• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kualitas Air

Dalam dokumen NURLITA CHRISTYANINGSIH (Halaman 27-40)

3.1 Hasil .1 Sintasan .1 Sintasan

3.1.7 Kualitas Air

Kualitas air selama masa pemeliharaan udang vaname diukur pada awal, tengah, akhir masa pemeliharaan, dan akhir uji tantang. Parameter kualitas air yang diamati meliputi pH, salinitas, temperatur, kandungan oksigen terlarut (DO), dan amoniak selama pemeliharaan (Tabel 3).

Tabel 3. Kualitas air pada media pemeliharaan udang vaname selama perlakuan sinbiotik meliputi pH, salinitas, suhu, DO, dan amoniak pada masing-masing perlakuan

Kualitas Air Perlakuan Literatur

K - K + P 1 P 2 P 3 pH 7 - 8 7-7,9 7-7,8 7-7,9 7- 7,8 7,5–8,5a Salinitas (ppt) 31–35 32-35,7 32-34,7 3-33,7 31-35, 8 15–35a Suhu (oC) 28,5–29 28- 29 29-29,5 28-28,5 29 28,5–31,5a DO (mg/L) 6,5-7,2 6,3-7,8 6-7,9 6,4-7,3 5,9-7,4 > 3,5a Amoniak (mg/L) < 0,140 < 0,140 < 0,140 < 0,140 < 0,140 < 0,1 b Keterangan : a) SNI (2006); b) Chien (1992)

3.2 Pembahasan

Sintasan merupakan salah satu parameter utama yang diamati dalam penelitian ini. Perhitungan nilai sintasan dilakukan setelah 30 hari perlakuan sinbiotik dan setelah uji tantang dengan IMNV. Hasil perhitungan nilai sintasan udang vaname setelah 30 hari perlakuan sinbiotik menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada semua perlakuan dengan kisaran 66,25-69,38% (Gambar 1a). Nilai sintasan udang vaname selama 12 hari setelah diinfeksi IMNV (Gambar 1b) menunjukkan hasil yang berbeda dengan sintasan udang vaname sebelum diinfeksi dengan IMNV (Gambar 1a). Sintasan tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan K- sebesar 93,33%, ini dikarenakan tidak adanya infeksi IMNV pada udang uji. Pada perlakuan sinbiotik sendiri diperoleh nilai sintasan tertinggi pada perlakuan P3 sebesar 43,33% dan tidak berbeda nyata terhadap perlakuan P2, namun berbeda nyata terhadap perlakuan K+. Hasil yang sama disampaikan pada penelitian Damayanti (2011) dan Septiani (2011), bahwa pemberian sinbiotik pada beberapa dosis dan frekuensi setiap hari dapat menghasilkan sintasan udang vaname sebesar 80% dan lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol setelah dilakukan infeksi oral IMNV. Pemberian prebiotik dengan dosis 3% mampu

16 memberikan kenaikan sintasan sebesar 5% pada udang uji setelah dilakukan infeksi IMNV bila dibandingkan dengan pemberian prebiotik 2%, meskipun setelah dilakukan uji statistik pada kedua perlakuan ini tidak berbeda nyata (Gambar 1b). Kenaikan sintasan sebesar 5% ini membutuhkan penambahan prebiotik sebesar 1%, hal ini berarti dibutuhkan biaya tambahan untuk penambahan 1% prebiotik tersebut.

Pemberian sinbiotik dengan dosis prebiotik 3% mampu meningkatkan ketahanan udang terhadap infeksi IMNV. Ketahanan udang uji diduga karena adanya pengaruh dari penambahan bakteri probiotik SKT-b (V. alginolyticus). Seperti yang diungkapkan oleh Gullian et al. (2004), penggunaan V. alginolyticus mampu meningkatkan pertumbuhan serta respon imunitas pada udang vaname. Peningkatan respon imunitas dapat terlihat dari nilai THC udang uji (Gambar 4). Respon imunitas tersebut meningkat diduga karena adanya pemberian prebiotik dengan dosis yang semakin meningkat sehingga memberikan pengaruh terhadap bakteri probiotik yang diberikan ke udang uji. Prebiotik memberikan pengaruh tidak langsung terhadap mekanisme penghambatan patogen, karena prebiotik dimanfaatkan oleh probiotik dan dapat meningkatkan pertumbuhan probiotik (Rastall et al. 2005).

Laju pertumbuhan harian dan rasio konversi pakan udang setelah 30 hari perlakuan sinbiotik memperlihatkan hasil yang saling berhubungan. Laju pertumbuhan harian terlihat semakin meningkat sedangkan rasio konversi pakan semakin menurun seiiring dengan peningkatan dosis prebiotik yang semakin besar. Menurut statistik hasil yang diperoleh tidak berbeda nyata pada perlakuan sinbiotik dan kontrol. Laju pertumbuhan harian yang diperoleh berkisar antara 6,36% - 6,67% (Gambar 2). Berdasarkan hasil ini diduga bahwa pemberian probiotik dan prebiotik dengan beberapa dosis yang diberikan pada penelitian ini belum maksimal dalam meningkatkan laju pertumbuhan harian udang uji. Hal yang berbeda disampaikan oleh Lisal (2005), bahwa penambahan sinbiotik dalam pakan diduga mampu meningkatkan laju pertumbuhan, karena dapat meningkatkan mikroflora normal di dalam usus sehingga pakan dapat dimanfaatkan dengan baik untuk pertumbuhan dengan menghasilkan enzim pencernaan. Terlihat pula pada rasio konversi pakan yang diperoleh pada

17 penelitian ini berkisar antara 1,24 – 1,57 (Gambar 3) dan tidak berbeda nyata pada semua perlakuan baik kontrol maupun pemberian sinbiotik. Rasio konversi pakan (FCR) merupakan suatu ukuran yang menyatakan jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg daging. Semakin besar nilai FCR, maka semakin banyak pakan yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 kg daging (Effendi 2004).

Krustasea tidak memiliki respon imun spesifik (adaptive) dan bergantung pada berbagai respon imun nonspesifik (innate). Meskipun dianggap demikian, respon imun nonspesifik mampu dengan cepat dan efisien mengenali dan menghancurkan material asing, termasuk patogen (Witteveldt et al. 2003). Respon imun pada krustasea dapat dikenali dari parameter total hemosit serta enzim

phenoloxydase yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh. Bachere (2000),

menyatakan bahwa proses imun pertama pada krustase adalah pengenalan mikroorganisme penyerang yang dimediasi oleh hemosit dan plasma protein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian sinbiotik selama 30 hari berturut-turut melalui pakan memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan nilai THC pada perlakuan P2 dan P3 terhadap perlakuan P1, K+, dan K- (Gambar 4). Disampaikan oleh Johansson et al. (2000), hemosit krustase, dan invertebrata lain, memainkan peranan penting dalam sistem pertahanan tubuh terhadap patogen seperti virus, bakteri, fungi, protozoa, dan metazoa.

Secara keseluruhan total hemosit pada perlakuan yang diberi sinbiotik dengan dosis prebiotik yang lebih besar (P2 dan P3) terlihat lebih tinggi dibandingkan dengan P1 maupun kontrol baik sebelum maupun setelah uji tantang dengan IMNV. Dapat dilihat pada Gambar 4, setelah 30 hari perlakuan sinbiotik, nilai THC pada perlakuan P2 dan P3 tidak berbeda nyata, namun menunjukkan hasil yang berbeda nyata terhadap kontrol. Nilai THC udang uji mengalami peningkatan pada perlakuan K- dan P2 sedangkan total hemosit pada perlakuan K+, P1, dan P3 mengalami penurunan. Pada perlakuan P2 mengalami peningkatan nilai THC diduga karena adanya pengaruh dari sinbiotik yang diberikan selama 30 hari perlakuan, sedangkan pada perlakuan K- terjadi kenaikan nilai THC namun masih lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan sinbiotik (P2 dan P3). Pada perlakuan P3 mengalami penurunan nilai THC namun masih lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan K+. Pemberian sinbiotik memberikan pengaruh

18 terhadap nilai THC yang berbeda-beda pada setiap perlakuan setelah 30 hari pemberian sinbiotik dan setelah dilakukan infeksi IMNV. Jumlah hemosit dapat sangat bervariasi berdasarkan spesies, respon terhadap infeksi, stres lingkungan, aktivitas endokrin selama siklus molting (Johansson et al. 2000), jumlah hemosit juga dipengaruhi oleh seks, fase perkembangan, status reproduksi dan nutrisi (Song et al. 2003).

Phenoloxydase (PO) merupakan suatu enzim yang bertanggung jawab

terhadap proses melanisasi pada krustase sebagai respon terhadap penyerang asing (Sritunyalucksana dan Soderhall 2000). Enzim phenoloxydase (PO) bertanggung jawab terhadap proses melanisasi pada artropoda. Enzim phenoloxydase (PO) terdapat dalam hemolim sebagai inactive proenzym yang disebut proPO. Transformasi proPO menjadi PO melibatkan beberapa reaksi dikenal sebagai

proPO activating system (sistem aktivasi proPO) (Rodriguez & Le Moullac 2000).

Nilai PO setelah 30 hari perlakuan sinbiotik dan setelah dilakukan infeksi IMNV tidak berbeda nyata pada semua perlakuan (Gambar 5). Nilai PO pada setiap ulangan perlakuan cukup bervariasi, hal ini diduga disebabkan karena tingkat infeksi yang berbeda pada setiap sampel udang uji yang diamati, dimana udang uji yang diamati diambil secara acak.

Secara keseluruhan terjadi peningkatan nilai PO setelah dilakukan infeksi dengan IMNV dibandingkan dengan nilai PO sebelum dilakukan infeksi. Hal ini diduga karena adanya peningkatan respon imun terhadap serangan IMNV di dalam tubuh udang. Serangan IMNV pada tubuh udang uji ini diduga mengaktifkan sistem aktivasi proPO. Manopo (2011) menyebutkan bahwa sistem proPO dapat digunakan sebagai marker kesehatan udang dan lingkungan karena perubahan sistem proPO berkorelasi dengan tahap infeksi dan variasi lingkungan. Nilai PO yang diperoleh ini berhubungan dengan parameter sistem imun udang lain seperti hemosit. Menurut Sahoo et al. (2008), aktivitas PO berkaitan erat dengan jumlah hemosit yang dihasilkan, karena hemosit berperan dalam produksi dan pelepasan proPO. Manoppo (2011) menambahkan, salah satu fungsi dari hemosit udang adalah dalam produksi dan pelepasan PO ke dalam hemolim dalam bentuk inactive pro-enzyme.

19 Pengamatan terhadap gejala klinis dilakukan selama 12 hari setelah dilakukan infeksi IMNV untuk mengetahui perkembangan infeksi terhadap udang uji. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan diketahui bahwa terjadi perubahan makro anatomi pada tubuh udang uji setelah uji tantang (Gambar 6). Perubahan awal yang terjadi adalah munculnya nekrosis pada bagian abdomen udang. Selain itu gejala klinis juga ditunjukkan dengan terbentuknya otot putih pada ruas-ruas tubuhnya, muncul warna kemerahan pada ekor udang, serta warna tubuh udang seperti udang rebus. Seperti yang disampaikan sebelumnya oleh Senapin et al. (2007), ciri-ciri umum udang yang terinfeksi IMNV meliputi nekrosis pada otot, terutama pada segmen abdominal dan ekor, timbulnya perubahan warna pada otot menjadi putih hingga warna seperti udang rebus. Kematian biasanya terjadi pada saat gejala klinis sudah parah seperti ekor merah dan sebagian atau seluruh tubuh udang memutih.

Media tempat hidup organisme akuatik sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan sintasannya. Nilai kualitas air selama masa pemeliharaan pada semua perlakuan masih berada pada kisaran untuk pemeliharaan udang vaname sesuai dengan standar SNI (2006) dan menurut Chien (1992) (Tabel 3). Sehingga diasumsikan kualitas air media pemeliharaan selama perlakuan bukan sebagai penyebab terjadinya perubahan sintasan, laju pertumbuhan harian, rasio konversi pakan, serta respon imun pada udang vaname.

20

IV. KESIMPULAN

Pemberian sinbiotik dalam pakan dengan dosis prebiotik 3% mampu memberikan pengaruh yang lebih baik dibanding perlakuan lainnya dengan nilai sintasan sebesar 43,33% setelah diinfeksi IMNV. Selain itu, pemberian pakan sinbiotik mampu meningkatkan sistem imun.

21

DAFTAR PUSTAKA

Bachere E. 2000. Shrimp immunity and disease control. Aquaculture 191: 3-11. Blaxhall and Daysley. 1973. Routine haematological methods for use with fish

blood. Journal Fish Biology 5: 577-581.

Chien YH. 1992. Water quality requirement and management for marine shrimp culture. In Wyban, J. (Editor): Proceedings of the Special Session on Shrimp Farming. World Aquaculture Society, Baton Rouge, L.A, U.S.A. p: 144-156

Costa AM, Buglione CC, Bezerra FL, Martins PCC, Barracco MA. 2009. Immune assessment of farm-reared Penaeus vannamei shrimp naturally infected by IMNV in NE Brazil. Aquaculture 291: 141-146.

Damayanti. 2011. Pemberian sinbiotik dengan dosis berbeda pada pakan udang vaname untuk pencegahan infeksi IMNV (Infectious Myonecrosis Virus). [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Effendie I. 2004. Pengantar Akuakultur. Penebar Swadaya: Depok.

Escobedo CM, Bonilla, Audoorn L, Wille M, Alday V, Sanz, Sorgeloos P, Pensaert MB, Nauwynck HJ. 2006. Standardized white spot syndrome virus (WSSV) inoculation procedures for intramuscular or oral routes. Diseases of Aquatic Organisms 68: 181-188.

Gullian M, Thompson F, Rodriguez J. 2004. Selection of probiotic bacteria and study of their immunostimulatory effect in Penaeus vannamei. Aquaculture 233: 1-14.

Goddard S. 1996. Feed Management in Intensive Aquaculture. Chapman and Hall. New York.

Huisman EA. 1987. Principles of Fish Production. Department of Fish Culture and Fisheries, Waganingen Agriculture University. Netherland.

Johansson MW, Keyser P, Sritunyalucksana K, Soderhall K. 2000. Crustasean haemocytes and haemotopoiesis. Aquaculture 191: 45-52.

KKP [Kementerian Kelautan dan Perikanan]. 2010. Target produksi udang dikurangi, antisipasi penyakit, perizinan impor tetap disumbat. Agribisnis : Bisnis Indonesia. Selasa, 24 Agustus 2010.

KKP [Kementerian Kelautan dan Perikanan]. 2010. Indonesia siap swasembada induk udang vaname. http://www.kkp.go.id [20 Juni 2011]

22 Li J, Beiping T, Kangsen M. 2009. Dietary probiotic Bacillus OJ and isomaltooligosaccharides influence the intestine microbial populations, immune responses and resistance to white spot syndrome virus in shrimp (Litopenaeus vannamei). Aquaculture 291 (2009): 35–40.

Lisal JS. 2005. Konsep probiotik dan prebiotik untuk modulasi mikrobiota usus besar. Medical Nusantara 26: 256-262.

Liu CH, Chen JC. 2004. Effect of ammonia on the immune response of white shrimp Litopenaeus vannamei and its susceptibility to Vibrio alginolyticus. Fish and Shellfish Immunol 16: 321-334.

Manoppo H. 2011. Peran nukleotida sebagai imunostimulan terhadap respon imun nonspesifik dan resistensi udang (Litopenaeus vannamei). [Disertasi]. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Muhtadi D. 1989. Evaluasi Nilai Gizi Pangan. Departemen Pendidikan dan Budaya, Dirjen Dikti-PAU. Institut pertanian Bogor. Bogor

Pearce CM, Daggett TL, Robinson SMC. 2002. Effect of binder type and concentration on prepared feed stability and gonad yield and quality of the green sea urchin, Strongylocentrotus droebachiensis. Aquacultutre 205: 301-323.

Rastall RA, Gibson GR, Gill HS, Guarner F, Klaenhamer TD, Pot B, Reid, Rowland IR, Sanders ME. 2005. Mini Review : Modulation of the microbial ecology of the human colon by probiotics, prebiotics, and synbiotics to enhance human health : An overview of enabling science and potential applications. FEMS Microbiology Ecology 52: 145-152.

Rodriguez L, Le Moullac G. 2000. State of the art of immunological tools and health control of penaeid shrimp. Aquaculture 191: 109-119.

Sahoo PK, Das A, Mohanty S, Mohanty BK, Pilai BR, Mohanty J. 2008. Dietary β-1,3 glucan improve the immunity and disease resistance of freshwater prawn Macrobrachium rosenbergii challenged with Aeromonas hydrophyla. Aquaculture Research 39: 1574-1578.

Schrezenmeir J, Vrese M. 2001. Probiotics, prebiotics and synbiotic approaching a definition. American Journal of Clinical Nutrition, 73: 2; 361-364.

Senapin SK. Phewsaiya, M. Briggs, T.W. Flegel. 2007. Outbreaks of infectious myonecrosis virus (IMNV) in Indonesia confirmed by genome sequencing 24 and use of an alternative RT-PCR detection method. Aquaculture 266: 32-38.

Septiani GR. 2011. Pemberian sinbiotik dengan frekuensi berbeda pada pakan udang vaname untuk pencegahan infeksi IMNV (Infectious Myonecrosis

Virus). [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan Dan

23 Song YL, Yu CI, Lien TW, Huang CC, Lin MN. 2003. Hemolymph parameters of Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) infected with Taur Syndrome Virus. Fish Shellfish Immunol14: 317-331.

Sritunyalucksana K, Soderhall K. 2000. The proPO and clotting system in crustacean. Aquaculture 191: 53-69.

SNI [Standar Nasional Indonesia]. 2006. Produksi Udang Vaname L. vannamei di Tambak dengan Teknologi Intensif. Badan Standardisasi Nasional. SNI 01-7246-2006.

Syaihalatua DY. 2009. Seleksi bakteri probiotik sebagai stimulator sistem imun pada udang vaname Litopenaeus vannamei. [Tesis]. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2010. Indonesia siap swasembada induk udang vaname. http://www.kkp.go.id [20 Juni 2011]

Tang KFJ, Pantoja CR, Poulos BT, Redman RM, Lightner DV. 2005. In Situ Hybridization demonstrates that Lithopenaeus vannamei, L. stylirostris and

Penaeus monodon are susceptible to experimental infection with infectious

myonecrosis virus (IMNV). Dis. Aquat. Org. 63: 261-265.

Tang J, Ochoa WF, Sinkovits RS, Poulos BT, Ghabrial SA, Lightner DV, Baker TS, Nibert ML. 2008. Infectious myonecrosis virus has a totivirus-like, 120-subunit capsid, but with fiber complexes at the fivefold axes. PNAS 45(105): 17527-17531.

Taukhid and Nur’aini YL. 2009. Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) in Pacific White Shrimp (Litopenaeus vannamei) in Indonesia. SEAFDEC International Workshop on Emerging Fish Diesease in Asia. Israeli Journal of Aquaculture: 255-262.

Verschuere L, Rombaut G, Sorgeloos P, Verstraete W. 2000. Probiotic bacteria as biological control agents in Aquaculture. Microbiolgical and Molecular Biology Review 64: 655-671.

Wang BY. 2007. Effect of probiotics on growth performance and digestive enzyme activity of the shrimp Penaeus vannamei. Aquaculture 269: 259-264.

Widagdo P. 2011. Aplikasi probiotik, prebiotik, dan sinbiotik melalui pakan pada udang vaname Litopenaeus vannamei yang diinfeksi bakteri Vibrio harveyi [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas perikanan dan ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Widanarni, Suwanto A, Sukenda, Lay BW. 2003. Potency of Vibrio isolates for biocontrol of vibriosis in tiger shrimp (Penaeus monodon) larvae. Biotropia 20: 11-23.

24 Witteveldt J, Vlak JM, van Hulten MCW. 2003. Protection of Penaeus monodon against white spot syndrome virus using a WSSV subunit vaccine. Fish Shellfish Immunol.

Zonneveld N, Huisman EA, Boon JH. 1991. Prinsip-Prinsip Budidaya Ikan. Gedia Pustaka Utama: Jakarta.

26 Lampiran 1. Rancangan sistem resirkulasi selama pemeliharaan udang vaname L.

vannamei pada masing-masing perlakuan selama 30 hari perlakuan

sinbiotik dan infeksi dengan IMNV

Lampiran 2. Analisis statistik terhadap sintasan udang vaname L. vannamei setelah 30 hari perlakuan sinbiotik (sebelum infeksi dengan IMNV) ANOVA

Sumber Keragaman Db JK F Peluang

Perlakuan 21.875 3 7.292 0.183 0.906

Galat 478.125 12 39.844

Total 500.000 15

Lampiran 3. Analisis statistik terhadap sintasan udang vaname L. vannamei setelah infeksi IMNV

ANOVA

Sumber Keragaman Db JK F Peluang

Perlakuan 12723.376 4 3180.819 37.670 0.000

Galat 1266,600 15 84.440

27 Duncana Perlakuan N α = 0.05 1 2 3 4 K+ 4 20.0000 P1 4 26.6700 26.6700 P2 4 38.3350 38.3350 P3 4 43.3325 K- 4 91.6650 Peluang 0.321 0.093 0.454 1.000

Lampiran 4. Analisis statistik terhadap laju pertumbuhan harian udang vaname L.

vannamei setelah 30 hari perlakuan sinbiotik (sebelum infeksi

dengan IMNV) ANOVA

Sumber Keragaman Db JK F Peluang

Perlakuan 0.200 3 0.067 0.916 0.462

Galat 0.873 12 0.073

Total 1.073 15

Lampiran 5. Analisis statistik terhadap rasio konversi pakan udang vaname L.

vannamei setelah 30 hari perlakuan sinbiotik (sebelum infeksi

dengan IMNV) ANOVA

Sumber Keragaman Db JK F Peluang

Perlakuan 0.289 3 0.096 2.236 0.137

Galat 0.517 12 .043

Total 0.807 15

Lampiran 6. Analisis statistik terhadap Total Haemocyte Count (THC) udang vaname L. vannamei setelah 30 hari perlakuan sinbiotik dan setelah infeksi IMNV ANOVA Sumber Keragaman db JK F Peluang Hari-30 Perlakuan 62.421 4 15.605 3.834 0.024 Galat 61.061 15 4.071 Total 123.481 19 Hari-42 Perlakuan 42.500 4 10.625 7.310 0.002 Galat 21.803 15 1.454 Total 64.304 19

28 Hari-30 Perlakuan N α = 0.05 1 2 P1 4 2.6868 K+ 4 3.3548 K- 4 3.3548 P2 4 5.1053 5.1053 P3 4 7.5673 Peluang 0.138 0.105 Hari-42 Perlakuan N α = 0.05 1 2 3 4 P1 4 2.1430 K+ 4 2.3320 2.3320 K- 4 4.1018 4.1018 P2 4 4.4178 4.4178 P3 4 6.0920 Peluang 0.828 0.056 0.716 0.068

Lampiran 7. Analisis statistik terhadap aktivitas enzim Phenoloxydase udang vaname L. vannamei setelah 30 hari perlakuan sinbiotik dan setelah infeksi IMNV ANOVA Sumber Keragaman db JK F Peluang Hari-30 Perlakuan 0.109 4 0.027 1.246 0.334 Galat 0.329 15 0.022 Total 0.439 19 Hari-42 Perlakuan 0.421 4 0.105 1.454 0. 265 Galat 1.086 15 0.072 Total 1.507 19

Dalam dokumen NURLITA CHRISTYANINGSIH (Halaman 27-40)

Dokumen terkait