• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI A. Definisi Halal

B. Kriteria Haram

Quraish Shihab menjelaskan bahwa halal dalam pengertian hukum adalah lawan dari haram, sedangkan haram yaitu kegiatan mukallaf yang bisa mengundang siksa atau dosa.28 Artiya ketika manusia dewasa melakukan aktifitas yang mengundang siksa tuhan itulah yang dinamakan haram. Dalam banyak buku disebutkan bahwa yang dikategorikan halal ialah apa-apa yang sudah di tentukan berdasarkan dalil al-Qur’an. Ketentuan halal akan banyak berkaitan dengan kriteria haram.

Secara alamiah makanan dapat dikategorikan menjadi dua yaitu nabati dan hewani. Pada makanan yang tergolong nabati maka tidak ada larangan untuk mengonsumsinya, kecuali makanan tersebut mengandung racun sehingga membahayakan tubuh. Sedang makanan yang dikatgorikan hawani ada atauran yang melingkupinya, yaitu mengenai cara penyembelihannya serta adanya kategori hewan yang di haramkan.29

Berikut adalah ketentuan-ketentuan al-Qur’ann mengenai hal-hal yang di haramkan. Pertama, mengenai ketidakbolehan mengonsumsi makanan yang menganndung najis atau tercampur dengan najis, di dasarkan pasa surat al-A’raf ayat 157:

َثِئاَبَْلْا ُمِهْيَلَع ُـِّﺮَُيَُك ِتاَبِّيَّطﻟا ُمَُله ُّلُِيَُك

Artinya:” dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk“

Ayat tersebut dengan tegas menyebutkan bahwa setiap yang halal sudah pasti baik, dan sebaliknya setiap yang haram sudah pasti buruk. Adapun yang dikategorikan najis yaitu setiap benda cair yang memabukkan, anjing, babi serta turunannya, bangkai selain manusia, ikan dan belalang, darah, muntah, tinja, air kencing, madzi dan wadzi.30

28

M. Quraish Shihab, Hebatnya Istilah Halal bi Halal Khas Indonesia, Serial Kajian Bulan September Tahun 2014.

29 Helmanu Kurnadi, The Secret of Haram, (Yogyakarta: Giyade, 2008), h., 7.

30 Ali Mustafa Yaqub, Kriteria Halal Haram: Untuk Pangan, Obat, dan Kosmetika

19

Kedua, terkait keharaman bahan makanan yang memabukkan,

berdasarkan firman Allah Swt. surat al-Maidah ayat 90:

ِلَمَع ْنِﻣ ٌسْجِر ُـ َلًْزَْلْاَك ُباَصْنَْلْاَك ُﺮ ِسْيَمْﻟاَك ُﺮْمَْلْا اََّنَِّإ اوُنَﻣآ َنيِذَّﻟا اَهُّػيَأ َيَ

َفوُحِلْفُػت ْمُكَّلَﻌَﻟ ُهوُبِنَتْجاَف ِفاَطْيَّشﻟا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”.

Secara tekstual ayat tersebut menyebutkan khamr sebagai sesuatu yang dilarang, mengingat dari segi bahasa khamar beramakna penutup pikiran dan penghilang akal, maka dapat di pastikan bahwa sifat yang memabukkan itulah menjadi sebab atau ilat di haramkannya khamar. Masih terkait khamar, pada surat al-Baqarah ayat 219 menjelaskan bahwa kadar dosanya jauh lebih besar dari pada manfaatnya.

َك ِﺮْمَْلْا ِنَع َكَنوُﻟَأْسَي

اَمِهِﻌْفَػن ْنِﻣ ُﺮَػبْكَأ اَمُهُْثِْإَك ِساَّنلِﻟ ُعِفاَنَﻣَك ٌيرِبَك ٌْثِْإ اَمِهيِف ْلُق ۖ ِﺮِسْيَمْﻟا

فكُﺮَّكَفَػتَػت ْمُكَّلَﻌَﻟ ِتَيَ ْلْا ُمُكَﻟ َُّلِلّا ُِّيَّػبُػي َكِﻟََٰذَك َوْفَﻌْﻟا ِلُق َفوُقِفْنُػي اَذاَﻣ َكَنوُﻟَأْسَيَك

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: Yang lebih dari keperluan. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir”.

Saat ini sudah banyak turunan jenis khamar, sehingga apa pun jenis terbarunya, sekecil apapun efek memabukkannya. Maka khamar dan jenis

turunanya tetaplah di haramkan. Perlu diketahui bahwa jenis minuman

keras yang banyak beredar hampir semuanya mengandung alkohol, dalam sudut pandang medis seberapapun kandungan alkoholnya tetap saja akan menimbulkan efek buruk untuk kesehatan tubuh.31

31 M. Basuki, Bahaya Khamar (Minuman Keras) dan Obat Terlarang, (Semarang: Aneka Ilmu, 2010), h., 13.

20

Adapun hadits nabi mengenai pengharaman khamar dapat ditemukan dalam Sunan Abu Daud:

َع ٍﺪْيَز َنْبا ِنِْﻌَػي ٌداََّحَ اَنَػثَّﺪَﺣ اوُﻟاَق َنيِﺮَخآ ِفِ ىَسيِع ُنْب ُﺪَّمَُمَُك َدُكاَد ُنْب ُفاَمْيَلُﺳ اَنَػثَّﺪَﺣ

ْن

صلى الله عليه وسلم َِّلِلّا ُؿوُﺳَر َؿاَق َؿاَق َﺮَمُع ِنْبا ِنَع ٍعِفَن ْنَع َبوُّيَأ

ٌـاَﺮَﺣ ٍﺮِكْسُﻣ ُّلُكَك ٌﺮَْخَ ٍﺮِكْسُﻣ ُّلُك

اَهُػنِﻣْﺪُي َﺮْمَْلْا ُبَﺮْشَي َوُىَك َتاَﻣ ْنَﻣَك

ِةَﺮِخلْا ِفِ اَهْػبَﺮْشَي َْلَ

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud dan Muhammad bin Isa di antara yang lain. Mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Nafi' dari Ibnu Umar ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Setiap sesuatu yang memabukkan adalah khamar, dan setiap yang memabukkan adalah haram. Barangsiapa meninggal dalam keadaan minum khamar dan menyukainya maka ia tidak akan meminumnya pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud).32

Hadits di atas menjadi landasan para ulama dalam menetapkan status hukum khamar, pengaharaman khamar sudah tak perlu di ragukan. Baik al-Qur’an dan Hadist sudah banyak mentekstualkan. Tinggal bagaimana manusia harus bisa menjauh dari yang demikian. Ketiga, beberapa kategori yang di haramkan, dan mendapat pengecualian apabila dalam kondisi terpaksa atau membahayakan. Qs. Al-Baqarah ayat 173:

َّﺮُطْضا ِنَمَف ۖ َِّلِلّا ِْيرَغِﻟ ِوِب َّلِىُأ اَﻣَك ِﺮيِزْنِْلْا َمَْلََك َـَّﺪﻟاَك َةَتْػيَمْﻟا ُمُكْيَلَع َـَّﺮَﺣ اََّنَِّإ

ٍداَع َلًَك ٍغَبَ َﺮْػيَغ

ٌميِﺣَر ٌروُفَغ ََّلِلّا َّفِإ ۚ ِوْيَلَع َْثِْإ َﻼَف

Artinya: “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah dan daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah, akan tetapi barang siapa keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

32 Sunan Abu Daud 3679, Kitab al-Ashribah, Bab al-Nahyi „ani al-Muskir, https://sunnah.com/abudawud:3679, diakses pada tanggal 18 Maret 2021.

21

Adapun yang dimaksud dengan keadaan terpaksa yaitu apabila sesorang sudah sampai pada tingkat kelaparan yang dapat mengakibatkan kematian.33 Sama artinya bahwa yang menjadi tolak ukur darurat yaitu mengancam keselamatan jiwa, sehingga kondisi darurat tersebut membolehkan untuk melakukan yang di larang, termasuk untuk mengonsumsi yang haram.

Keempat, selanjutnya adalah diharmkannya hewan jenis jallalah.

ِفِ ِةَﻟ َّﻼَْلْا ْنَع َمَّلَﺳَك ِوْيَلَع َُّلِلّا ىَّلَص َِّلِلّا ُؿوُﺳَر ىَهَػن َؿاَق َﺮَمُع ِنْبا ْنَع

َوِناَبْﻟَأ ْنِﻣ َبَﺮْشُي ْكَأ اَهْػيَلَع َبَكْﺮُػي ْفَأ ِلِبِْﻹا

Artinya: “Dari bnu Umar ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang menaiki dan minum susu unta yang makan kotoran."

(HR.Abu Dawud).34

Yang dimaksud dengan jallalah ialah hewan ternak pemakan najis atau pakan dari bahan najis baik sedikit atau banyak.35 Poin pentingnya dari Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 52 Tahun 2012 adalah selama hewan ternak tersebut bahan pakannya lebih banyak mengandung bahan yang suci, makan hewan ternak tersebut halal untuk di konsumsi.

Kelima, dalam kitab Fiqh Islam wa Adillatuhu karya Wahbah

al-Zuhaili, menyebutkan bahwa jumhur ulama sepakat terhadap diharamkannya srigala, singa dan harimau. Karena yang demikian merupakan kategori hewan atau binatang buas. Dari kelima kriteria haram yang telah dijelaskan, pada akhirnya dapat di pahami bahwa semua yang dilarang atau di haramkan oleh Allah, pada dasarnya adalah cara tuhan melindungi dan menyayangi manusia dari segala apapun yang dapat merugikan, merusak dan membahayakannya.

33 Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunah, Penerjemah Abdurrahim dan Masrukin. Fiqih Sunah 5, (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2009), h., 347.

34 Sunan Abi Dawud 3787. Kitab At‟imah, Babu Nahyi an akli jalalati wa

al-baniha, https://sunnah.com/abudawud:3787, diakses pada tanggal 24 Maret 2021.

35 Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 52 Tahun 2012 Tentang Hukum Hewan Ternak Yang Diberi Pakan Dari Bahan Najis.

22

Terkait dengan haram, ada dua jenis atau kategori haram yakni haram li dzatihi dan haram li ghairihi. Yang disebut haram li dzatihi adalah jenis-jenis benda, pangan, bahan pangan, atau bahan produk yang pada dasarnya sudah diharamkan oleh hukum islam. sedangkan haram li ghairihi yaitu benda atau bahan yang substansi benda tersebut pada dasarnya halal, hanya saja prosedur penanganannya atau cara memperolehnya tidak dibenarkan ajaran Islam dan benda halal yang karena proses produksinya tercampur dengan yang haram.36 Dalam kaidah fiqih sendiri disebutkan bahwa tercampurnya yang halal dan haram, maka yang di unggulkan adalah yang haram.

Islam mengharamkan sesuatu kepada manusia tidak lain untuk menunjukkan bahwa manfaat halal jauh lebih baik daripada yang haram. Sehingga sudah semestinya manusia utamanya muslim menghindari terlebih dahulu apa yang telah diharamkan Allah, sebelum melakukan apa yang diperintahkan. Karena menghindari yang mafsadah harus didahulukan atas mencari kemaslahatan.37

Pada dasarnya terdapat jenis makanan yang sudah jelas kehalalannya, dan sudah jelas keharamannya, namun adapula jenis makanan atau bahan yang belum diketahui dengan pasti status hukumnya. Kategori yang tidak diketahui dengan jelas apakah halal dan haramnya yang kemudian inilah di namakan syubhat. Persoalan syubhat bukanlah persoalan yang sederhana, tidak sembarang orang mengetahui hal yang demikian. Peran ulama sangatlah diperlukan untuk memberi tahu kejelasan status hukum pangan. Di Indonesia penetapan fatwa halal dan haram adalah wilayah kewenangan Majelis Ulama Indonesia, sehingga fatwa halal tertulis yang ada di setiap kemasan adalah acuan produk halal bagi masyarakat Indonesia.

36 Ma’ruf Amin, Fatwa Dalam Sistem Hukum Islam, (Jakarta: eLSAS, 2008), h., 328.

37 Wahbah Az-Zuhaili, Nazhariyah al-Darurah al-Syar‟iyah, Penerjemah Said Agil Husain al-Munawar dan M. Hadri Hasan. Konsep Darurat Dalam Hukum Islam: Studi Banding

23