• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kriteria Periodesasi Program Perbaikan Kampung di Surabaya

BAB 4 PERIODESASI PERKEMBANGAN PROGRAM PERBAIKAN

4.1. Kriteria Periodesasi Program Perbaikan Kampung di Surabaya

Menurut Turner (1976), ada dua sistem pengadaan perumahan yang telah banyak diterapkan pada kebijakan pembangunan. Sistem pengadaan perumahan yang pertama adalah sistem pengadaan perumahan heteronomy / top-down. Dimana pada sistem ini, peran pemerintah yang paling mendominasi, sehingga pengadaan perumahan hanya berfokus pada pendekatan fisik. Dalam perkembangannya sistem pengadaan perumahan heteronomy ternyata dianggap belum mampu menjawab permasalahan perumahan. Sehingga muncul sistem pengadaan perumahan baru yaitu sistem pengadaan perumahan autonomy/bottom-up. Sistem ini merupakan sistem pengadaan perumahan yang didasarkan atas pengaturan lokal secara mandiri, dimana masyarakat memiliki peran yang paling besar. Karena sistem ini tidak hanya memandang rumah sebagai hasil fisik sekali jadi, melainkan sebuah proses yang terkait dengan mobilisasi sosial ekonomi penghuni. Sehingga pengadaan perumahan pada sistem ini tidak hanya fokus pada pendekatan fisik saja, melainkan sudah mempertimbangkan pendekatan dari dimensi sosial dan eknomi.

Gambar 4.1. Sistem Pengadaan Perumahan (Sumber : Turner,1976)

Plan Construct Manage Plan Construct Manage

Regulation or public sector Suppliers or private sector User or popular sector

Pengaturan lokal secara mandiri / sistem perumahan otonom Pengaturan terpusat / sistem

64

Turner (1976) juga menegaskan bahwa masyarakat harus lebih banyak mengatur proses pengadaan rumah, sehingga dapat menghasilkan lingkungan yang lebih baik dalam arti luas. Ada 3 dasar teori Turner (1976) yang berkaitan dengan hal tersebut yaitu:

 Bila penghuni menguasai proses pengambilan keputusan utama dan memiliki keleluasaan untuk memberikan masukan dalam perancangan, pembangunan dan pengelolaannya, maka proses maupun lingkungan yang dihasilkan akan meningkatkan kesejahteraan individu atau masyarakat lainnya. Bila sebaliknya, penghuni tak ada kontrol dan tanggung jawab terhadap keputusan penting dan proses perumahan, maka lingkungan permukiman akan menjadi penghambat untuk pemenuhan kebutuhan diri dan menjadi beban bagi ekonomi keluarga.

 Bukan wujud suatu rumah yang terpenting, melainkan dampak terhadap kehidupan penghuninya. Dengan kata lain, kepuasan penghuni tidak selalu sejajar dengan pemakaian standar.

 Kekurangan dan ketidak sempurnaan rumah jauh lebih dapat diterima bila hal tersebut merupakan akibat tanggung jawab diri sendiri dari pada tanggung jawab pihak lain.

Perkembangan sistem pengadaan perumahan juga dapat dilihat dari perkembangan program perbaikan kampung di Indonesia. Dimana pandangan baru tentang sistem pengadaan perumahan semakin didukung secara luas dan terbuka. Salah satunya adalah melalui Program Perbaikan Kampung (KIP), dimana program ini merupakan program pemerintah untuk mendukung upaya masyarakat dalam menyediakan perumahan secara mandiri. Namun dalam kenyataannya, masih banyak program yang dilaksanakan sekedar sebagai bagian dari kegiatan pekerjaan-umum dan pembangunan fisik kota dengan penerapan sistem heteronomy / top-down. Karena pada mulanya perubahan konsep pengadaan perumahan lebih banyak dilihat sebagai usaha pelayanan sosial, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Sehingga banyak hasil perbaikan cepat rusak dan membuka peluang untuk dinilai kumuh dan perlu

65

diremajakan kembali (Silas,1989). Dari kondisi tersebut pemerintah menyadari bahwa perbaikan fisik saja tidak mencukupi. Sehingga aspek perbaikan yang ditangani mulai meningkat. Dimana diharapkan dengan adanya perbaikan – perbaikan lingkungan fisik dapat tercapai pula perbaikan – perbaikan dari segi sosial dan ekonomi masyarakat kampung (ada multipluyer effect ) (Poerbo,1978 ; Yudohusodo et al., 1991). Seiring berjalannya waktu, program perbaikan terus mengalami penyempurnaan. Berkembang suatu pendekatan baru dalam konsep perbaikan kampung yang dikenal dengan “pembangunan kampung dengan pendekatan yang terpadu”, dimana pembangunan kampung dilihat sebagai proses yang saling terkait antara segi sosial, ekonomi, dan lingkungan fisikknya, dan juga harus didasarkan kepada pengikutsertaan masyarakat kampung dalam proses tersebut (Poerbo,1978; Peorbo,1981).

Berdasarkan dari beberapa penelitian yang telah dilakukan terkait program perbaikan kampung seperti penelitian Poerbo (1978), Peorbo (1981), Silas (1983), Silas (1989), Surbakti et al. (1986) dan Yudohusodo et al., (1991). Perbaikan fisik yang telah ditangani dalam perkembangan pelaksanaan program perbaikan kampung meliputi perbaikan infrastruktur, perbaikan fasilitas umum dan perbaikan fisik hunian. Sedangkan untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat yang diwujudkan dengan cara menambahkan pengertian dan kesadaran masyarakat melalui penyuluhan tentang perlunya dan manfaat dari perbaikan kualitas hidup, diikuti dengan memberikan pengetahuan dan keterampilan untuk memperbaiki dan mempertahankan kualitas hidup tersebut. Sedangkan untuk perbaikan tingkat ekonomi atau usaha masyarakat dilakukan melalui penciptaan kesempatan kerja dan usaha – usaha baru, peningkatan produktivitas dan pendapatan masyarakat kampung yang diwujudkan dengan penyediaan berbagai fasilitas dan bantuan seperti penyediaan kredit kecil dengan bunga rendah serta membantu pemasaran hasil usaha mereka melalui usaha koperasi.

Aspek – aspek perbaikan yang telah ditangani atau diselesaikan pada implementasi program perbaikan, secara tidak langsung berkaitan dengan apa yang telah diberikan pemerintah untuk meningkatkan potensi atau kapasitas masyarakat. Karena menurut Alsop and Heinsohn (2005) dan Alsop et al.

66

(2006), pemberdayaan merupakan suatu proses untuk meningkatkan kapasitas individu atau kelompok untuk membuat pilihan dan mengubah pilihan tersebut kedalam suatu tindakan dan hasil yang diinginkan. Pada aspek pemberdayaan ini, dapat dilihat pemberdayaan berupa apa atau seperti apa yang telah diberikan pemerintah pada masyarakat. Selain itu juga dapat dilihat pada tahapan mana posisi pemberdayaan tersebut berada. Menurut Somerville (1998), ada empat cara pengaplikasian pemberdayaan (empowerment) antara lain (1) Pemberdayaan melalui pengetahuan (empowerment through knowledge), (2) Pemberdayaan melalui keterwakilan (empowerment through statue), (3) Pemberdayaan melalui sumberdaya (empowerment through resourcing) dan (4) Pemberdayaan melalui persetujuan dan transfer kekuasaan atau kewenangan (empowerment through agreement and power transfer) baik melalui pengelompokan, partisipasi, kontribusi, koordinasi maupun interaksi (Dugan (2003); Ritzer (1988)). Sedangkan menurut Arai (1997) ada empat tahapan dalam proses pemberdayaan yang anatara lain adalah (1) Kesadaran (awareness), (2) Interaksi dan pembelajaran (connecting and learning), (3) Mobilisasi atau aksi (mobilization or action) dan (4) Kontribusi (contribution).

Menurut pendapat Arai (1997) dan (Somerville, 1998), pendekatan dalam proses pemberdayaan terdiri dari pendekatan yang bersifat konvensional /top-down dan pendekatan yang berbasis pada komunitas/bottom-up. Pendekatan top-down dapat menimbulkan adanya keterikatan karena dipahami sebagai pemberian kekuasaan oleh pihak yang memiliki “power” kepada pihak yang tidak berdaya (powerless). Sedangkan pendekatan bottom-up dipahami sebagai pemberian bantuan dari pihak yang kuat kepada pihak yang tidak berdaya untuk membangun basis kekuatan mereka sendiri (Dugan, 2003).

Menurut Turner (1976), Arai (197) dan Somerville (1998), peran masyarakat memiliki andil yang sangat besar baik dalam pengadaan atau perbaikan perumahan. Hal ini sangat berkaitan erat dengan partisipasi masyarakatnya, dimana setiap individu atau kelompok memiliki tingkatan atau bentuk partisipasi yang berbeda – beda. Menurut Arnstein dalam Panudju (1999: 69-76) dalam Yulianti (2006), partisipasi masyarakat digolongkan menjadi delapan tipologi, namun secara umum dapat dikelompokkan dalam

67

tiga kelompok besar yang meliputi (1) Tidak ada peran serta masyarakat yang meliputi manipulation dan therapy, (2) Partisipasi masyarakat dalam bentuk tinggal menerima beberapa ketentuan yang meliputi informing, consulting, placation dan (3) Partisipasi masyarakat yang mempunyai kekuasaan yang meliputi partnership, delegated power dan citizen control. Sedangkan menurut Holil (1980) dalam Butar (2012), bentuk – bentuk partisipasi meliputi pikiran, tenaga, partisipasi sosial, keahlian, barang, uang, pengambilan keputusan, dan partisipasi representatif.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat peneliti rumuskan bahwa kriteria yang dapat dipakai untuk menyusun periodesasi program perbaikan kampung antara lain adalah :

Aspek Perbaikan

1. Aspek perbaikan fisik : yang meliputi (a) perbaikan infrastruktur, (b) perbaikan fasilitas umum dan (c) perbaikan fisik hunian

2. Aspek perbaikan sosial : yang meliputi (d) pendampingan, (e) pelatihan / pembinaan dan (f) pengadaan fasilitas untuk pengembangan SDM

3. Aspek perbaikan ekonomi : yang meliputi (g) pembentukan koperasi, (h) bantuan modal usaha, (i) dana stimulant, (j) pembinaan / pelatihan usaha, (k) pembiayaan perumahan dan (l) bantuan alat.

Pemberdayaan

4. Pengaplikasian pemberdayaan : yang meliputi (a) pemberdayaan melalui pengetahuan, (b) pemberdayaan melalui keterwakilan, (c) pemberdayaan melalui sumberdaya dan (d) pemberdayaan melalui persetujuan dan transfer kekuasaan atau kewenangan.

5. Tahapan pemberdayaan : yang meliputi (a) kesadaran, (b) interaksi dan pembelajaran, (c) mobilisasi atau aksi dan (d) kontribusi .

Peran

6. Pengambilan keputusan dengan pengaplikasian sistem (a) heteronomy/top-down, pemerintah yang memiliki peran yang besar dalam pengambilan keputusan, (b) autonomy/ bottom-up, masyarakat yang memiliki peran yang besar dalam pengambilan keputusan dan (c) sistem gabungan antara heteronomy/top-down dan autonomy/ bottom-up

68

Partisipasi Masyarakat

7. Tingkatan partisipasi : yang meliputi (a) tidak ada partisipasi (manipulation dan therapy), (b) partisipasi masyarakat dalam bentuk tinggal menerima beberapa ketentuan (informing, consulting,placation) dan (c) partisipasi masyarakat yang mempunyai kekuasaan (partnership, delegated power dan citizen control).

8. Bentuk partisipasi : yang meliputi (a) pemikiran, (b) tenaga, (c) partisipasi sosial, (d) keahlian, (e) barang, (f) uang, (g) pengambilan keputusan, dan (h) partisipasi representatif.

69