TEORI FENOMENOLOGI
D. Kritik Terhadap Fenomenologi
Sebagai suatu metode keilmuan, fenomenologi dapat mendeskripsikan fenomena sebagaimana adanya dengan tidak memanipulasi data. Aneka macam teori dan pandangan yang pernah kita terima sebelumnya dalam kehidupan sehari-hari, baik dari adat, agama, ataupun ilmu pengetahuan dikesampingkan untuk mengungkap pengetahuan atau
kebenaran yang benar-benar objektif.
Selain itu, fenomenologi memandang objek kajiannya sebagai kebulatan yang utuh, tidak terpisah dari objek lainnya. Dengan demikian fenomenologi menuntut pendekatan yang holistik, bukan pendekatan partial, sehingga diperoleh pemahaman yang utuh mengenai objek yang diamati. Hal ini menjadi suatu
kelebihan pendekatan fenomenologi, sehingga banyak dipakai oleh ilmuwan-ilmuwan dewasa ini, terutama ilmuwan sosial, dalam berbagai kajian keilmuan mereka termasuk bidang kajian agama.
Dibalik kelebihan-kelebihannya, fenomenologi sebenarnya juga tidak luput dari berbagai kelemahan. Tujuan fenomenologi untuk mendapatkan pengetahuan yang murni objektif tanpa ada pengaruh berbagai pandangan sebelumnya, baik dari adat, agama, ataupun ilmu pengetahuan, merupakan sesuatu yang absurd. Sebab fenomenologi sendiri mengakui bahwa ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak bebas nilai (value-free), tetapi bermuatan nilai (value-bound). Hal ini dipertegas oleh Derrida, yang menyatakan bahwa tidak ada penelitian yang tidak mempertimbangkan implikasi filosofis status pengetahuan. Kita tidak dapat lagi menegaskan objektivitas atau penelitian bebas nilai, tetapi harus sepenuhnya mengaku sebagai hal yang ditafsirkan secara subjektif dan oleh karenanya status seluruh pengetahuan adalah sementara dan relatif. Sebagai akibatnya, tujuan penelitian fenomenologis tidak pernah dapat terwujud.
Selanjutnya, fenomenologi memberikan peran terhadap subjek untuk ikut terlibat dalam objek yang diamati, sehingga
jarak antara subjek dan objek yang diamati kabur atau tidak jelas. Dengan demikian, pengetahuan atau kebenaran yang dihasilkan cenderung subjektif, yang hanya berlaku pada kasus tertentu, situasi dan kondisi tertentu, serta dalam waktu tertentu. Dengan ungkapan lain, pengetahuan atau kebenaran
Ringkasan
1. Fenomenologi diartikan sebagai, pengalaman subjektif atau pengalaman fenomenologikal, suatu studi tentang kesadaran dari perspektif pokok dari seseorang.
2. Fenomenologi adalah upaya untuk memahami kesadaran sebagaimana dialami dari sudut pandang orang pertama. 3. Penekanan dalam fenomenologi adalah pemahaman
terhadap pengalaman subyektif atas peristiwa dan kaitan-kaitannya yang melingkupi subyek.
4. Fenomenologi fokus pada pemahaman terhadap pengalaman subyektif atas suatu peristiwa, maka interaksi simbolik fokus pada penafsiran terhadap pemaknaan subyektif yang muncul dari hasil interaksi dengan orang lain atau lingkungannya.
5. Interaksi simbolik adalah interaksi yang memunculkan makna khusus dan menimbulkan interpretasi atau penafsiran.
6. Perbedaan antara fenomenologi dan interaksi simbolik muncul dari makna katanya sendiri “fenomena dan interaksi”. Fenomenologi bertumpu pada pemahaman terhadap pengalaman subyektif atas gejala alamiah (fenomena).
7. Pengembangan teori fenomenologi ini sedikit berbeda dengan teori label yang menekankan deviasi dilihat dari
reaksi masyarakat terhadap deviasi dan dampaknya terhadap devian maupun pihak yang memberi label (cap/definisi sosial).
8. Teori fenomenologi dalam studi deviasi sebagaimana uraian di atas memandang bahwa pengalaman subyektif devian merupakan inti realitas deviasi, sedangkan positivis tidak. 9. Perbedaan pendapat tentang bunuh diri dan kematian
mendadak, karena deviasi itu maknanya bersifat problematik, tidak pasti, maka kaum positivis tidak bisa mencapai esensi dari fenomena deviasi.
10. Konsep makna (meaning) sangat penting, maka dalam arti ini, fenomenologi adalah suatu sintesis antara psikologi, filsafat, dan semantik (atau logika murni).
11. Makna fenomena deviasi itu bersifat problematik tidak baru, ada dua pembedaan makna, yaitu makna abstrak (abstract meaning), dan situasional (situated meaning).
12. Makna abstrak menunjukan kepada idea objektif yang digunakan oleh positivis pada tingkahlaku yang dipelajarinya. Makna situasional menunjuk interprestasi subjektif dari devian terhadap tingkahlakunya sendiri. 13. Hanya interpretasi subjek dari devian mengenai
pengalamannya sendiri yang dapat mencapai realitas deviasi.
14. Pakar fenomenologi berpendirian bahwa pendirian objektif mereka berbeda dengan pendirian positivis, yaitu (2) proposisi, metode dan pengetahuan mereka, (2) pakar femenomenologi berusaha menghapus dari pikiran mereka pengertian ilmiah dan keyakinan pribadi mereka, sehingga mampu menangkap makna pengalaman subjektif devian. 15. Faham voluntarisme, yaitu manusia itu mempunyai
kehendak merdeka, mempunyai tujuan atau makna yang direfleksikan dalam mengkonstruksi makna bunuh diri, dan ia berbuat sesuai dengan makna yang dikonstruk itu.
16. Menyadari larangan itu devian masih mempunyai kemampuan menentukan apakah dia memandang dirinya sebagai devian seperti yang dituduhkan masyarakat atau tidak. Dengan demikian proses menjadi devian berubah-rubah dan tidak dapat diramalkan. Proses menjadi devian itu tetap terbuka.
17. Kenyataan menunjukan bahwa orang-orang dari lapisan bawah dalam keadaan tertekan dan didikte pihak lain, sehingga mereka tidak memiliki kemandirian itu.
18. Sebagai suatu metode keilmuan, fenomenologi dapat mendeskripsikan fenomena sebagaimana adanya dengan tidak memanipulasi data.
19. Fenomenologi menuntut pendekatan yang holistik, bukan pendekatan partial, sehingga diperoleh pemahaman yang utuh mengenai objek yang diamati.
20. Tujuan fenomenologi untuk mendapatkan pengetahuan yang murni objektif tanpa ada pengaruh berbagai pandangan sebelumnya, baik dari adat, agama, ataupun ilmu pengetahuan, merupakan sesuatu yang absurd.
21. Fenomenologi adalah suatu bentuk ilmu mandiri yang berbeda dari ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial.
22. Untuk memahami manusia, fenomenologi hendak melihat apa yang dialami oleh manusia dari sudut pandang orang pertama, yakni dari orang yang mengalaminya.
23. Di dalam kerangka berpikir ini, seorang ilmuwan sekaligus adalah yang diteliti.
24. Fenomenologi adalah analisis atas esensi kesadaran sebagaimana dihayati dan dialami oleh manusia, dan dilihat dengan menggunakan sudut pandang orang pertama. 25. Maksudnya adalah menemukan sebab-sebab subjektif dan
objektif ciri-ciri bayangan objek pengalaman inderawi (fenomen).
26. Secara umum pandangan fenomenologi bisa dilihat pada dua posisi. Pertama ia merupakan reaksi terhadap dominasi positivisme, dan kedua, ia sebenarnya sebagai
kritik terhadap pemikiran kritisisme Immanuel Kant, terutama konsepnya tentang fenomena.
27. Sebagai reaksi terhadap positivisme, filsafat fenomenologi berbeda dalam memandang objek, bila dibandingkan dengan filsafat positivisme, baik secara ontologis, epistemologis, maupun axiologis.
28. Dalam tataran epistemologis, filsafat positivisme menuntut perencanaan penilitian yang rinci, konkrit dan terukur dari semua variabel yang akan diteliti berdasarkan kerangka teoritik yang spesifik.
29. Pada tataran axiologis, filsafat positivisme memandang kebenaran ilmu itu terbatas pada kebenaran empirik sensual–logik dan bebas nilai.
30. Fenomenologi berkembang sebagai metode untuk mendekati fenomena dalam kemurniannya.
31. Tugas utama fenomenologi adalah menjalin keterkaitan manusia dengan realitas.
32. Untuk itu, dua langkah yang harus ditempuh untuk mencapai esensi fenomena, yaitu metode epoche dan eidetich vision.
33. Selanjutnya, epoche memiliki empat macam, yaitu (1). Method of historical bracketing, (2) Method of existensional