selayaknya pranata kehumasan (tenaga ahli dalam keilmuan humas) sudah dimiliki oleh BNN, kebutuhan yang semakin kompleks dan tantangan yang sulit diprediksi, membuat organisasi terus mengadaptasi diri dengan memaksimalkan kekuatan dan meminimalisir

kelemahan. Dengan demikian dalam hal menyiasati kendala diatas, Humas BNN menyimpulkan suatu publisitas dengan intisari sentral dalam bentuk resume publisitas. Resume tersebut berisi kesimpulan dari suatu publisitas yang ditentukan dari topik yang paling menonjol atau ditonjolkan dalam konten publisitasnya.

Dokumen terkait