• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manusia akan mengambil berbagai keputusan besar dalam hidup untuk menentukan masa depannya. Salah satu keputusan yang harus dilalui individu adalah dalam memilih pasangan hidup yang akan menemaninya dalam menjalani kehidupannya. Memilih pasangan, berarti

49 Maulif Sahlani, Perkawinan dan Problematikanya, (Yogyakarta: Sumbangsih Offset, 1991), h. 33

memilih seseorang yang diharapkan dapat menjadi teman hidup, seseorang yang dapat menjadi rekan untuk menjadi orang tua dari anak-anaknya kelak.

Membangun dan membina keluarga yang terdiri dari suami dan istri, memerlukan perhatian. Karena pembangunan keluarga selain berhubungan erat dengan kebahagian hidup didunia dan di akhirat, juga berhubungan dengan kualitas anak yang akan dilahirkan dari keluarga tersebut. 50Berikut ini diuraikan penjelasan tentang kriteria calon istri dan calon suami, Rasulullah bersabda:

،اهنيدلو ،اهلامجلو ،اهبسحلو ،اهلامل :عبرلاةارملا حكنت :لاق ،ملسو ةيلع ةللا ئلص يبنلا نع ،ةريره يبا نع كادي تبرت نيدلا تاذبرفظاف

Artinya: Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:”Wanita umumnya dinikahikarena empat hal: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya.

Krena itu, pilihlah yang memiliki agama, kalian akan beruntung. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

1. Asas pemilihan calon istri

Dalam pemilihan calon istri ada beberapa kriteria diantaranya:

a. Pemilihan atas dasar agama

Rasulullah saw. Memberikan tuntunan kepada lelaki yang ingin menikah agar memilih istri yang taat berpegang kepada agama, hingga ia tahu hak dan kewajibannya sebagai istri dan ibu, sebagaimana sabda Rasulullah saw di atas.

Kecantikan, keturunan dan harta termasuk kriteria dalam pemilihan jodoh. Allah menjadikan manusia secara fitrah menginginkan kecantikan. Oleh sebab itu dalam hal memilih jodoh, kebanyakan kaum lelaki lebih mengutamakan kecantikan dari syarat-syarat-syarat lain. Tidak mengherankan kalau terdapat banyak lelaki yang tertipu karena

50 M. Quraish Shihab, Perempuan, Lentera Hati, (Jakarta: 2005)

kecantikan seorang wanita dan akhirnya terjatuh ke lembah kehinaan. Begitu juga perkawinan itu didasarkan pada kekayaan dan keturunan, kemungkinan besar kekayaan dan keturunan itu akan menjadikan manusia angkuh dan sombong. Wanita yang taat beragama pasti berakhlak mulia. Ia adalah wanita yang senantiasa menjaga kehormatan dirinya dan menjaga prilakunya dihadapan teman-temannya. Namun dikalangan orang arab ada sifat-sifat wanita yang tidak terpuji, sehingga harus dijauhi dari menikahinya.

Sifat-sifat itu adalah;

1) Annanah; wanita yang senantiasa mengeluh

2) Mannanah; suka mengungkit perbuatannya terhadap suami 3) Hannanah; berselingkuh

4) Haddaqah; pintar membujuk dan merayu ketika menginginkan sesuatu, sehingga suami terpaksa selalu memenuhi keinginannya.

5) Barraqah; selalu sibuk berhias diri dan bersolek tanpa memperhatikan tugasnya sebagai ibu dan anak.

6) Syaddaqah; terlalu banyak bicara.51 b. Pemilihan atas dasar keturunannya

Wanita yang berasal dari keturunan yang baik akan melahirkan kerukunan dalam rumah tangga. Rasulullah saw. Melarang mengawini perempuan yang cantik, tetapi lahir dari asal keturunan yang tidak baik. Rasulullah saw. Mengingatkan dalam hadist nya;

رفللدلولا رجحلارهاعللو ،شا

Anak yang lahir adalah milik pemilik kasur (suami) dan pezinanya dihukum.

(H.R Bukhari)52

51 Jurnal Faizah Ali Syibromalisi, Kiat-kiat Memilih Pasangan Menuju Perkawinan Bahagia, (UIN Malang: 2007), h. 5

c. Pemilihan Atas dasar kesehatan rohani dan jasmani

Kesehatan ibu akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan alat reproduksi dan pada kondisi kesehatan rohani dan jasmani anak yang dilahirkannya. Seorang ibu hamil yang tidak sehat rohaninya seperti mengalami stress berat, depresi atau penyakit mental lainnya, akan berpengaruh pada kesehatan psikologis anak yang di kandungnya.

Selanjutnya kesehatan jasmani ibu juga akan mempengaruhi kualitas air susu ibu yang menjadi makanan pokok bayi di usia balita. Mengabaikan kesehatan ibu berarti mengabaikan kesehatan dan proses tumbuh kembang anak selanjutnya.

d. Menghindari perkawinan dengan kerabat yang terdekat

Dalam memilih jodoh, diutamakan wanita yang tidak ada kaitan dengan nasab dan keluarga. Tujuannya untuk menjaga kecerdasan anak, menjamin keselamatan jasmani dari penyakit menular dan cacat bawaan akibat keturunan. Al-Syaf’i mengatakan bahwa sunnah hukumnya mengawini wanita asing. Diantara sebab adanya himbaun untuk menghindari perkawinan dengan kerabat yang terdekat, menurut al-Zanjani adalah karena diantara tujuan perkawinan ialah untuk memperluas hubungan antara satu qabilah dengan qabilah-qabilah lainnya, sehingga mereka bisa saling membantu dan tolong menolong dalam berbagai masalah, terutama ketika menghadapi serangan musuh. 53

2. Asas pemilihan calon suami

Sebagaimana telah disebutkan di atas adanya asas dasar pemilihan dan kriteria calon istri yang shalihah, berikut ini ada beberapa kriteria yang dijadikan rujukan dalam upaya memilih calon suami yang shalih. Diantaranya;

a. Agama dan akhlak

52 A-San’any, Subul as Salam, Jilid III, h. 111

53 Al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, (Beirut: Dar al Ma’rifah, t. th), Juz II, h. 38

Agama dan akhlak harus dijadikan sebagai dasar utama dalam menentukan pasangan yang akan dijadikan suami, bukan ketampanan dan kekayaan saja. Itu sebabnya orang tua harus di ikut sertakan dalam penentuan calon pasangan. Orang tua juga diminta untuk bertindak tegas terhadap anak gadisnya jika datang lamaran dari orang yang dikenal baik akhlaknya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw..; ’’Apabila datang kepadamu seorang yang kamu senangi agama dan akhlaknya, maka kawinkanlah dia dengan anak perempuanmu, jika tidak, niscaya akan mendatangkan fitnah dibumi ini dan akan menimbulkan kerusakan yang mengerikan.’’ (Riwayat al-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al Hakim dari Abi Hurairah)

b. Sehat rohani dan jasmani

Calon suami yang dipilih adalah laki-laki yang sehat jasmani dan rohani, tidak mempunyai penyakit yang bersifat rohani seperti stress, depresi bahkan gila. Tidak punya penyakit terkait dengan jasmani dan potensinya seperti impotent. Lelaki yang menderita penyakit-penyakit tersebut diatas, tidak dapat melakukan fungsinya sebagai suami yang berkewajiban memelihara dan melindungi istri dan anak-anaknya kelak.54

c. Bertanggung jawab

Sifat bertanggung jawab harus menjadi perhatian ketika mencari pasangan, karena ia yang akan menjadi kepala keluarga dan tulang punggung keluarga yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan keluarganya. Faktor ekonomi ikut memiliki peran besar bagi kelangsungan dan kelanggengan rumah tangga yang harmonis. Hak nafkah adalah kewajiban mutlak suami yang harus diberikan kepada isteri baik sandang, pangan ataupun papan. Dalam arti lain, suami memiliki kewajiban untuk memberikan biaya rumah

54 Sayyid Sabiq, op. cit., Jilid II, H. 20

tangga, dan semua keperluan isteri dan anak dan berbagai keperluan lainnya seperti biaya pendidikan.

Suami dalam fungsinya sebagai pemimpin keluarga bertanggung jawab kepada Allah atas kesejahteraan dan kebahagian pasangannya lahir dan bathin dan dunia akhirat.

Allah SWT berfirman; Artinya; ’’kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.’’ (Qs an-Nisa’ 4/34). Imbalan dari kepemimpinan laki-laki adalah ketaatan istri kepada suami. Istri yang shalihah tentu mentaati suaminya yang berperan menjadi kepala rumah tangga. Layak di ingat ketaatan disini tentu terkait dengan hal-hal yang dibolehkan agama. Diluar ajaran agama tentu tidak ada lagi ketaatan, meskipun perintah itu datang dari suami. Sebab Rasul bersabda; ’’Tidak ada ketaatan pada seorang makhluk pun pada hal-hal yang menyalahi perintah Allah.’’ Ketaatan istri yang tulus adalah bentuk penghormatan yang haqiqi dari seorang istri terhadap suaminya sebagai imbalan dari sikap qowwam suami kepada istri. Sifat qowwam dalam ayat ini terkait dengan pemenuhan tanggung jawab seorang suami kepada istrinya.

Dari uraian diatas jelas bahwa dalam hal memilih jodoh, Islam telah meletakkan panduan-panduan yang jelas bagi lelaki dan perempuan untuk mendapatkan pasangan hidup yang di anggap sesuai menurut tuntutan agama. Agama menjadi dasar pertama diantara syarat-syarat lain sangat dan penting diperhatikan dalam pemilihan jodoh. Dengan berpegang kepada agama, suami akan bisa berinteraksi dengan baik dengan istrinya meskipun dalam keadaan yang tidak harmonis. Firman Allah yang artinya; ’’ dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian

bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.’’ (Qs. An-Nisa’ 4/19).

At-Thabari menyatakan bahwa mu’asyarah bil ma’ruf pada prinsipnya adalah berakhlak yang baik kepada istrinya dan memperlakukannya sesuai dengan tuntunan agama dan apa yang berlaku di masyarakatnya, dengan cara memberikan hak-hakya. Pendapat ini didukung oleh as Sayuti, dimana ia menyatakan bahwa ’’Pergaulan yang baik antara suami istri harus dimaknai dengan perkataan yang baik pemenuhan nafkah dan menyediakan tempat tinggal (Tafsir Jalalain). Imam Ghazali menulis ’’ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan perlakuan baik terhadap istri, bukanlah tidak menganggunya, tapi bersabar dalam menghadapi kesalahanya, serta memperlakukannya dengan kelembutan dan sikap ikhlas memaafkan, saat istri menumpahkan emosi dan kemarahannya.55

55 Jurnal Faizah Ali Syibromalisi, op cit., h. 7-8

BAB III

HASIL PENELITIAN