@ Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2009 Hak cipta dilindung
PMUK/BPLM
Persepsi petani responden terhadap program adalah sebagai berikut :
Tabel 13. Persepsi (pendapat) petani tentang program BPLM/PMUK
Jawaban (%) No Uraian
Y T 1 Program dapat meningkatkan pendapatan usaha tani 66,67 33,33 2 Program berdampak terhadap penambahan asset (kekayaan) 46,67 53,33 3 Bimbingan teknis oleh Dinas/PPL telah terlaksana dengan baik 86,00 14,00 4 Program PMUK bermanfaat bagi petani peserta 100,00 0,00 5 Program berdampak positif terhadap aktifitas kelompok tani
(pertemuan kelompok, rencana kegiatan kelompok)
93,33 6,67
Sumber : Data primer
Berdasarkan data diatas, persepsi petani responden dapat dilihat sebagai berikut :
1. Program PMUK ternyata dapat meningkatkan pendapatan usaha tani bagi peserta program. Sebanyak 66,67 responden menjelaskan bahwa terjadi peningkatan pendapatan usaha tani. Pendapatan usaha tani meningkat disebabkan karena adanya peningkatan produksi dan produktivitas hasil. Hal tersebut juga diperkuat dengan fakta bahwa terjadi peningkatan pendapatan usaha tani jika mengikuti program PMUK yaitu sebesar Rp 1.909.491.
2. Program PMUK ternyata kurang memperlihatkan dampak yg cukup berarti terhadap penambahan aset (kekayaan) petani penerima program. Hal ini terlihat dari tanggapan responden yang menyatakan bahwa tidak adanya dampak penambahan aset dari program PMUK sebanyak 53,33 persen dibandingkan 46,67 persen yang menyatakan ada penambahan aset.
3. Petani penerima program PMUK menyatakan bahwa bimbingan teknis oleh Dinas/PPL terlaksana dengan baik. 86 persen responden menyatakan bahwa bimbingan teknis dari Dinas/PPL terlaksana dengan baik, hanya 14 persen saja yang menyatakan tidak.
4. Seluruh responden menyatakan bahwa program PMUK bermanfaat bagi petani peserta. Seluruh responden (100 persen) menyatakan bahwa program PMUK bermanfaat bagi mereka.
5. Program PMUK juga dinilai berdampak positif terhadap aktivitas kelompok tani oleh reponden. 93,33 persen responden menyatakan bahwa manfaat program juga berdampak pada aktivitas kelompok tani, hanya 6,67 persen yang menjawab tidak bermanfaat.
5.8. Tingkat kesejahteraan petani responden
Tingkat kesejahteraan petani responden berdasarkan kriteria Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dapat dilihat pada Tabel 14 berikut ini.
Tabel 14. Klasifikasi Tingkat Kesejahteraan Petani Responden Berdasarkan Kriteria BKKBN
No Uraian Jumlah Responden %
1 Pra sejahtera
2 Sejahtera I 2 13,33
3 Sejahtera II 5 33,33
4 Sejahtera III 4 26,67
5 Sejahtera III plus 4 26,67
Sumber : Data primer
Dari tabel 14 di atas dapat dilihat bahwa sebagian petani responden termasuk kriteria keluarga sejahtera I sampai dengan sejahtera II (46,67%), dan sebagiannya lagi telah masuk kepada kriteria keluarga sejahtera III dan III plus (53,33%). Hal ini berarti bahwa petani peserta program tersebut telah memenuhi kebutuhan dasar keluarganya.
5.9. Mekanisme Pemberdayaan Kelompok
Penguatan modal kelompok merupakan salah satu bentuk fasilitas dalam mengatasi keterbatasan modal. Prinsip dasar mekanisme pemberdayaan kelompok di Kabupaten Pelalawan adalah :
1. Fasilitas penguatan modal kepada kelompok merupakan stimulan dalam pendukung usaha kelompok, sedangkan motor penggerak utama pengembangan usaha kelompok adalah kemauan dan kemampuan kelompok itu sendiri.
2. Fasilitas penguatan modal merupakan dana pinjaman yang wajib dipupuk dan digulirkan atau dikelola melalui Lembaga Keuangan Mikro pedesaan.
3. Besarnya fasilitas penguatan modal disesuaikan dengan tahapan kebutuhan pengembangan usaha kelompok, yang dituangkan dalam proposal atau rencana usaha kelompok.
4. Dana penguatan modal usaha kelompok dipergunakan untuk kegiatan usaha agribisnis on farm, off-farm dan non farm.
5. Pengembangan usaha kelompok diarahkan untuk menumbuhkan dan memperbesar skala usaha, meningkatkan efisiensi usaha dan meningkatkan jaringan usahanya.
6. Pengembangan kelembagaan kelompok diarahkan pada kelembagaan koperasi agribisnis dengan manajemen yang profesional dan mandiri.
7. Pengembangan manajemen usaha kelompok diarahkan pada peningkatan kemampuan pengurus kelompok dalam mengelola usaha dan menumbuhkan partisipasi aktif para anggotanya sehingga tercapainya kemandirian kelompok. 8. Dalam rangka pengembangan kelembagaan, manajemen dan usaha kelompok
difasilitasi dengan kegiatan pembinaan, pelatihan dan pendampingan, pengembangan IPTEK.
9. Untuk optimalisasi kinerja kelompok dan pengendalian dilakukan kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan.
Dana penguatan modal diberikan dalam bentuk tunai dan ditransfer langsung ke rekening kelompok. Penentuan besar kecilnya dana yang dialokasikan kepada kelompok didasarkan oleh usulan (proposal) yang diajukan oleh kelompok. Pemanfaatan dana dikelola langsung oleh kelompok dan penentuan penggunaannya didasarkan pada keputusan bersama seluruh anggota kelompok.
Kegiatan kelompok yang didukung pembiayaannya melalui dana penguatan modal usaha di Kabupaten Pelalawan antara lain :
1. Pengadaan sarana produksi, seperti benih/bibit, rehabilitasi kebun, kegiatan pasca panen dan pengolahan hasil dan lainnya sesuai kebutuhan penerapan teknologi.
2. Pengadaan atau optimalisasi pemanfaatan alat dan mesin pertanian, kegiatan pra-produksi, produksi, panen, pasca panen, pengolahan dan pemasaran hasil serta pengembangan unit pelayanan jasa alat dan mesin pertanian, termasuk biaya untuk perbaikan/ perawatan sarana irigasi, pompa air, dan lainnya. 3. Kegiatan pengembangan kelembagaan seperti memperbesar jangkauan pasar,
membuka bidang usaha penunjang agribisnis, membangun jaringan kerja dengan mitra usaha, dan lainnya.
BAB VI
STRATEGI DAN PROGRAM PENINGKATAN PERAN PMUK
DALAM PEMBERDAYAAN KELOMPOK TANI SAYUR DI
KABUPATEN PELALAWAN
Responden untuk analisis SWOT ditentukan secara sengaja (purposive). Responden berjumlah tiga orang terdiri dari Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Pelalawan, satu orang pelaksana program tingkat Kabupaten yaitu Kepala Sub Dinas Bina Produksi Hortikultura Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Pelalawan dan Kepala Seksi Sayuran Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Pelalawan.
6.1. Identifikasi Faktor Internal dan Eksternal
Identifikasi faktor internal adalah mengidentifikasi faktor dalam yang mempengaruhi keberhasilan program PMUK melalui pola BPLM, baik pengaruhnya positif (mendukung) maupun berpengaruh negatif (menghambat). Faktor internal yang mendukung disebut faktor kekuatan (Strength) dan faktor internal yang menghambat disebut dengan faktor kelemahan (Weakness).
Faktor eksternal adalah faktor luar yang mempengaruhi pencapaian program PMUK melalui pola BPLM, baik yang berpengaruh positif (mendukung) mapun yang berpengaruh negatif (menghambat). Faktor yang mendukung disebut faktor peluang (Opportunities) dan faktor eksternal yang menghambat disebut faktor ancaman (Threat).
Setelah dilakukan penelitian ke lapangan terhadap progam PMUK melalui pola BPLM di Propinsi Riau adalah sebagai berikut.
Tabel 15. Faktor Internal dan Ekternal Program PMUK
Faktor Internal
Kekuatan (Strength) (S) Kelemahan (Weakness) (W) 1. Adanya dana PMUK 1. Jumlah Petugas terbatas
2. Adanya kelembagaan penyuluhan tingkat kabupaten dan tingkat
2. Sarana mobilitas petugas terbatas
kecamatan dalam 3. Adanya Pedum, Juklak dan Juknis
PMUK
Alih teknologi
Faktor Eksternal
Peluang (Opportunities) (O) Ancaman (Threat) (T) 1. Adanya program K2I. 1. Status petani masih penggarap 2. Pemasaran hasil cukup baik. 2. Luas lahan garapan yang sempit 3. Adanya kelompok tani yang bergerak
pada komoditi sayuran
3. Infrastruktur wilayah kurang baik 4. Terjadinya alih fungsi lahan.
4. Ketersediaan lahan cukup 5. Koordinasi lintas sektoral masih lemah.
A. Kekuatan (Strength)
Faktor kekuatan (Strength) yang mempengaruhi program PMUK melalui pola BPLM dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Adanya dana PMUK
Program PMUK melalui pola BPLM yang dirancang oleh Departemen Pertanian telah diimplementasikan dengan dukungan APBN yang berupa bantuan modal bagi usaha tani kecil dan berupa uang tunai langsung ke rekening kelompok tani. Di samping bantuan langsung kelompok tani APBN juga memfasilitasi kegiatan pembinaan untuk alih teknologi.
2. Adanya kelembagaan penyuluhan tingkat kabupaten dan kecamatan
Program PMUK melalui pola BPLM secara operasional dilaksanakan oleh Dinas Kabupaten/Kota melalui program penyuluhan dan di tingkat kecamatan dilaksanakan oleh Kantor Dinas Pertanian Kecamatan/Balai Penyuluhan Pertanian sehingga dalam penyelenggaraan program PMUK dalam aspek birokrasi pemerintahan tidak akan mendapatkan kendala yang berarti.
3. Adanya Pedum, Juklak dan Juknis program PMUK.
Untuk persamaan persepsi baik petugas Propinsi, Kabupaten dan Kecamatan serta mempermudah dalam mengimplementasikan Program PMUK, Direktorat Jenderal Hortikultura menerbitkan Pedoman Umum untuk pelaksanaan program PMUK dan dijabarkan oleh Dinas Tanaman Pangan Propinsi dalam bentuk Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Dinas Pertanian Kabupaten menyusun Petunjuk Teknis (Juknis) yang akan dipedomani oleh petugas Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) dalam membina petani atau kelompok tani.
B. Kelemahan (Weakness)
Faktor kelemahan yang menghambat pencapaian sasaran program PMUK antara lain sebagai berikut :
1. Jumlah Petugas terbatas
Berpedoman pada Struktur Organisasi Dinas Pertanian Kabupaten Pelalawan yang membidangi Produksi Hortikultura berjumlah 3 orang yang terdiri dari 1 (satu) orang Kepala Sub Dinas Produksi Hortikultura, 1 (satu) orang Kepala Seksi Benih Hortikultura dan 1 (satu) orang Kepala seksi Sayuran, yang mana ketiga petugas ini merangkap sebagai staf dalam mengerjakan administrasi dan pembinaan ke lapangan.
2. Sarana Mobilitas petugas belum memadai.
Untuk melakukan monitoring, pembinaan program PMUK, petugas kabupaten belum mendapatkan kendaraan yang memadai sehingga pembinaan ke kelompok tidak tepat waktu disamping itu jarak antara satu kecamatan dengan kecamatan lainnya sangat berjauhan.
3. Masih rendah kemapuan petugas dalam alih teknologi.
Terlihat kualitas dan kuantitas produksi sayuran yang dihasilkan oleh petani penerima Program belum maksimal dikarenakan rendahnya pengetahuan petugas tentang teknik budidaya sayur-sayuran
C. Peluang (Opportunities)
Faktor peluang adalah faktor eksternal yang dapat diperkirakan mendukung keberhasilan program, faktor pendukung tersebut antara lain :
1. Adanya program K2I Propinsi Riau.
Program K2I adalah singkatan dari program penanggulangan kemiskinan dan kebodohan serta peningkatan infrastruktur yang merupakan kebijakan utama dalam pembangunan di Propinsi Riau sejak tahun 2004 sampai dengan 2009. Program PMUK sangat selaras dengan program K2I, sehingga untuk mendukung program PMUK dapat disinkronisasi dengan program K2I guna mendapatkan dukungan dari APBD Propinsi Riau.
Hasil produksi petani yang berupa sayuran untuk memasarkannya tidak menemui kendala yang berarti karena permintaan yang cukup tinggi di masyarakat. Pada umumnya petani telah mempunyai hubungan yang baik dengan para pedagang pengumpul di desa atau petani menjual langsung ke pasar terdekat. 3. Adanya kelompok tani yang bergerak pada komoditi sayuran.
Kelompok tani sayuran sudah ada sebelum adanya program PMUK akan tetapi teknik budidayanya masih konfensional belum menerapkan budidaya yang baik dan benar.
4. Ketersediaan lahan cukup
Ketersediaan lahan untuk pengembangan hortikultura di Kabupaten Pelalawan cukup luas ini terlihat dari luas lahan kering yang dapat dimanfaatkan ada seluas 20.520 ha.
D. Faktor ancaman (Threat)
Faktor ancaman adalah faktor eksternal yang diperkirakan akan menghambat pencapaian atau keberhasilan program. Faktor ancaman tersebut adalah :
1. Status petani masih penggarap.
Pada umumnya status lahan usaha tani peserta program adalah pinjaman (pinjaman dari lahan milik desa atau milik pribadi yang sementara waktu belum akan dimanfaatkan oleh si pemilik). Dengan status lahan seperti ini maka jaminan keberlanjutan pelaksanaan program akan menjadi terhambat. Kondisi di lapangan memperlihatkan kecenderungan bahwa setelah dipakai oleh petani selama 2 sampai dengan 3 tahun lahan pinjaman tersebut telah dalam kondisi baik, maka si pemilik akan memintanya kembali dengan berbagai alasan.
Status lahan pinjaman.
2. Luas lahan garapan yang sempit.
Luas garapan petani sayuran di Propinsi Riau peserta program PMUK melalui pola BPLM umumnya adalah pada lahan sempit dengan luas lahan garapan untuk usaha taninya antara 0,30 – 0,40 ha per keluarga petani. Dengan lahan yang sempit ini akan sulit dilakukan peningkatan kapasitas dan efisiensi produksi.