• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEADAAN UMUM WILAYAH KAJIAN

GAMBARAN UMUM PROGRAM PMUK DI KABUPATEN PELALAWAN

D. Pemanfaatan dan Pengembalian Dana BPLM 1 Pemanfaatan Dana BPLM

2. Cara Pengembalian Dana BPLM

5.2. Kriteria Penerima PMUK

Kriteria penerima PMUK di Kabupaten Pelalawan adalah sebagai berikut:

1. Kelompok usaha yang sanggup dan mampu menerapkan Budidaya baik dan benar /Good Agriculture Practice (GAP) Standar Operasional Prosedur (SOP) atau menjadi peserta aktif dalam penerapan Manajemen Rantai Pasokan atau

Suppy Chain Management (SCM), yaitu kelompok tani yang telah menjalin kemitraan usaha.

2. Kelompok usaha pertanian yang sudah ada minimal tiga tahun dan aktif, bukan merupakan bentukan baru, dapat dipercaya serta mampu mengembangkan usaha melalui kerjasama kelompok.

3. Kelompok yang bersangkutan belum pernah mendapat penguatan modal, BLM, BPLM atau fasilitasi dari kegiatan lain pada saat yang bersamaan atau pada tahun-tahun sebelumnya.

4. Kelompok yang bersangkutan tidak bermasalah dengan perbankan, kredit atau sumber permodalan lainnya.

5. Anggota kelompok adalah pelaku usaha yang berpotensi dan berminat menjadi penggerak dalam mendorong perkembangan usaha agribisnis hortikultura secara luas.

6. Anggota kelompok memiliki kesulitan dalam mengakses sumber permodalan komersial.

5.3. Keadaan Umum Responden

Pada keadaan umum responden ini dapat dijelaskan beberapa variabel antara lain umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, luas garapan dan status pemilikan lahan.

Umur rata-rata petani responden adalah 45 tahun untuk petani. Kondisi umum petani kelihatannya tidak berbeda jauh, dan pada tingkat umur produktif ini petani masih dapat diharapkan untuk berbuat lebih baik dalam inovasi teknologi, lebih dinamis dan lebih responsif terhadap tantangan yang datang. Pada umur ini petani juga masih memiliki tenaga yang lebih kuat. Dengan demikian apabila ditinjau dari kegiatan petani maka penetapan petani peserta program dapat dikatakan sudah tepat.

Namun demikian apabila dilihat dari tingkat pendidikan petani responden rata-rata hanya tamat SD, dimana rata-rata lamanya mengikuti pendidikan untuk petani peserta program PMUK adalah 9 tahun. Kondisi ini sesuai dengan kondisi umum masyarakat di Propinsi Riau dimana kurang lebih 60 % penduduknya hanya berpendidikan sampai dengan tamat SD. Kondisi tingkat pendidikan yang relatif rendah ini menyebabkan perobahan pola pikir melalui program

pembangunan akan berjalan lambat, karena pada umumnya orang yang berpendidikan rendah akan lambat dalam pengambilan keputusan.

Jumlah tanggungan keluarga petani responden rata-rata adalah 5 orang (jiwa) hal ini menandakan jumlah anggota keluarga tidak begitu besar. Dan ini juga menunjukkan bahwa masih ada tersedia sumber tenaga kerja dalam keluarga untuk melaksanakan usahataninya.

Luas lahan garapan untuk petani responden peserta program PMUK adalah rata-rata 0,47 ha. Dan sebagian besar 86,67 % dari petani peserta program PMUK status lahannya adalah pinjaman. Terhadap peminjaman lahan tersebut petani penggarap tidak memberikan kompensasi apapun kepada pemilik lahan. Tentang keadaan umum petani responden untuk jelasnya dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Keadaan Umum Petani Sampel

Program PMUK No Uraian

(Rataan)

1 Umur (tahun) 45

2 Tingkat pendidikan (tahun) 9

3 Jumlah tanggungan keluarga (jiwa) 5

4 Luas lahan garapan (ha) 0.47

5 Status lahan

a. Milik (%) 13,33

b. Sewa (%) 0,00

c. Pinjam (%) 86,67

Sumber : Data primer

Dari angka-angka yang didapatkan dari keadaan umum petani responden dapat disimpulkan bahwa sebagian besar petani sayuran peserta program PMUK adalah petani kecil atau buruh tani yang berusaha tani dengan meminjam lahan orang lain.

Status lahan pinjaman ini menyebabkan keberlanjutan program sulit dipertahankan, karena jangka waktu pemanfaatan lahan pinjaman untuk 2-3 tahun.

Setelah itu akan diminta kembali oleh pemilik lahan. Dan petani sayuran akan pindah untuk mencari lahan baru . Relatif tidak definitifnya lahan sayuran ini menyebabkan sulitnya pembinaan melalui kelompok tani dan akan menghambat peningkatan kesejahteraan petani yang bersangkutan.

Dengan kondisi petani yang sangat rentan ini maka pengembangan kehidupan petani sayuran peserta program PMUK akan sulit dipertahankan, karena salah satu prinsip dasar dari kegiatan pengembangan masyarakat adalah dengan adanya faktor kepemilikan (ownership)

Menurut pendapat Tonny (2006), salah satu dasar dari pengembangan masyarakat adalah adanya kepemilikan komunitas. Kepemilikan tersebut menjadi aspek penting dalam membantu menciptakan identitas dan memberikan alasan untuk aktif dalam program pengembangan masyarakat dan mengefisienkan sumberdaya. Petani kecil akan sangat sulit mencapai efisiensi pemanfaatan sumberdaya yang dimilikinya, karena skala usaha yang dimiliki sangat kecil, dengan demikian penambahan modal yang besar akan menciptakan pemborosan.

5.4. Pendapatan Keluarga Petani Responden

Pendapatan keluarga petani responden dihitung dari dua sisi yaitu sisi penerimaan dan sisi pengeluaran.

1. Pendapatan dari sisi penerimaan

Pendapatan dari sisi penerimaan berasal dari tiga sumber yaitu pendapatan usaha tani sayuran, pendapatan usaha tani lainnya, dan pendapatan non usaha tani. Pendapatan keluarga petani dengan program PMUK dan keluarga petani tanpa program PMUK dapat dilihat dari Tabel 10.

Tabel 10. Rataan Pendapatan Keluarga Petani Program PMUK dan Non Program PMUK (Luas Lahan Garapan Rata-Rata 0,47 Ha)

Non Program PMUK Program PMUK No Uraian (Rp) (Rp)

1 Pendapatan usaha tani utama 3.930.491,67 2.021.000,00 Pendapatan usaha tani lainnya

2

lainnya 1

b. Pendapatan usaha tani lainnya 2

1.170.200,00 193.333,33

c. Pendapatan usaha tani lainnya 3

58.000,00 46.667,00

3 Pendapatan non usaha tani 11.102.000,00 7.606.667,00 Total Pendapatan 18.676.225,00 11.037.000,66 Pendapatan per kapita 4.313.215,94 3.065.833,52 Sumber : Data primer

Berdasarkan data diatas, dapat dilihat bahwa total pendapatan keluarga petani responden yaitu keluarga petani dengan program PMUK sebesar Rp 18.676.225 dengan sumber pendapatan terbesar berasal dari pendapatan non usaha tani. Sementara, rataan pendapatan per kapita peserta program PMUK sebesar Rp. 4.313.215,94. Bila dibandingkan dengan keluarga petani non program PMUK, maka dapat dilihat bahwa pendapatan petani dengan program PMUK lebih besar dibanding dengan non program PMUK. Selisih pendapatan per kapita antara petani program PMUK dengan petani non program PMUK yatiu sebesar Rp 1.247.382. Hal tersebut mengindikasikan bahwa program PMUK memang memberikan kontribusi dalam peningkatan pendapatan keluarga petani. Pendapatan dari sisi pengeluaran

Perhitungan pendapatan dari sisi pengeluaran adalah dengan menghitung pengeluaran keluarga petani responden selama setahun untuk keperluan makanan, pendidikan, kesehatan, pakaian, energi dan listrik, dan lain-lain. Besarnya rataan pengeluaran keluarga petani dalam satu tahun untuk petani peserta program PMUK adalah pada Tabel 11.

Tabel 11. Pengeluaran Keluarga Petani Responden (Rp/Tahun)

No Uraian Jumlah (Rp/Tahun)

1 Makanan/minuman Rp 9.279.213 2 Pendidikan Rp 3.807.667 3 Kesehatan Rp 450.667 4 Pakaian Rp 820.667

5 Listrik Rp 1.241.600 6 Telekomunikasi Rp 592.000 7 Transportasi Rp 1.935.333 8 Sosial Rp 230.133 9 Pemeliharaan rumah Rp 146.667 10 Pajak (PBB) Rp 17.200 11 Pembayaran hutang Rp 763.333 12 Jumlah Rp 19.284.480 13 Per kapita Rp 4.453.690 Sumber : Data primer

Dari Tabel 11 dapat dilihat bahwa ada perubahan dalam pendapatan berdasarkan perhitungan pengeluaran petani peserta program. Berdasarkan tabel di atas, bahwa pendapatan dari sisi pengeluaran yaitu sebesar Rp 4.453.690. Bila dibandingkan antara Tabel 10 dan 11, maka pendapatan dari sisi pengeluaran lebih besar dibading pendapatan dari sisi penerimaan. Jika selisih pendapatan dengan pengeluaran surplus akan menjadi tabungan. Namun, kondisi di atas mengindikasikan bahwa terjadi defisit pada keluarga petani responden yaitu sebesar Rp 140.474 dimana jika defisit maka petani tersebut akan mengusahakan sumber pembiayaan lain seperti pinjaman koperasi, perbankan, atau kepada pedagang pengumpul.

5.5. Kepemilikan kekayaan (aset) keluarga petani responden

Kepemilikan kekayaan (aset) keluarga responden dapat dilihat pada Tabel 12 berikut ini.

Tabel 12. Kepemilikan Kekayaan (Asset) Keluarga Petani Responden

No Uraian Jumlah Responden Nilai

(orang) (Rp) 1 Ternak a. Besar 3 Rp 36.000.000 - Sapi - Kerbau

b. Kecil 2 Rp 4.500.000 - Kambing - Kibas 2 Kendaraan a. Sepeda 4 Rp 850.000 b. Sepeda motor 11 Rp 111.500.000 c. Mobil 3 Alat a. Traktor b. Genset 2 Rp 5.000.000 c. Pompa Air 7 Rp 11.250.000 4 TV 5 Rp 14.600.000 5 Radio 5 Rp 1.020.000 6 Kulkas 2 Rp 3.300.000 7 Perhiasan 3 Rp 7.500.000 8 Kebun 6 Rp 526.000.000 9 Dan Lain-Lain 3 Rp 6.000.000 10 Total Rp. 727.520.000

11 Asset per keluarga Rp. 48.501.333 Sumber : Data primer

Apabila dilihat dari tabel di atas ternyata hanya 3 responden (20%) yang memiliki ternak besar dan 2 responden yang memiliki ternak kecil. Pada umumnya untuk transportasi petani responden telah memiliki sepeda atau sepeda motor. Dari kondisi kekayaan responden di atas dapat pula digambarkan hanya 30% responden memliki TV dan radio, hanya 2 responden yang memiliki kulkas.

Aset yang terbanyak dimiliki adalah kebun, kemudian diikuti dengan kendaraan bermotor. Namun, jika dilihat dari keseluruhan maka asset per keluarga yaitu sebesar Rp 48.501.333.

5.6. Kondisi rumah tempat hunian responden

Kondisi rumah tempat hunian responden sebagian besar adalah rumah sangat sederhana dan rumah semi permanen. Hanya 13% petani peserta program BPLM/PMUK yang menghuni rumah permanen. Rumah tempat hunian petani

penerima PMUK dengan rataan luas rumah 38,27 m dengan kondisi Sangat Sederhana 40 persen Semi Permanen 46,70 persen dan Permanen 13,30 persen.

5.7. Persepsi (pendapat) petani responden tentang program PMUK/BPLM

Persepsi petani responden terhadap program adalah sebagai berikut :

Tabel 13. Persepsi (pendapat) petani tentang program BPLM/PMUK

Jawaban (%) No Uraian

Y T 1 Program dapat meningkatkan pendapatan usaha tani 66,67 33,33 2 Program berdampak terhadap penambahan asset (kekayaan) 46,67 53,33 3 Bimbingan teknis oleh Dinas/PPL telah terlaksana dengan baik 86,00 14,00 4 Program PMUK bermanfaat bagi petani peserta 100,00 0,00 5 Program berdampak positif terhadap aktifitas kelompok tani

(pertemuan kelompok, rencana kegiatan kelompok)

93,33 6,67

Sumber : Data primer

Berdasarkan data diatas, persepsi petani responden dapat dilihat sebagai berikut :

1. Program PMUK ternyata dapat meningkatkan pendapatan usaha tani bagi peserta program. Sebanyak 66,67 responden menjelaskan bahwa terjadi peningkatan pendapatan usaha tani. Pendapatan usaha tani meningkat disebabkan karena adanya peningkatan produksi dan produktivitas hasil. Hal tersebut juga diperkuat dengan fakta bahwa terjadi peningkatan pendapatan usaha tani jika mengikuti program PMUK yaitu sebesar Rp 1.909.491.

2. Program PMUK ternyata kurang memperlihatkan dampak yg cukup berarti terhadap penambahan aset (kekayaan) petani penerima program. Hal ini terlihat dari tanggapan responden yang menyatakan bahwa tidak adanya dampak penambahan aset dari program PMUK sebanyak 53,33 persen dibandingkan 46,67 persen yang menyatakan ada penambahan aset.

3. Petani penerima program PMUK menyatakan bahwa bimbingan teknis oleh Dinas/PPL terlaksana dengan baik. 86 persen responden menyatakan bahwa bimbingan teknis dari Dinas/PPL terlaksana dengan baik, hanya 14 persen saja yang menyatakan tidak.

4. Seluruh responden menyatakan bahwa program PMUK bermanfaat bagi petani peserta. Seluruh responden (100 persen) menyatakan bahwa program PMUK bermanfaat bagi mereka.

5. Program PMUK juga dinilai berdampak positif terhadap aktivitas kelompok tani oleh reponden. 93,33 persen responden menyatakan bahwa manfaat program juga berdampak pada aktivitas kelompok tani, hanya 6,67 persen yang menjawab tidak bermanfaat.

5.8. Tingkat kesejahteraan petani responden

Tingkat kesejahteraan petani responden berdasarkan kriteria Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dapat dilihat pada Tabel 14 berikut ini.

Tabel 14. Klasifikasi Tingkat Kesejahteraan Petani Responden Berdasarkan Kriteria BKKBN

No Uraian Jumlah Responden %

1 Pra sejahtera

2 Sejahtera I 2 13,33

3 Sejahtera II 5 33,33

4 Sejahtera III 4 26,67

5 Sejahtera III plus 4 26,67

Sumber : Data primer

Dari tabel 14 di atas dapat dilihat bahwa sebagian petani responden termasuk kriteria keluarga sejahtera I sampai dengan sejahtera II (46,67%), dan sebagiannya lagi telah masuk kepada kriteria keluarga sejahtera III dan III plus (53,33%). Hal ini berarti bahwa petani peserta program tersebut telah memenuhi kebutuhan dasar keluarganya.

5.9. Mekanisme Pemberdayaan Kelompok

Penguatan modal kelompok merupakan salah satu bentuk fasilitas dalam mengatasi keterbatasan modal. Prinsip dasar mekanisme pemberdayaan kelompok di Kabupaten Pelalawan adalah :

1. Fasilitas penguatan modal kepada kelompok merupakan stimulan dalam pendukung usaha kelompok, sedangkan motor penggerak utama pengembangan usaha kelompok adalah kemauan dan kemampuan kelompok itu sendiri.

2. Fasilitas penguatan modal merupakan dana pinjaman yang wajib dipupuk dan digulirkan atau dikelola melalui Lembaga Keuangan Mikro pedesaan.

3. Besarnya fasilitas penguatan modal disesuaikan dengan tahapan kebutuhan pengembangan usaha kelompok, yang dituangkan dalam proposal atau rencana usaha kelompok.

4. Dana penguatan modal usaha kelompok dipergunakan untuk kegiatan usaha agribisnis on farm, off-farm dan non farm.

5. Pengembangan usaha kelompok diarahkan untuk menumbuhkan dan memperbesar skala usaha, meningkatkan efisiensi usaha dan meningkatkan jaringan usahanya.

6. Pengembangan kelembagaan kelompok diarahkan pada kelembagaan koperasi agribisnis dengan manajemen yang profesional dan mandiri.

7. Pengembangan manajemen usaha kelompok diarahkan pada peningkatan kemampuan pengurus kelompok dalam mengelola usaha dan menumbuhkan partisipasi aktif para anggotanya sehingga tercapainya kemandirian kelompok. 8. Dalam rangka pengembangan kelembagaan, manajemen dan usaha kelompok

difasilitasi dengan kegiatan pembinaan, pelatihan dan pendampingan, pengembangan IPTEK.

9. Untuk optimalisasi kinerja kelompok dan pengendalian dilakukan kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan.

Dokumen terkait