BAB IV IMPLEMENTASI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL
4. KUA Serpong
Dari 1441 pasangan yang menikah pada tahun 2014 Di KUA Serpong ditemukan data 184 yang mengikuti Kursus Calon Pengantin (Suscatin) dan 1257 yang tidak mengikuti kursus calon pengantin di KUA Serpong.14 Data ini menunjukan bahwa program kursus calon pengantin yang sebenarnya sangat penting ternyata tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan karena masih banyak hambatan. Sifat peraturan yang kurang mengikat dan kurangnya kesadaran para calon pengantin yang menjadi tidak mulusnya pelaksanaan kursus calon pengantin di KUA Serpong.15
Pelaksanaan kursus calon pengantin (suscatin) di KUA Serpong dilaksanakan oleh penghulu KUA Serpong, pada setiap hari Kamis dimulai pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 12.00 WIB. Ada pun materi-materi yang diberikan yang pertama mengenai peraturan perundang-undangan,
13Wawancara dengan bapak H.Suganda, pada tanggal 04 September 2015, pada hari senin, pukul 11.30, di KUA Pondok Aren
14Data dari hasil penelitian di KUA Serpong, pada tanggal 07 September 2015, pada hari senin, pukul 01.30 WIB, di KUA Serpong
15Wawancara dengan bapak Ahmad Jayadih, S.Ag, kepala KUA Serpong pada hari senin, tanggal 07 September 2015, pukul 01.30 WIB, di KUA Serpong
mengenai keluarga sakinah, fiqih munakahat, dan kesehatan. Durasi waktu untuk masing-masing materi-materi suscatin seperti diatas sekitar kurang lebih 4 jam pelajaran. Narasumber di KUA Serpong yaitu hanya dari penghulu.16
Model pelaksanaan Kursus Calon Pengantin (Suscatin) di KUA Serpong seperti ceramah yang meliputi seputar kursus calon pengantin (suscatin). Kendala pasangan yang tidak mengikuti suscatin adalah karena kebanyakan pasangan calon pengantin itu bekerja, sehingga tidak dapat datang ke KUA untuk mengikuti kursus calon pengantin, padahal sudah ada anjuran dari Dirjen Bimas Islam Departemen Agama Nomor DJ. II/491 Tahun 2009, bahwa dengan adanya peningkatan angka perselisihan, perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga yang salah satunya disebabkan oleh rendahnya pengetahuan dan pemahaman calon pengantin tentang kehidupan berumah tangga/ keluarga serta untuk mewujudkan kehidupan keluarga yang sakinah, mawadah warrahmah, perlu dilakukan kursus calon pengantin.17
B. Analisis Terhadap Implementasi Peraturan Direktur Jenderal Nomor DJ.
II/491 Tahun 2009 Tentang Suscatin di KUA Wilayah Tangerang Selatan.
16Wawancara dengan bapak Ahmad Jayadih, S.Ag, kepala KUA Serpong pada hari senin, tanggal 07 September 2015, pukul 01.30 WIB, di KUA Serpong
17Wawancara dengan bapak Ahmad Jayadih, S.Ag, kepala KUA Serpong pada hari senin, tanggal 07 September 2015, pukul 01.30 WIB, di KUA Serpong
Sesuai dengan hasil wawancara penulis dengan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) sebagaimana diuraikan pada sub bab terdahulu bisa diambil kesimpulan bahwa pelaksanaan suscatin pada masing-masing KUA di Wilayah Tangsel masih belum sesuai dengan Peraturan perundang undangan yang mengatur tentang suscatin, yiatu Peraturan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama Nomor DJ.II/491 Tahun 2009.
Hal ini menunjukkan bahwa peraturan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama Nomor DJ.II/491 Tahun 2009 tentang suscatin tidak diterapkan secara utuh di KUA-KUA tersebut.
Beberapa bukti dan analisis yang bisa dipaparkan adalah sebagai berikut:
1. Dilihat dari segi materi
Dari keempat KUA yang menjadi objek penelitian tampak bahwa materi suscatin yang diberikan tidak sama persis dengan Peraturan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama Nomor DJ.II/491 Tahun 2009 sebagaimana disebutkan pada pasal 3 ayat (1) yaitu materi Kursus Catin meliputi:
a. Tatacara dan prosedur perkawinan (2 jam) b. Pengetahuan agama ( 5 jam)
c. Peraturang perundangan di bidang perkawinan dan keluarga ( 4 jam) d. Hak dan kewajiban suami istri ( 5 jam)
e. Kesehatan (reproduksi) (3jam) f. Manajemen keluarga (3 jam)
g. Psikologi perkawinan dan keluarga (2 jam)
Untuk lebih jelasnya perbedaan berikut ditampilkan dalam bentuk tabel berikut:
No Peraturan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama Nomor DJ.II/491 Tahun 2009
1 Tatacara dan prosedur perkawinan
2 Pengetahuan Agama
3 Peraturan Perundangan di bidang perkawinan dan keluarga
4 Hak dan kewajiban suami istri
5 Kesehatan (reproduksi)
6 Manajemen keluarga x x X x
7 Psikologi perkawinan dan keluarga
x x X X
Dilihat dari segi materi yang disampaikan tampak bahwa memang ke empat KUA di Wilayah Kota Tangerang Selatan diatas tidak menyampaikan materi sebanyak tujuh materi sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor DJ II/491 Tahun 2009. Meskipun tidak menyampaikan sebanyak penuh tujuh materi ada kelebihan yang penulis temukan dimasing-masing KUA tersbut untuk menutupi kekurangan yang materi yang disampaikan adalah KUA menyerahkan panduan materi suscatin menuju keluarga sakinah ke setiap pasangan calon pengantin yang mengikuti suscatin atau calon pengantin itu. Dengan diberikanya buku panduan menuju keluarga sakinah agar menutupi kekurangan materi bisa ditutupi.
` Dari hasil wawancara peneliti dengan beberapa informan yang sudah diuraikan terdahulu ditemukan penyebab tata cara dan prosedur perkawinan, pengetahuan agama, peraturan perundangan di bidang perkawinan dan keluarga, hak dan kewajiban suami isteri, kesehatan (repoduksi), manajemen keluarga, dan psikologi perkawinan dan keluarga. Dengan waktu yang singkat tersebut tidak mungkin mencangkup semua materi yang disampaikan hanya 3 sampai 4 jam tersebut tidak mungkin waktu yang 3 sampai 4 jam itu bisa mencangkup dan menutupi kekurangan tujuh materi tersebut.
2. Dari segi durasi waktu
Semua KUA di wilayah Tangerang Selatan ternyata tidak menerapkan materi kursus calon pengantin yang diterapkan pada Peraturan Direktur Jendral Bimbingan Mayarakat Islam Departemen Agama Nomor DJ.II/491 Tahun 2009 pasal 3 ayat (4).
NO Materi Peraturan Dirjen Bimbingan
50 menit 48 menit 36 menit
2 Pengetahua n agama
5 jam 48
menit
46 menit 48 menit 36 menit
3 Peraturan
45 menit 48 menit 36 menit
4 Hak dan kewajiban suami istri
5 jam 48
menit
51 menit 48 menit 36 menit
5 Kesehatan (reproduksi sehat)
3 jam 48
menit
48 menit 48 menit 36 menit
6 Manajemen
0 menit
Durasi untuk suscatin ini hanya bekisar 3 samapai 4 jam pada masing-masing KUA ini lebih banyak disebabkan karean pasangan calon pengantin itu sudah diundang tetapi tidak memiliki kesempatan waktu untuk mengikuti suscatin, untuk menghadiri waktu 3 sampai 4 jam itu pun tidak semua pasangan suscatin yang bisa hadir, ini terbukti dari minimnya pasangan yang menikah itu mengikuti calon pengantin sebagaimana disebutkan pada bagian A diatas. Sebab dengan waktu yang 3 sampai 4 jam saja minat dari suscatin kurang apa lagi dengan materi suscatin yang 24 jam tersbuut.
3. Dari segi metode
Dari 4 KUA yang diteliti, ternyata hanya 2 KUA, yaitu KUA Ciputat dan Pondok Aren saja yang mengikuti persis dengan Peraturan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama Nomor DJ.II/491 Tahun 2009 pasal 3 ayat (2) yang berbunyi “kursus catin dilakukan dengan metode ceramah, dialog, simulasi dan studi kasus” tentang metode suscatin, sedangkan KUA yang lain hanya mengikuti Metode Ceramah dan Tanya jawab aja.
Untuk membandingkannya bisa dilihat dari tabel berikut :
No Model KUA
Ciputat
KUA Pamulang
KUA Pondok
Aren
KUA Serpong
1 Ceramah
2 Dialog
3 Simulasi X
4 Studi kasus X x x X
Dari tabel diatas dapat dipahami bahwa tidak semua KUA menggunakan metode yang tercantum dalam Peraturan Direjen Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama No. DJ.II/491 Tahun 2009.
4. Narasumber
Terkait dengan narasumber yang akan disampaikan materi dalam program suscatin ini dapat dipahami bahwasanya dari 4 KUA yang diteliti hanya KUA Pondok Aren yang mendekati isi Peraturan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama No. DJ.II/491 Tahun 2009 pasal 3 ayat (3) dari MUI dan penghulu. Sedangkan 3 KUA lainnya hanya mendatangkan dari pihak KUA saja hal iini terkait dengan dana menurut pengakuan dari 3 kepala KUA yang pewawancarai teliti wawancarai terungkap bahwa dana yang diperuntuja untuk pelaksanaan suscatin ini sangat minim.
5. Silabus/ Modul
Dari hasil penelitian penulis dengan 4 KUA dapat diambil kesimpulan bahwasanya hanya KUA Ciputat dan KUA Pondok Aren yang memiliki Silabus/Modul sesuai dengan pasal 5 ayat (1) Peraturan Dirjen Bimbingan
Masyarakat Islam Departemen Agama Nomor DJ.II/491 Tahun 2009.
Sedangakan dua KUA lainnya tidak memiliki modul.
6. Sertifikat
Berdasarkan pada pasal 5 ayat (2) Peraturan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama Nomor DJ.II/491 Tahun 2009.
Disebutkan bahwa dari empat KUA yang diteliti semua memiliki sertifikat suscatin. Dengan demikian tampak bahwa ke empat KUA Ciputat, KUA Pamulang, KUA Pondok Aren dan KUA Serpong.
Setelah penulis melakukan wawancara dengan kepala KUA di wilayah Tangerang Selatan tersebut di ketahui bahwa penyebab tidak diterapkan peraturan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor DJ. II/491 Tahun 2009 tentang suscatin itu adalah karena adanya kendala dana dan kurang minatnya calon pengantin terhadap program suscatin. Ternyata penyebab utama pada semua KUA tersebut adalah sama yaitu masalah dana dan kurang minatnya calon pengantin.
Meskipun penyebabnya sama pada semua KUA, tampaknya solusi yang mereka ambil cukup berbeda. KUA Pondok Aren menyediakan waktu 10 menit setelah ijab qabul untuk memberikan kursus calon pengantin, sedangkan KUA Ciputat, Pamulang dan serpong tidak melakukan penambahan waktu. Ke tiga KUA ini membiarkan saja calon pengantin tidak memperoleh kursus sama sekali.
Teakhir satu hal yang perlu dicatat bahwa ke empat KUA di Wilayah Tangerang Selatan tesebut menyebutkan alasan diterapkan peraturan Dirjen secara utuh di empat KUA tersebut, adalah menurut mereka peraturan Dirjen itu hanya sekedar formalitas tertulis saja, belum ada sanksi yang tegas yang mengatur perihal suscatin tersebut.
63 A. Kesimpulan
Pelaksanaan suscatin pada masing-masing KUA di Wilayah Tangsel masih belum sesuai dengan Peraturan perundang undangan yang mengatur tentang suscatin, yaitu Peraturan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama Nomor DJ.II/491 Tahun 2009.
Dilihat dari segi materi, dari keempat KUA yang menjadi objek penelitian tampak bahwa materi suscatin yang diberikan tidak sama persis dengan Peraturan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama Nomor DJ.II/491 Tahun 2009 sebagaimana disebutkan pada pasal 3 ayat (1).
Semua KUA di wilayah Tangerang Selatan ternyata tidak melaksanakan materi kursus calon pengantin selama 24 jam sesuai dengan Peraturan Direktur Jendral Bimbingan Mayarakat Islam Departemen Agama Nomor DJ.II/491 Tahun 2009 pasal 3 ayat (4). Rata-rata semua KUA hanya melaksanakan kursus calon pengantin sekitar 3-4 jam saja.
Sedangkan dari segi metode, ternyata hanya 2 KUA, yaitu KUA Ciputat dan Pondok Aren saja yang mengikuti persis dengan pasal 3 ayat (2), yang semestinya metode suscatin meliputi metode ceramah, dialog, simulasi, dan studi kasus. Sedangkan KUA yang lain hanya mengikuti Metode Ceramah dan Tanya jawab saja.
Sedangkan terkait sertifikat untuk suscatin, semua KUA memberikan sertifikat suscatin kepada pasangan yang mengikuti suscatin. Sertifikat tersebut digunakan sebagai persyaratan mencatatkan perkawinan mereka di KUA setempat.
Kendala yang dihadapi oleh KUA di Wilayah Tangerang Selatan dalam pelaksanaan suscatin tersebut, lantaran waktu untuk pelaksanaan suscatin itu diselenggarakan pada hari kerja. Hal ini membuat calon pengantin kesulitan menghadirinya karena terkait izin dari tempat kerjanya.
Selain itu, kendala dana juga menjadi salah satu faktor tidak terlaksananya penyelenggaraan suscatin sesuai dengan Peraturan Dirjen. Teakhir satu hal yang perlu dicatat bahwa ke empat KUA di Wilayah Tangerang Selatan tesebut menyebutkan alasan tidak diterapkan peraturan Dirjen secara utuh di empat KUA tersebut, adalah menurut mereka peraturan Dirjen itu hanya sekedar formalitas tertulis saja, belum ada sanksi yang tegas yang mengatur perihal suscatin tersebut.
B. SARAN-SARAN
1. Saran untuk KUA Wilayah Tangerang Selatan , diharapkan supaya lebih tegas dalam melaksanakan program suscatin terhadap para calon pengantin dan agar peraturan Direkur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama Nomor DJ.II/491 Tahun 2009 bisa dilaksanakan sesuai dengan tujuannya.
2. Untuk Kementerian Agama, Peraturan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama , diharapkan agar lebih tegas lagi dalam menerapkan peraturan yang ada di dalam peraturan tersebut, agar peraturan dimaksud tidak hanya menjadi anjuran semata. Selain itu, diharapkan Kementerian Agama meningkatkan lagi pengawasannya dalam program tersebut, sehingga berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
3. Untuk pasangan calon pengantin, disarankan untuk mengikuti program suscatin karena sesuai dengan Peraturan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama Nomor DJ. II/491 Tahun 2009 bahwa program suscatin memang diwajibkan kepada para pasangan calon pengantin yang akan melangsungkan pernikahan.Selain itu mengikuti program suscatin memiliki manfaat yang sangat besar sesuai dengan pasal 2 Peraturan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama Tentang Kursus Calon Pengantin yang berbunyi program suscatin untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang kehidupan berumah tangga atau keluarga dalam mewujudkan keluarga sakinah, mawwadah dan warrahmah serta mengurangi angka perselisihan, perceraian, dan kekerasan dalam rumah tangga.
BP4. Majalah Perkawinan dan Keluarga ,No .452/xxxv 111/2010 Data dari hasil penelitian dari KUA Ciputat
Data dari hasil penelitian di KUA Pondok Aren Data dari hasil penelitian di KUA Serpong
Departemen Agama, Pedoman konseling perkawinan, Jakarta: Depag RI, Direktur Jendral Bimbingan Islam dan Penyelenggaraan Haji Proyek Peningkatan Kehidupan Keluarga Sakinah, 2004
Dirjen Bimas Islam Dan Urusan Haji Departemen Agama RI ,Modul TOT Kursus Calon Pengantin, Jakarta Departemen Agama RI Proyek Peningkatan Kehidupan Keluarga Sakinah Dirjen Bimas Islam, 2000
Farihah Ipah, Buku Panduan Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta , Jakarta :Lembaga Penelitian UIN akarta dengan UIN Jakarta Press,2006 Fitri Melia, Pelaksanaan Bimbingan Pranikah Bagi Calon Pengantin di Kantor
Urusan Agama KUA Kecamatan Pondok Aren Kota Tangerang Selatan, Jakarta: 2014
Hasil MUNAS BP4 ke XIV/2009 Jakarta,1-3 Juni 2009
Kanwil Depag Provinsi Jawa Tengah, Pembinaan Keluarga Sakinah dan Gerakan Sadar zakat, Semarang ,2000
Pasal 2 Peraturan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama.
Pasal 3 Peraturan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama.
Pasal 4 Peraturan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Departeme Agama
Peraturan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama Nomor DJ.II/372 Tahun 2009 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Kurus Pra Nikah, h. 4
Sopyan Yayan, Buku Ajar: Pengantar Metodologi Penelitian, 2010
Tempat :KUA Kecamatan Ciputat Waktu :Senin 04 September 2015
1. Materi kursus calon pengantin itu apa saja ?
Materi-materi yang mencangkup mengenai keluarga sakinah, mengenai muamalah, mengenai hukum Islam dan Negara, mengenai Kesehatan.
2. Durasi waktu untuk masing-masing materi tersebut sesuaikah dengan pasal 3
peraturan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Nomor DJ.II/491 Tahun 2009 bahwa minimal harus 24 JAM?Kalau susdah terpenuhi 24 jam, bagaimana pembagian durasi waktunya bukankah masing-masing materi ada durasi yang sudah ditentukan?
Kalau belum terpenuhi 24 jam bagaimana solusi yang ditempuh oleh KUA ? Ya dalam undang-undang pada pasal 3 disebutkan bahwa pemberian materi kursus calon pengantin diberikan sekurang-kurangnya 24 jam pelajaran tetapi pada
kenyataanya dilapangan materi kursus calon pengantin di adakan pada KUA Ciputat sekitar 4 jam pelajaran saja, dimulai dari pukul 08.00 sampai dengan pukul 12.00 dengan waktu yang sedikit untuk penjelasan seluruh materi, dalam setiap pelajaran sekitar 1 jam saja.
3. Metode suscatin secara rincinya seperti apa ?apakah suscatin dilakukan berkelompok? Apakah ada suscatin yang sepasang saja ?
Metode suscatin di KUA Ciputat menggunakan metode ceramah dan dialog saja, pada kenyataanya di KUA Ciputat tidak ada yang melakukan suscatin hanya sepasang melainkan berkelompok.
4. Narasumber materinya siapa saja ?(sesuaikah dengan pasal 3 ayat 3 Peraturan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam)
Narasumber suscatin di KUA Ciputat terdiri dari konsultan perkawinan dan para penghulu saja
5. Apakah peserta suscatin diberikan sertifikat ?(sesuaikah dengan pasal 6 Peraturan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam)
kegiatan tersebut akan tetapi, sangat disayangkan karena sertifikat tersebut belum merupakan syarat sah dalam melakukan perkawinan sehingga tanpa sertifikat (tidak mengikuti suscatin) para calon pengantin akan tetap dapat melangsungkan perkawinan.
7. Lalu bagaimana dengan pasangan yang tidak ikut suscatin, apakah pernikahan mereka bisa dicatatkan, meskipun tidak ada sertifikat? Apa penilaian KUA terhadap Peraturan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam ? mengapa mereka tidak patuhi ?
Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya suscatin serta tidak disertakan sanksi yang tegas dalam peraturan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama Nomor DJ.II/491 Tahun 2009 bagi para calon pengantin yang tidak mengikutinya.
8. Dalam penyelenggaraan suscatin, apakah ada kendala ? apa kendalanya ? bagaimana solusi yang sudah diambil agar Peraturan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam itu di Impementasikan dengan benar ?
Setiap pelaksanaan suatu kegiatan ada kalanya menghadapi suatu hambatan dan tantangan seperti yang terjadi pada KUA Ciputat yakni dalam pelaksanaan program suscatin penulis mendapati penjelasan dari narasumber bahwa dalam hal minimnya anggaran dalam pelaksanaan padahal dalam Undang-undang seharusnya pembiyaan dalam pelaksanaan program ini berasal dari APBN atau APBD sesuai dengan Undang-undang Nomor DJ.II/542 Tahun 2013.
9. Berapa orang yang menikah dan mengikkuti suscatin ?
Ditemukan data yang menikah tahun 2014 sejumlah 1043 dan yang mengikuti suscatin 884
10. Bagi yang suscatin model pelaksanaanya seperti apa?
Model pelaksanaanya suscatin di KUA Ciputat seperti seminar
Ciputat 04 September 2015 Pewawancara
DEVI CHAIRUNNISA
kegiatan tersebut akan tetapi, sangat disayangkan karena sertifikat tersebut belum merupakan syarat sah dalam melakukan perkawinan sehingga tanpa sertifikat (tidak mengikuti suscatin) para calon pengantin akan tetap dapat melangsungkan perkawinan.
7. Lalu bagaimana dengan pasangan yang tidak ikut suscatin, apakah pernikahan mereka bisa dicatatkan, meskipun tidak ada sertifikat? Apa penilaian KUA terhadap Peraturan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam ? mengapa mereka tidak patuhi ?
Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya suscatin serta tidak disertakan sanksi yang tegas dalam peraturan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama Nomor DJ.II/491 Tahun 2009 bagi para calon pengantin yang tidak mengikutinya.
8. Dalam penyelenggaraan suscatin, apakah ada kendala ? apa kendalanya ? bagaimana solusi yang sudah diambil agar Peraturan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam itu di Impementasikan dengan benar ?
Setiap pelaksanaan suatu kegiatan ada kalanya menghadapi suatu hambatan dan tantangan seperti yang terjadi pada KUA Ciputat yakni dalam pelaksanaan program suscatin penulis mendapati penjelasan dari narasumber bahwa dalam hal minimnya anggaran dalam pelaksanaan padahal dalam Undang-undang seharusnya pembiyaan dalam pelaksanaan program ini berasal dari APBN atau APBD sesuai dengan Undang-undang Nomor DJ.II/542 Tahun 2013.
9. Berapa orang yang menikah dan mengikkuti suscatin ?
Ditemukan data yang menikah tahun 2014 sejumlah 1043 dan yang mengikuti suscatin 884
10. Bagi yang suscatin model pelaksanaanya seperti apa?
Model pelaksanaanya suscatin di KUA Ciputat seperti seminar
Ciputat 04 September 2015 Pewawancara
DEVI CHAIRUNNISA
kegiatan tersebut akan tetapi, sangat disayangkan karena sertifikat tersebut belum merupakan syarat sah dalam melakukan perkawinan sehingga tanpa sertifikat (tidak mengikuti suscatin) para calon pengantin akan tetap dapat melangsungkan perkawinan.
7. Lalu bagaimana dengan pasangan yang tidak ikut suscatin, apakah pernikahan mereka bisa dicatatkan, meskipun tidak ada sertifikat? Apa penilaian KUA terhadap Peraturan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam ? mengapa mereka tidak patuhi ?
Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya suscatin serta tidak disertakan sanksi yang tegas dalam peraturan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama Nomor DJ.II/491 Tahun 2009 bagi para calon pengantin yang tidak mengikutinya.
8. Dalam penyelenggaraan suscatin, apakah ada kendala ? apa kendalanya ? bagaimana solusi yang sudah diambil agar Peraturan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam itu di Impementasikan dengan benar ?
Setiap pelaksanaan suatu kegiatan ada kalanya menghadapi suatu hambatan dan tantangan seperti yang terjadi pada KUA Ciputat yakni dalam pelaksanaan program suscatin penulis mendapati penjelasan dari narasumber bahwa dalam hal minimnya anggaran dalam pelaksanaan padahal dalam Undang-undang seharusnya pembiyaan dalam pelaksanaan program ini berasal dari APBN atau APBD sesuai dengan Undang-undang Nomor DJ.II/542 Tahun 2013.
9. Berapa orang yang menikah dan mengikkuti suscatin ?
Ditemukan data yang menikah tahun 2014 sejumlah 1043 dan yang mengikuti suscatin 884
10. Bagi yang suscatin model pelaksanaanya seperti apa?
Model pelaksanaanya suscatin di KUA Ciputat seperti seminar
Ciputat 04 September 2015 Pewawancara
DEVI CHAIRUNNISA
Tempat :KUA Kecamatan Pamulang Waktu :Jum’at 12 Juni 2015
1. Materi kursus calon pengantin itu apa saja ?
a. Peraturan Perundang-undangan meliputi UU No. 1 Tahun 1974 dan PP No 9 Tahun 1975
b. Pengetahuan tentang rumah tangga meliputi pengertian rumah tangga, hak dan kewajiban suami istri, kewajiban orang tua terhadap anak dan lain sebagainya
c. Munakahat, meliputi pengertian perkawinan, dasar perkawinan, tujuan perkawinan, syarat dan rukun perkawinan serta larangan perkawinan.
d. Kesehatan , meliputi perilaku hidup sehat, kebersihan rumah tangga dan lingkungan, kegiatan olahraga dalam rumah tangga ,serta pola gizi atau pola makan didalam rumah tangga.
2. Durasi waktu untuk masing-masing materi tersebut sesuaikah dengan pasal 3
peraturan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Nomor DJ.II/491 Tahun 2009 bahwa minimal harus 24 JAM?Kalau susdah terpenuhi 24 jam, bagaimana pembagian durasi waktunya bukankah masing-masing materi ada durasi yang sudah ditentukan?
Kalau belum terpenuhi 24 jam bagaimana solusi yang ditempuh oleh KUA ? Durasi waktu di KUA Pamulang hanya sekitar 4 Jam dari pukul 08.00 sampai dengan pukul 12.00 WIB, masing-masing materi sekitar ½ jam atau 1 jam pelajaran.
3. Metode suscatin secara rincinya seperti apa ?apakah suscatin dilakukan berkelompok? Apakah ada suscatin yang sepasang saja ?
Metode yang dipakai di KUA Pamulang yaitu metode ceramah dan Tanya jawab para calon pengantin
4. Narasumber materinya siapa saja ?(sesuaikah dengan pasal 3 ayat 3 Peraturan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam)
Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam)
Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam)